Maira adalah gadis yang menjadi simpanan seorang pria tampan yang kaya raya, sebenarnya Maira juga adalah masa lalu dari pria itu. Mereka berpisah karena sebuah perjodohan yang memaksa pria itu harus meninggalkan Maira, tapi pada dasarnya mereka tetap tak bisa saling melepaskan, mereka bahkan masih sering bertemu tanpa sepengetahuan istri dan keluarga pria tersebut.
Akan seperti apakah perjalan hidup mereka? akankah pria itu mengejar dan memperjuangkan kembali cintanya dengan Maira, atau malah jatuh cinta pada wanita yang saat ini telah menjadi istri sahnya secara hukum?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Di Supermarket
Maira saat ini sedang berada di supermarket untuk membeli beberapa barang yang di perintahkan oleh bosnya, namun bos itu sepertinya agak keterlaluan pada Maira. Bosnya itu meminta Maira membeli banyak sekali kebutuhan rumah makannya di supermarket tersebut.
Sampai Maira kewalahan untuk mengambil barang-barangnya pulang, Maira berdiri di depan pintu dengan menatap kantong kresek yang tak bisa ia bawa tersebut.
"Aku bawanya gimana? " tanya Maira pada dirinya sendiri sambil berkacak pinggang.
Sampai tiba-tiba seorang pria mengambil beberapa kresek nya, tapi Maira malah menarik pria itu, " Eh belanjaan gue mau di bawa kemana? " tanya Maira yang menganggap pria itu akan mengambil belanjaannya.
Pria itu langsung terdiam di tempatnya, " Gue cuman mau bantuin lu, gak usah mikir yang macem-macem deh, " balas pria itu sambil pergi ke pinggir jalan untuk memesan taksi bagi Maira.
Maira langsung tersenyum sambil mengambil sisa kantung kresek yang masih berada di sana. Maira berdiri di samping pria yang masih berada di sana untuk memesan taksi.
"Makasih yah, " ucap Maira manis.
Pria itu langsung menatap Maira dengan tatapan datar, " Yah sama-sama, " balas pria itu sambil memalingkan kembali tatapannya.
"Kenalin nama ku Maira, siapa tau aja kita nanti ketemu lagi, " Maira menyodorkan tangannya agar bisa bersalaman dengan pria itu.
"Gue Rafael, " balas pria yang bernama Rafael itu sambil membalas uluran tangan Maira.
Setelah bersalaman Maira langsung melepaskan kembali tangannya, karena taksinya sudah datang.
"Sekali lagi makasih yah, kalau gitu aku pergi dulu yahh, " pamit Maira sambil masuk dan pria itu kembali membantu Maira memasukan barang belanjaannya ke taksi.
Setelah Rafael melihat taksi yang di tumpangi Maira pergi pria itu pun ikut pergi, ia masuk ke mobilnya dan pergi entah kemana. Hari sudah semakin siang, pada siang ini adalah jam dimana Arga istirahat makan siang, biasanya pria itu kalau tidak sibuk ia akan makan di tempat Maira bekerja.
Sampailah Maira di restoran itu, supir taksir nya hanya membantu Maira menurunkan semua belanjaannya di depan restoran itu saja. Karena di perjalanan supir taksi itu mendapatkan telpon dari rumah sakit kalau istrinya mengalami tabrakan, jadi ia harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit.
Saat Maira sudah turun ia berusaha mengambil semua belanjaannya itu, yah walaupun ia harus kesusahan sih. Tapi saat ia akan masuk ke dalam restoran itu seseorang menabraknya dan membuat semua belanjaannya jadi berjatuhan.
"Aduh maaf yah maaf, " ucap Maira sambil menundukkan tubuhnya pada orang yang barusan ia tabrak.
"Maira, " panggil orang itu.
Maira yang kenal dengan suara orang itu langsung menatapnya dengan tatapan datar, "Ngapain di sini? " tanya Maira.
"Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu bawa belanjaannya sebanyak ini? " tanya balik pria itu sambil berkacak pinggang.
"Tadi-tadi aku di suruh belanja, " balas Maira terbata-bata karena takut.
"Sudah ikut aku sekarang, " Pria itu malah langsung menarik Maira ke tempat dimana pemilik restoran ini berada.
"Arga apaan sih? lepasin tau gak, " balas Maira sambil berusaha mencoba melepaskan tangan pria itu.
Arga dan Maira saat ini telah menjadi pusat perhatian orang, tak lupa Arga ke sana menggunakan topi dan juga masker untuk menutupi identitasnya. Karena walaupun bukan artis Arga selalu saja di masukan ke berita kalau melakukan sesuatu hal yang aneh.
Sampailah mereka di ruangan pemilik restoran itu, sang pemilik restoran itu langsung menatap mereka dengan tatapan kesal. Karena kedatangan mereka telah menganggu kedamaian dirinya yang sedang bersantai dengan di temani beberapa wanita penghibur yang selalu berada di sana.
Arga melepaskan Maira lalu berjalan dengan kasar ke hadapan pria itu, " Kau kalau punya otak bisa di pakai tidak? " tanya Arga marah.
"Udah yahh, " ucap Maira sambil memegang lengan Arga.
"Kau lebih baik diam saja, " balas Arga sambil menatap sinis Maira.
"Mau kamu apa marah-marah di sini? memangnya kamu siapa mau marah-marahi saya? " tanya pria itu sambil berdiri dan memasang wajah menantang.
Terdengar suara Arga yang terkekeh mendengar ucapan pria itu, " Siapapun saya saat ini tidak penting, yang perlu anda tau adalah jangan pernah sembarangan menyuruh gadis ku, atau kau akan menanggung akibatnya, " ancam Arga sambil menatap pria itu dengan tatapan tajam.
Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, nafasnya terasa sangat berat. Sorot matanya sudah sangat amat tajam di tambah rahangnya yang saat ini sudah mulai me najam.
Pria itu malah tertawa meremehkan saat Arga bicara seperti itu, sang wanita penggoda itu pun ikut tertawa saat mendengar ucapan Arga.
Tanpa basa basi Arga melepaskan masker dan juga topinya membuat mereka yang sedang tertawa langsung tersendat dan batuk-batuk.
"Berani sekali anda menertawakan saya, apa perlu saya gusur tempat anda ini? Atau saya runtuh kan tempat anda ini? " tanya Arga sambil tersenyum kecut dan menatap pria itu dengan tatapan sinis.
Restoran ini memang berdiri di tanah milik perusahaan milik Arga, mereka juga ada kerja sama. Untuk memajukan tempat makan ini, perusahaan Arga menawarkan untuk membantu membuat cabang di beberapa kota.
"Anda juga harus tau kalau bukan karena gadis ini, saya tak akan menerima semua kerja sama dengan anda dan setelah saya lihat apa yang anda lakukan pada gadis saya itu membuat saya marah besar, " sambung Arga.
Maira hanya terdiam membisu sambil menatap mereka, ia tak mau kena semprot Arga kembali.
"Maafin saya yah, saya tidak tau akan hal itu, saya benar-benar minta maaf, " pria itu langsung meminta maaf pada Arga sambil memegang kedua tangannya.
Arga melepaskan tangan pria itu dengan paksa lalu kembali memakai masker dan juga topinya, setelah itu ia berjalan keluar untuk pergi ke dalam mobilnya. Padahal ia belum sempat makan siang hari ini.
Saat melihat Arga yang sudah keluar dari ruangan itu pemilik restoran itu langsung menghampiri Maira yang awalnya berniat pergi dari sana.
"Saya minta maaf yahh, " ucap pria itu sambil memegang kedua tangan Maira.
Maira masih terdiam sambil menatap wajah pria itu dengan sendu.
"Kamu bisa bujuk Arga untuk tidak membatalkan kerja sama nya kan? saya mohon, karena saya juga harus membayar mereka di tambah saya juga punya keluarga yang harus saya biayain, " sambung pria itu.
Maira melepaskan tangan pria itu lalu mengelus lengannya, " Aku akan coba bicara sama Arga, Tapi aku gak janji yah, soalnya Arga bakal susah di ajak bicara kalau udah marah, " balas Maira yang mau membantu tapi tidak bisa janji kalau nanti Arga akan merubah keputusannya.
Maira berjalan mengejar Arga, berharap pria itu belum pergi dan ternyata benar. Pria itu masih terdiam di parkiran, Arga sepertinya sedang menunggu Maira keluar.