Budi, seorang CEO yang dikenal ramah dan sopan, harus menghadapi kenyataan pahit ketika putri kecilnya menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh seorang predator anak. Tragedi ini mengubah Budi sepenuhnya. Di tengah keputusasaannya, muncul seseorang yang menyebut dirinya Jack the Finisher menawarkan bantuan untuk menculik pelaku kejahatan yang telah merenggut nyawa putrinya. Meskipun diliputi keraguan, Budi akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Sejak saat itu, Budi memulai perjalanan kelamnya, berubah dari seorang ayah yang berduka menjadi predator bagi para psikopat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vardan alzumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sejak dua hari sebelumnya, ruang bawah tanah itu telah disulap menjadi penjara kedap suara.
Tak setitik pun kebisingan akan mampu menembus dindingnya, sekeras apa pun teriakan yang menggema di dalamnya.
Budi Haryanto melangkah masuk, menekan sakelar lampu. Cahaya terang seketika menerangi pemandangan mengerikan. Sosok seorang pria tergantung tak berdaya di sebuah pilar, tubuhnya terikat erat. Telanjang bulat, sekujur tubuhnya dipenuhi bercak darah yang telah mengering. Luka sayatan pisau menganga di dadanya, membentuk pola mengerikan.
Namun, yang lebih memilukan adalah kondisi mulut pria itu. Rahang bawahnya telah hilang, menyisakan tengkorak dan daging yang terkoyak menganga di bagian bawah bibir. Hanya deretan gigi atasnya yang masih utuh.
Kengerian tak berhenti di situ. Kedua telapak kaki pria itu pun telah tiada, digantikan oleh daging membusuk yang mulai dihinggapi belatung.
Kendati demikian, jantung pria itu masih berdenyut lemah. Terlebih ketika suara gergaji mesin yang mendekat menggema di ruangan itu, matanya terbuka lebar. Ia menggelengkan kepala panik, tubuhnya meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikatnya begitu kuat.
"Tidakkk... tidakkk... cukup... ampun... jangan lagi kau potong anggota tubuhku. Bunuh saja aku. Bunuuuhh..." Begitulah kira-kira jeritan yang membahana dalam benaknya. Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah erangan-erangan lirih yang menyayat hati, karena lidah dan bagian bawah mulutnya telah terpenggal.
"Kita bertemu lagi, Ryan. Apa kau merindukanku? Tentu iya, bukan? Hahahaha. Kau tahu... aku hari ini membawa hadiah spesial untukmu..." ujar Budi dengan nada dingin sambil menunjukkan sebuah toples kaca berisi kerumunan semut merah yang bergerak liar. Ia mengguncang toples itu perlahan, senyum sadis tersungging di bibirnya.
"Nah, Ryan. Sambutlah teman-teman kecilku ini. Mereka sudah tak sabar ingin berkenalan lebih dekat dengan kejantananmu. Hahaha. Tapi nanti dulu. Anjing peliharaanku sudah lapar. Bagaimana kalau kau bersedia menyumbangkan tanganmu itu? Pahala lho. Siapa tahu bisa mengurangi dosa-dosamu nanti di akhirat. Oke?"
Mimik wajah Ryan kini menunjukkan ketakutan yang luar biasa. Ia semakin histeris meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari ikatan yang menyiksanya. Namun, suara gergaji mesin justru semakin memekakkan telinga.
"Ini untuk putriku yang telah kau renggut nyawanya. Kau pantas mendapatkan ini!" geram Budi penuh dendam.
Gergaji mesin meraung, dan Budi, sambil tertawa mengerikan, mulai menggergaji pergelangan tangan kiri Ryan. Darah segar menyembur ke segala arah. Ryan hanya bisa meronta kesakitan saat mata gergaji itu menggerogoti pergelangan tangannya hingga putus dan jatuh dengan bunyi mengerikan ke lantai. Terlihat pula sayatan mengerikan di pinggang Ryan akibat gesekan gergaji, menganga lebar dan mengeluarkan darah segar.
Selagi Ryan masih mengerang kesakitan, Budi meraih sebatang besi yang telah membara merah di atas tungku api. Tanpa ragu, ia menempelkan besi panas itu ke pinggang Ryan yang tersayat dan ke bekas potongan tangannya.
Raungan lirih kembali lolos dari bibir Ryan yang hancur. Bau daging hangus menyebar di udara, bercampur dengan suara mendesis mengerikan dari daging yang terpanggang.
Setelah puas menyiksa, Budi segera menyuntikkan antibiotik ke tubuh Ryan. "Nah, lukamu akan segera sembuh. Hehe. Kau tidak boleh mati dulu, Ryan. Aku masih membutuhkan bagian tubuhmu yang lain untuk makanan anjing kesayanganku. Sabar ya. Ini hari ketiga. Masih ada dua hari lagi bagi kita untuk bermain-main. Kau jangan mati dulu, oke?"
Kembali Budi meraih toples berisi semut dari atas meja. "Wuihh... semut ini banyak sekali, Ryan. Mereka tampaknya sudah tidak sabar ingin berkenalan dengan 'terong busukmu' itu. Ya ya ya... hahaha. Nikmatilah, Ryan..."
Kengerian dan ketakutan semakin mencengkeram hati Ryan saat melihat Budi membuka toples dan kembali mendekatinya.
Penyesalan yang tak berujung terus bergema dalam benaknya. Namun, semua itu sia-sia. Budi menjelma menjadi sosok penjagal dari neraka yang akan menyiksanya perlahan-lahan hingga kematian menjemput.
maaf koreksi dikit