Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Kuning Malam Pengantin
Nanang masih terjaga ketika gerimis terdengar berjatuhan di permukaan bumi di penghujung malam. Dan ketika hujan semakin deras, sisa-sisa rasa kantuknya menghilang, dia pergi ke dapur, mengambil wadah-wadah besar dan meletakkannya ke beberapa tempat untuk menjadi penampung tetesan air bocor.
“Rinjani betul-betul tidak ingin ke kamarku?” Nanang menengadah ke atas, eternit ruang penatu mulai menyerap air hujan.
“Aku sendiri tidak yakin hubungan ini akan berjalan lancar walau dia tetap menetap sebagai seseorang yang berarti di hati.”
Nanang menarik daun pintu dan menutupnya seraya pergi ke kamar si kembar cilik ketika suara guntur menggelegar di udara.
“Lho... lho.. lho... Ibu sambung untuk anak-anakku di mana? Apa jangan-jangan dasternya di curi reinkarnasi Jaka Tarub? Ealah, belum sehari jadi istri sudah di curi lagi.”
Nanang membetulkan selimut putrinya sebelum patroli ke kamar si kembar besar. Aman. Tugasnya hanya satu lagi. Di malam yang dingin itu, dia mengambil payung dan keluar rumah untuk mencari sang istri. Tetapi belum sempat arah tujuannya tercapai, tenda kuning di samping kolam ikan menyita perhatiannya.
“Hidup sudah rumit kok cari perkara terus. Suryawijaya atau Pandu itu, kebiasaan tambah-tambah beban pikiran ibunya. Kasian Rinjani.”
Nanang mendatangi tenda kuning itu dengan hati-hati sebab lantai yang menghubungkan taman dan rumah lainnya terasa lebih licin ketika hujan.
“Riri...”
Di bawah payung yang melindunginya, Nanang memandangi sendal sang istri.
“Siapa ini yang berani memasang tenda untuknya tanpa seizinku? Tidak mematuhi instruksi. ” Perlahan-lahan Nanang menggeser resleting tenda untuk melongok situasi di dalam.
Senyum cerdik dan jahil menghiasi wajahnya. Payung dicampakkan, sendal di lepas perlahan. Nanang perlahan menyusup dalam tenda tanpa sepengetahuan Rinjani.
“Sudah tua baru pingin kemping. Nggaya sekali kamu.”
Nanang tidak bisa menyembunyikan senyum jenakanya ketika wajah teduh di atas kasur angin itu membebaskannya melihat tanpa terkesan mencuri-curi pandang. Nanang menutup tenda untuk mengurangi udara dingin dalam cengkerama malam pengantin yang belum dilimpahi kebahagiaan.
“Aku kira kamu akan tidur di kamar Masku dan mengadu di depan fotonya. Tapi aku sangat bersyukur setiap kali melihatmu mengambil keputusan, itu slalu diluar perkiraan. Tenda ini lumayan buat nambah cerita anak cucu kita.”
Kesabarannya memandangi wajah cinta pertamanya itu beralih ke buku kecil Rinjani yang tergeletak di atas kepala.
Nanang membukanya setelah izin pada Rinjani dan dia setujui sendiri berikut dengan gerutuan khas istrinya itu.
“Tidak curhat di depan foto Masku, tapi di sini. Lucunya... Apa kamu mulai menghargaiku sebagai suamimu? Masa secepat itu.” Nanang hampir saja mencubit hidung Rinjani jika suara guntur di langit tidak mencegahnya.
“Sabar dulu.” Nanang tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak kurang ajar.
‘Mas, hari ini aku resmi menikah dengan adikmu dan anak-anakmu terlihat senang. Apa kamu bahagia? Aku harap begitu karena tanggung jawab itu kembali lagi...’
Nanang merasa dadanya mulai sesak oleh rasa haru.
“Apa maksudmu tanggung jawab sebagai seorang istri?” Nanang membuka lembar berikutnya. Kertas kosong itu mulai dia beri catatan kecil.
‘Masa lalumu milikmu, masa laluku milikku, tapi masa depan milik kita. Tapi saat ini, kita bisa santai saja kok. Tidak perlu takut, aku masih seperti yang dulu.’
Nanang tersenyum ketika memandangi Rinjani sebelum dia kembali menulis pesan akhir.
^^^:-*(◠‿・)—☆ Nanang Yang Rela Berkorban. ♡^^^
“Besok kamu marah lagi, dan buku ini akan kamu simpan di tempat paling rahasia di bumi ini dan aku tahu itu di mana.”
Nanang meletakkan kembali buka kecil itu ke tempat semula bersama pulpen merah muda yang ada glitter-nya. Senyumnya kembali menghias wajah manakala Rinjani tetap asyik mendayung mimpinya ke pulau impian tanpa tersinggung keberadaannya.
“Malam ini milik kita berdua. Romantis tidak, masuk angin pasti. Tega sekali kamu memilih tenda kemping jadi malam pengantin. Kurang apa kamarku?”
Nanang merebahkan diri di sisa kasur angin, tubuhnya miring, menghadap Rinjani. Tapi apesnya, kendati bisa tidur satu ranjang dengan sang mantan terindah, celana training pendek dan sweater hitamnya tak mampu menghalangi dinginnya dini pagi.
“Minimal bisa tidur sama istri, daripada aku nanti nyanyi. Tidur-tidur sendiri...”
Gemas, Nanang menjawil hidung Rinjani. “Dulu kamu cantik sekali, tapi anak-anakku dan ibu mereka jauh lebih cantik.”
Rinjani memutar tubuhnya, memunggungi Nanang. Tapi ekspresinya terlihat tidak merespon pengganggu seumur hidupnya itu karena sebutir obat tidur sudah melenakan tidurnya.
-
Awan mendung yang menggelayuti langit kota Yogyakarta segara menyingkir ketika matahari pagi menyorot dari ufuk timur dengan benderang.
Nanang sulit menggambarkan kegembiraannya karena malam itu berlalu dengan tenang, tapi cepat. Dan tanpa memperdulikan nasib Rinjani di tenda, dia kembali ke rumah untuk memamerkan letupan kebahagiaannya.
“Bapak harus mandi keramas. Mandi air hangat. Pegal-pegal ini badan. Kalian jangan lupa sarapan pagi, sedikit tidak apa-apa yang penting makan!”
Arunika dan Swastamita menerima kecupan basah di puncak kepala mereka sebelum terbengong-bengong mendapati Bapaknya lebih lincah dan berisik dari biasanya. Sementara itu, Rinjani yang malang terpuruk dalam tenda saat cucu-cucunya masuk dan menganggu tidurnya.
“Kenapa eyang putri tidur di tenda nggak ajak-ajak kita?” tanya cucunya paling besar. Anak Dalilah.
Rinjani membuka matanya, dan merenungi nasibnya karena semua anak dan mantunya ada di depan tenda.
“Apa kalian lihat-lihat?” katanya serak.
Anak-anaknya yang penuh kasih sayang turut merasakan kejengkelan ibunya. Mereka berhenti tertawa dan tersenyum-senyum.
“Jangan ada yang bicara apa pun tentang tenda ini. Bunda capek.”
“Wow... Capek. Memangnya Bunda begadang?” goda Dalilah. Cuma dia yang berani bicara, yang lain pasang wajah geli dan memahami mengapa anggota keluarga mereka tertawa-tawa.
Rinjani mengelap kedua matanya dengan malas. Bangun kesiangan membuatnya tidak bisa kabur dari tenda itu.
“Bunda cuma susah tidur.”
“Kenapa tidak di kamar Papa cilik tidurnya?” Dalilah berdecak. “Bunda tidak melaksanakan aturan dalam berumah tangga, ya?”
Rinjani tampak susah mencari alasan, obat tidur itu masih lumayan merebahkan semangatnya untuk berdusta.
“Bunda cuma belum terbiasa. Ini sentimentil buat Bunda, tapi ibu tidak mau dengar ceramah kalian. Sana bubar, siap-siap sarapan.”
Dari kejauhan Nanang melihat perundungan yang di terima Rinjani dari anak-anaknya yang tertawa sambil menunjukkan payungnya semalam. Payung anak yang ada kupingnya, berwarna merah menyala.
“Aku sendiri akan malu jika menjadi Rinjani. Semua orang akan membicarakannya!”
Nanang mengangkat kedua tangannya manakala Rinjani menatapnya dengan tajam.
“Enaknya antar anak-anak sekolah ini daripada dihukum Rinjani.” katanya lalu pergi. Kabur.
-