belum di revisi
Tolong baca nya jangan di lompat!
SEKUEL SAYEMBARA JODOH
kisah anak-anak Dira dan Juna.
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."
"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"
"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.
Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"
Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.
Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan pelarian
Juna sudah sampai di kantor PT. PUTRA NUSA. Perusahaan yang pernah memberinya kesempatan untuk berkarir. Tempat di mana dia pertama kali berkecimpung di dunia kerja. Tempat ini juga yang mengubah hati nya dari sosok Delia hingga dia menyadari cintanya untuk Dira.
Sudah banyak perubahan pada perusahaan tersebut. Tentu dengan wajah-wajah baru. Meskipun usianya sudah menginjak 54 tahun. Wajah tampannya masih terlihat, beberapa mata memandang ke arah dirinya. Langkahnya terhenti di depan pintu direktur utama. Setelah mengetuk pintu dia pun masuk.
Seorang lelaki sebaya dengan dirinya menyambut dengan pelukan. Walaupun mereka sering berjumpa namun rasa rindu sebagai sahabat dan saudara tak pernah hilang. Juna di persilahkan duduk di sofa.
"Kapan sampai?" tanya Feri Andreas sang pemimpin perusahaan.
"Tadi pagi, aku tadi ke rumah. Cuma ada mama dan para dayangnya. Kak Tina katanya pergi bareng Mimi." lapor Juna.
"Terus ada urusan apa mendadak berangkat seperti ini? Jangan bilang kamu mau pindah ke sini? terus nanti pabrik bagaimana?" kata Feri.
" Dari pertanyaannya ada yang keberatan kalau aku nanti tinggal di Jakarta. Takut kesaing sebagai lelaki di rumah. Tenang saja kak Feri, aku yang akan jadi pemenangnya, ..... Tapi bohooong." keduanya kembali tertawa lepas.
"Oh, ya tadi aku ke ruangan Vira. Dia tidak ada di tempat." tanya Juna.
"Dawa masuk rumah sakit. Tadi kata Vira, suaminya di vonis jantung." cerita Feri.
Juna hanya mengangguk kecil. Tanda dia menyimak apa yang di ceritakan kakak iparnya. Lelaki itu menyeruput minuman yang di sediakan OB kantor. Begitu juga si tuan rumah.
"Juna, katanya kamu mau membuka sayembara jodoh lagi untuk Fajar? Aku harap kamu pikirkan lagi soal itu. Sayembara jodoh itu penggagasnya adalah opa Han. Sekarang opa sudah di surga. Buat aku, sudah tidak perlu di teruskan lagi." kata Feri.
"Aku mengenal calon untuk Fajar dengan baik. Sudah akrab dari mereka kecil. Aku yakin sekali dia gadis yang pas untuk Fajar. Dira sudah sayang sekali sama gadis itu. Ini malah Dira yang minta melamarkan Kinara untuk Fajar. Bibit bebet bobot sudah terlihat, Kak." Juna tetap pada pendiriannya.
"Terserah kamu, Juna. Itu anak kalian. Tapi satu pesan buat kalian berdua. Jangan samakan kisah kalian dengan anak-anak kita. Ya mungkin memang pilihan opa Han adalah jodoh kita. Tapi itu belum tentu buat mereka. Kita bukan melepaskan tanggung jawab dari anak. Akan tetapi kita cukup memantau. Kalau di rasa bagus kalian tinggal merestui. Kalau di rasa kurang cocok kalian bimbing anak-anak supaya terbuka pikirannya." Feri belum lelah mengingatkan adik iparnya.
Juna merasakan getaran di saku bajunya. Senyumnya mengembang ketika sang istri meneleponnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Juna.
"Mas, masih lama di tempat Marcel? kalau sudah selesai tolong pulang cepat." kata Dira.
"Aku lagi di kantor kak Feri, sayang. Ada apa?"
"Soal Fajar, dia menolak Kinara." kata Dira.
"Yasudah, kita bicarakan di rumah saja. Bilang sama Fajar jangan keluar rumah dulu." Jawab Juna.
"Kenapa?" tanya Feri.
"Tidak apa-apa, Kak. Dira minta aku pulang. Mungkin dia rindu sama aku." elak Juna.
"Yasudah hati-hati. Ingat pesanku tadi, Jun. Minta pendapat Fajar terlebih dahulu. Baru ambil keputusan." sahut Feri.
Juna hanya menyunggingkan senyuman. Dia lebih tahu yang terbaik untuk anaknya ketimbang orang lain.
...*****...
Juna sudah sampai di rumah Oma Dewi. Di sambut istrinya dengan wajah masam. Tak lupa menyalami tangan suaminya lalu mereka berjalan ke ruang tengah. Sudah ada Fajar yang duduk di sebelah mama Dewi.
"Ma, maaf kami mau bicara bertiga." kata Dira.
"Oh, oke. Sepertinya kalian tidak perlu aku disini. Silahkan kalian bicara, tapi satu hal jangan memarahi cucuku hanya karena hal yang tidak kalian sukai. Dia juga punya hak untuk mengikuti kata hatinya." Oma Dewi meninggalkan anak, menantu dan cucunya di ruang tengah.
"Pa," Fajar memeluk penuh rindu.
"Bagaimana skripsimu, Nak?" Juna memulai pembicaraan.
"Mendekati ujian komprehensif, pah. Selesai itu baru sidang." jawab Fajar.
"Bagus. Kamu tahu papa sangat berharap besar. Kamu lah yang meneruskan jabatan yang papa pegang sekarang."
"Hanya aku, Pa? Apa papa tidak berharap sama Angkasa. Dia anak papa juga kenapa semuanya bertumpu ke aku, Pa?" ujar Fajar.
Juna mengerutkan dahinya. Kenapa putranya berbicara seperti itu? Selama dia tidak pernah membedakan kasih sayang antara Fajar, Mentari dan Angkasa. Apa Angkasa mengatakan sesuatu pada anak sulungnya?
"Kamu tidak mau meneruskan usaha papa? Atau kamu punya target usaha lain papa akan dukung. Tapi sekarang yang papa lihat kamu lah yang bisa membantu. Angkasa saja masih sekolah. Masih jauh dari harapan papa."
"Aku mau jadi dosen, Pa." jawab Fajar menurunkan volumenya.
"Kamu bisa sambil menjadi direktur bisa jadi dosen juga. Jadi tidak alasan lain lagi. Sekarang papa mau tanya kenapa kamu menolak Kinara. Apa kurangnya dia? Cantik, attitudenya bagus, bibit bebet bobot nya juga bagus. Apa yang kurang? Apa kamu punya seseorang?"
"Iya, aku punya seseorang. Gadis cantik yang sedang aku perjuangkan cintanya. Papa jangan takut soal bibit bebet bobot. Aku rasa dia lebih baik dari Kinara. Gadis yang papa harap jadi menantu sudah seperti adikku sendiri. Tidak ada perasaan apapun sama dia. Jadi tolong bantu aku dengan restu." mohon Fajar.
"Jadi putraku ini sedang mengemis cinta pada seorang perempuan. Gila! papa tidak mau tahu, selesai kamu wisuda kalian harus bertunangan. Papa sudah terlanjur mematok mahar pada Marcel. Dan kamu mau mencoreng muka papa dengan hal yang belum pasti?"
"Mas ... Kamu lihat, Jar. Mama kecewa sama kamu." Dira mengejar suaminya masuk ke dalam kamar.
"Maaf, Ma, Pa." batin Fajar.
...****...
Tiga hari kemudian
Embun baru saja keluar dari kelasnya. Berjalan sendiri ke kantin karena Kirana izin tidak masuk kuliah. Katanya sih ada urusan keluarga. Gadis itu hanya duduk sendirian di sudut kantin. Suara seruputan satu gelas es kelapa gula merah terdengar nyaring.
"Bun, boleh duduk sini?" sapa Daren.
"Boleh kak, ini kan kursi umum siapa pun boleh disini." kata Embun.
"Hmmm ... kamu punya pacar nggak?" tanya Daren dengan hati-hati.
"Enggak." jawab Embun santai.
"Mereka cocok, ya." Daren menunjuk ke arah Thalia bersama seorang pemuda.
"Cocok." jawab Embun singkat sambil membuang muka.
"Kita gabung yuk sama mereka." ajak Daren.
"Maaf, Kak. Aku kembali ke kelas. Lagi banyak tugas." elak Embun. Sayangnya Daren tetap menarik tangan Embun berbaur ke Thalia dan Fajar.
"Bun," panggil Cela dari kejauhan.
"Iya, Cel." jawab Embun. "Kak, Maaf aku kayaknya di panggil." pamit Embun.
"Ada apa, Cel?" tanya Embun lalu menoleh kearah kursi Fajar dan Thalia. Hanya tinggal Daren dan Thalia di sana.
"Temani aku ke perpustakaan, Ya." Embun mengangguk kecil. Mengikuti langkah Cela menuju perpustakaan.
"Ikut aku!" sebuah tangan menarik dirinya jauh dari pintu perpustakaan. Tentu saja itu tangan dari Fajar. Lelaki itu sudah membawanya ke taman kampus.
"Ada apa?" Embun masih membuang muka.
Fajar menarik tubuh Embun. Kini keduanya saling berhadapan. Tangan kekar itu menggenggam erat jemari Embun. Jarak mereka sangat dekat.
"Aku mau bicara soal kita." kata Fajar dengan lembut.
"Kita?"
"Iya kita. Aku dan kamu. Bukan kah..."
"Maaf, kak Fajar. Bukankah diantara kita memang tidak ada sesuatu yang spesial. Oh ya aku dengar kakak sudah punya calon istri. lalu datang sama aku bilang aku dan kamu juga soal kita?
Dengar, ya, kakak asdos yang terhormat, saya bukan siapa-siapa anda. Lagian empat bulan ini kita memang seperti orang asing. Kenapa baru sekarang anda mendaulat sebuah hubungan?"
"Bun," panggil Fajar.
"Tolong jangan ganggu aku lagi, Kak. Please, aku ingin tenang." mohon Embun.
"Aku mencintaimu, Bun. Bukan sejak kamu datang menyatakan cinta karena di suruh Daren. Tapi sejak kemunculan kamu di hari pertama OSPEK."
Embun pergi meninggalkan Fajar. Pemuda itu belum pantang menyerah sebelum bisa membawa gadis itu di hadapan kedua orangtuanya.
"Dia bukan siapa-siapa aku. Tapi kenapa aku semarah ini?" batin Embun.
Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁