Menikah sekali seumur hidup, itulah impian setiap orang. Tidak ada yang menginginkan perceraian. Namun manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan jodoh serta kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH AKU BERCERAI 7
Aku Yuni, Ibu yang telah melahirkan seorang anak laki-laki bernama Al Segaf. Anak yang baik, patuh kepada orang tua, dan sukses di dalam dunia karir nya.
Meskipun dulu kami sempat berbeda pendapat saat ia menjatuhkan pilihan hatinya kepada seorang gadis yatim.
Aku dan Suamiku, Anwar! memiliki kriteria tersendiri untuk istri anak kami Al. Ya iyalah, secara dia putra terbaik kami, yang berhasil kami didik dengan baik.
Masa iya hanya mampu mendapatkan seorang istri yang tidak memiliki Bapak. Dibesarkan oleh seorang perempuan penjual Donat. Dan konon katanya, perempuan yang diperkenalkan atas nama Olivia itu juga menjajakan Donat nya di sekolah.
Itu sangat tidak masuk akal!
Namun karena kegigihan anakku yang berupaya untuk mendapatkan restu, serta sedikit ancaman bahwa dia tidak akan menjadi seorang Direktur jika keinginan nya tidak kami turuti.
Akhirnya Aku dan suamiku bersepakat untuk merestui mereka. Tapi dengan janji bahwa anakku harus menjadi seorang Direktur.
Pada saat itu, Al menyanggupi nya dengan yakin. Dan benar saja, dalam kurung waktu tiga tahun Al mampu naik jabatan meskipun itu hanya sebatas wakil Direktur saja.
Tapi kami yakin, jika Al berusaha lebih giat lagi pasti suatu saat dia akan menjadi seorang Direktur di perusahaan itu.
Lama kelamaan, kami mulai bosan dengan Olivia yang tak kunjung hamil. Emang pada dasarnya aku dan suami tidak menyukainya, maka hal itu dijadikan alasan untuk memancing Al supaya mencari istri baru yang bisa memberikan anak.
Al sedikit banyak terhasut, dan ia mulai membuka hati dengan berkenalan sama Saras , Anak teman ku.
Kebetulan, Saras sebenarnya juga menyukai anakku dari dulu. Hanya saja Al sudah sangat kepincut oleh Olivia .
Semakin hari aku semakin membuat mereka dekat, dan ending nya Saras hamil. Aku lah orang pertama yang paling bahagia mendapatkan kabar itu.
Segera aku tuntut Al agar menceraikan Olivia , buat apa terus mempertahankan seorang perempuan mandol.
Awalnya Al menolak, ia ingin mempertahankan Olivia tapi juga akan menikahi Saras .
Tapi ternyata Olivia yang menolak gagasan itu mentah-mentah. Perempuan itu dengan pongahnya berkata jika lebih baik jadi janda dari pada harus diduakan.
Aku semakin menyemangati anakku agar menceraikan perempuan itu. Dan puncaknya, Olivia ditalak dan pergi dari rumah mereka.
Aku dan suamiku puas sekali, sesuai rencana setelah surat cerai resmi keluar. Anakku dan Saras melangsungkan pernikahan.
Sedangkan Olivia , tidak tahulah pergi kemana? Meskipun pada hari pernikahan dia datang dengan memberikan sebuah foto USG, aku sangat yakin jika semua itu hanya lah tipu daya agar Al kembali lagi padanya.
Diluar dugaan, setelah urusan Al selesai. Suamiku tiba-tiba berubah. Sering sekali dia keluar dengan alasan ada acara bersama teman-temannya. Ketika aku ingin ikut, dia justru melarang. Katanya itu teman laki-laki semua tidak ada yang membawa istri.
Lama kelamaan suamiku sering pulang malam, pernah sekali dia menginap di luar. Bukan tidak aku tegur, tapi kemarahan nya yang membuat aku takut untuk bicara banyak-banyak.
Sampai akhirnya Al meminta ku untuk menginap di rumah nya saja. Aku senang sekali, sekarang anak dan menantu ku sama-sama peduli dengan ku.
Mereka berdua kompak dan rukun menjadi penyemangat ku.
" Loh, nggak ada makanan Saras ? Apa kamu nggak masak ?" Saat aku buka tudung saji, tidak ada apapun di atas meja makan.
Saras menoleh ke belakang, ia sedang menikmati acara tv sambil ngemil.
" Udah habis Bu " Jawab nya enteng " Kalau mau makan masak aja"
Aku terkejut mendengar jawaban Saras , dulu ketika aku menginap di rumah ini. Olivia selalu menyajikan masakan yang enak-enak. Tapi selalu ku katakan bahwa masakan nya biasa saja.
Gengsi lah aku memuji masakan menantu yang bukan pilihan ku.
Perut sudah keroncongan, akhirnya aku memutuskan untuk masak mie instan saja biar cepat.
" Loh, Ibu nggak masak ?"
Tangan ku otomatis terhenti saat hendak menyuapkan mie ke dalam mulut.
" Ini Ibu masak Mie"
" Kok cuma Mie sih Bu, kan di kulkas ada ayam, daging, telor, sayur juga ada. Tinggal masak aja kan?"
" Ibu sangat lapar Saras "
" Saras juga lapar Bu, Saras kan sedang hamil jadi pengen makan terus"
Aku terdiam, jadi maksud Saras aku disuruh masakin buat dia. Astaghfirullah, kok Saras jadi gini ?
" Maafin Saras Bu, Saras cuma ngidam masakan Ibu"
Suara Saras mulai melunak, aku tersenyum lega. Jadi dia bukan bermaksud menyuruhku masak buat dia, tapi dia ngidam.
" Baiklah, sebentar lagi Ibu akan masak untuk calon cucu Ibu. Tunggu ya "
Saras mengangguk senang, ia kembali melanjutkan aktivitas nya menonton televisi.
Ketika aku sibuk di dapur , Sarah sama sekali tidak membantuku . Menengok pekerjaanku saja dia tidak datang. Malah terkesan cuek seolah-olah aku tidak ada disana.
Hatiku sedikit tercuit untuk membandingkan Saras dengan Olivia . Keduanya berbeda jauh, meskipun Olivia terlihat lebih pendiam. Namun pekerjaan rumah selalu beres dan rapi.
Kali ini aku perhatikan kondisi rumah anakku sedikit berantakan. Kompornya pun berminyak sekali.
Aku harap ini hanya bawaan bayi saja, nanti setelah Saras melahirkan dia akan menjadi seorang istri sekaligus Ibu yang baik dan perhatian dengan sekitar nya.
" Hemmmm seperti nya enak sekali " Saras datang, ia langsung mengambil piring dan nasi serta lauk pauk yang sudah ku siapkan.
" Makasih ya Bu " ucapnya girang, ia menyantap makanan nya dengan lahap.
" Kalau Ibu sendirian di rumah nggak ada Bapak, mending tinggal disini aja yah"
Aku tak menjawab, bagaimana pun aku lebih tenang tinggal di rumah sendiri.
" Nanti Saras ajak jalan-jalan yah, biar kayak Bapak juga selalu jalan-jalan "
Aku tertegun, darimana Saras tahu kalau Suamiku sering jalan.
" Emang kamu pernah melihat Bapak nya Al jalan-jalan ya?"
Saras gelagapan ia tersenyum seperti menutupi ekspresi terkejutnya.
" I iya kan kata Ibu Bapak selalu keluar ada acara "
Aku merasa jawaban Saras bukan alasan yang sebenarnya. Ada apa ini ?
" Ya udah cepat Ibu siap-siap Gih, sebentar lagi kita pergi jalan ke Mall"
Aku mengangguk ragu, berjalan ke kamar dengan seribu pertanyaan.
Saras sangat humble sekali, ia mengajak ku berbelanja perlengkapan bayi dengan selalu meminta pendapatku. Sudah pasti aku sangat bersemangat, apalagi ini cucu pertama ku.
Namun semangat itu mendadak hilang saat aku melihat kelibat seseorang yang sangat aku kenal. Aku meletakkan pakaian bayi yang baru saja aku pilih, dan bergegas mengejar orang itu.
Dan benar saja, itu suami ku. Dia berjalan bersama seorang perempuan.
" Pak .. " suara ku yang sesak mampu membuat dia menoleh. Ia terkejut melihat diriku sudah berada di belakang nya.
" Bu, apa yang kamu lakukan disini ?"
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, pandangan ku langsung gelap.
😂😂