Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Pindah
"Hidup bersama kami telah benar-benar dimulai." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Bram memperhatikan Diandra yang makan dengan lahap. Gadis ini memang kelaparan, fikirnya. Sedang dia masih sibuk mengaduk bubur di mangkuknya.
"Bram, kita akan tinggal dimana setelah ini?" tanya Diandra tiba-tiba, membuyarkan lamunan Bram. Gadis itu melihat Bram sambil memasukkan sandwich ke dalam mulutnya.
"Bagaimana kalau di rumahku saja? Ada beberapa asisten rumah tangga disana," jawab Bram cepat.
"Oke, baiklah. Tidak apa-apa pindah ke rumahmu saja. Aku tidak akan membawa banyak barang," lanjut Diandra setuju.
Bram terdiam sesaat. Sejak bangun tadi, hal inilah yang terus mengganggu fikirannya. Dia dan Diandra tidak mungkin tidur di kamar yang terpisah, apalagi mereka telah resmi menjadi suami istri sekarang. Ditambah lagi, Bram memiliki beberapa asisten rumah tangga dan sopir. Beberapa dari mereka tinggal di rumah besar itu, dan beberapa dari mereka pulang ke rumah setelah pekerjaannya selesai.
"Tapi...," ujar Bram tertahan, membuat Diandra menoleh padanya.
"Tapi apa?" tanya gadis itu penasaran
"Hanya ada satu kamar utama di rumahku. Selain itu, ada beberapa kamar tamu yang tidak terlalu besar. Kurasa kita tidak bisa terpisah kamar, kan? Bagaimana menurutmu?" Bram menjelaskan kondisinya. Dia tidak ingin Diandra salah paham begitu mereka pindah ke rumahnya.
"Dan tentu saja ranjangku tidak sebesar ranjang suite tadi," kata Bram melanjutkan kata-katanya.
Diandra diam sejenak. Gadis itu terlihat sedang berfikir.
"Apa kita perlu membeli kasur untukmu?" tanya Bram pelan, menunggu. Entah mengapa dalam hatinya dia berharap Diandra akan menggeleng. Berharap Diandra akan mengatakan tidak perlu.
"Tidak perlu," jawab Diandra. Bram kegirangan. Tanpa sadar dia tersenyum tipis.
"Jadi...," tanya Bram lagi, menunggu penjelasan dari gadis ini. Bram sudah hapal Diandra pasti akan menjelaskan dengan detail segala hal. Dia hanya perlu memberi pancingan.
"Tidak masalah kalau kita tidur bersama, kan Bram?" tembak Diandra tepat sasaran. Ini yang ditunggu lelaki itu sejak tadi.
Bram tertegun, meskipun dalam hati dia bersorak-sorai.
"Apa kamu tidak nyaman berada satu ranjang denganku?" tanya gadis itu polos. Masih dengan nada suaranya yang tenang.
Bram terdiam sesaat.
Oke, permainan dimulai Diandra. Kamu yang memulainya lebih dulu. Dan aku akan menikmati permainan ini, jangan salahkan aku jika nanti hasilnya tidak sesuai kesepakatan kita di awal.
"Tentu saja tidak," sambut Bram, bersemangat. Diandra menyadari perubahan nada suara Bram yang menjadi lebih cepat dan keras.
"Baiklah. Maka itu tidak menjadi masalah," ujar gadis itu lagi. Sambil terus memakan sarapan paginya, tanpa sadar meninggalkan Bram dengan hati yang mulai tidak karuan.
***
Diandra membawa barang-barangnya pindah ke rumah Bram sore itu. Dia tidak membawa banyak, hanya yang paling diperlukannya saja. Namun ternyata rumah Bram dan rumah orangtuanya lumayan jauh.
Mereka masih berada di perjalanan menuju rumah Bram ketika sore mulai beranjak menggelap.
"Kapan kamu masuk kerja, Bram? Dan kapan aku harus ke perusahaan?" tanya Diandra di sela-sela hening di antara mereka.
Bram melirik Diandra sekilas.
"Aku mengambil cuti beberapa hari. Nanti akan aku diskusikan dengan Pak Luis, sekretaris pribadi Ibumu kapan waktu yang pas untukmu datang," jawab Bram.
Diandra menghela napas.
"Ini akan jadi hal baru yang menarik bagiku, Bram. Sekaligus melelahkan," sahut Diandra.
Bram tersenyum tipis melihat gadis itu. Rupanya Diandra juga sedang melihat Bram. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat.
"Berjanjilah padaku, Bram. Kamu akan selalu bisa aku andalkan," lanjut Diandra sambil memberikan jari kelingkingnya kepada Bram. Membentuk simbol berjanji bagi anak-anak kecil. Bram tertawa.
"Baiklah, aku berjanji," ujar Bram kemudian, menyambut jari kelingking Diandra dan membuat tanda janji disana.
"Baiklah. Kamu sudah berjanji", bisik Diandra senang. Dia lalu melanjutkan menatap keluar jendela.
Bram tertegun melihat gadis ini. Gadis yang tenang, tegas. Di sisi lain, dia merasakan kecemasan pada kalimat Diandra tadi. Gadis ini pasti takut, fikirnya.
Meninggalkan kehidupan dan mimpimu di Paris, untuk kini tinggal bersamaku, pasti bukan keputusan yang mudah, Diandra.
Tapi Bram adalah laki-laki sejati yang tidak pernah mengingkari janjinya.
"Percayalah padaku, Diandra. Kamu aman bersamaku," gumamnya pelan.
***
Diandra dan Bram sampai di rumah Bram yang cukup megah dan mewah. Beberapa asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka. Diandra cepat beradaptasi dengan mereka. Termasuk Pak Iif yang bertanggungjawab untuk keamanan rumah, Pak Zainal yang merupakan sopir Bram, hingga Teh Fitri & Teh Atun yang bertanggungjawab untuk kebersihan rumah dan memasak.
Rumah Bram tidak kalah mewah dari kediaman Diandra. Beberapa mobil berbaris di garasinya, terdapat kolam renang pribadi dan kebun outdoor di belakang. Bram pintar dalam memilih interior rumah sehingga kediamannya terlihat elegan seperti ini.
Diandra mengikuti Bram ke lantai dua, tepat dimana ruang kerja Bram berada dan kamar utama terletak.
"Masuklah, Diandra. Aku sudah meminta Teh Fitri mengganti semua sprei dengan yang baru dan itu adalah lemarimu," tunjuk Bram pada lemari coklat yang bersebelahan dengan sebuah lemari hitam milik Bram.
"Baiklah, Bram. Terima kasih," balas Diandra.
"Beristirahatlah", lanjut pria itu kemudian.
Bram meninggalkan Diandra di kamar, membiarkan gadis itu beristirahat. Diandra masuk ke dalam kamar Bram yang didominasi warna keabu-abuan, melihat ke sekelilingnya. Dalam hati dia berdoa agar kehidupannya enam bulan ini bisa berjalan dengan baik, dengan begitu dia dapat kembali ke Paris secepat mungkin, melanjutkan penggalan kisahnya disana.
***
Barcelona, Spanyol.
Seorang lelaki menatap dalam pada layar laptopnya, yang menampakkan sebuah foto pernikahan disana.
Dia menghisap rokoknya, membuang asapnya ke udara, memenuhi ruangan kerjanya dengan asap yang putih.
Tangannya tanpa sadar terkepal, saat matanya lekat menatap pada layar.
"Maafkan aku, Diandra. Aku bersalah telah meninggalkanmu sendirian", ucapnya lemah.
Lelaki itu mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. Suara di sebrang menyambut panggilannya.
"Awasi dia terus, Leon. Aku akan segera kembali", katanya tegas.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Dukung dengan like, vote dan tinggalkan komen ya kak Readers.. Makasih sudah mampir 🙏
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍