NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kemarin Adnan gagal menemui Kalunq karena lagi-lagi penolakan yang didapatkan. Pintu rumah itu tak pernah lagi terbuka lebar untuknya. Namun Adnan tak ingin menyerah begitu saja. Jalan tidak berhenti di situ hanya karena buntu. Tinggal putar arah dan mencari jalan lain untuk tiba di tujuan.

Adnan duduk di kap mobil menunggu bubaran sekolah Vano. Semilir angin menerpa wajah dan membuat rambut yang sedikit panjang itu bergerak. Menabah kesan ganteng di mata para perempuan yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun Adnan enggan menanggapi.

Suara riang khas anak-anak yang baru keluar dari sekolah pun terdengar. Bersahutan dengan suara kendaraan yang satu persatu mulai meninggalkan tempat parkir. Ada juga beberapa siswa ditemani orang dewasa yang masih menunggu jemputan. Satu di antaranya adalah Vano yang di temani gurunya.

"Vano!" Adnan menghampirinya. "Ibu masih sakit kan? Kalau om yang antar kamu pulang gimana?"

Vano menoleh pada gurunya.

"Maaf, Pak. Tapi Ibu Luna tidak memberi tahu kami kalau Vano akan di jemput selain dirinya."

"Mungkin dia lupa menghubungi atau ketiduran. Solanya kemarin dia baru pulang dari rumah sakit. Saya Adnan ini kartu pengenal saya jika nanti terjadi sesuatu dengan Vano, anda bisa minta pertanggung jawaban pada saya."

"Vano, kenal dengan Pak Adnan?" tanya gurunya menoleh pada Vano.

Vano mengangguk, "Om ini teman Ibu."

"Baiklah kalau begitu." Gurunya Vano mencatat lebih dulu data Adnan sebelum mengijinkan pria itu membawa Vano.

Di rumah Luna baru bangun karena ketiduran setelah minum obat. Saat melirik jam dia langsung panik karen sudah waktunya menjemput Vano. Tubuh yang belum pulih kembali terduduk saat mencoba berdiri. Akhirnya dia pun meminta Aas untuk menjemput Vano. Untungnya Aas selalu bersedia membantu.

Lima belas menit berlalu Aas menghubunginya.

"Tidak ada?" suara Luna terdengar panik. "Gimana bisa, As? Aku belum nyuruh siapa pun jemput dia ... Laki-laki? Ya sudah." Luna tutup teleponnya kemudian bangkit dan mengganti pakaian. Dia yakin kalau laki-laki yang dimaksud adalah Adnan. Siaoa lagi selain dia yang bisa dijadikan tersangka. Jawabannya memang tidak ada.

Tak menghiraukan tubuh yang tidak nyaman, Luna susuri jalanan hingga akhirnya tiba di gedung yang beberapa hari lalu dia datangi. Gedung yang membuat dirinya terkurung dan jatuh sakit. Gegas dia menghampiri meja resepsionis dan mengatakan ingin bertemu Adnan.

"Maaf, Bu, tapi Anda tidak bisa menemuinya sebelum memiliki janji," kata salah satu petugas resepsionis masih bersikap tahan dan memberikan senyum.

"Mbak, tolong ini darurat. Saya harus bertemu Pak Adnan sekarang."

"Maaf Bu tidak bisa."

"Mbak! saya harus bertemu dia. Anak saya ada sama dia sekarang. Pak Adnan menjemputnya tanpa izin dari saya." Luna pegangi kepala yang semakin terasa pusing. Pengkuhatannya mulai berputar namun dia masih berusaha menahannya agar tidak ambruk.

Dua wanita cantik yang bertugas di meja resepsionis saling lirik. Antara percaya tidak percaya dengan ucapan orang yang ada di hadapannya.

Di saat yang sama, Senja dan Gisha baru turun untuk makan siang. Memang kedatangan Luna tepat dengan waktu istirahat pegawai kantor.

"Ada apa?" tanya Senja menghampiri keributan di depan meja resepsionis.

"Ibu ini maksa minta bertemu dengan Pak Adnan, Bu."

Senja tatap perempuan di hadapannya. "Ada keperluan apa? Anda tahu kalau Pak Adnan adalah orang penting di perusahaan ini. Jadi tidak sembarang orang bisa menemuinya." Suara Senja terdengar tegas. Dia memang selalu seperti itu saat merasa ada orang yang akan menjadibsaingannya untuk berdampingan dengan Adnan.

"Saya harus bertemu Pak Adnan dan membawa putra saya kembali."

Senja melirik Gisha lalu menatap Luna dengan senyum sinis. "Gak mungkin. Pak Adnan bukan orang bodoh yang menculik anak orang sembarangan."

"Tapi faktanya dia membawa anak saya," teriak Luna yang geram karena orang-orang dihadapannya tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.

Dia terobos Gisha dan Senja agar bisa menemui Adnan dan membawa putranya kembali. Namun tentu saja mereka tidak akan membiarkan orang asing bertindak semaunya di tempat kerja mereka.

Terjadi aksi saling dorong Antara Senja dengan Luna. Sehingga aksi mereka menjadi tontonan karyawan lain. Luna yang memang tubuhnya sedang tidak stabil, kalah tenaga. Dia jatuh karena dorongan kuat dari Senja.

"Luna!" Adnan datang tergopoh menghampiri Luna yang terduduk. Beberapa saat lalu dia yang hendak membawa Vano makan siang dan jalan-jalan mendapat telepon dari kantor yang memberitahukan keberadaan Luna yang mencarinya.

Mereka yang tadi hanya menonton kini dibuat terperangah dengan kedatangan Adnan yang terlihat khawatir pada perempuan yang tadi membuat keributan. Belum lagi kehadiran anak laki-laki yang datang bersama Adnan menjawab kebenaran yang tadi diucapkan Luna. Begitu juga dengan Senja dan Gisha, mereka saling melirik.

"Ibu?" Vano memeluk Luna yang masih memegangi kepala. "Vano di sini," katanya menatap sang Ibu yang terlihat lemas.

Tanpa meminta persetujuan dari Luna, Adnan membopong tubuh perempuan itu dan membawa ke ruangannya. Tentu saja sikapnya menghadirkan bisik-bisik bagi mereka yang melihatnya. Tak terkecuali dua sekertarisnya.

"Sweet banget ya Pak Adnan," bisik Gisha. Dia memang sering sekali mengompori perasaan Senja.

"Emang dia siapanya. Bisa aja Pak Adnan cuma merasa bersalah karena anak perempuan itu yang dia bawa," balas Senja.

"Kayaknya hubungan mereka lebih dari sekedar itu deh. Kamu gak tahu aja yang terjadi beberapa hari lalu saat kamu tidak masuk." Gisha melangkah lebih dulu meninggalkan rasa pemasaran bagi Senja. Benar saja perempuan itu langsung mengejarnya dan bertanya.

"Memangnya apa yang terjadi?" Suara Senja terdengar sewot. Sudah biasa seperti itu jika ada yang berhubungan dengan atasannya.

"Gak tau. Soalnya sejak perempuan itu datang hingga jam kerja usai mereka tidak keluar dari ruangan. Mungkin ah ah ah sampe puas. Gak tau juga mereka kelar jam berapa." Gisha angkat bahu terlihat acuh.

"Jangan ngaco." Mata Senja melotot tak terima.

"Gak menutup kemungkinan, Senja. Jangan menyangkal. Pak Adnan udah jadi duda beberapa tahun ini. Dia juga pasti butuh tempat penyaluran yang bisa memuaskan dirinya. Mungkin saja perempuan tadi orang yang dianggap tepat. Sekaligus membuat Pak Adnan melayang. Service-nya ok kali."

"Ngawur," ujar Senja semakin kesal sedangkan Gisha tertawa puas melihat Senja yang kegerahan.

***

Di dalam ruangan, Adnan sodorkan air minum pada Luna. Untungnya perempuan itu tak menolak lagi. Jelas karena Luna sedang membutuhkannya.

"Sudah tahu masih sakit. Kenapa kamu datang ke sini," omel Adnan.

"Ya karena Anda membawa anak saya tanpa izin. Anda pikir seorang ibu bisa tenang saat tahu anaknya di jemput orang yang tak dikenal?" Meskipun lagi sakit sepertinya cadangan di tubuh Luna tak pernah berkurang jika harus berdebat dengan Adnan.

"Saya bukan orang lain. Saya ayahnya."

Luna tersenyum mengejek, "Padahal Anda sendiri tahu bagaimana kondisi Anda, tapi Anda masih berani mengakui anak orang sebagai anak Anda. Memalukan."

Luna terkesiap, ocehannya terhenti karena Adnan membungkamnya dengan bibir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!