Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Fitnah
"Kalian berdua. Lihat saja pembalasan dariku nanti. Akan kubuat kalian menyesal seumur hidup."
Dimas akhirnya pergi berlalu dari sana dan keluar rumah untuk menghibur dirinya sendiri daripada sakit hati melihat adik dan istrinya dirumah.
Sebenarnya Dimas sangat mencintai Davina. Tetapi, dirinya berkali-kali disakiti tanpa bisa membalas kekejaman atas perbuatan mereka selama ini.
Di rumah.
Bayu dan Davina pun melanjutkan ciuman intens tersebut ke kamar Bayu. Ervin anak sulung Davina dan Dimas pergi setelah sarapan pagi tadi. Sedang Clarissa masih marah dengan Aqila tadi pagi.
Selesai melakukan kegiatan panas, keduanya keluar kamar dan Davina pergi ke kamar Clarissa karena baru teringat dengan anaknya yang paling disayanginya itu.
"Clarissa."
"Masuk, Ma."
Davina membuka pintu kamar dan berjalan menuju dimana Clarissa sedang duduk bersandar di kasur.
"Mama. Hiks…hiks…hiks.
Clarissa langsung memeluk mamanya dan menangis karena tidak terima dengan pembelaan papanya terhadap gadis kampung seperti Aqila.
"Sudah sayang, sudah. Jangan menangis lagi. Bagaimana kalau kita kerjain saja gadis kampung itu," ucap Davina mengajak Clarissa bekerja sama untuk membuat gadis itu tidak bisa tidur beberapa hari.
"Bagaimana caranya, Ma?"
Davina menceritakan pada Clarissa dan membuat anaknya itu tersenyum lebar dengan ide cemerlang mamanya itu.
"Oke, setuju, Ma."
*
Keesokan harinya, Davina mulai memberi tugas pada Aqila setelah pulang sekolah dan gadis itu menerimanya dengan senang hati. Baron dan istrinya pun tak bisa membantu banyak karena pekerjaan mereka pun juga banyak.
Pulang sekolah, Aqila langsung membersihkan kamar mandi, kolam renang dan danau kecil di belakang rumahnya. Tugas yang diberikan Davina padanya masih terbilang wajar.
Sampai beberapa hari kemudian, Aqila semakin menerima pekerjaan hingga malam hari. Bahkan di sekolah pun Aqila sampai ketiduran karena tidur larut malam setiap hari.
"Teman-teman lihat itu. Aqila selalu tertidur dalam kelas. Aku sering melihat dia pulang malam hari saat tak sengaja kupergoki dia pulang dengan baju kusut dan rambut berantakan." bisik Clarissa pada teman-teman yang lainnya.
"Benarkah, Clarissa? Apa benar gadis lugu seperti Aqila berani berhubungan dengan lelaki tua," kata salah satu teman sebangku Clarissa.
"Tentu saja, kenapa tidak. Dia kan, lagi butuh uang banyak. Makanya dia mendekati lelaki hidung belang entah mendapat darimana dia bisa melakukan hal seperti itu," imbuh Clarissa membuat semua teman-temannya semakin jijik terhadap Aqila.
Aqila terbangun saat suasana kelas begitu ramai dan jam istirahat sebentar lagi selesai. Semua teman di kelas menatap Aqila tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama ini mereka percaya Aqila gadis yang pintar dan menjadi kebanggaan sekolah.
Dibalik wajahnya yang polos ternyata menyimpan kepalsuan belaka. Itu yang ada dipikiran mereka setelah apa yang dikatakan Clarissa.
"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Aqila berjalan menuju toilet sekolah untuk mencuci wajahnya yang lelah setelah bekerja hingga larut malam.
Kembalinya dari toilet, Aqila lagi-lagi mendapatkan tatapan dari semua temannya yang terlihat berbisik-bisik dan duduk dengan tenang disamping temannya yang terlihat menggeser posisi duduknya menjauhi dirinya.
Aqila pun bingung dengan sikap teman disampingnya itu dan menanyakan apa yang terjadi. "Apa yang terjadi?" tanya Aqila. Tetapi, temannya itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepala saja.
Jam pelajaran pun dimulai hingga bel tanda pulang sekolah berbunyi. Semua para siswa siswi pulang kerumah masing-masing.
*
Keesokan harinya. Berita tentang Aqila pun tersebar dan banyak mata memandang Aqila dengan tidak suka dan mencoreng nama baik sekolah.
Aqila bersama dengan Azka pun ikut bingung dengan apa yang terjadi. Saat berjalan melewati koridor sekolah, tampak ada sebuah tulisan di papan pengumuman.
"AQILA GADIS MISKIN YANG SEDANG MENCARI LELAKI ORANG KAYA UNTUK MEMBIAYAI HIDUPNYA. HATI-HATI DENGAN PACAR KALIAN."
Aqila terkejut dengan berita pengumuman tersebut. Sebab, dirinya merasa tidak pernah tidur dengan lelaki hidung belang mana pun.
"Aqila. Sudah dapat berapa banyak Om-Om yang kamu gandeng selama ini?" seru Clarissa dengan teman-temannya berada di samping Aqila yang ikut membaca tulisan tersebut.
"Clarissa. Apa maksud berita ini semua? Apa kamu yang melakukannya?" tanya Aqila ingin memastikan bahwa bukan Non Clarissa yang melakukannya.
"Kalau aku yang melakukannya, memangnya kenapa!?" jawab Clarissa enteng.
"Apa kamu bilang!" Aqila berteriak terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh gadis itu.
"Ya, aku yang melakukannya. Sebab, aku sangat membencimu. Kamu merebut papaku darimu. Lebih baik sana kamu pergi saja. Ngapain sekolah, lebih baik tidur saja sama laki-laki kaya, supaya hidupmu enak." seru Clarissa dengan tertawa lebar dengan teman satu gengnya.
Aqila tak percaya dengan apa yang dikatakan Clarissa sungguh membuatnya syok. Dirinya menangis dan memilih pulang ke rumah daripada harus menanggung malu dan menjadi tontonan semua teman-temannya.
Dirinya difitnah dan dijauhi semua orang. Entah, setelah ini apa yang akan terjadi. Apakah mampu melewati semua cobaan yang dihadapinya.
Begitu sampai di depan rumah besar itu, Aqila masuk melewati pintu belakang. Untung saja, suasana rumah sepi karena Ayah dan ibunya pergi berbelanja kebutuhan bulanan di rumah tersebut.
Masuk ke kamar, Aqila menangis sejadi-jadinya karena fitnah yang tidak dilakukannya. "Apa salahku, kenapa semua orang begitu membenciku. Aku hanya ingin hidup damai dan nyaman."
Hingga siang hari telah tiba. Seperti biasa, Clarissa pulang sekolah selalu pergi ke mall bersama dengan teman geng nya. Sedangkan Azka sudah pulang sejak tadi dan mencari Aqila di kamarnya.
Azka masuk ke kamar Aqila dan mendapati adiknya tidur dengan memakai selimut hingga lehernya.
Aqila terbangun dengan mata sembab setelah dibangunkan oleh kakaknya.
"Aqila. Matamu kenapa sembab? Apa yang terjadi denganmu? Tadi, kakak mencarimu di sekolah. Tetapi, kata Non Clarissa, kamu gak masuk sekolah karena sakit?" Azka memberondong Aqila dengan banyak pertanyaan dan membuat Aqila kembali menangis.
Aqila pun menceritakan detail kejadian semalam hingga sekarang. Azka menahan amarah besar terhadap gadis kaya dan sombong itu. Dirinya semakin membenci Clarissa dan akan membela Aqila bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan lagi nanti.
Sore harinya. Clarissa pulang dari mall dan di cegat Azka di depan rumah.
"Hei, gadis sombong. Jauhi Aqila atau aku akan melaporkanmu pada Tuan Dimas."
"Aku." tunjuk Clarissa pada dirinya sendiri dan tertawa dengan sikap Azka, lelaki yang disukainya itu.
"Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apa pun. Oh, mengenai berita itu, bukan aku yang melakukannya," jawab Clarissa berbohong pada lelaki di depannya itu.
"Bohong. Aku tahu, gadis sepertimu pasti mampu berbuat seenaknya terhadap kami dengan segala cara."
"Jauhi adikku. Akan kubuat kamu menyesal nanti!" ancam Azka pada Clarissa dan berlalu pergi begitu saja.
"Cih. Dasar laki-laki miskin. Jika bukan karena orang tuaku. Hidupmu pasti seperti gelandangan di luar sana." desis Clarissa menghentakkan kakinya masuk kerumah.
Clarissa pun semakin membenci Aqila karena mengadu pada Azka, lelaki yang disukainya itu.
*
Malam harinya, Aqila dan ibunya membawa beberapa makanan dan lauk pauk dibantu oleh Baron selaku kepala pelayan di rumah itu. Sedang, mbak Inah membantu menata piring dan sendok garpu untuk majikannya.
Selesai menata, barulah Dimas beserta istri dan kedua anaknya juga Bayu datang untuk makan malam bersama.
"Wah, banyak sekali makanan hari ini. Kebetulan, menunya menggugah selera. Aku sudah sangat lapar," kata Bayu menatap beberapa makanan di meja.
"Iya, Om Bayu. Ervin juga sudah lapar saat melihat makanan Ayam Bakar di meja," celetuk Ervin ikut menimpali perkataan Bayu.
Kemudian, semuanya pun makan malam dengan tenang dan hanya suara sendok dan garpu yang berdentingan memecah keheningan saat makan. Selama makan tidak ada yang boleh berbicara atau hal lainnya.
Selesai makan, Aqila datang saat dipanggil oleh Dimas untuk membuatkannya kopi jahe dan segera Aqilla kembali ke dapur.
Beberapa menit kemudian, Aqila kembali membawa kopi hitam tersebut ke ruang keluarga dan meletakkannya di meja. Lalu, Dimas menanyakan perihal luka di jarinya.
"Bagaimana luka di jarimu? Apakah sudah sembuh?" tanya Dimas seraya memegang tangan Aqila. Ervin yang sedang menonton televisi pun merasa curiga akan perhatian papanya terhadap Aqila. Sebab, beberapa hari ini Ervin sempat memergoki papanya selalu menatap Aqila saat melakukan tugasnya di rumah.
"Ah, jari saya sudah sembuh Tuan. Terima kasih atas pertolongannya kemarin," ucap Aqila menunduk dan pamit pergi ke dapur.
Azka terkejut saat melewati ruangan tersebut yang ingin kembali ke kamar dan menatap intens lelaki paruh baya itu begitu perhatian sama Aqila.
"Aku merasa curiga dengan Tuan Dimas. Sejak kejadian di ulang tahun Aqila. Dia tiada hentinya selalu perhatian dengan adikku. Sebenarnya, apa yang diinginkannya." Azka bermonolog dengan pikirannya yang berkecamuk. Lalu, dia melanjutkan melangkah menuju kamar untuk istirahat.
Jam mulai menunjuk di angka 10 malam. Semua orang sudah pada tidur. Tetapi, tidak dengan Dimas. Dirinya selalu teringat akan kegiatan panas itu dengan Aqila. Beberapa hari ini, dirinya tidak menyentuh Aqila karena sibuk bekerja.
Sekarang, Dimas menginginkan lagi berhubungan dengan Aqila sejak bertemu di meja makan dan ruang keluarga tadi. Kini, Dimas turun dari kasur mengendap-ngendap keluar kamar saat melihat Davina tertidur pulas.
Dimas menutup pintu kamar pelan dan melangkah menuju kamar Aqila dengan tersenyum dan hati berdebar.
Beruntung, pintu kamar Aqila tidak dikunci dan dengan mudah Dimas membuka pintu itu lebar dan menutupnya kembali.
"Pak Dimas." Aqila terkejut dengan kedatangan majikannya itu. Untung saja dirinya belum tidur karena masih belajar.
Dimas duduk di tepi kasur dan dekat dengan Aqila yang sedang membaca buku pelajaran sekolahnya.
"Aqila, aku menginginkanmu lagi."
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu