Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Vivian
"Ravin...!" tiba-tiba saja suara perempuan yang baru keluar dari lift menggelegar hingga membuat semua mata menoleh ke arah lift.
Perempuan itu langsung berlari mendekati Ravin lalu memeluk Ravin. Ravin menoleh ke arah ruang meeting dimana Zemi masih ada di depan ruang meeting dan melihat dirinya di peluk oleh Vivian.
Mata Ravin dan Zemi bertabrakan.
Melihat Ravin di peluk perempuan lain, entah kenapa hati Zemi seperti terbakar. Zemi pun cepat-cepat pergi dari tempat itu menuju toilet wanita.
Melihat Zemi pergi, ingin sekali Ravin mengejar Zemi dan menjelaskan kalau dirinya dan Vivian tidak punya hubungan apa-apa. Tapi... untuk apa juga ia menjelaskan pada Zemi, toh mereka juga tidak punya hubungan apa-apa.
"Aku kangen." ucap perempuan itu manja dalam pelukan Ravin.
Perlahan Ravin menjauhkan tubuh Vivian.
"Kita ngobrol di ruang kerja aku yah." ucap Ravin dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Vivian.
Ravin pun membawa Vivian ke ruang kerja CEO bukan ke ruang kerja Ketua Tim Utama.
Setelah Ravin dan Vivian pergi, para karyawan yang sejak tadi menonton Ravin dan Vivian juga ikut pergi.
💋💋💋
Ruangan Kreator.
Kini Zemi sudah kembali ke ruang kreator. Sepanjang Zemi berjalan dari toilet sampai ke ruangan kreator, Zemi mendengar karyawan sedang menggosipkan Ravin dan Vivian.
Dari gosip yang Zemi dengar, Vivian adalah kekasih Ravin yang bekerja sebagai model dan Vivian baru kembali dari London setelah satu tahun berada disana.
Bahkan sesampainya di ruang kreator pun teman-temannya juga sedang membicarakan hubungan Ravin dan Vivian.
"Woah, sepertinya sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar-besaran karena Nona Vivian sudah kembali." ucap Raihan.
"Kamu lihat wajah Bos tadi, wajahnya nampak sekali bahagia melihat pujaan hatinya kembali." timpal Juan.
"Masa sih? Tapi kok aku melihatnya Bos seperti tertelan dengan kedatangan Vivian." sahut Prita.
"Haish, itu karena minus mata mu sudah tambah makanya kamu tidak bisa melihat wajah bahagia Bos! Periksa sana matamu!" balas Juan.
"Kau!!" geram Prita sambil melempar buku ke arah Juan tapi sayangnya tidak kena. Karena tidak kena Juna menjulurkan lidahnya mengejek Prita.
"Memangnya Bos pernah bilang kalau perempuan itu kekasihnya?" tanya Zemi yang sejak tadi hanya mendengarkan, mulutnya sudah gatal ingin bertanya.
"Memang sih si Bos tidak pernah mengumumkan hubungannya dengan Nona Vivian, tapi kami sangat yakin kalau Bos dan Nona Vivian sedang menjalin hubungan yang sangat manis dan mesra." jawab Juan.
"Iya benar." sahut para karyawan laki-laki.
"Kalau tidak punya hubungan apa-apa, kenapa Bos harus membawa Nona Vivian ke ruang CEO bukan keruangan Ketua Tim Utama? Pasti karena si Bos tidak ingin di ganggu sedang mesra-mesraan dengan Nona Vivian." ucap Kenzie kemudian memperagakan dua orang yang sedang ciuman.
Gara-gara ucapan Kenzie, Zemi jadi ikut membayangkan Ravin dan Vivian yang bermesraan.
Zemi menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuyarkan bayangan Ravin dan Vivian yang sedang bermesraan kemudian mencoba fokus bekerja. Tapi sayangnya tidak bisa.
Ayo Zemi fokus, fokus, fokus! Untuk apa aku memikirkan Ravin! Mau Ravin berpacaran atau tidak dengan perempuan itu, tidak ada hubungannya dengan mu! Ayo buang jauh-jauh perasaan mu untuk Ravin, ini sudah sepuluh tahun berlalu! Gumam Zemi dalam hati memberi sugesti untuk dirinya sendiri.
💋💋💋
Ruang CEO.
"Kapan datang?" tanya Ravin sambil memberikan secangkir teh yang Ravin seduh sendiri.
"Tadi malam." jawab Vivian.
"Kenapa tidak mengabari ku?" Tanya Ravin.
"Kalau aku memberitahu mu bukan kejutan lagi dong namanya." jawab Vivian.
"Seandainya aku tidak ada di kantor bagaimana? Sia-sia juga kan kejutan mu itu." balas Ravin.
"Kan sebelumnya aku hubungi asisten mu dulu." jawab Ravin.
Ravin tersenyum tipis.
"Apa kamu sedang libur, makanya bisa pulang ke sini?" tanya Ravin.
"Ummm... Aku libur sebulan, jadi selama sebulan ini kamu harus meluangkan waktu mu untuk ku! Awas kalau aku minta jalan-jalan kamu bilang tidak punya waktu!" jawab Vivian.
"Tapi sekarang aku sedang sibuk, jadi tidak bisa menemani mu jalan-jalan." balas Ravin.
"Kalau begitu aku tunggu disini sampai pekerjaan mu selesai." balas Vivian pantang menyerah.
Ravin menghela nafasnya kasar.
"Lebih baik kamu pulang dulu, nanti malam baru kita keluar makan malam. Bagaimana?" usul Ravin.
"Benar yah?" tanya Vivian memastikan.
"Iya." jawab Ravin.
"Habiskan teh mu, biar aku antar sampai ke lobi." kata Ravin lagi.
Vivian pun cepat-cepat menghabiskan teh-nya. Setelah itu mereka pun keluar dari ruangan CEO, Ravin mengantar Vivian sampai ke lobi. Setelah Vivan pergi, barulah Ravin kembali ke ruangan ketua tim utama.
💋💋💋
PT. AP Investment.
"Bagaimana dengan Zemi, apa dia bisa beradaptasi di tempat kerjanya?" tanya Tuan Abraham pada Leo.
"Dari informasi yang Alshad berikan, katanya Nona Zemi sangat pintar beradaptasi." jawab Leo.
"Baguslah, aku pikir tadinya dia akan sulit beradaptasi, mengingat selama ini dia jarang bersosialisasi. Tapi sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan." balas Tuan Abraham.
"Lalu bagaimana dengan hubungannya dengan pria yang akan ku jodohkan itu? Apa Zemi dan pria itu sudah melakukan interaksi? Atau Zemi merasa tertarik dengan pria itu?" tanya Tuan Abraham.
Karena tujuan utama Tuan Abraham memasukkan Zemi di perusahaan itu, yah karena ingin menjodohkan Zemi dengan si pemilik Ganesh Production, siapa lagi kalau bukan Ravindra Ganesha.
"Ini masih dua hari, Tuan, jadi belum ada interaksi apapun. Sabarlah satu, dua bulan lagi, pasti nanti kita akan mendengar Nona Zemi berkencan dengan pria itu." jawab Leo.
"Ya... Ya... Ya... kamu benar Leo. Hanya saja aku yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar anak itu menikah." jawab Tuan Abraham.
Leo hanya tersenyum tipis.
"Saya permisi dulu Tuan." pamit Leo.
"Hemh, pergilah! Lanjut lah bekerja." jawab Tuan Abraham.
💋💋💋
Pukul 19.00
The Grove Resto.
Setelah selesai bekerja, Camelia mengajak Zemi untuk menemaninya mencari gaun untuk acara kantornya besok. Setelah gaun di dapatkan, mereka pun mengisi perut mereka di salah satu western restoran yang letaknya tak jauh dari butik yang di datangi Zemi dan Camel.
"Kamu yang bayar yah, aku gak punya uang." ucap Zemi sebelum mereka masuk ke dalam restoran.
Camel terkekeh kecil.
"Iya. Kasihan Tuan Putri kita sedang di kutuk oleh Kakeknya sendiri." ejek Camel.
Mereka pun masuk ke dalam restoran.
Karena mereka tidak memesan tempat sebelumnya, jadi mereka tidak kedapatan meja.
"Maaf Nona, semua meja untuk umum sudah penuh." ucap resepsionis.
"Kalau gitu, kami pesan VIP room." ucap Camel.
Resepsionis pun mengutak-atik komputernya untuk melihat apa masih ada VIP room yang belum di booking.
Zemi langsung menyikut lengan Camel.
"Memangnya kamu punya uang masuk di VIP room? Pajaknya saja besar." bisik Zemi.
"Sialan! Kamu pikir aku semiskin kamu, hah!" ejek Camel.
"Sudah jangan di paksakan, kita makan di restoran lain saja." ucap Zemi.
"Sudah diam! Memangnya uang mu yang keluar? Tidak kan?" balas Camel.
"Maaf Nona, VIP room kami juga sudah di booking." jawab resepsionis.
Zemi menghela nafasnya lega.
"Ayo kita keluar, kita tidak berjodoh makan disini malam ini. Nanti kalau taruhan ku dengan si Kakek Tua itu selesai, aku janji akan membooking satu restoran ini untuk mu." ucap Zemi sambil menarik tangan Camel.
"Cih! Memangnya aku pacar mu!" decih Camel kesal. Kesal karena tidak dapat makan di restoran itu malam ini.
"Kamu memang bukan pacar ku, tapi kamu adalah belahan jiwa ku." jawab Zemi sambil menoel dagu Camel.
Saat mereka sampai di pintu, secara kebetulan mereka berpapasan dengan Ravin dan Vivian.
"Zemi." lirih Ravin.
"Hai..." balas Zemi sambil tersenyum kecut dan mengangkat tangannya.
"Kalian sudah selesai makan?" tanya Ravin.
"Sudah. Belum." jawab Zemi dan Camel bersamaan.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka