PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 Kenapa Kris Tidak Mengabari?
Subuh dini hari.
1 jam sebelum keberangkatan kapal latih KRI Dewaruci dari semalam sudah bersandar di pangkalan utama TNI-AL di Surabaya. Kris dan anak buahnya ditugaskan di sana untuk melakukan pengecekan di bawah kapal. Dikhawatirkan terjadi sabotase sebelum keberangkatan beberapa intelijen dan taruna TNI-AL untuk mengikuti festival maritim di Miami-USA. Taruna TNI-AL ialah siswa-siswi Akademi Angkatan Laut disingkat AAL. Sebagian dari mereka anggota marching band KRI Dewaruci bernama Gita Jala Taruna. Kapal KRI Dewaruci khusus diperuntukkan Taruna AAL untuk pelatihan pelayaran. KRI kepanjangan dari Kapal Republik Indonesia.
(KRI Dewaruci)
Memakai pakaian selam dari atas kapal, Kris beserta anak buahnya terjun ke laut. Setelah dia memberi kode melalui tangan, anak buahnya segera berpencar menyisiri bawah kapal. Air laut yang dingin, dalam keadaan gelap gulita, tidak menyurutkan tugas mereka. Ibarat kata sudah makanan sehari-hari mereka. Melalui senter di tangan, Kris memperhatikan secara seksama tiap detail bawah kapal.
Selanjutnya, dia memberi kode agar anak buahnya kembali berpencar menyisiri sekitaran kapal buat memperhatikan kehidupan bawah laut. Siapa tahu, ada hal mencurigakan seperti pergerakan manusia tidak dikenal.
Selang sesaat, Kris dan anak buahnya telah kembali ke atas. Pria berkharisma itu memberi laporan ke Komandan kapal.
“Aman, Dan! Semua sudah kami periksa. KRI Dewaruci dalam keadaan aman. Siap untuk diberangkatkan!”
“Baiklah. Kalau begitu, kamu dan pasukanmu bisa kembali ke tempat.”
“Siap, Dan!”
Kris memberi hormat, lalu mengajak semua anak buahnya turun. Tak lama kapal berangkat bertepatan Matahari terbit dipelupuk mata. Bersama anggotanya, dia berdiri di bibir dermaga menatap kepergian kapal diantara kilaunya sinar.
Sesudahnya, Kris dan anggotanya balik ke markas. Tempat dimana mereka di sini ditugaskan. Dalam perjalanan, di dalam truk militer yang mengangkut mereka. Salah satu anak buahnya bercanda.
“Ngopi dulu enak nih, Kapt!”
Pria itu tersenyum. Tahu anak buahnya minta ditraktir.
“Siaaaap..."
“Haha...,” kelakar yang lain turut memahami.
Drtt... Drtt...
Hp-nya berdering. Ditengoknya, masuk sms dari Rena.
“Selamat pagi... Semoga hari Abang menyenangkan...”
Rena adalah teman kerja Dewi di rumah sakit. Terjadi keakraban diantara mereka karena mereka satu kampung yaitu dari Medan. Rena memanggil Kris ‘abang’ sebutan orang Melayu untuk pria lebih tua. Tersenyum simpul Kris membalas...
“Pagi! Begitu pula kamu."
2 hari kemudian di kantin rumah sakit. Mantan Kris itu sedang sarapan dengan rekan-rekannya. Kecuali satu rekannya belum datang. Dewi memiliki 4 teman dekat. Terdiri dari 3 perawat yang satu shift dengannya yang sama-sama bertugas di ruang rawat inap. Dua wanita bernama Rena, dan Laras. Rena adalah wanita yang kemarin menghubungi Kris. Sedangkan Laras yang waktu itu memberi tahu Dewi, Kris datang menunggu di parkiran di bawah pohon ceri. 1 lagi pria bernama Teguh. Dan yang terakhir, seorang dokter wanita bernama Ajeng. Yang merupakan dokter ortopedi yang menangani sakit Kris waktu itu.
Rumah sakit tempat Dewi bekerja memiliki 3 gedung. 1 gedung utama berada di depan memiliki 6 lantai yang menghadap parkiran mobil dan jalan raya. 2 gedung lainnya hanya memiliki 2 lantai berada di belakang gedung utama di sisi kiri dan kanan. Ditengah-tengah gedung itu ada taman. Di lantai bawah gedung utama yang di sisi kanan merupakan ruang IGD. Sedangkan di sisi kiri, kantin yang bersebelahan dengan parkiran motor.
Kantin rumah sakit tampilan depannya berbahan kaca. Setengah badan kaca dari bawah ke tengah diberi kaca film buram, atau bisa juga disebut sticker sandblast berupa corak bambu. Dari luar orang yang melihat ke dalam hanya bisa melihat jelas setengah ruangan dari tengah ke atas. Sedangkan dari tengah ke bawah tersamarkan dari kaca film tersebut.
Selain pekerja rumah sakit, pasien, dan orang terdekat pasien, atau keluarga pasien yang hanya sekedar mengantar, atau menemani pasien sampai menginap, bisa makan di situ. Sistem makan di kantin self service. Pengunjung mengambil sendiri lauk-pauk yang tersedia di meja prasmanan, kecuali minum minta ke pelayan. Nanti diujung meja prasmanan pengunjung bayar di kasir sekalian bayar minuman. Minuman akan diantar oleh pelayan ke meja masing-masing. Sesuai nomor plakat meja yang diberikan kasir ke pengunjung. Tiap 3 kali, lauk pauk diganti untuk makan pagi, siang, dan malam. Di sebelah kasir, ada etalase yang menjajakan roti dan cemilan. Pembayarannya tidak jadi satu dengan kasir makan dan minum.
Ruangan kantin ber-AC, biar begitu ada kipas terpasang 4 dilangit-langit ruangan dengan pembagian 2 kiri dan 2 kanan. Biar makin meneduhkan. Tentu saja kalau lagi penuh pengunjung, AC tidak berfungsi dengan baik mendinginkan ruangan. 2 TV dipasang di sudut atas kiri dan kanan pas di depan meja prasmanan. Bangku-bangku di sana, ada yang panjang dari bahan kayu, dan ada juga yang single dari bahan plastik. Untuk menyesuaikan kebutuhan ukuran meja-meja di kantin tersebut.
(Gambar hanya ilustrasi)
(Gambar hanya ilustrasi)
“Wi, kenapa ayamnya elo pinggirin?” heran Laras.
“Gue lagi malas makan.”
“Yee... Uda dibeli malah nggak di makan. Sayang kali...”
“Tahu. Makan dong Wi, nanti kamu lemas loh hanya makan begitu doang,” tambah Dokter Ajeng.
“Diet elo, Wi?” tebak Teguh.
Wanita itu spontan mengerjapkan mata. Dia memang lagi mencoba segala aspek kemungkinan, mengapa Kris memutuskannya. Saat ini, ini yang dicobanya. Tapi kenapa Teguh bisa berpikir ke arah situ?
“Ah, enggak kok.”
“Terus, kenapa nggak di makan?”
“Karena...”
“Jangan-jangan benar kata Teguh,” potong Dokter Ajeng.
“Emang Mas Kris sekarang protes ya sama badan elo?” Laras jadi ikutan.
Saat Dewi ingin melanjutkan bantahannya, Rena berjalan masuk membuat Laras yang duduk di hadapan Dewi memperhatikan. Diikuti yang lainnya.
Rena tiba, baru bergabung bersama mereka. Karena meja hanya berisi 4 kursi. Dia menarik bangku lain.
“Dari mana aja Kamu, Ren?” tegur Dokter Ajeng.
“Tadi habis papasan sama pasien terus ngobrol sebentar.”
“Oo... Kamu sudah sarapan?”
“Sudah, Dok.”
Mata Rena memperhatikan piring Dewi. Dokter Ajeng dan Dewi duduk bersebelahan secara langsung jadi terlihatnya.
“Loh! Wi, kenapa ayamnya gak di makan?”
“Lagi diet dia,” sela Teguh.
“Hah?! Masa? Buat apa?”
“Apa lagi kalau bukan buat singset, biar Mas Kris makin kesengsem.”
Buru-buru Dewi. “Iiih... Enggak! Sumpah! Ini...”
“Ngaku saja kamu Wi,” potong Dokter Ajeng.
“Ihh... Enggak, Dok! Saya...”
“Tahu tuh, Dok! Lagian, ngapain sih elo diet-diet? Eh, Wi. Gue sebagai laki-laki ngelihat elo tuh menarik. Elo tuh gak gemuk-gemuk amat. Postur tubuh elo tuh tinggi tahu. Jadi menurut gue, elo cukup ideal-lah... Apa lagi elo putih. Jadi pede aja sih! Lagian, gue yakin Mas Kris gak ada protes sama badan elo. Dari awal dia tahu kok elo gemuk. Kalau nggak, nggak mungkin dia macarin elo,” tandas Teguh.
Memang badan Dewi nggak gembrot-gembrot amat, gemuk biasa. Namun biar bagaimanapun untuk ukuran wanita kuranglah menarik.
Dewi mendengus kecil. Teguh bicara begini pasti mau menghiburnya saja aslinya bohong. Laki-laki dimana-mana tetap saja mau lihat wanita tampil menarik. Bullshit, kalau nggak! Itu dari pelbagai artikel yang dia baca dari pelbagai majalah tentang pandangan seorang pria lihat wanita gemuk. Presentasenya kecil yang mau menerima wanita gemuk. Walaupun si pria sudah pacaran, tahu dari awal wanitanya gemuk tetap saja si pria berharap wanitanya langsing. Itu juga ada yang tertulis di artikel. Lagi pula, dia ini lagi mencoba segala kemungkinan. Teguh kan, gak tahu apa yang terjadi antara dia dan Kris.
“Iya, ini pasti kerjaan elo kan, Wi?” tuduh Rena
“Iihh... Enggak! Duh... Gue ini...”
“Sudah, Wi... Makanya, kalau gak mau digituin, di makan dong lauknya. Lagian, sudah dibeli gitu... Sayang amat,” potong Laras.
Dewi mendesah. Haishh... Sebalnya disudutkan terus. Ini terlihat memalukan kalau teman-temannya menyimpulkan begini. Masa, gara-gara cowok dia rela menyiksanya tubuhnya. Memang ketara banget sih... Masa, yang dimakannya nasi dan sayur doang. Ya sudahlah... Malas juga dia berdebat. Ya, di makan saja lah lauknya.
Setelahnya, mereka masuk kerja. Hari ini Dewi luar biasa sibuk. Selain mengurus pasien yang ditanganinya juga pasien yang baru masuk. Mencatat semua apa yang disampaikan dokter padanya. Tindak lanjut, takaran dosis yang tepat, dan lain sebagainya. Mengerjai semua apa yang dikatakan dokter. Mengambil di ruang obat, terus kembali lagi ke ruang pasien satu-persatu. Setelah itu dia membuat laporan. Belum lagi sehabis itu, dia di suruh untuk memperbantukan diri ke bagian IGD. Belum lagi yang lain-lain.
Kalau Dewi sesibuk itu, bagaimana tadi kalau dia hanya makan begituan doang? Apa kuat? Dewi sudah bertekad. Lagian, asal mengkonsumsi makanan dengan protein yang pas. Yang penting tak berlemak, pasti ada energi. Tadi salahnya, harusnya pesan telor, atau tahu, dan tempe. Malah opor ayam sudah pasti santan mengandung lemak. Alhasil, gara-gara itu dia pun jadi dicurigai sama teman-temannya.
Saat Dewi berjalan di lorong di bagian rawat anak, Rena memanggilnya.
(Gambar hanya ilustrasi)
“Dewi...”
Berhenti, menoleh. “Ya?”
“Wi, Gue mau bicara sama elo,” ujar temannya, setibanya.
“Bicara apa?”
“Bang Kris udah cerita belum?”
"Cerita? Cerita apa?”
“Kayaknya elo belum tahu ya. Iya sih, gue juga nelponnya baru. Jadi gini, ternyata teman-teman gue kenal sama Bang Kris, mereka dulu teman satu sekolah. Terus teman-teman gue sore ini mau ajak ketemuan. Tadi gue nelpon Bang Kris cerita plus ngasih tahu, dia sih oke aja. Nah! Masalahnya, karena dia nggak tahu tempatnya, dia ngajak bareng. Terus, mau jemput gue di sini.”
Terkesiap. “Di sini?”
“Tadi gue udah bilang kenapa jemput di sini, Bang? Eh, dia diam aja. Jadi gimana, Wi? Apa elo mau nelpon, Bang Kris ngomongin hal ini?"
Dewi mengerutkan alis. Rena baru nelpon, bukankah seharusnya sehabis itu Kris menelponnya?
“Makanya gue bilang begini, selain gue mau minta ijin sama elo. Gue juga kan gak enak pas dengar Bang Kris bilang begitu. Gue kan nggak mau orang-orang sini nanti salah paham."
“Nanti gue kabari deh, Ren.”
“Atau gini aja, misalkan nanti Bang Kris bilang tetap di sini. Yah... Nanti kalau orang sini gimana-gimana. Ya udah deh, gue bantu ngomong biar mereka enak dengar dari dua pihak. Tapi elo nggak apa-apa kan gue jalan sama, Bang Kris?”
“Nggak apa-apa.”
“Sip! Jangan lupa, tapi nanti elo tetap kabari gue ya."
"Iya."
Rena pergi. Sepanjang sahabatnya berjalan, Dewi mengamati punggung di depannya itu sembari memikirkan acara mereka.
Kenapa Kris tidak lanjut menelponnya? Apa karena sibuk mengurus laporan tentang kepulangannya dari Surabaya? Tapi mengangkat telepon Rena bisa. Masa menelponnya, nggak? Apa Rena kebetulan menelpon pas waktu senggang Kris? Misalkan begitu, ya sudah tunggu saja beberapa saat lagi...
Dewi tahu, Kris sehabis tugas di sana. Apa lagi kalau bukan kerjaannya nanya-nanya ke ayahnya.
Jam makan siang telah berlalu, Dewi kembali larut dalam pekerjaan. Kris belum juga ada menghubunginya. Rena bertanya meminta kepastian disedikit lagi waktu yang sudah mau memasuki jam pulang kerja. Dewi terpaksa bilang telah bicara, dan nggak masalah alasan Kris jemput di sini.
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku