Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.
Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.
Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.
dan...
Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.
Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.
"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.
Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.
"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.
Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tak Butuh Alasan
🌿Selamat membaca.
🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.
🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.
...----------------...
"Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, tapi ku mohon jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku. Bagaimana aku harus memenuhi janjiku pada Bintang." ucap Langit dan terus memeluk Mentari begitu erat.
Ke dua mata Mentari terpejam, air matanya menetes kembali. Hati dan pikirannya menjadi begitu sulit untuk memahami. Ia masih begitu terkejut mendengar ucapan Langit yang mencintai dirinya.
Dengan Langit yang masih terus memeluk tubuhnya, tak kuasa Mentari menyambut pelukannya itu. Mentari ikut menangis saat itu.
"Mas kenapa kau mencintaiku..?" tanya Mentari dan kini Langit menatapnya.
"Mentari.. Cinta itu perasaan dalam hati dan tak akan mampu dilukiskan dengan kata-kata. Maafkan aku, aku tak punya alasan kenapa aku mencintaimu, tapi yang ku tahu, saat bersamamu aku bahagia." ucap Langit dan membuat Mentari meneteskan kembali air matanya yang sempat ia hapus perlahan. "Maafkan aku Mentari, maafkan karena aku mencintaimu.." ucap Langit mencoba perlahan menghapus air mata milik Mentari. Langit tak tahu harus berkata apa pada Mentari, hanya kata maaf yang ke luar dari bibirnya itu.
"Sudahlah Mas, antar aku pulang saja." pinta Mentari terlihat cuek dan tak ingin menanggapi ucapan Langit padanya.
Mentari pun masih begitu sulit harus memberi jawaban apa pada Langit. Mentari masih tak mampu, tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Hatinya masih untuk Bintang, dan hanya untuk Bintang.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Mentari dan Langit lebih banyak diam.
Mentari mencoba menikmati perjalanannya dengan pikirannya terkenang kembali akan sosok Bintang.
"Kenapa kau mau menikahi ku mas?" tanya Mentari ketika itu.
"Karena aku mencintaimu."
"Hmm, lalu kenapa kau mencintaiku?" tanya Mentari dengan Bintang yang berada di hadapannya yang sedang berpikir begitu keras atas pertanyaan Mentari itu.
"Itu karena kau cantik, kau baik, kau manis, kau pintar, dan ku yakin kau jodohku."
"Kenapa kau begitu yakin aku jodohmu mas?"
"Buktinya kita akan segera menikah."
Mentari terisak kembali mengenang itu semua. Pernikahannya batal, dan ini membuktikan bahwa Bintang bukan jodohnya. Mentari masih tak mau mengakui hal itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Langit yang menyadari bahwa Mentari tengah menangis kembali.
"Ya.. aku baik-baik saja." ucap Mentari dan kembali menghapus air matanya.
Kembali sunyi, dengan perasaan masing-masing. Perasaan penuh dengan rasa bersalah, rasa penyesalan, rasa mencintai namun tak tersampaikan.
.
.
.
.
"Terimakasih untuk hari ini." pamit Mentari begitu cepat meninggalkan Langit yang masih menatap Mentari yang pergi begitu saja.
Senja yang memperhatikan kedatangan mereka merasa sesuatu hal telah terjadi diantara mereka.
"Sudah kembali nak Langit."
"Iya Bu, maafkan Langit sudah larut malam baru mengantar Mentari pulang." ucap Langit dan membuat Senja tersenyum.
"Enggak apa-apa, masuk dulu yuk ibu buatkan teh."
"Enggak usah Bu, Langit langsung pulang saja, sudah malam." tolak Langit dengan sopan.
"Ya sudah, hati-hati dijalan ya."
"Ya Bu, terimakasih."
Senja menatap kepergian Langit, tampak begitu berat ia melangkah.
"Kau pasti akan bahagia.." bisik Senja saat Langit sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
Setelah memastikan Langit pergi, Senja kembali melangkah. Kali ini ia melangkah menuju kamar Mentari.
Senja ketuk perlahan dan terdengar suara dari Mentari dan membukakan pintu untuknya.
"Kau belum tidur?"
"Belum Bu.." jawab Mentari dan kembali menuju ranjangnya.
Sejak tiba di kamar, Mentari langsung menuju ranjangnya. Ia banyak berpikir, berpikir kembali tentang perasaan Langit padanya.
"Ibu boleh bertanya?" ucap Senja dan ikut duduk tepat di samping Mentari
"Bertanya soal apa Bu?"
"Kau sedang bertengkar dengan Langit?" tanya Senja dengan ke dua tangan menggenggam jemari Mentari dan menatap Mentari begitu dalam. "Kenapa?, tadi kalian pergi terlihat baik-baik saja, kenapa setelah kembali kamu malah menekuk wajahmu?"
"Bu.., Mas Langit bilang.. ia mencintai Mentari." jawab Mentari jujur dan Senja tersenyum mendengarnya.
"Ibu sudah tahu.."
"Bagaimana ibu bisa tahu?" selidik Mentari dan menatap wajah Senja meminta penjelasan.
"Pandanganmu sudah tertutup oleh seorang Bintang, ada orang lain mencintaimu, kamu tak menyadarinya."
"Bu.. lalu Mentari harus bagaimana? Mentari tidak mencintai Mas Langit, Mentari hanya mencintai Mas Bintang Bu.."
"Tapi Bintang sudah pergi dan tak akan kembali Nak." ucap Senja mengingatkan Mentari. "..dan kau ada janji yang harus kau tepati saat ini." ucap Senja lagi.
"Tapi Bu, Mentari tidak mencintai Mas Langit. Tari masih sangat mencintai Mas Bintang, Tari enggak bisa melupakannya."
"Kau bukan tidak mencintai Langit, tapi kau belum mencintainya. Ikhlaskan kepergian Bintang nak, biarkan dia tenang di sana dan kau tak harus melupakannya, Bintang sudah memiliki ruang sendiri di hatimu."
"Tapi Bu, Apa Mentari tetap harus menikah dengan Mas Langit?"
"Ya.. janji adalah janji Nak, dan kau harus menepatinya. Kamu enggak mau Bintang mu bersedih kan?" tanya Senja dan Mentari menggeleng. "Kami pun enggak mau melihat mu bersedih terus, ibu percaya kamu akan bahagia bersama Langit, dia pria baik dan dia sangat mencintaimu."
"Bagaimana ibu tahu dia sangat mencintaiku?"
"Kau tahu siapa yang membelikan gaun yang kau pakai saat ini?"
"Tentu mas Bintang Bu, Mas Bintang sendiri yang memberikannya saat ulang tahunku." Senja pun menggeleng mendengar jawab Mentari.
"Itu kado yang semula Langit ingin berikan untukmu."
"Enggak mungkin Bu, lagian untuk apa Mas Bintang melakukan hal seperti itu."
Senja menarik napas begitu panjang, ia perlahan mencoba membuka kenangan lama yang ia simpan karena permintaan Langit.
"Ibu yang menemani Langit membelikan gaun putih ini untuk kado ulang tahun mu."
Deg..
Senja teringat kembali saat itu, bagaimana Langit begitu antusias menyambut kedatangan hari ulang tahun putrinya, Mentari.
"Bagaimana menurut ibu, apa Mentari menyukainya?"
"Pasti dia menyukainya, gaun itu sangat cocok dengan Mentari." ucap Senja sependapat dengan pilihan Langit.
Namun senyumnya yang saat itu begitu bahagia, tiba-tiba memudar saat pesta ulang tahun itu tiba.
Senja yang awalnya tahu kado itu akan diberikan Langit untuk Mentari. Namun tiba-tiba saja kado itu telah berpindah tangan, Bintang yang memberikannya.
"Nak Langit, kenapa kado itu.." tanya Senja namun terpotong dengan ucapan Langit.
"Bu.. tolong bantu aku rahasiakan ini."
"Kenapa?"
"Mentari akan lebih bahagia, jika kado itu diberikan oleh Bintang, bukan diberikan olehku." ucap Langit menjelaskan dan terukir kesedihan yang begitu dalam di wajahnya, namun tetap tersenyum saat itu.
Kini Senja tengah menatap Mentari yang masih begitu terkejut mendengarnya.
"Kenapa Mas Langit tak mengatakan yang sebenarnya?"
"Mungkin dia tidak ingin membuatmu bersedih."
"Tapi kenapa Bu.."
"Itulah cinta Mentari.." jawab Senja mengakhiri perbincangan mereka yang cukup menguras emosi kesedihan keduanya.
Mentari tampak berpikir malam itu, banyak hal yang ia tak ketahui, banyak hal yang sudah terjadi.
.
.
.
.
Move on yukk🤧, pelan..pelan..
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
temen mentqri😅😅
🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️