.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Standar Langit, Godaan Malas, dan Instruktur yang Naik Darah
Hutan Bambu Ungu di sekitar Paviliun No. 01 baru saja diselimuti kabut tipis fajar ketika langkah kaki yang beritme cepat kembali merusak ketenangan. Mu Ning’er datang dengan agresi akademik penuh. Di kedua lengannya, mendekap erat lima gulungan perkamen tebal yang berisi diagram jalur sirkulasi Qi dan matriks formasi dasar kelas satu.
Ji Huang sedang berada di halaman, menyandarkan tubuh fanya di atas kursi rotan. Selimut bebek rajutan tangan ayahnya terbungkus rapi hingga ke leher, menyisakan sepasang mata sayu yang menatap malas pada dedaunan yang jatuh.
"Bangun, Ji Huang!" Ning’er menghentakkan kakinya, meletakkan tumpukan perkamen itu di atas meja batu dengan dentuman keras. "Aku begadang semalam untuk menyusun kurikulum perbaikan ini khusus untukmu. Di Akademi Kekaisaran, tidak ada tempat untuk parasit yang hanya tahu cara menghabiskan jatah batu spiritual asrama tanpa kontribusi!"
Ji Huang perlahan memiringkan kepalanya tiga derajat, menatap Instruktur Muda itu tanpa mengubah ekspresi lempengnya. "Instruktur Mu, matahari bahkan belum sepenuhnya keluar dari ufuk timur. Berteriak sepagi ini akan menguras energi vital paru-parumu dan mempercepat penuaan dini pada kulit wajahmu."
Menatap wajah Ning’er yang mulai berkedut menahan kesal, kesadaran Ji Huang mendadak melayang jauh, menembus batas ruang dan waktu menuju fragmen ingatan ribuan tahun lalu di Alam Atas.
Saat masih menyandang gelar Dewa Pedang yang mendominasi sembilan langit, Ji Huang adalah sosok yang dikelilingi oleh kemegahan yang tak terbayangkan oleh manusia fana. Di istana abadinya, para Dewi Agung dengan kultivasi tingkat tinggi, Putri Kaisar Langit yang memiliki garis darah suci, hingga Peri Es yang kecantikannya mampu membekukan emisi bintang, rela mengantre selama berabad-abad di luar gerbangnya. Mereka datang membawa arak surgawi termahal atau buah persik keabadian hanya untuk mendapatkan satu lirikan, atau hak menyeduh teh di dekat tempat meditasinya.
Namun, Ji Huang di masa lalu sama sekali tidak peduli. Baginya, wanita—bahkan para dewi tercantik di langit sekalipun—hanyalah makhluk bising dengan ego tinggi yang berpotensi mengganggu stabilitas meditasi pedangnya. Dia akan menutup gerbang istana selama ratusan tahun, mengabaikan segala bentuk pesona surgawi demi keheningan absolut.
Ironisnya, di dunia fana ini, situasinya justru berbalik secara komedi. Wadah daging barunya ini terus-menerus dikerumuni dan diganggu oleh gadis-gadis fana berdarah panas yang tidak mengenal kata menyerah—mulai dari sepupu juteknya, Ji Lan, hingga instruktur muda yang gila kerja di depannya ini.
Namun, ada satu perbedaan mendasar yang disadari Ji Huang. Jika di masa lalu dia memilih mengabaikan mereka dengan dingin, di kehidupan fana yang malas ini dia menemukan satu taktik baru: menggoda mereka dengan kepolosan yang menusuk adalah strategi pertahanan paling efisien untuk mengusir mereka dari zona malasnya tanpa perlu mengeluarkan energi Qi.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan omong kosong medis fana!" Ning’er menunjuk diagram pada gulungan teratas. "Hari ini kita akan mempelajari reposisi titik meridian utama untuk mempercepat penyerapan Qi. Perhatikan struktur geometris ini—"
"Instruktur Mu," Ji Huang memotong kalimat Ning’er dengan nada suara yang lambat dan kelewat tenang. Dia sedikit menurunkan selimut bebeknya, mengekspos tatapan polosnya yang lurus menatap wajah gadis itu. "Formasi geometris yang kamu gambar di atas kertas itu mungkin memiliki akurasi sembilan puluh sembilan persen. Namun, jepitan rambut perak di kepala sebelah kananmu miring sekitar tiga milimeter dari poros tengah."
Mu Ning’er seketika menghentikan penjelasannya, tangannya refleks bergerak menyentuh rambut kuncir kudanya dengan wajah bingung. "Apa... apa hubungannya jepitan rambut dengan—"
"Tentu saja ada hubungannya," potong Ji Huang lempeng, wajahnya sedatar papan tulis. "Seorang Array Master harus memiliki presisi visual yang absolut. Kehilangan fokus estetika pada dirimu sendiri menandakan bahwa pikiranmu sedang kacau akibat konsumsi Pil Penahan Tidur yang berlebihan. Ketidakseimbangan simetri pada wajah cantikmu itu bisa mengacaukan aliran sirkulasi Qi di kepala. Jika diteruskan, kamu bisa mengalami distorsi mental saat menyusun formasi tingkat tinggi."
Ji Huang menghela napas panjang dengan raut wajah yang tampak sangat prihatin, seolah-olah dia sedang memikirkan keselamatan seluruh akademi.
"Sebagai murid jalur khusus yang berbakti pada keselamatan instruktur, aku punya saran yang lebih efisien," lanjut Ji Huang polos sembari menepuk sisi kosong kursi rotannya yang cukup luas. "Bagaimana kalau kita tidur siang bersama sekarang? Dua jam istirahat total di bawah naungan bambu ungu ini akan mengembalikan keseimbangan simetri wajahmu secara alami. Itu jauh lebih berguna daripada membaca kertas-kertas membosankan ini."
"Kamu... kamu...!!!"
Wajah Mu Ning’er seketika berubah warna, bertransformasi dari putih porselen menjadi merah padam hingga ke ujung telinganya. Sepanjang hidupnya di akademi sebagai jenius yang dihormati, dia selalu dikelilingi oleh murid laki-laki yang bersikap formal, kaku, dan penuh hormat. Dia belum pernah—bahkan tidak pernah membayangkan dalam mimpi terburuknya—akan digoda dengan cara se-lempeng, se-terbuka, dan se-absurd ini oleh seorang murid baru di depan umum.
Perpaduan antara rasa gengsi sebagai instruktur, rasa malu yang meletup, dan kemarahan karena argumen gilanya dipatahkan dengan logika malas, membuat sirkulasi Qi di dalam tubuh Ning’er benar-benar bergolak kacau untuk sesaat.
"Dasar... murid mesum tak tahu malu! Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu pada instukturmu sendiri!" teriak Ning’er dengan suara yang melengking tinggi, benar-benar kehilangan ketenangan perfeksionisnya.
Tanpa sempat merapikan kembali lima gulungan perkamen yang dibawanya, Mu Ning’er menghentakkan kakinya dengan sangat keras hingga lantai batu halaman paviliun retak tipis. Dia membalikkan tubuhnya dengan cepat, membuat kuncir kuda tingginya mengibas udara, lalu berlari kencang meninggalkan halaman Paviliun No. 01 seolah-olah sedang dikejar oleh binatang spiritual tingkat tinggi.
Bamm! Gerbang kayu Hutan Bambu Ungu tertutup dengan hantaman keras dari kejauhan.
Ji Huang mengawasi kepergian gadis itu dengan pandangan sayu yang kembali damai. Keheningan yang dirindukannya akhirnya kembali menguasai halaman paviliun.
Dia perlahan menarik kembali selimut bebek rajutan tangan Ji Tian hingga menutupi dagunya, lalu membenarkan posisi kepalanya di atas bantal kursi rotan agar mendapatkan sudut kenyamanan maksimal untuk melanjutkan sisa tidurnya.
"Para dewi di langit atas membutuhkan waktu ribuan tahun dan jutaan kata hanya untuk membuatku mengeluarkan satu patah kata dingin," batin Ji Huang sembari menyunggingkan senyum lempeng yang samar. "Namun, gadis fana di dunia bawah ini hanya membutuhkan beberapa kalimat polos untuk dibuat berlari menjauh sejauh satu mil. Menggoda dengan kepolosan ternyata membutuhkan kalori dan energi yang jauh lebih hemat daripada harus bertarung fisik menggunakan Niat Pedang."
Xiao Mei baru saja keluar dari dapur samping membawa sepiring manisan buah persik yang baru dipotong, menatap gerbang yang masih bergetar dengan ekspresi maklum yang sudah terlatih. "Tuan Muda, Instruktur Mu tampaknya melupakan seluruh dokumen kurikulumnya lagi."
"Biarkan saja di sana, Xiao Mei," gumam Ji Huang, matanya kini telah terpejam sepenuhnya dengan damai. "Kertas-kertas itu memiliki tekstur yang cukup tebal. Nanti siang, kamu bisa menggunakannya sebagai alas tambahan di bawah kakiku agar kursi rotan ini tidak bergoyang saat tertiup angin."
Ji Huang pun kembali tenggelam ke dalam ritual tidur paginya yang tak terusik, membiarkan badai rumor baru tentang dirinya dan sang Instruktur Muda mulai menyebar di koridor Akademi Kekaisaran.
Akankah pelarian Mu Ning'er ini memicu kecemburuan dari faksi murid dalam yang mengaguminya, sehingga Ji Huang harus menghadapi tantangan formal di arena akademi pada bab berikutnya?