"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saldo Istri, Nafkah Suami
Langkah kaki Pras terasa seperti diseret di atas bara api sepanjang sisa perjalanan menuju rumah ibunya. Begitu ia berbelok di ujung persimpangan ruko grosir milik Mamanya, pemandangan di depannya langsung membuat jantung Pras berhenti berdetak.
Kerumunan warga kampung sudah memadati area parkir ruko yang biasanya dipenuhi oleh tumpukan kardus sembako. Di depan pintu harmonika ruko yang tertutup rapat, berdiri tiga orang pria bersetelan kemeja rapi dengan tanda pengenal instansi bank swasta terkemuka yang dikalungkan di leher mereka. Di samping mereka, Pak RT dan dua petugas ketenteraman dari kelurahan berdiri dengan wajah tegang, menyaksikan dua orang pekerja kasar yang mulai mengeluarkan palu besar, semen, dan papan kayu tebal bercat putih dengan tulisan merah menyala: TANAH DAN BANGUNAN INI DISITA OLEH BANK.
"Jangan! Tolong jangan dipasang dulu, Pak! Demi Allah, kami akan bayar minggu ini! Anak saya sedang jalan pulang membawa uangnya!" Jeritan histeris Mama Pras menggema, memecah kebisingan jalan raya. Wanita tua itu tampak bersimpuh di depan salah satu petugas bank, memegangi ujung celana kain sang petugas dengan air mata yang merusak riasan bedak tebalnya.
Di sudut lain, Rika berdiri dengan wajah merah padam karena menahan malu yang luar biasa di hadapan para tetangga yang mulai berbisik-bisik dan merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Sementara di ambang pintu rumah induk yang menyatu di belakang ruko, tampak sosok Salam anak bungsu di keluarga itu yang masih berstatus mahasiswa semester akhir berdiri mematung dengan wajah pucat pasi laksana mayat. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana, namun bahunya bergetar hebat.
"Mama! Berdiri, Ma!" Pras berteriak, membelah kerumunan warga dan langsung memegangi tubuh ibunya yang lunglai.
"Pras! Akhirnya kamu pulang!" Mama Pras langsung mencengkeram lengan Pras dengan sangat kuat, hingga kukunya memutih. "Mana uangnya, Pras? Kasih ke mereka! Suruh mereka pergi dari ruko Mama! Cepat!"
Pras menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir. Ia menatap petugas bank berkacamata yang bertindak sebagai ketua tim eksekusi. "Selamat siang, Pak. Saya Pras, anak tertua di keluarga ini. Mohon maaf, apakah tidak ada tenggat waktu lagi? Kami bisa bicarakan ini di dalam, tolong jangan pasang papan sitaan itu di depan umum. Nama baik usaha grosir ibu saya bisa hancur."
Petugas bank itu menghela napas, menatap Pras dengan pandangan dingin tanpa simpati. "Tuan Prasetyo, surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga sudah kami layangkan sejak berbulan-bulan lalu ke alamat ini. Pihak kami bahkan sudah memberikan dispensasi restrukturisasi utang, namun tidak pernah ada iktikad baik atau pembayaran sepeser pun dari rekening ibu Anda. Hari ini adalah batas akhir eksekusi ruko ini berdasarkan putusan pengadilan. Kami hanya menjalankan tugas."
"Tapi kami ada uangnya, Pak! Tolong beri kami waktu tiga hari!" Pras mencoba bernegosiasi, berbohong demi menyelamatkan sisa harga dirinya yang sebenarnya sudah habis terinjak di kantor pagi tadi. Di dalam sakunya, ia sama sekali tidak memegang uang sepeser pun jangankan seratus juta, untuk ongkos makan malam ini saja ia sudah bingung. Namun, Pras berharap ia bisa mengulur waktu untuk mencari pinjaman lain.
"Tiga hari tidak akan mengubah keputusan eksekusi hari ini, Tuan. Jika dalam tiga hari Anda bisa melunasi seluruh tunggakan beserta denda berjalan sebesar seratus delapan puluh juta rupiah, Anda bisa mengurus pencabutan plang ini di kantor pusat kami. Tapi sore ini, ruko tetap harus dikosongkan dan digembok," jawab petugas bank itu mutlak.
Brak! Brak!
Suara hantaman palu besar yang menancapkan tiang papan penyitaan ke dalam tanah beton teras ruko terdengar laksana dentang lonceng kematian bagi keluarga Pras. Mama Pras langsung menjerit histris lalu pingsan di pelukan Rika yang ikut menangis histeris karena syok. Pras hanya bisa mematung, meratapi ruko tempat sumber mata pencaharian keluarganya kini telah resmi disegel oleh negara.
Namun, dewa kesialan rupanya belum selesai bermain-main dengan nasib keluarga parasit ini. Belum sempat Pras dan Rika membopong tubuh ibunya yang pingsan masuk ke dalam rumah induk, sebuah mobil jip besar berwarna hitam legam dengan kaca gelap tiba-tiba berhenti tepat di belakang kerumunan warga.
Pintu mobil terbuka, dan dari dalamnya turun dua orang pria bertubuh sangat besar, tegap, dengan kulit gelap dan guratan wajah yang sangat beringas.
Mereka mengenakan jaket kulit hitam, memancarkan aura premanisme kelas atas yang biasa disewa oleh komplotan penagih utang profesional debt collector. Kedatangan kedua orang asing ini seketika membuat warga yang berkumpul langsung mundur teratur karena ketakutan.
Pras mengernyitkan dahi, mencoba menahan rasa gentar yang mendadak menyerang pertahanan mentalnya yang sudah rapuh. "Maaf, Anda berdua mencari siapa?" tanya Pras lantang, mencoba bersikap berani di depan rumahnya sendiri.
Pria bertubuh paling besar dengan tato kalajengking di lehernya tidak menjawab pertanyaan Pras. Matanya yang tajam menyapu halaman rumah, lalu tertuju lurus pada satu titik di ambang pintu: sosok Salam yang sedang berdiri gemetar.
"Salam Prasetya," suara pria bertato itu terdengar berat, serak, dan menggelegar. "Akhirnya kami menemukan rumahmu. Jangan pikir kamu bisa lari setelah mematikan nomor teleponmu selama dua minggu ini."
Mendengar nama adiknya dipanggil oleh orang-orang mengerikan itu, Pras langsung menoleh ke arah Salam. "Salam? Ada apa ini? Siapa mereka?!"
Salam tidak menjawab. Pemuda yang biasanya selalu diagung-agungkan oleh ibunya sebagai anak bungsu kesayangan yang pintar kuliah itu kini benar-benar terlihat laksana ayam sayur yang siap disembelih. Keringat dingin bercucuran deras dari pelipisnya hingga membasahi kerah kaus almamater yang dipakainya. Bibirnya bergetar hebat, dan lututnya tampak saling berbenturan karena saking ketakutannya.
"Bang... tolong, Bang... jangan di sini. Kita bicarakan di dalam," bisik Salam dengan suara yang nyaris habis, mencoba memohon kepada kedua pria besar tersebut.
"Tidak ada bicara di dalam! Bos kami sudah habis kesabaran dengan bocah ingusan seperti kamu!" bentak pria kedua yang bertubuh kekar sembari mengeluarkan selembar dokumen tebal berlapis map plastik merah dari dalam jaketnya. Ia menghempaskan dokumen itu tepat ke dada Pras.
Pras dengan sigap menangkap map tersebut. Jantungnya berdegup kencang saat melihat logo yang tertera di bagian atas surat: KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN PENDANAAN SWADAYA GARUDA PERKASA sebuah lembaga keuangan mikro ilegal berkedok koperasi yang terkenal sering meminjamkan uang dengan bunga lintah darat dan metode penagihan yang sadis.
"Apa ini?" Pras membuka lembaran surat itu dengan tangan bergetar.
"Itu adalah surat perjanjian pinjaman dana tunai macet atas nama adajamu, Salam Prasetya! Total pinjaman pokok sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah yang diambil enam bulan lalu, dan sekarang dengan bunga serta denda berjalan sudah membengkak menjadi empat ratus juta rupiah!" teriak pria bertato kalajengking itu sengaja diperkeras agar seluruh warga mendengar.
Deg.
Pras laksana dihantam gada besi tepat di ulu hatinya. Empat ratus juta? Dari mana seorang mahasiswa semester akhir bisa meminjam uang sebanyak itu?
Rika yang sedang memijat kening ibunya yang baru siuman langsung membelalakkan mata. "Empat ratus juta?! Salam! Kamu gila ya?! Kamu pakai uang sebanyak itu buat apa, hah?!" jerit Rika ikut histeris.
Mama Pras yang baru saja membuka matanya seketika terduduk di lantai teras dengan napas terengah-engah begitu mendengar angka nominal tersebut.
"Salam... anakku... ini tidak mungkin, kan? Kamu kan anak baik-baik, kamu kuliah... tidak mungkin kamu punya utang sebanyak itu..." ratap ibunya dengan suara lemah, mencoba menyangkal kenyataan bahwa anak emasnya ternyata menyimpan borok yang jauh lebih mengerikan dari Pras dan Rika.
Salam akhirnya luruh ke lantai, berlutut sembari menangis tersedu-sedu. "Ma... Mas Pras... maafin Salam... Salam kemarin ditipu teman buat investasi saham bodong... Salam pikir bisa untung besar buat bantu bayar utang kartu kredit Rika dan ruko Mama... tapi uangnya malah dibawa lari..." aku Salam dengan suara parau bercampur isak tangis yang memilukan.
Pras meremas kertas di tangannya hingga kusut. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. "Lalu kalau investasimu gagal, kenapa orang-orang ini datang ke rumah kita, Salam?! Kenapa mereka membawa berkas penyerahan aset?!" bentak Pras dengan mata merah berapi-api.
Pria bertato kalajengking itu tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga keluarga tersebut. "Tanya pada adik pintarmu itu, Tuan Pras. Enam bulan lalu, saat mengajukan pinjaman dana cepat dua ratus lima puluh juta, koperasi kami tentu saja meminta jaminan aset yang setara. Dan adikmu ini... dengan sangat berani menyerahkan sebuah dokumen asli yang sangat berharga."
Pras perlahan membalik lembar kedua dari dokumen di tangannya. Di sana, terlampir sebuah salinan fotokopi berkas yang sangat familiar di matanya. Berkas berkulit hijau tua dengan lambang garuda emas di depannya.
SERTIFIKAT HAK MILIK (SHM) ATAS TANAH DAN RUMAH INDUK KELUARGA PRASETYO.
Dunia Pras benar-benar runtuh, gelap, dan tak menyisakan celah udara sedikit pun untuknya bernapas. Tangan Pras lemas, membuat map merah itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berserakan di atas lantai teras.
"S-sertifikat... rumah kita...?" desis Pras dengan bibir yang mendadak mati rasa.
Ternyata, selama ini, di balik punggung seluruh anggota keluarga, Salam telah mencuri sertifikat rumah induk yang disimpan ibunya di dalam lemari besi kamar, lalu menjadikannya sebagai agunan utang kepada lintah darat demi mengejar keuntungan instan. Rumah yang saat ini menjadi satu-satunya tempat berteduh tersisa bagi mereka setelah ruko disita bank, kini statusnya sudah digadaikan oleh anak bungsu kesayangan mereka sendiri.
"Benar! Hari ini, sesuai dengan klausul perjanjian cedera janji yang ditandatangani oleh Salam di atas materai, kami datang untuk menyita dan mengosongkan rumah ini! Jika dalam waktu dua puluh empat jam kalian tidak bisa menyerahkan uang empat ratus juta tunai, besok pagi seluruh barang-barang kalian akan kami lempar ke jalanan, dan rumah ini resmi menjadi milik koperasi kami!" bentak pria kekar itu dengan nada final yang tak terbantahkan.
Mama Pras yang mendengar kenyataan bahwa rumah peninggalan almarhum suaminya kini terancam hilang akibat ulah anak emasnya sendiri, langsung memegang dadanya dengan mata membelalak lebar, sebelum akhirnya kembali jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan mulut mengeluarkan busa halus karena syok berat. Suasana sore itu di Gang keluarga Pras berubah menjadi neraka dunia yang paling mengerikan, menyisakan Pras yang hanya bisa berdiri mematung menatap hancurnya seluruh sendi kehidupannya tanpa sisa.
Keserakahan dan kepalsuan yang mereka tanam selama sepuluh tahun untuk menyiksa Arumi, kini telah berbuah kehancuran mutlak yang memusnahkan garis keturunan mereka hingga ke akar-akarnya.
nama mantan Suami Arumi adalah PRAS.. bukan nya REVAN 😁🙏
brondong nya juga keren 👍😁