Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Perjanjian Baru di Atas Jok Kulit
Gemercik air dari pancuran marmer di halaman mansion mewah itu perlahan memudar seiring dengan bergeraknya mobil sedan hitam meninggalkan kawasan residensial elit tersebut. Namun, hawa dingin dan mencekam yang ditinggalkan oleh titah sang Kakek seolah-olah ikut menyelinap masuk, memenuhi setiap sudut kabin mobil yang senyap.
Kinar menyandarkan punggungnya pasrah ke jok kulit, menatap kosong ke arah luar jendela tempat lampu-lampu jalanan kota mulai menyala satu per satu. Kepalanya terasa pening, berdenyut-denyut seperti mau pecah. Skenario hidupnya dalam waktu beberapa jam berubah drastis—dari seorang mahasiswi teknik biasa yang baru merayakan kelulusan, menjadi pion utama dalam pusaran warisan triliunan rupiah keluarga Mahendra.
Di sampingnya, Arga masih diam membisu. Cowok itu melepaskan dua kancing teratas kemeja putihnya, melonggarkan dasi hitam yang mendadak terasa mencekik lehernya. Gurat frustrasi tercetak jelas di wajah tampannya.
"Berhentiin mobilnya di depan minimarket itu, Pak," perintah Arga tiba-tiba kepada sopir berjas di depan.
"Baik, Tuan Muda," patuh sang sopir, langsung mengarahkan kemudi ke area parkir sebuah minimarket yang cukup sepi di pinggir jalan raya.
Begitu mobil berhenti sempurna, Arga menoleh ke arah depan. "Pak, tolong tinggalkan kami berdua sebentar di dalam mobil. Saya mau bicara pribadi sama istri saya."
"Dimengerti, Tuan Muda." Pria paruh baya itu membungkuk hormat, lalu keluar dari mobil dan berdiri cukup jauh di bawah peneduh ruko, memberikan privasi penuh bagi sepasang pasutri kontrak tersebut.
Setelah pintu mobil tertutup rapat kembali, keheningan instan menyerang mereka. Kinar masih enggan menoleh, tetap mempertahankan posisinya menatap jendela.
"Nar," panggil Arga lembut, suaranya terdengar sangat lelah. "Gue tahu lo marah. Gue tahu lo ngerasa dibohongin."
Kinar mengembuskan napas pendek, lalu perlahan memutar tubuhnya menghadap Arga. Matanya yang jernih kini menatap Arga dengan sorot yang campur aduk—antara kecewa, bingung, dan asing. "Marah, Ga? Kata 'marah' bahkan gak cukup buat ngegambarin apa yang gue rasain sekarang. Gue ngerasa kayak orang bodoh yang selama ini lo kasihanin."
"Gak pernah! Demi Tuhan, gue gak pernah ngasih rasa kasihan sama lo, Kinar!" potong Arga cepat, tatapan matanya mengunci mata Kinar dengan intensitas yang jujur. "Hidup mandiri di kontrakan itu adalah hukuman sekaligus ujian dari Kakek buat gue. Kakek mau mastiin kalau gue bukan cuma sekadar cowok manja yang berlindung di balik nama besar Mahendra. Gue harus ngerasain gimana susahnya nyari uang dari nol, gimana rasanya nahan lapar pas kiriman uang gak ada."
"Terus kenapa lo harus ngajak gue nikah kontrak, Arga?!" suara Kinar mulai bergetar, menahan air mata yang mendadak mendesak keluar. "Kalau lo cucu pengusaha kaya, lo bisa sewa model, sewa aktris, atau cewek mana pun yang speknya jauh lebih berkelas daripada gue buat nipu Nyokap lo dan Kakek lo! Kenapa harus gue yang lo seret ke dalam lingkaran gila ini?!"
Arga terdiam sejenak. Dia menundukkan kepalanya, menatap kedua telapak tangannya yang saling bertautan di atas paha. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman getir yang sarat akan rahasia terbesar yang selama ini dia pendam sendiri.
"Karena dari awal... target gue emang cuma lo, Kinar Anindita," bisik Arga dengan suara baritonnya yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan serak.
Kinar tertegun. "Maksud lo apa...?"
Arga kembali mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kinar. "Kakek gue itu orang yang paling teliti di dunia. Dia punya mata-mata di mana-mana. Kalau gue sewa aktris atau cewek asing, dalam waktu lima menit Kakek bakal tahu kalau itu cuma sandiwara, dan gue bakal langsung didepak dari perusahaan. Satu-satunya cewek yang rekam jejaknya bersih di hidup gue, satu-satunya cewek yang beneran tahu luar dalamnya gue dari zaman susah, dan satu-satunya cewek yang dipercaya sama Nyokap gue... cuma lo, Nar."
Arga menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, meraih paksa kedua punggung tangan Kinar yang terasa sedingin es ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat.
"Dan alasan paling utamanya..." Arga menggantung kalimatnya, napasnya berembus berat menerpa wajah Kinar yang kini terpaku. "...karena gue gak sudi liat takhta perusahaan itu jatuh ke tangan paman gue yang licik. Paman gue yang udah bikin bokap gue stres sampai meninggal, paman gue yang selama ini hobi ngehina Nyokap gue sebagai wanita miskin. Gue harus ambil perusahaan itu, Nar. Gue harus lindungin Nyokap gue, dan gue butuh lo di samping gue buat ngelakuin itu."
Rasa hangat dari genggaman tangan Arga perlahan merambat naik, meredakan sedikit demi sedikit amarah di dada Kinar. Gejolak batin Kinar mendadak melunak begitu mendengar nama Ibu Arga dibawa-bawa. Kinar tahu betul bagaimana perjuangan Ibu Arga selama ini, dan dia juga tahu seberapa besar rasa sayang Arga kepada ibunya.
Kinar menarik napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan logikanya yang sempat kacau. "Tapi syarat dari Kakek lo tadi... itu gak masuk akal, Ga. Seorang anak? Dalam waktu satu tahun? Lo gila ya? Perjanjian kita di atas meterai itu cuma sebatas status di atas kertas! Gak ada poin yang mengharuskan kita buat... buat..." Kinar mendadak gugup, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya saat bayangan adegan panas di balik pintu siang tadi kembali terlintas di otaknya.
Arga menatap Kinar dengan pandangan yang sulit diartikan. Sudut bibirnya berkedut tipis, mengembalikan sedikit pesona tengilnya yang sempat hilang. "Buat apa? Buat bikin anak?"
"Arga, jangan bercanda!" semprot Kinar, wajahnya instan merona merah karena malu.
Ekspresi Arga kembali berubah menjadi serius, namun kali ini ada gurat tekad yang sangat kokoh di sana. "Gue gak bercanda, Nar. Klausul warisan itu udah ditandatanganin di depan notaris hukum. Kalau dalam setahun kita gak punya anak, semuanya hangus. Paman gue menang, dan gue sama Nyokap bakal diusir dari silsilah keluarga."
Arga memajukan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Kinar kembali bisa mencium aroma maskulin tubuh Arga yang begitu memabukkan.
"Gue tahu ini berat buat lo. Gue tahu ini melanggar batas kenyamanan kita sebagai sahabat," bisik Arga tepat di depan wajah Kinar, matanya melirik turun ke arah bibir Kinar sebentar sebelum kembali menatap matanya. "Makanya, gue mau nawarin perjanjian baru. Bukan kontrak Rp0 kayak kemarin. Kalau lo setuju buat tetep di samping gue, jalanin misi ini bareng gue sampai kita punya anak... gue bakal kasih lo saham pengendali sebesar sepuluh persen atas nama lo pribadi begitu gue megang perusahaan. Lo bakal jadi wanita terkaya, Nar. Hidup lo dan keluarga lo bakal terjamin seumur hidup."
Kinar terpaku di tempatnya. Gila. Tawaran Arga beneran sudah berada di luar nalar sehatnya. Otak tekniknya mencoba mengalkulasi semuanya. Sepuluh persen saham Mahendra Group itu nilainya bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Tapi imbalannya... dia harus menyerahkan tubuh dan hatinya seutuhnya kepada sahabat masa kecilnya sendiri demi sebutir nyawa baru.
"Gimana, Kinar Anindita?" tantang Arga dengan suara rendah yang sangat seksi, matanya menatap Kinar dengan penuh antisipasi. "Lo mau bantu sahabat lo ini buat rebut takhtanya, atau lo mau mundur sekarang dan biarin paman gue menang?"
Di dalam kabin mobil mewah yang terparkir di area minimarket yang temaram itu, Kinar menatap lekat mata Arga. Batasan bernama 'bestie' yang mereka agung-agungkan selama belasan tahun kini beneran sudah tidak ada gunanya lagi. Mereka berdua resmi berdiri di tepi jurang yang sangat dalam, bersiap untuk melompat bersama ke dalam sebuah babak pernikahan kontrak yang sesungguhnya—pernikahan yang melibatkan sentuhan nyata, desahan napas yang memburu, dan misi dewasa yang sesungguhnya.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/