NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Gelombang dari Seberang Samudra

​Kehancuran finansial Ares Global dalam hitungan menit di lantai bursa Seoul menjadi tamparan keras yang mengguncang distrik finansial Asia Tenggara. Jet pribadi Edward Chen yang semula dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Incheon terpaksa melakukan putar balik darurat di ruang udara Laut Cina Selatan. Kehilangan modal masif dalam waktu singkat membuat sekutu-sekutu finansialnya di Singapura menarik mundur seluruh dukungan mereka, meninggalkan keturunan keluarga Chen itu dalam kubangan utang margin call yang tidak terselamatkan.

​Namun, bagi seorang Cha Jin-wook, memenangkan pertempuran di atas kertas saham tidak pernah membuatnya menurunkan standar kewaspadaan.

​Malam harinya, ruang perpustakaan pribadi di penthouse Hannam-dong tampak temaram. Jin-wook berdiri di dekat meja kerjanya yang luas, menatap laporan konsolidasi pasca-pasar yang disodorkan oleh Sekretaris Kim. Kemeja hitam yang dikenakannya sengaja dibuka pada tiga kancing teratas, menampilkan garis selangka dan dada bidangnya yang kokoh.

​"Edward Chen sudah dipastikan tidak akan bisa bergerak lagi di pasar modal, Presdir," Sekretaris Kim melaporkan dengan membungkuk hormat. "Namun, tim analis kami mendeteksi adanya sisa-sisa aliran dana kecil yang sempat dialihkan ke beberapa rekening domestik di Korea sebelum Ares Global dilikuidasi. Rekening-rekening itu terikat pada nama mantan staf administrasi bentukan Cha Tae-sung."

​Jin-wook mengambil cangkir kopi hitamnya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan ketukan yang tajam di atas meja marmer. "Tikus-tikus yang kehilangan kepalanya memang selalu mencari sudut tergelap untuk bersembunyi. Awasi terus setiap mutasi rekening itu. Begitu mereka melakukan penarikan tunai, serahkan datanya langsung ke unit intelijen kepolisian."

​"Baik, Presdir. Lalu, mengenai jadwal pemeriksaan kandungan Nyonya Besar besok pagi..."

​"Aku sendiri yang akan menyetir," potong Jin-wook mutlak. "Kosongkan seluruh jadwalku dari pukul sembilan hingga satu siang. Tidak ada rapat, tidak ada panggilan konferensi. Fokus utamaku besok adalah Ji-an."

​Di kamar tidur utama, Han Ji-an sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal lembut di atas ranjang. Ia mengenakan gaun rumahan longgar berbahan sutra halus berwarna hijau daun muda yang segar. Di pangkuannya, terdapat sebuah buku jurnal kehamilan bersampul kulit rajut yang baru ia beli. Pena di jemari lentiknya bergerak lembut, mencatat setiap perubahan kecil yang ia rasakan pada tubuhnya selama beberapa minggu terakhir.

​Klek.

​Pintu kamar terbuka perlahan. Jin-wook melangkah masuk dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat agar tidak mengejutkan istrinya. Aura dingin dan ketegangan korporasi yang tadi melingkupinya di ruang perpustakaan seketika meleleh begitu sepasang mata elangnya menangkap sosok Ji-an yang tampak begitu anggun dan damai di bawah pendar lampu tidur yang hangat.

​Jin-wook berjalan mendekat, melepas jam tangan pintarnya, dan langsung merangkak naik ke atas ranjang. Tanpa memedulikan buku jurnal yang sedang dibaca Ji-an, ia menyelipkan tubuh tegapnya di samping sang istri, melingkarkan lengan kekarnya yang kokoh di pinggang ramping Ji-an, dan menarik wanita itu ke dalam pelukan posesifnya dari samping.

​"sayang, aku sedang menulis," protes Ji-an dengan tawa kecil yang merdu, meskipun ia membiarkan kepalanya bersandar dengan nyaman di bahu bidang suaminya.

​"Tulis saja. Aku tidak akan mengganggumu," bisik Jin-wook dengan suara beratnya yang serak dan seksi, tepat di samping telinga Ji-an. Namun, tindakannya sama sekali bertolak belakang dengan ucapannya. Jemari besar Jin-wook mulai merayap lembut di bawah jubah tidur Ji-an, mendaratkan telapak tangannya yang hangat di atas perut rata istrinya, mengusapnya dengan pola melingkar yang sangat protektif.

​Ji-an meletakkan penanya, menoleh sedikit hingga hidungnya bersentuhan dengan pipi tegas Jin-wook. "Kau wangi kopi hitam. Apakah urusan dengan Singapura sangat menyita pikiranmu hari ini?"

​Jin-wook membalikkan tubuh Ji-an agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Di bawah tatapan mata elangnya yang pekat oleh gairah cinta dan kepemilikan yang mendalam, Jin-wook menyapu bibir Ji-an dengan ibu jarinya sebelum mencondongkan wajahnya.

​"Dunia bisa hancur sesuka hatinya, Ji-an. Tapi begitu aku masuk ke kamar ini dan melihatmu, tidak ada satu pun hal di luar sana yang penting lagi," bisik Jin-wook parau, sedetik sebelum mengunci bibir manis Ji-an dalam sebuah ciuman malam yang lambat, intens, dan penuh dengan kehangatan romantis khas drama Korea.

​Ji-an mendesah lembut di dalam tautan bibir mereka, meremas pundak kokoh Jin-wook saat suaminya memperdalam ciuman, menyalurkan rasa syukur yang luar biasa karena wanita ini dan janin di dalam perutnya tetap aman dalam perlindungannya. Kehangatan yang tercipta di antara mereka malam itu menjadi penawar paling sempurna atas segala hiruk-pikuk konspirasi yang mencoba mengusik kedamaian Hannam-dong.

​Setelah ciuman itu terlepas, Jin-wook mengecup kening Ji-an lama, lalu turun ke ujung hidungnya. "Besok pagi kita ke rumah sakit. Aku ingin mendengar detak jantung anak kita untuk pertama kalinya."

​Keesokan paginya, pukul 09.30 KST.

​Pusat Medis Cha Group di kawasan Gangnam telah disterilkan sebagian demi menyambut kedatangan sang Nyonya Besar. Dua mobil SUV hitam yang membawa tim pengawal pribadi berjaga ketat di area parkir khusus VVIP bawah tanah.

​Cha Jin-wook menuntun langkah Han Ji-an dengan sangat hati-hati di sepanjang koridor klinik obstetri privat. Tangan besarnya tidak pernah lepas dari pinggang Ji-an, memastikan istrinya tidak tersenggol oleh siapa pun yang melintas. Ji-an hanya bisa tersenyum simpul melihat bagaimana suaminya yang biasanya ditakuti oleh seluruh direktur korporasi kini tampak seperti seorang pengawal pribadi yang super protektif.

​Di dalam ruang pemeriksaan yang serbaputih dan canggih, Dokter Kang—dokter spesialis kandungan senior kepercayaan keluarga Cha—sudah bersiap dengan perangkat ultrasonografi (USG) resolusi tinggi terbarunya.

​"Silakan berbaring, Nyonya Besar," ujar Dokter Kang ramah.

​Ji-an berbaring perlahan di atas ranjang pemeriksaan, sementara Jin-wook berdiri kokoh di sampingnya, menggenggam jemari lentik Ji-an dengan sangat erat. Dokter Kang mengoleskan gel khusus yang agak dingin di atas perut rata Ji-an, lalu mulai menggerakkan transduser di atasnya.

​Layar monitor besar di dinding ruangan seketika menampilkan visual hitam-putih yang bergerak-gerak. Di tengah-tengah struktur rahim, tampak sebuah titik kecil berbentuk menyerupai kacang yang berdenyut dengan ritme yang sangat cepat.

​Dug-dug, dug-dug, dug-dug.

​Suara detak jantung yang nyaring dan konstan tiba-tiba menggema di dalam ruangan melalui pengeras suara alat USG. Itu adalah suara kehidupan baru—suara yang membuktikan bahwa benih cinta mereka tumbuh dengan sangat sehat dan kuat di dalam rahim Han Ji-an.

​Ji-an seketika menutup mulutnya dengan sebelah tangan, air mata kebahagiaan lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Ia menoleh ke arah Jin-wook, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ji-an melihat sepasang mata elang suaminya yang terkenal kejam itu berkaca-kaca.

​Jin-wook tertegun menatap layar monitor. Rahang tegasnya sedikit bergetar. Pria itu menunduk, mencium punggung tangan Ji-an berulang kali dengan penuh emosi. Rasa haru dan gairah protektif seorang ayah seketika membumbung tinggi, mengunci seluruh jiwanya pada titik kecil yang berdenyut di layar itu.

​"Dia sangat sehat, Presdir, Nyonya Besar. Detak jantungnya berada di angka 140 denyut per menit, sangat sempurna untuk usia kehamilan tujuh minggu," Dokter Kang menjelaskan dengan senyuman hangat.

​Setelah pemeriksaan selesai dan Ji-an merapikan penampilannya, Jin-wook langsung merangkul tubuh istrinya erat-erat di dalam ruang konsultasi, mengabaikan keberadaan dokter sejenak untuk mendaratkan sebuah ciuman dalam di puncak kepala Ji-an. "Terima kasih, Ji-an... Terima kasih banyak."

​Namun, kebahagiaan murni di Pusat Medis Gangnam itu sedikit terusik ketika mereka berjalan kembali menuju basemen parkir VVIP.

​Di sudut koridor dekat lift barang yang agak sepi, Sekretaris Kim tampak sedang menahan seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket kurir logistik kumal. Pria itu tampak meronta, namun langsung membeku saat melihat sosok Cha Jin-wook melangkah keluar dari pintu klinik bersama Ji-an.

​Jin-wook menempatkan Ji-an di belakang punggung tegapnya secara insting, melindunginya dari potensi bahaya apa pun. Mata elangnya berkilat tajam menatap kurir tersebut.

​"Ada apa ini, Sekretaris Kim?" tanya Jin-wook, suaranya sedingin es musim dingin.

​"Presdir, orang ini tertangkap basah mencoba menyelinap ke area farmasi khusus tempat obat-obatan berkala Nyonya Besar disiapkan," Sekretaris Kim menjelaskan sembari menunjukkan sebuah ID kartu akses palsu yang disita dari dompet pria itu. "Setelah kami periksa, dia adalah salah satu mantan supir pribadi Cha Tae-sung yang melarikan diri bulan lalu."

​Pria berjaket kurir itu langsung berlutut di atas lantai basemen yang dingin, tubuhnya gemetar hebat di bawah tatapan membunuh dari Jin-wook. "P-Presdir Cha! Ampuni saya! Saya tidak berniat jahat... Saya hanya dibayar oleh seseorang untuk menukar botol vitamin Nyonya Besar dengan botol ini!"

​Ia meletakkan sebuah botol kecil berisi bubuk putih ke atas lantai. Sisa-sisa pengikut Cha Tae-sung ternyata masih mencoba meluncurkan serangan keputusasaan terakhir mereka, memanfaatkan momen pemeriksaan medis Ji-an di luar rumah.

​Jin-wook tidak memberikan reaksi dramatis. Ia hanya menatap kurir itu seolah-olah melihat seonggok sampah yang tidak berharga. Ketenangan di wajah tampannya justru memancarkan kengerian yang jauh lebih besar daripada amarah yang meledak-ledak.

​"Bawa dia ke markas tim pemukul. Aku akan mengurusnya sendiri setelah memastikan istriku sampai di rumah dengan aman," perintah Jin-wook, suaranya terdengar begitu mutlak tanpa toleransi sedikit pun.

​Ia berbalik, menatap Ji-an yang tampak tenang namun waspada. Jin-wook menyapu pipi Ji-an dengan lembut, menenangkan sisa kekhawatiran istrinya. "Ayo pulang, Nyonya Cha. Urusan kecil seperti ini tidak boleh mengotori hari bahagia kita setelah mendengar detak jantung anak kita."

​Ji-an mengangguk tulus, menggenggam erat lengan kokoh suaminya saat mereka melangkah masuk ke dalam Bentley hitam yang siap meluncur membelah jalanan Seoul, meninggalkan sisa-sisa konspirasi masa lalu yang perlahan namun pasti akan dihancurkan hingga ke akar-akarnya oleh sang Presdir di episode berikutnya.

​Serangan dari sisa-sisa pengikut Cha Tae-sung berhasil dipatahkan di basemen rumah sakit! Namun, siapakah dalang intelektual sesungguhnya yang menggerakkan para pembelot ini dari balik bayangan?

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!