Mencintai pria yang sudah matang tak pernah terpikirkan oleh Sandra Larissa. Namun, nyatanya ia sudah terpesona oleh seorang duda yang sudah mempunyai anak. Bahkan anak dari duda tersebut adalah sahabatnya.
"Aku mencintaimu Om! Aku tak tahu kenapa rasa cinta ini hadir begitu saja, saat kamu menatapku dengan mata elangmu itu."
~Sandra~
"Bagaimana bisa aku juga mencintaimu sedang usia kita tarlampau sangat jauh? Aku ingin menjauh. Namun, cinta yang ku rasakan semakin kuat. Maafkan aku jika akhirnya aku memilih bertahan dan tetap mencintaimu walau usia kita berbeda 20 tahun."
~Alex~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menghindari
"Sandra," teriak Tasya saat melihat Sandra jalan terburu-buru. Ia berlari ke arah Sandra yang menghentikan langkahnya karena mendengar teriakan Tasya yang memekakkan telinganya.
"Kenapa?" tanya Sandra saat Tasya sudah berada di dekatnya.
"Kok buru-buru banget sih, aku di tinggal. Kelas kita kan sama tahu," gerutu Tasya.
"Maaf, hanya saja aku ingin sampai ke kelas," sesal Sandra, melihat wajah cemberut Tasya.
"tidak apa-apa, ayo ke kelas."
Sandra mengangguk mengikuti langkah Tasya, mereka mengobrol dengan santainya. Tasya nyaman berada di dekat Sandra, gadis itu bisa menjadi teman, kakak, bahkan ibu baginya. Entah mengapa semakin ke sini Sandra sangat keibuan kepadanya membuatnya ia rindu akan sosok ibu yang sudah lama pergi meninggalkannya, bukan karena meninggal tetapi sang ibu yang telah meninggalkannya dan sang ayah karena lelaki lain. Tasya kecewa bahkan membenci ibu kandungnya, ia tak ingin berurusan dengan ibunya lagi, baginya sang ibu sudah meninggal.
"Ke kantin yuk, aku belum makan," ajak Tasya.
"Belum makan? Kebiasaan kamu, jangan seperti aku yang sudah terkena maag, rasanya gak enak tahu," omel Sandra.
"Ya habisnya aku sendiri, papa sudah berangkat kerja dari pagi."
"Ck, yaudah ayo ke kantin daripada kamu sakit."
"Gitu dong, kamu nanti ke rumah aku ya. Masakin kesukaan aku."
Sandra melihat ke arah Tasya dengan tatapan yang sulit di artikan "Eh, aku gak bisa."
"kenapa? Ayolah, biasanya kamu gak akan nolak kalau aku ajak ke rumah."
"Karena aku gak mau ketemu papa kamu,"ucap Sandra dalam hati
"Emm aku mau beli buku."
"Aku temenin deh, habis itu kamu ke rumah aku. nginep ya?"
Sandra mengangguk pasrah tak tau beralasan apalagi kepada Tasya yang sangat keras kepala.
"Gitu dong, jadi kemarin kamu langsung pulang saat kamu tahu kalau aku gak ada di rumah?"
"Aish, aku kesal sama kamu. Ngajakin jalan tapi kamu jalan sama yang lain, aku gak langsung pulang papa kamu meminta aku untuk masakin dia. Kenapa sih papa kamu seenaknya sama aku, aku tuh kesel tau gak."
"Serius? papa gak pernah kayak gitu loh, sama aku. Cuma sama kamu doang."
" Apa papa kamu dendam sama aku karena kejadian kita berantakin kamar kamu?"
"Hahaha, gak lah. Kekanakan banget papa aku kalau gitu. Mungkin dia suka sama kamu," ceplos Tasya.
"Suka? gak lah. Ada-ada aja kamu," ucap Sandra dengan hati yang sudah tak karuan mendengar ucapan Tasya padanya.
"Bisa aja kan."
"Gak mungkin lah."
"Kalau iya, aku setuju aja. Asal papa bahagia."
"Tasya," teriak Sandra saat Tasya sudah berlari menjauhinya. Ck, memang sahabatnya ini sangat suka menggodanya.
***********
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore Sandra dan Tasya keluar dari kelas beriringan, muka mereka tampak tak bersemangat karena lelah mengikuti mata kuliah yang menurut mereka sangat membosankan.
"Jadi beli buku?"
"Ke rumah kamu aja deh, aku capek mau tidu.r"
"Aku juga sudah lelah, langsung pulang lebih baik kayaknya. Tidur lebih enak," jelas Tasya yang di angguki oleh Sandra.
"Kamu yang bawa mobinya Sandra."
"Baiklah," pasrah Sandra saat melihat wajah memelas sahabatnya. Tasya memberikan kunci mobilnya kepada Sandra saat mereka sudah sampai ke parkiran, mereka memasuki mobil Tasya dengan cepat.
Tasya mengeluarkan iphonenya, melihat pesan yang masuk. Ternyata sang papa yang mengirim pesan untuknya, tumben sekali Alex.
"Siapa?"
"Papa, dia bilang akan pulang malam."
"Ooohhh."
"Sandra?"
"Ya."
"Kamu kok kayak gak suka dengar aku nyebut papa?"
"Eh. gak kok, biasa aja." gugup Sandra
"Kirain, nanti mampir di supermarket depannya aku mau beli ayam, ayam persediaan di kulkas habis. Aku mau kamu masakin aku ayam rica-rica."
"Belajar masak dong, biar kalau nikah gak repot," sungut Sandra kesal.
"Hehehe, nanti deh. Kan masih ada bibi sama kamu yang masakin aku."
"Aku gak selamanya ada sama kamu Tasya, bibi juga udah tua tahu."
"Bawel deh, iya nanti aku belajar."
"Nantinya kapan?"
"Ya kapan-kapan," Santai Tasya. Sandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang sahabat yang gak pernah berubah.
Sandra menghentikan mobilnya saat sudah sampai di supermarket. Tasya keluar sendiri untuk masuk ke supermarket karena Sandra tidak ingin keluar sama sekali. ia merebahkan tubuhnya di kursi kemudi, ia mengambil iphonenya untuk menghilangkan bosan yang melandanya tiba-tiba. Sandra mengeryit heran saat mendapat pesan dadi nomor baru yang sepertinya ia kenal.
"Menginaplah di rumah, temani Tasya karena saya pulang malam."
"Aish om, kenapa sih saat aku ingin menghindar om semakin dekat. Ini gak baik buat kesehatan jantung aku om," ucapnya sendiri.
Sandra beralih ke aplikasi lainnya, tak ingin berniat membalas pesan Alex sama sekali. biarlah, toh pasti Alex tak mengharapkan balasan pesan darinya.
Brak...
"Sudah?" tanya Sandra saat Tasya memasuki mobil.
"Sudah, nih," ucap Tasya yang memperlihatkan belanjaannya kepada Sandra, gadis itu mengangguk setelah itu ia menjalankan mobilnya kembali.
********
Dua sahabat itu langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk milik Tasya, mata mereka langsung terpejam menahan rasa lapar yang melanda perut mereka, keduanya sudah sangat lelah akibat aktivitas kuliah yang sangat padat. Tak memikirkan lagi tubuh mereka yang perlu di bersihkan, yang terpenting sekarang adalah memejamkan mata, berkelana di alam mimpi.
Sandra menggeliat dalam tidurnya, membuka mata secara perlahan. Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam yang artinya ia sudah lama tertidur. Ia bangun dari tidurnya memasuki kamar mandi, menyegarkan tubuhnya lewat guyuran shower dingin, rasa lelahnya sudah hilang terganti dengan rasa segar saat ia keluar dari kamar mandi, melihat Tasya yang masih tertidur. Sandra tak berani membangunkannya, biar saja Tasya tidur, nanti ia akan bangunkan jika masakannya sudah matang. Setelah berganti pakaian Sandra keluar dari kamar Tasya menuju dapur untuk membuat masakan keinginan Tasya tadi sore. Sandra mulai mengeluarkan bahan masakannya dari kulkas. Membersihkan ayam yang sudah Tasya beli dan sayuran yang lainnya.
Sandra sangat fokus saat ini, menggoreng ayam dengan campuran tepung agar krispy. Sandra sangat hapal dengan kesukaan sang sahabat karena ia sudah sering memasak untuk Tasya.
"Masak apa?"
"Astaga, Om mengagetkan Sandra. Untung saja minyaknya tidak tumpah," omel Sandra.
"Kau saja yang terlalu fokus, sehingga tak mendengar langkah kaki saya."
"Terserah deh, yang jelas Om sudah mengagetkan sandra, untung saja aku tak punya riwayat penyakit jantung."
"Cerewet sekali, pertanyaan saya belum kau jawab sandra."
"Aish, aku masak ayam rica-rica, sudah aku jawabkan, sekarang om boleh pergi dari sini jangan menganggu Sandra."
"Jika saya tidak mau pergi?"
"Om mau apa?" waspada Sandra saat Alex mendekatinya.
Alex menyentak tubuh Sandra masuk ke pelukannya, membuat Sandra menegang dengan perlakukan alex yang sangat tiba-tiba padanya.
"seperti ini sebentar saja, saya sangat lelah," ucap Alex.
"Lepas om, nanti Tasya melihat bisa salah paham."
"Kenapa kamu buat saya seperti ini Sandra?"
"Maksud om?" ucap Sandra tak mengerti.
"Lupakan saja, saya mandi dulu. Jika sudah siap masakan kamu tolong panggil saya."
cup...
Sandra tak berkedip menatap punggung Alex yang sudah menjauhinya, ia menyentuh keningnya yang di kecup sekilas oleh Alex.
"kenapa Om seperti ini, Sandra takut berharap. Karena aku tau kita sangat berbeda"lirihnya.
nyimak dulu
sandra sama om Alex