Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8 Kedatangan tamu
Keriuhan jam pulang kantor sudah mereda sejak satu jam lalu. Area divisi periklanan yang biasanya bising kini menyisakan keheningan, ditemani desing pelan pendingin ruangan dan ketukan jemari Fela di atas keyboard.
Di dalam ruang kubusnya, Fela fokus menatap layar laptop. Pak Gunawan baru saja mengumumkan sore tadi bahwa besok pagi perusahaan klien besar akan datang untuk meninjau draf proyek bernilai miliaran.
Ini adalah peluang terbesar dalam karier Fela, sekaligus pembuktian yang ia butuhkan setelah kegagalan rencana pernikahannya yang kandas begitu saja.
Fela tidak boleh gagal. Ia harus memastikan semua data strategi tanpa celah, bahkan jika itu berarti dia harus melewatkan jam makan malamnya.
Sementara itu di luar ruang kaca buram, Kenzo masih duduk di kursinya. Dia sudah merapikan ranselnya sejak menyerahkan tugas rangkuman tepat jam lima sore tadi, namun belum ada niat untuk beranjak.
Di sebelahnya, Bimo sedang melakukan peregangan kecil sambil mematikan komputernya.
"Ken, belum balik kamu? Anak SMA bukannya jam segini waktunya nongkrong?" tanya Bimo, menepuk bahu Kenzo dengan akrab.
Kenzo mengalihkan pandangan dari ponselnya, menatap Bimo dengan ekspresi lempeng seperti biasa. "Tanggung, Bang. Nunggu jalanan agak lowong baru aku jalan. Malas macet-macetan di bawah gerimis."
Bimo terkekeh, lalu melirik ke arah ruang Fela yang lampunya masih menyala terang.
"Si Bos juga belum balik. Biasalah, kalau ada proyek gede begini, mode gila kerjanya langsung aktif. Aku kadang kasihan melihatnya. Kayak enggak punya kehidupan di luar kantor."
Kenzo tidak menyahut. Matanya bergerak mengikuti arah pandangan Bimo. Menatap siluet Fela yang samar-samar terlihat dari balik kaca buram.
Enggak punya kehidupan di luar kantor, ya? batin Kenzo. Dia tahu betul kehidupan luar kantor Fela baru-baru ini justru sangat berantakan hingga berakhir di kamar hotel bersamanya.
"Aku balik duluan ya. Jangan kemalaman. Entar dicariin orang tua," pamit Bimo sambil menyandangkan tasnya.
"Sip. Hati-hati, Bang," balas Kenzo kasual.
Begitu langkah kaki Bimo menghilang di balik lift, ruangan itu benar-benar sepi. Kenzo bangkit dari kursinya. Bukannya menuju keluar, dia justru melangkah pelan mendekati ruang Fela.
Langkahnya tanpa suara, berhenti tepat di depan pintu geser yang sedikit renggang.
Dari celah itu, Kenzo bisa melihat Fela sedang memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat sangat lelah namun rahangnya tetap terkatup rapat, menolak menyerah pada kantuk.
Tok tok.
Kenzo mengetuk pintu kaca itu.
Mendengar itu membuat Fela tersentak kaget dan langsung mendongak. Mode defensif Fela otomatis aktif begitu melihat sosok Kenzo di ambang pintu.
"Kenzo? Kamu belum pulang?" Fela merapikan duduknya. Berusaha menyembunyikan guratan lelah di wajahnya. "Ini sudah jam tujuh malam." Fela melirik ke arah jam dinding.
Kenzo menggeser pintu lebih lebar, bersandar di bingkai pintu dengan tangan terselip di saku celana.
"Senior menyuruh aku belajar efisiensi kerja tadi siang," ujar Kenzo. Nadanya terdengar datar. Namun tatapannya mengunci mata Fela.
"Tapi bukan untuk pulang malam. Kamu hanya magang. Mana rangkumanmu?" tagih Fela akhirnya.
"Ada. Aku sudah menyelesaikan rangkuman sebelum jam lima."
"Bawa kesini," perintah Fela.
"Oke." Kenzo kembali ke mejanya dan mengambil rangkuman yang sudah selesai. Lalu masuk lagi ke ruangan Fela. "Ini." Kenzo meletakkan di atas meja.
"Berapa map ini?" tanya Fela tanpa menyentuhnya.
"Sekitar tiga."
"Jadi masih kurang?"
"Ya." Kenzo mengangguk.
"Oke. Besok aku koreksi. Kamu boleh pulang," ujar Fela lalu fokus lagi ke pekerjaannya. Namun ia heran bocah ini tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Kepalanya terpaksa mendongak. "Masih ada perlu?"
"Kenapa lembur?"
Fela mengerjap. "Apa yang kamu tanyakan?" Dia heran.
"Apa pekerjaanmu tidak bisa diselesaikan besok pagi?"
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tahu?" Fela bersandar pada kursinya.
"Melihat yang lain sudah pulang, aku jadi heran kamu masih lembur."
Jika yang bicara orang lain, Fela akan menganggap itu suatu simpati yang manis. Bocah ini paham dia sedang berkerja keras. Namun karena bocah ini yang bicara, dia merasa kesal.
Fela menghela napas, merasa energinya terlalu terkuras untuk meladeni anak SMA ini. "Kamu enggak paham, Kenzo. Ini proyek besar. Nilainya terlalu penting untuk dilewatkan."
Kenzo mengangguk paham.
"Pulanglah, Kenzo. Orangtuamu pasti mencarimu," usir Fela lembut namun tegas, menolak membiarkan Kenzo mengurusi lemburnya.
Kenzo menatap Fela beberapa detik, menilai keras kepalanya wanita di depannya ini. Akhirnya, dia mendengus samar dan menegakkan tubuhnya yang tadi sempat bersandar di bingkai pintu.
"Baiklah. Aku pulang," pamit Kenzo patuh.
"Ya," sahut Fela.
Kenzo berbalik. Melangkah keluar dari ruangan itu lalu menutup pintu gesernya dengan pelan tanpa menimbulkan suara berisik.
"Hidup orang dewasa memang melelahkan," gumam Kenzo.
Di parkiran bawah yang sunyi dan dingin, Kenzo memakai helm full-face hitamnya, lalu menyalakan mesin motor sport-nya yang berderum berat.
...****************...
Pagi hari.
Mata Fela yang mulai memerah menatap barisan grafik di layar dengan tajam. Sisa kelelahan semalam masih menggantung di pundaknya, namun ia tidak punya ruang untuk mengeluh.
Tim W-Corp terkenal sangat perfeksionis dan tidak segan mendepak vendor yang performanya dinilai standar. Fela tahu, ia tidak boleh menunjukkan celah sedikit pun di depan para petinggi raksasa gadget itu nanti.
Energi dan konsentrasinya harus terkunci seratus persen pada setiap lembar presentasi ini. Alih-alih meratapi nasib buruknya beberapa bulan terakhir, Fela memilih mengubur seluruh emosi personalnya dalam-dalam di bawah tumpukan revisi data yang tak ada habisnya.
Saat itu ada seseorang mengetuk pelan pintunya. Karena orang itu langsung membuka pintu, dia tidak perlu menebak siapa itu.
"Ada waktu?" tanya Rico di ambang pintu.
Fela mengalihkan pandangan dari monitor. "Kalau jawabannya, tidak?"
"Sayangnya aku tetap butuh bantuanmu."
Wanita itu tersenyum tipis lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ada apa?"
"Klien dari W-Corp sebentar lagi datang. Aku mau kamu ikut."
"Benarkah?" Fela terkejut.
"Ya." Rico mengangguk.
"Baiklah aku bersiap." Ia segera menyimpan dokumen yang sedang dikerjakan. "Apa aku harus mengajak tim ku?"
"Tidak. Ini hanya perkenalan."
"Perkenalan? Aku rasa kita sudah cukup kenal dengan mereka." Fela mengambil tablet kerjanya.
"Kepala manajer pemasaran membawa Dirut baru mereka.Jadi ini semacam perkenalan," jelas Rico.
Fela mengangguk paham.
"Berarti untuk hari ini aku datang tanpa timku." Fela mengambil keputusan.
"Ya. Jika mereka meminta, kita ajak kesini."
"Oke. Ayo," ajak Fela lalu berdiri mengikuti Rico menuju ruang rapat.
"Ini umpan besar, Fela. Kamu harus bisa membuatnya terkesan," kata Rico.
"Tenang saja. Serahkan padaku." Fela tahu apa yang harus dilakukan. Mereka menuju ke ruang rapat sebagai tempat pertemuan mereka.
Tidak perlu menunggu lama, pihak W-corp datang. Fela berdiri saat staff membawa orang-orang masuk ke dalam ruang meeting.
Deg. Fela tertegun melihat seorang pria yang amat dikenalnya. Dia Dion. Mantan kekasihnya yang selingkuh.