“Kamu bajingan? Bagaimana kamu bisa melakukan ini semua padaku? Aku menyesal menikah dengan kamu?” teriak Kanaya sambil menghapus air matanya.
Laki-laki itu menyeringai, “Kamu telah menikah dengan iblis.”
Kanaya hanya bisa menyesali jalan hidupnya, ia sejak dulu selalu menginginkan sebuah pernikahan yang sempurna, tetapi takdir menentukan hal lain. Saat ia melarikan diri dari pernikahannya dengan laki-laki kejam serta pembohong dan menikah dengan orang misterius pada hari yang sama untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Doni. Namun faktanya, itu tak seperti yang ia bayangkan. Akankah laki-laki misterius itu lebih baik dari Doni Aggriawan atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Saat itu Alex sedang dalam perjalanan pulang, ia telah terasingkan dari keluarganya selama berbulan-bulan. Dan beberapa hari yang lalu, mamanya memanggilnya untuk kembali ke rumah bahwa papanya sakit parah, dan ia akan menjadi satu-satunya pewaris yang papanya harapkan
Ia kembali ke rumah dan mengambil alih bisnis dan kepemimpinan keluarga, ia ingat ia telah meninggalkan rumah dalam kemarahan ia dan papanya tidak pernah akur hanya karena ia tidak hidup dari perspektif yang sama seperti papanya. Ia memiliki gaya berpikir terlalu riang dan seorang playboy, serta hidup itu harus dibuat bahagia, sementara papanya menganggap hidup itu harus serius dan memanfaatkan waktu dengan baik. Jadi ia meninggalkan rumah.
Saat itu ia memutuskan untuk pulang, bagaimanapun juga itu adalah masalah hidup dan mati papanya.
Dalam perjalanan, ia memaki ketika seseorang tiba-tiba berlari ke dalam mobilnya, "Sialan!"
Alex turun dari mobilnya dan berlari ke arah korban yang telah ia tabrakan. Ia melihat bahwa ada seorang wanita yang berpakaian pengantin yang tergeletak di aspal, ia melihat sekeliling dan tidak melihat orang lain. Ia pun bernapas lega, maka tak akan panjang ceritanya ini nanti. Tiba-tiba wanita itu membuka matanya dan berbisik. "Selamatkan aku," sebelum jatuh pingsan.
Alex yang mendengar itu pun mengumpat, bukan ini yang ia butuhkan saat ini. Setelah ia memperhatikan dengan seksama ia mencoba mengingat-ingatnya. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu. Dengan cepat ia membawa wanita yang tidak sadar diri itu masuk ke dalam mobilnya. Perjalanannya harus ditunda karena dia, padahal ia sendiri sekarang dalam keadaan genting karena papanya sedang sekarat. Ia akan meninggalkannya di rumah sakit dan pergi setelah itu.
Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, ponselnuq terus berdering dan ia memeriksa nama panggilan masuk itu. Melihat nama mamanya, ia pun bergegas menggeser tombol hijau lalu memperkeras panggil teleponnya.
"Hallo, mah," sapa Alex..
"Di mana kamu? Apakah akan kamu datang?" tanya Ana, mama Alex.
"Aku akan datang tapi tidak sekarang mah, ada sesuatu yang muncul. Aku akan menelepon mama setelah urusan ini selesai," jawab Alex yang tetap fokus mengemudi agar kejadian barusan tak terjadi lagi.
"Apa yang muncul?" Suara putus asa mamanya terdengar dari ujung sana.
"Mah, nanti Alex jelaskan!" Alex dengan cepat-cepat menutup ponselnya sebelum mamanya mengajukan pertanyaan lebih banyak lagi.
Sampai di rumah sakit, Alex membawanya sebagai pasien darurat. Ia segera menandatangani dokumen yang diperlukan dan melihat mereka langsung membawanya menuju ke UGD untuk memberikan pertolongan pertama. Ia seharusnya sudah pergi dan dalam perjalanan, tetapi ia tahu dia adalah alasan ia ada di sini dan ia harus memastikan dia baik-baik saja sebelum pergi. Bagaimanapun ia bersalah dan harus bertanggung jawab atas kecerobohannya, ia duduk di ruang tunggu selama lebih dari satu jam sebelum dokter keluar.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Alex saat melihat dokter keluar dari ruang UGD.
Dokter menatapnya, "Apakah Anda suaminya?"
Alex terkejut dengan pertanyaan, "Apa?!"
"Istri Anda baik-baik saja, dia hanya mengalami cedera ringan tetapi saya telah memberinya beberapa dosis dan dia baik-baik saja, tetapi dia harus tinggal sampai besok untuk beberapa pengamatan," jelas dokter.
"Bolehkah aku pergi menemuinya?" Alex bertanya mengabaikan dokter yang menyebut dia sebagai istrinya.
"Oh, tentu saja bisa. Anda bisa melihatnya, saya perhatikan Anda baru saja menikah, selamat," ucap dokter itu.
Alex mengabaikan ucapan dokter itu dan pergi sebelum dokter banyak bicara lagi. Ia pun masuk untuk menemuinya.
Sedangkan Kanaya merasa seperti ditabrak truk, kepalanya pusing penglihatan masih belum bisa melihat dengan jelas. Dan rasa kantuk mulai menyeruak.
"Maaf tentang kejadian barusan. Oya, aku minta nomor telepon yang bisa dihubungi?" Ucap Alex. Bagaimanapun ia harus pergi malam ini juga karena ia ingin melihat kondisi papanya.
Matanya membelalak kaget saat ia melihat wanita itu menggelengkan kepalanya dengan panik.
"Tenang!" ucap Alex menenangkannya. "Aku melihat kamu melarikan diri dari seseorang. Mengingat pakaian yang kamu kenakan saat ini," ucap Alex yang melihat wanita di depannya mengenakan gaun pengantin berwarna putih.
Kanya melawan rasa sakitnya yang meningkat dan kepalanya dipenuhi rasa sakit itu. Ia mencoba untuk duduk, meraih tangan laki-laki itu, "Tolong! Aku tidak ingin kembali ke sana, tolong!" Kanaya bicara putus asa.
Alex mencoba melepaskan tangan wanita itu. "Apa maksudmu kamu tidak ingin kembali? Apa yang kamu ingin aku lakukan?"
"Tolong selamatkan aku!" pinta Kanaya lagi.
Alex mengerutkan kening saat wanita itu meminta tolong, ua menjadi berpikir jika wanita itu dalam bahaya. Dan ia harus melibatkan polisi pada kasus ini, tetapi jika ia melibatkan polisi maka ia juga akan tertangkap karena ia telah menabraknya.
"Bagaimana nona? Bagaimana kamu ingin aku menyelamatkanmu?" tanya Alex dengan hati-hati.
Kanaya menatapnya seolah-olah datang dengan kesimpulan sebelum berkata, "Menikahlah denganku!"
Alex tercengang mendengar kata-katanya, ia tertawa hampir histeris, ia menduga wanita itu telah terbentur kepalanya begitu keras dan itu mempengaruhi pemikirannya, "Tunggu! Aku tidak punya niat untuk menikah dalam waktu dekat."
Kanaya seketika bangkit dari tempat tidurnya dan menatapnya dengan putus asa. "Anda harus menikah denganku! Tolong! Anda harus menyelamatkanku!"
"Tenang, kamu bahkan tidak mengenalku, kamu tidak bisa begitu saja menikah dengan orang asing," ucap Alex mengingatkan wanita di depannya jika ia tipe laki-laki yang suka berpetualang.
"Aku yakin kamu lebih baik daripada laki-laki brengsek yang akan menikahiku dua jam yang. Aku butuh tempat untuk melarikan diri, ini hanya untuk sementara waktu," jelas Kanaya dengan wajah memohon.
Alex menatapnya seolah-olah mempertimbangkannya, "Apa yang aku dapatkan dari ini? Dan apa yang kamu dapatkan dari menikah denganku?
"Perlindungan seorang suami," jawab Kanaya dengan panik.
"Dan apa yang aku dapatkan?" tanya Alex penasaran. Ia tak mau menikah begitu saja tanpa mendapatkan keuntungan.
Kanaya terdiam sambil menjawab pertanyaan laki-laki di depannya.
"Aku akan selamanya berhutang budi kepada kamu, aku akan berterima kasih banyak pada kamu," ucap Kanaya. Ingin membayar dengan uang, ia juga tidak memiliki apa-apa.
Alex mempertimbangkan perkataan wanita itu, sebenarnya saat ini ia membutuhkan seorang wanita, agar bisa membatalkan perjodohan yang dibuat oleh kedua orang tuanya. Mamanya telah mengatur pernikahan untuknya dengan Luara, wanita yang telah diatur papanya yang berasal dari keluarga yang sangat kaya, meskipun, ia tidak perjodohan. Kini ia berpikir jika ia menerima apa yang ditawarkan wanita ini padanya. Ia tidak perlu terlalu banyak berdebat dengan papa serta mamanya yang menginginkan cucu itu, ia akan menikahinya dan berpisah dengannya setelah semuanya beres.
Kanaya mengamatinya saat dia memikirkan tawarannya, ia gugup tetapi pada titik ini, ia tidak berpikir, ia tidak tahu dengan siapa ia akan menikah. Akan tetapi bagaimana ia menjalani hidupnya setelah menikah bukanlah urusannya, ia bisa hidup seperti yang ia inginkan. Ia telah melarikan diri dari rumah tanpa sepeser pun dan tidak ada tempat untuk pergi, ia tahu Doni tidak akan bisa melakukan apa-apa ketika ia tahu ia sudah menikah. Sungguh ironis, ia melarikan diri dari satu pernikahan dan memohon pada orang asing untuk menikah dengannya.
Alex menatapnya dan mengangguk, "Aku akan menikah denganmu dengan satu syarat."
Jantung Kanaya sedikit berdebar saat menunggu syarat yang akan diucapkan laki-laki di depannya. Ia berharap, dirinya mengabulkan permintaan itu.