Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Sekolah?
Tau apa yang lebih Nada sesalkan? Rasa-rasanya Nada ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup karena menerima kenyataan bahwa SUAMINYA BERPAMITAN SEKOLAH PADANYA, sudah ia perjelas bahkan ia tulis besar-besar didahinya kalau perlu ia ingatkan lagi akan status suaminya yang ternyata remaja SMA. Nada sungguh sangat menyesal karena tidak mencari tau latar belakang Danu terlebih dahulu dan asal menerima pinangan pria eh-.. lebih tepatnya bocah itu.
Nada berpikir Danu sudah dewasa dengan tubuh tinggi menjulang serta lengan kekar dan perut berototnya, lain kali ia tidak akan menilai usia seseorang dari penampilannya saja. Karena ternyata jika kamu menilai seseorang hanya dari luarnya saja, kamu akan tertipu sama seperti Nada. Bolehkah ia saat ini meminjam pintu kemana saja milik Doraemon? Ia ingin sekali pergi ke kutub Utara saat ini juga untuk menjauh dari takdie hidupnya yang begitu sial ini.
Sudahlah terkena sial karena meminum obat perangsang dan melakukan malam yang salah, ia juga terpaksa menikah dengan pria itu. Sekarang ditambah ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus menikah dengan bocah ingusan yang saat ini dengan santainya memakan roti selainya dan mengabaikan Nada yang melongo melihat penampilannya yang mengenakan seragam putih abu-abu khas anak SMA.
"Lo masih sekolah?!!" Tanpa sadar Nada memekik hingga Danu hampir saja memuntahkan susu yang baru saja ia minum.
"Iya, kan aku udah cerita dan kamu udah dengar." Ucap Danu santai.
"Kapan gue dengerin lo ngomo-..."
Nada mengentikan perkataannya ketika sadar bahwa memang sepertinya bocah dihadapannya ini pernah bercerita tapi ia tidak mendengarkannya dan hanya mengangguk-angguk, ia lebih memilih memainkan ponselnya berbalas chat dengan temannya daripada harus mendengarkan ocehan Danu. Dan ternyata kecerobohannya itu membuat Nada harus terjebak dengan pernikahan bersama suami berondongnya ini, Nada mengusap wajahnya kasar. Bahkan Nada tidak yakin apakah Danu ini sudah benar dalam membuang air seninya seperti pria dewasa lainnya.
"Gue gak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!" Sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikan kepuasan untukmu loh, apa kamu lupa." Danu tersenyum menatap wajah Nada yang melotot.
Bocah ini benar-benar!! Sudah ia ditipu dan dipaksa menikah, sekarang ia sangat mual mendengar perkataan yang begitu vulgar yang seharusnya tak keluar dari mulut seorang bocah SMA. Nada seperti tante-tante yang menyukai berondong tampan, apakah Nada baru saja mengatakan bahwa Danu tampan? Ah sepertinya tadi ia salah ucap. Danu tidak ada tampan-tampannya sama sekali, menurutnya yang paling tampan didunia ini adalah Pak Wira bossnya yang walaupun usianya lebih dari kepala tiga namun aura hot dan kharismanya masih saja membuat kaum hawa sepertinya meleleh.
"Berhenti ngomong lo bocah, lo udah nipu gue!!" Sentak Nada dengan mata yang menatap nyalang Danu.
Tanpa banyak kata Nada mengambil tas kerjanya dan keluar dari rumah, untunglah mobilnya sudah diantarkan dari rumah orangtuanya sebelumnya. Jadi Nada bisa berangkat sendirian tanpa harus bertemu lagi dengan bocah menyebalkan itu, bahkan mengingat wajahnya saja membuat Nada kesal apalagi melihatnya.
"Lo kenapa kelihatan murung gitu? Padahal masih pengantin baru harusnya aura-aura bahagia keluar gitu, lah ini malah lecek kusam tuh muka. Ada apa sih? Jangan bilang kalau Lo berantem sama Danu?" Fani langsung memberondong banyak pertanyaan begitu Nada tiba dimeja kerjanya.
"Asal lo tau ya Fan, gue nyesel banget nikah sama tuh cowok." Sungut Nada dengan berapi-api.
"Kenapa? Apa kalian ada masalah? Dia nyakitin lo Nad?" Nada mengangguk membuat Fani menarik bangkunya menuju meja kerja Nada agar ia lebih leluasa mendengarkan ucapan Nada.
"Bahkan lebih parah dari itu Fan." Fani semakin penasaran mendengar ucapan Nada yang memancing aura kekepoannya.
"Apa... Apa? Cerita sama gue cepat Nad, biar gue kasih pelajaran ke laki Lo."
"Dia masih sekolah."
"Hah?!" Fani tidak mengerti.
"Danu masih sekolah Fan, tadi pagi gue lihat dia rapi pake seragam SMA."
"Ooh gue kirain dia nyakitin lo Nad, ternyata itu." Nada mengernyit ketika mendengar nada santai yang keluar dari mulut Fani.
"Kok tanggapan Lo cuma begitu sih? Gue ditipu loh sama bocah itu, gue pikir dia udah dewasa lah gak taunya masih bocah."
"Kelihatan kok Nad kalau wajah Danu emang masih muda bahkan gue pikir dia anak kuliahan, tapi ternyata masih SMA ya? Gila sih Lo dapet berondong gitu."
"Kenapa Lo gak bilang sih Fan kalau wajahnya kelihatan muda gitu."
"Lo kan gak nanya sama gue, lagian yang sering sama lo kan dia bukan gue. Gue pikir dia cerita apa-apa sama lo." Nada menggaruk belakang kepalanya.
"I-iya sih dia sempat cerita tapi emang gak gue dengerin soalnya menurut gue gak penting juga."
"Itu Lo nya yang **** Nad, bukan dia yang nipu Lo." Nada menggeplak jari Fani yang menyentil dahinya.
"Nyesel!! Nyesel!! Nyesel!!" Nada menepuk-nepukan kepalanya diatas meja kerjanya membuat Fani menggeleng melihat kelakuan Nada.
"Udah sih Nad terima aja, lagian Danu juga gak buruk-buruk amatlah buat Lo. Walaupun dia masih bocah dia bisakan muasin Lo diranjang, udah berapa ronde Nad tadi malam?" Fani menaik-turunkan alisnya sambil menatap bercak merah dileher Nada, tanda cinta yang diberikan Danu tadi malam.
"Sial lo Fan!!" Nada langsung menutup lehernya dengan kerah bajunya.
"Ngaku aja Nad, Lo menikmati kan permainan hot berondong Lo itu." Goda Fani membuat Nada memerah.
"Gak usah dibahas Fan, gue lagi kesal!!"
"Staminanya masih bagus dan kuat loh Nad, kayaknya tahan seharian deh buat ngegempur Lo. Jiwa masih muda staminanya pun awet muda." Fani semakin menjadi-jadi, wanita itu terbahak melihat wajah Nada yang memerah seperti kepiting rebus.
"Nada, keruangan saya sekarang!!" Tiba-tiba Pak Wira muncul dihadapan mereka berdua membuat keduanya mematung, mereka berharap semoga Pak Wira tidak mendengar obrolan mereka tadi karena bisa dipastikan apa yang akan terjadi jika Pak Wira mendengarnya.
"Baik Pak." Baru saja Nada akan berdiri, Pak Wira membalikkan tubuhnya menatap Nada dan Fani dengan tajam.
"Oh ya satu lagi, jangan bergosip di jam kerja karena saya tidak suka ada karyawan saya yang menggosipkan urusan ranjang mereka di kantor." Sindir Pak Wira kemudian memasuki ruangannya, terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras membuat karyawan yang ada diluar tersentak.
"Mati gue Fan." Bisik Nada.
"Be strong Nad, gue yakin lo kuat ngadepin Pak Wira." Fani mengepalkan tangannya memberikan semangat pada Nada yang dibalas dengusan kasar Nada.
"Gara-gara lo nih Fan." Ucap Nada sambil beranjak, wanita itu mau tak mau harus memasuki ruangan Pak Wira.