Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang salah
Sementara itu, di sekolah Yudha....
Suasana kelas XII IPA 2 terasa jauh lebih santai dari biasanya. Guru mata pelajaran yang seharusnya mengajar hari itu berhalangan hadir. Sebagai gantinya, siswa-siswi hanya diberi tugas untuk dikerjakan selama jam pelajaran berlangsung.
Sebagian siswa memanfaatkan kesempatan itu untuk mengobrol, sementara yang lain sibuk bermain ponsel.
"Yudha, bolos yuk."
Yudha yang sedang membuka buku tugas langsung menoleh. Bima, ketua kelas yang terkenal badung duduk di atas mejanya sambil menyeringai.
"Nggak mau ah. Nanti diciduk Satpol PP," sahut Yudha santai.
Bima tertawa keras.
"Ya elah! Jadi anak laki-laki kok penakut begitu."
"Nggak seru banget!" timpal Chandra yang duduk di sampingnya.
Yudha memutar bolpoin di tangannya.
"Bukan penakut. Aku cuma nggak mau cari masalah."
"Masalah apa? Kita keluar sebentar doang, nanti balik lagi sebelum jam pelajaran selesai."
"Iya," sambung Chandra. "Sekali-kali rasain sensasi bolos. Jangan terus-terusan jadi siswa teladan."
"Pintu gerbang depan dijaga satpam. Memangnya kita mau keluar lewat mana?"
Bima dan Chandra saling pandang lalu tersenyum penuh arti.
"Makanya sekali-kali ikut kami. Biar tahu jalur rahasia."
"Jalur rahasia?"
Yudha mulai tertarik. Meski selama ini dikenal sebagai siswa yang cukup tertib, ia tetap seorang remaja yang memiliki rasa penasaran besar.
"Kalian mau ke mana sih sebenarnya?”
"Mabar di warnet."
Yudha tampak ragu.
"Gimana kalau ada razia?"
"Aman. Percaya deh sama aku."
Chandra ikut menepuk pundak Yudha.
"Ayo, Yud. Bosen banget satu setengah jam cuma duduk di kelas ngerjain tugas."
"Terus, tugasnya gimana?"
"Gampang kalau soal itu.”
Ayana berdiri sambil berkacak pinggang.
"Bima! Kamu itu ketua kelas! Harusnya memberi contoh yang baik, bukan malah ngajak bolos!”
Bima mendecak malas.
"Diam kamu! Awas saja kalau sampai lapor guru!”
Tatapan Bima berubah tajam. Ayana langsung terdiam. Ia tahu sifat Bima yang mudah tersulut emosi. Beberapa kali siswa itu pernah terlibat perkelahian dengan siswa lain.
Melihat Ayana tidak lagi membantah, Bima kembali menoleh pada Yudha.
"Gimana?"
Yudha menimbang-nimbang beberapa saat. Di satu sisi ia tahu apa yang dilakukan teman-temannya salah. Namun di sisi lain, rasa penasaran terus menggodanya. Lagipula, hanya sekali ini.
Yudha akhirnya menghela nafas panjang.
"Ya sudah, aku ikut.”
Bima langsung menepuk bahu Yudha keras-keras.
"Itu baru namanya gentleman!"
Chandra tertawa puas.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera meraih tas masing-masing. Bima memimpin rombongan kecil itu menuju pintu belakang sekolah. Selain Yudha, ada lima siswa lain yang ikut bergabung. Satu per satu mereka meninggalkan ruang kelas dengan langkah penuh semangat.
Tak seorang pun menyadari bahwa keputusan sederhana untuk membolos hari itu akan membawa mereka pada masalah yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Ayana menatap punggung Yudha yang semakin menjauh bersama rombongan Bima. Ia menghela nafas panjang.
"Yudha... kamu kenapa sih sebodoh itu ikut-ikutan mereka bolos. Kalau sampai terciduk Satpol PP, kamu bakal kena masalah."
Beberapa menit kemudian, rombongan siswa itu sudah berada di belakang gedung sekolah. Di sana terdapat sebuah tembok pembatas yang cukup tinggi, tetapi bukan halangan bagi mereka yang sudah sering membolos. Bima menjadi orang pertama yang memanjat lalu melompat ke sisi luar.
Satu per satu siswa lain menyusul. Tawa dan sorak kecil terdengar setiap kali ada yang berhasil melewati tembok tersebut. Yudha menjadi salah satu yang terakhir. Saat kedua kakinya mendarat di tanah, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ada rasa takut, tetapi juga sensasi aneh yang membuatnya bersemangat.
"Begini rupanya rasanya membolos."
Rombongan itu lalu berjalan menuju sebuah warnet yang berjarak beberapa ratus meter dari sekolah.
Begitu tiba di depan bangunan tersebut, Bima tiba-tiba menepuk bahu Yudha.
"Yudha, kamu yang bayar sewa PC-nya."
Yudha langsung menoleh.
"Hah? Kenapa jadi aku?"
Bima dan Chandra saling pandang lalu terkekeh.
"Karena kamu anak manajer," jawab Chandra santai.
"Pasti uang sakumu banyak."
"Iya, sekali-kali bayarin teman lah," tambah Bima.
"Tapi uang sakuku nggak banyak."
Belum sempat ia menghindar, tangan Bima sudah lebih dulu masuk ke saku seragamnya. Yudha berusaha menahan, tetapi terlambat. Bima berhasil menemukan selembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Bima, jangan diambil!" seru Yudha panik. "Itu buat makan saat istirahat sama uang sakuku besok."
Bima hanya mendecak.
"Pelit amat sih sama teman!"
Yudha mengepalkan tangan menahan kesal. Ia ingin merebut kembali uangnya, tetapi jumlah teman-teman Bima jauh lebih banyak. Akhirnya ia hanya bisa menatap pasrah saat Bima melangkah masuk ke dalam warnet sambil membawa uang miliknya.
Tak lama kemudian, Bima menyewa dua unit komputer. Mereka lalu berdesakan di depan layar, tertawa dan bersorak saat permainan dimulai. Sementara itu, Yudha duduk dengan perasaan tak nyaman.
Entah mengapa, sejak tadi hatinya terus gelisah. Ia merasa telah membuat keputusan yang salah.
Sepanjang permainan, Bima dan Chandra jauh lebih mendominasi. Mereka nyaris tak pernah melepaskan kendali mouse maupun keyboard.
Setiap kali Yudha ingin mencoba bermain, jawaban yang ia terima selalu sama.
"Sebentar … Lagi seru nih."
Awalnya Yudha masih bersabar. Namun semakin lama, ia justru merasa seperti orang yang hanya diajak menonton. Rasa bosan perlahan menguasainya. Ditambah ruangan warnet yang pengap dan suara pendingin udara yang berdengung, membuatnya mengantuk.
Yudha menguap beberapa kali, lalu
menyandarkan punggungnya pada dinding. Tak lama kemudian, mata Yudha benar-benar terpejam.
Entah berapa lama ia tertidur. Dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar suara gaduh dari luar ruangan.
Awalnya samar. Namun lama-kelamaan semakin jelas.
"Gawat! Ada razia Satpol PP!"
Yudha sontak membuka mata. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ruangan yang tadi hening mendadak kacau. Beberapa siswa berlarian ke sana kemari.
"Cepat! Lewat pintu belakang!" seru Bima. Tanpa membuang waktu, ia mengenakan sepatu dengan tergesa-gesa. Chandra dan teman-teman lainnya segera mengikuti.
Mereka tampak begitu hafal dengan situasi seperti itu. Sementara Yudha masih linglung karena baru terbangun.
"Tunggu!" serunya.
Namun tak seorang pun menoleh. Dalam hitungan detik, Bima dan yang lainnya menghilang melalui pintu belakang warnet.
Yudha buru-buru meraih sepatunya. Tangannya gemetar saat memasukkan kaki ke dalam sepatu. Ia bermaksud menyusul teman-temannya. Namun semuanya sudah terlambat.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Beberapa petugas berseragam Satpol PP masuk dengan langkah tegas. Seorang pria paruh baya yang tampaknya menjadi pimpinan razia langsung menghampirinya.
"Kamu!"
Yudha membeku.
Pria itu mencengkeram lengannya.
"Ini masih jam sekolah. Kenapa kamu malah berada di warnet?"
Yudha menelan ludah, mulutnya terasa kering. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
"Pak... saya...."
"Kamu siswa sekolah mana?"
Yudha menunduk.
"Pak, saya cuma ikut-ikutan teman."
"Temanmu mana?"
Belum sempat Yudha menjawab, seorang petugas lain datang menghampiri.
"Lapor, Komandan! Beberapa siswa berhasil kabur melalui pintu belakang. Kami tidak sempat mengejar karena mereka sudah terlalu jauh."
Sang komandan menghela napas kesal, kemudian ia kembali menatap Yudha.
"Kamu ikut kami ke kantor."
Wajah Yudha langsung pucat.
"Pak, jangan...."
"Kamu baru bisa pulang setelah orang tuamu datang menjemput."
"Pak, tolong. Jangan bawa saya. Ayah saya bisa marah besar."
Petugas itu tetap bersikap tegas.
"Kamu sudah cukup besar untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah."
Yudha menunduk semakin dalam.
"Kamu melakukan pelanggaran, jadi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."
Sang komandan memberi isyarat kepada petugas lain.
"Ayo."
Dengan langkah lemas, Yudha berjalan mengikuti mereka. Di luar, sebuah mobil patroli telah menunggu. Saat menaiki kendaraan itu, rasa sesal menghantamnya tanpa ampun.
Bima, Chandra dan kawannya yang lain berhasil kabur. Sementara dirinya harus menanggung akibat dari kebodohannya sendiri.
"Bima... Chandra…Tega banget kalian ninggalin aku. Aku nyesel sudah percaya sama kalian."
Sepanjang perjalanan menuju kantor Satpol PP, Yudha hanya menundukkan kepala. Kini tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Cepat atau lambat, ayahnya pasti akan mengetahui semuanya. Dan kali ini Yudha benar-benar takut menghadapi Keenan.
Mahesa hemmmm ada something ini