NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24 Rumah yang Semakin Hangat

Dua hari telah berlalu sejak insiden kedatangan para rentenir yang sempat membuat kehebohan di kediaman Bu Ratih. Perlahan namun pasti, suasana di Desa Sekar kembali berjalan normal seperti sedia kala. Warga desa kembali melaut, dan anak-anak kembali berlarian di sepanjang pesisir pantai.

Namun bagi Bu Ratih, ada satu hal besar yang berubah di dalam hidupnya. Beban berat yang selama bertahun-tahun ini menekan pundaknya, membuat napasnya sesak, dan merenggut ketenangannya, kini akhirnya terangkat sepenuhnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wanita tua itu bisa memejamkan mata dan tidur dengan sangat nyenyak tanpa perlu mengkhawatirkan ancaman kehilangan rumah tempatnya berteduh.

Pagi yang cerah itu, halaman depan rumah Bu Ratih mendadak dipenuhi oleh aroma gurih dari adonan pisang goreng yang sedang dimasak di atas wajan. Wajah Bu Ratih terlihat jauh lebih segar dan ceria, guratan lelah yang biasa bertengger di wajah senjanya kini sirna digantikan oleh senyuman hangat.

Di sudut teras, Rani tampak sibuk membantu. Tangan kecilnya bergerak dengan penuh kehati-hatian, mencoba menata piring-piring plastik di atas meja kayu.

"Pelan-pelan saja, Rani. Tidak perlu terburu-buru," ucap Kael yang baru saja muncul dari samping rumah, berjalan tegap sambil memikul dua ember penuh berisi air bersih yang baru diambilnya dari sumur tua.

Rani menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongak, menatap lekat wajah Kael dengan mata bulatnya yang berbinar, lalu mengangguk penuh semangat.

"Aku... bi... sa," kata Rani.

Meskipun untaian kata itu masih terdengar terbata-bata dan diucapkan dengan usaha keras, namun setiap suku katanya terdengar sangat jelas di telinga.

"Benar, Anak ibu sekarang sudah pintar sekali!" puji Bu Ratih spontan. Wanita tua itu langsung membalikkan badannya dari penggorengan, menatap Rani dengan binar mata yang berkaca-kaca saking bahagianya.

Mendengar pujian dari sang ibu, Rani seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pipi tembamnya langsung memerah karena malu sekaligus bangga atas pencapaian kecilnya pagi ini.

Kondisi yang sama hangatnya juga merembet ke sekolah dasar tempat Kael mengajar. Suasana di dalam ruang kelas tampak sangat ramai dan penuh tawa. Anak-anak desa kini mulai terbiasa, bahkan sangat menantikan metode belajar mengajar unik ala Kael yang sama sekali tidak membosankan.

Hari itu, materi pelajaran mereka adalah tentang ekosistem laut. Namun, bukannya menyuruh anak-anak duduk diam dan meringkas isi buku teks yang tebal, Kael justru memilih jalan lain.

"Ayo rapikan buku kalian. Hari ini kita belajar langsung ke pantai," ujar Kael sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap murid-muridnya yang langsung tertegun.

"Horeee! Kita ke pantai!"

"Pak Guru terbaik di dunia!"

Anak-anak langsung bersorak gembira, melompat dari bangku mereka dengan wajah yang berseri-seri. Mereka segera berhamburan keluar kelas dengan tertib namun penuh semangat.

"Ingat, kalau nilai ujian kalian nanti tetap jelek, itu murni karena kalian malas, bukan salah saya," timpal Kael dengan nada suara yang datar dan wajah yang sengaja dibuat ketus.

"Siap, Pak Guru!" balas salah satu murid sambil memberikan hormat pramuka yang asal-asalan, yang langsung memicu gelak tawa dari murid-murid lainnya.

Dari kejauhan, tepat di depan ruang UKS, Hana yang kebetulan sedang berkunjung ke sekolah untuk agenda pemeriksaan kesehatan rutin anak-anak, menghentikan aktivitasnya sejenak. Dokter muda itu melipat kedua tangannya di pinggang, lalu ikut tersenyum lebar melihat pemandangan tersebut.

Ada rasa kagum yang diam-diam mulai tumbuh di hatinya melihat bagaimana pria kaku seperti Kael bisa begitu dicintai oleh anak-anak desa.

Siang harinya, setelah seluruh murid dipulangkan ke rumah masing-masing, suasana sekolah menjadi lengang. Hana melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang pintunya terbuka, berniat membantu Kael membereskan beberapa alat peraga belajar yang masih berserakan di atas meja.

"Anak-anak sepertinya sangat menyukaimu, ya," buka Hana sambil memunguti beberapa gambar ikan dari kertas karton, lalu menyusunnya dengan rapi.

"Mereka hanya senang karena bisa bolos dari ruang kelas yang panas," sahut Kael tanpa menoleh. Tangannya sibuk menghapus sisa-sisa tulisan kapur di papan tulis dengan gerakan yang konstan.

"Tapi caramu mengajar memang berbeda. Kau membuat hal yang rumit jadi terasa mudah dipahami," puji Hana lagi, melirik Kael dari sudut matanya.

"Aku hanya menyampaikan apa yang perlu mereka ketahui. Tidak kurang, tidak lebih," jawab Kael pendek. Ia akhirnya meletakkan penghapus papan tulis, lalu berbalik menatap Hana.

Awalnya, obrolan di antara mereka berdua hanya berputar di seputar perkembangan anak-anak di sekolah. Namun perlahan, tanpa ada yang mengomando, obrolan itu berkembang ke hal-hal yang jauh lebih personal dan ringan.

Mereka mulai bertukar cerita tentang makanan laut kesukaan, keindahan ombak di Desa Sekar, hingga kebiasaan-kebiasaan unik para warga desa yang sering membuat mereka menggelengkan kepala. Tanpa mereka sadari, waktu berputar dengan sangat cepat di tengah obrolan tersebut.

"Kau tahu? Kau terlihat jauh lebih sering tersenyum sekarang," cetus Hana tiba-tiba, menghentikan kalimatnya tentang resep masakan ikan bakar.

"Begitukah? Kurasa wajahku sama saja sejak dulu," balas Kael, sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa heran dengan penilaian wanita di depannya.

"Tentu saja berbeda. Dulu, saat pertama kali kau menginjakkan kaki di desa ini, wajahmu itu persis seperti orang yang ingin memukul siapa saja yang berani mengajaknya bicara," gurau Hana, menirukan ekspresi ketus Kael dengan mengerutkan alisnya dalam-dalam.

"Itu penilaian yang sangat berlebihan, Dokter Hana," bela Kael sambil menghela napas panjang, meskipun sudut bibirnya tidak bisa berbohong untuk tidak berkedut menahan senyum.

"Tidak, aku serius. Tanya saja pada Pak RT kalau kau tidak percaya," jawab Hana cepat dengan tawa yang mulai lepas dari bibirnya.

Mereka berdua saling pandang selama beberapa detik dalam keheningan yang mendadak terasa canggung. Namun sesaat kemudian, entah apa pemicunya, Kael dan Hana justru berakhir tertawa bersamaan. Momen sederhana di ruang kelas yang kosong itu terasa aneh bagi Kael yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang masa lalu, namun di saat yang sama, ada rasa nyaman yang begitu hangat menyusup ke dalam dadanya.

✨✨✨

Sore pun menjelang, membawa semburat warna jingga di langit Desa Sekar. Rani tampak duduk berselonjor di bawah naungan pohon ketapang yang rindang di tepi pantai, sibuk menggerakkan krayonnya di atas selembar kertas gambar.

Kael berjalan mendekat sambil membawa beberapa buah buku cerita baru yang ia pinjam dari perpustakaan kecil sekolah. Namun, tepat saat Kael hendak mendudukkan dirinya di atas akar pohon yang besar, sebuah tarikan lembut di ujung bajunya membuat pria itu menghentikan gerakannya.

Kael menoleh ke bawah. "Ada apa, Rani? Kau butuh krayon warna lain?"

Rani tidak langsung menjawab. Gadis kecil itu tampak sangat gugup, jemari tangannya meremas ujung kaosnya sendiri dengan kuat. Napasnya terdengar sedikit memburu, seolah-olah ia sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam lubuk hatinya. Ia menatap mata tajam Kael, lalu perlahan membuka bibirnya.

"...Pa..." cicit Rani dengan suara yang sangat lirih.

Kael sedikit mengernyitkan wajahnya, mencoba mempertajam pendengarannya. "Apa? Kau mau bicara sesuatu?"

Rani mendadak menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu, membuat kedua pipinya kembali merona merah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mencoba mengeluarkan suaranya.

"...Pak..." ucap Rani lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Gadis kecil itu kemudian memberanikan diri untuk kembali mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Kael yang sedang menantinya dengan sabar.

"...Kael," lanjut Rani.

Suara itu terdengar pelan, sedikit serak, tetapi terdengar sangat jelas dan tegas di tengah suara deru ombak pantai.

Mata Kael seketika membesar, tubuhnya membeku di tempat selama beberapa detik. Ada rasa keterkejutan yang luar biasa yang menghantam sanubarinya. Rani baru saja berhasil mengucapkan namanya dengan benar. Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama.

Perlahan, sebuah senyuman kecil yang teramat tulus dan jarang diperlihatkan kepada orang lain, kini muncul di wajah tampan Kael. Ia mengulurkan tangannya yang besar, lalu menepuk puncak kepala Rani dengan lembut.

"Bagus. Kau melakukannya dengan sangat baik, Rani," puji Kael dengan nada suara yang melembut.

Rani yang mendengar apresiasi tersebut langsung mendongak, memperlihatkan senyuman bangganya yang paling lebar hingga deretan giginya terlihat. Hari itu, di bawah pohon ketapang, menjadi sebuah momen berharga yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh mereka berdua.

Malamnya, setelah seluruh aktivitas desa berhenti, Kael kembali berjalan seorang diri menuju tepi pantai. Ia duduk di atas sebuah batang kayu besar yang hanyut, merenung menatap hamparan laut luas di depannya. Gulungan ombak malam berkejaran dengan pelan, diiringi oleh embusan angin laut yang membawa aroma garam yang khas.

Semua yang ada di sekelilingnya saat ini terlihat sangat damai, tenang, dan tanpa cela. Sebuah kehidupan normal yang selama ini selalu ia impikan dalam pelariannya.

Namun, entah mengapa, perasaan aneh dan tidak nyaman yang bersarang di sudut hatinya sejak beberapa hari lalu masih belum mau pergi. Jauh di dalam isi kepalanya, insting liarnya sebagai seorang pria yang pernah hidup di dunia hitam terus berbisik dengan nada memperingatkan.

Ada sesuatu yang sedang bergerak di luar sana. Sesuatu yang berbahaya, yang bergerak dengan sangat perlahan, merayap di dalam kegelapan secara diam-diam, dan sialnya... jaraknya kini terasa semakin dekat menuju ke arahnya.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!