Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Tari memakirkan mobil di depan pagar rumah Shofi dan kembali melajukan mobilnya seiring Shofi masuk meninggalkannya.
"Assalamualaiku, Ma" ucap Shofi berjalan masuk mencari Mama Yanti.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" ucap Mama yang sedang duduk di ruang tamu.
Shofi terus berjalan menghampiri Mamanya dan duduk disampingnya.
"Kok malah duduk disini, cepat sana siap-siap" pinta Mama Yanti melirik Shofi.
"Gak ah, Ma. Gini aja" ucap Shofi bersandar di sofa.
"Bangun" Mama Yanti menarik tangan Shofi.
"Mama..!" ucap Shofi merengek.
"Cepat ganti baju, sebentar lagi kita pergi" ucap Mama Yanti tegas.
Shofi malas meladeni Mamanya dan berjalan ke kamar.
*Di kediaman Adit.
Mama Salma menunggu Adit di ruang tamu sambil menatap jam di tangannya.
"Adit! cepat, nak" panggil Mama Salma.
"Iya, Ma. Ni Adit lagi turun" ucap Adit sambil turun dari tangga dan berjalan mendekat Mamanya.
"Ya udah, ayo!" ucap Mama Salma menarik tangan Adit.
"Kuncinya mana?" tanya Adit menadah tangannya.
"Tenang" ucap Mama Salma merogoh tasnya.
"Ini!" sambung Mama Salma menyerahkan kunci mobil.
"Loh, kok mobil Mama sih?" ucap Adit menatap Mamanya.
"Kita bukan jalan berdua sayang, tapi berempat" ucap Mama Salma mengedip matanya dan melangkah pergi.
"Mama ini apa sih maksudnya" gumam Adit kesal dan bingung.
Adit berjalan terus menuju garasi mobilnya. Mata Adit tertuju pada mobil sportnya, Lamborghini veneno. Melihat mobil yang terus terparkir di garasinya membuatnya
kesal. Namun tak ingin berlama-lama memandanginya, Adit berjalan mendekati mobil Alphard putih milik Mamanya.
Mama melihat mobilnya yang berjalan menujunya dengan segera melangkahkan kakinya.
"Ma! kita kemana ni?" tanya Adit melirik Mama Salma.
"Kita jemput calon mantu Mama dulu, habis itu baru kita ke butik" jelas Mama Salma sambil menatap handphone di tangannya.
Adit mengangguk kepalanya dan melaju mobilnya.
"Loh! Adit kok lewat jalan ini?" tanya Mama Salma melihat jalan.
"Kita mau jemput calon mantu Mama, kan? Ya, ini jalannya" ucap Adit melirik Mama Salma.
"Iya, tapi bukan calon kakak mu. Tapi, calon istrimu" ucap Mama Salma menatap Adit.
Mendengar ucap Mama Salma langsung Adit mengerem mobilnya secara tiba-tiba.
"Adit! Kamu mau bunuh Mama?" Mama Salma kaget dan kesal.
"Maaf, Ma" ucap Adit bersalah.
Adit memalingkan wajahnya dan menatap serius kedua mata mamanya.
"Ma! apa maksud calon istri Adit?" tanya Adit serius.
"Shofi. Kamu akan segera menikah dengan dia setelah pesta kakakmu" ucap Mama Salma menatap kedua mata Adit.
"Ma..! Bisa gak jangan anak kecil itu, Ma" ucap Adit kesal.
"Sayangnya gak bisa nak." ucap Mama Salma tersenyum tipis.
"Lagian apa kurang dia. Coba kamu perhatikan dia. Dia itu cantik, sholeha, baik, dan yang paling penting dia itu anak sahabat Mama" sambung Mama Salma tersenyum.
"Tapi, Mama tau kan gimana hubungan aku sama dia? Kami itu gak pernah akur, Ma. Dan gimana caranya Adit hidup dengan dia? Malapetaka, Ma" ucap Adit kesal.
"No no no.. itu gak akan terjadi. Ingat! benci dan cinta itu setipis daun bawang. Sekarang kamu benci, bisa jadi setelah menikah kamu akan jatuh cinta dengannya dan bisa jadi frustasi kalau dia ninggalin kamu" jelas Mama Salma memberi pencerahan.
"No Ma! Itu gak mungkin" ucap Adit menggeleng kepalanya.
"Please sayang! Kali ini, turuti keinginan Mama. Mama gak minta banyak dari kamu, cuma itu keinginan Mama" Mama Salma memohon.
Adit menggeleng kepalanya seakan tak percaya dengan permintaan Mamanya.
"Sekarang kamu putar balik, kita ke rumah tante Yanti" pinta Mama Salma.
Adit memutar balik mobilnya dan melaju ke kediaman Shofi.
----
Tit..tit.. Suara klakson mobil Mama Salma.
"Shofi cepat nak! mereka udah sampai" ucap Mama Yanti meninggikan suaranya.
"Ya, Ma. Bentar!" ucap Shofi turun dari tangga dan melangkah menghampiri Mama Yanti.
Mama yanti segera keluar dan menyambut Mama Salman yang baru saja turun dari mobilnya.
"Assalamualaikum, Jeng" ucap Mama Salma menghampiri Mama Yanti.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" Ucap Mama Yanti sambil cipika cipiki dengan Mama Salma.
"Jeng! Shofi mana?" tanya Mama Salma melirik ke seluruh sudut.
"Shofi disini, Tan" ucap Shofi berjalan menghampirinya.
"Kalau begitu mari kita pergi" ajak Mama Salma.
Mama Salma langsung menarik tangan Mama Yanti agar bisa menempati kursi belakang, sedangkan Shofi masih berdiri di depan pintu karena merasa risih jika harus duduk di depan dengan Adit.
"Nak! cepat masuk. Nanti kita telat loh" ucap Mama Yanti menatap Shofi.
"Baik, Ma" ucap Shofi kesal.
Shofi langsung membuka pintu dan duduk di depan tanpa menatap Adit di sebelahnya. Adit-pun tak mau menoleh dan langsung fokus menyetir mobilnya.
Suara keheningan di mobil kian terasa. Tak sepatah katapun yang keluar dari kedua sejoli. Shofi yang asik dengan handphonenya bahkan tak menghiraukan obrolan Mama Salma dan Mama Yanti duduk di belakangnya.
"Oh ya, Jeng. Aku udah ngomong sama Adit. Dia mau dijodohin sama Shofi" ucap Mama Salma tersenyum.
Shofi tercengang dengan perkataan Mama Salma dan langsung menatap Adit dengan tajam.
Adit merasa dirinya dipelototin Shofi hanya melirik dan fokus kembali menyetir.
"Wah..! serius kamu, Jeng?" tanya Mama yanti menatap Mama Salma.
"Iya" ucap Mama Salma sambil mengangguk kepalanya.
"Wah.. bentar lagi kita besanan dong, Jeng" ucap Mama Yanti bahagia.
Shofi merasa panas telinganya tak terima dengan ucapan mereka langsung memalingkan wajah ke belakang dan menatap keduanya.
"Mama!" panggil Shofi kesal.
"Iya nak, ada apa?" tanya Mama Yanti lembut.
"Mama gak boleh dong asal yes yes aja, gak mikirin perasaan Shofi apa?" ucap Shofi kesal dengan tatapan tajam ke arah Mamanya.
"Perasaan Shofi gimana maksudnya? Adit itu calon suami yang baik dan cocok untukmu" ucap Mama Yanti berusaha membujuknya.
"Gak! pokonya Shofi gak mau nikah sama dia" ucap Shofi tegas dan kembali memalingkan wajahnya dan menatap jalan dengan wajah kesal.
"Jeng, gimana ini?" bisik Mama Salma.
"Tenang.. Aku masih ada cara untuk bikin anakku mau nikah sama anakmu" bisik Mama Yanti tersenyum tipis.
"Aku serahkan semuanya padamu. Pokoknya kita harus jadi besan" bisik Mama Salma penuh harapan.
Mama Yanti menganggukan kepala dan tersenyum menatap Mama Salma.
Shofi dengan wajah kesalnya sesekali melirik wajah Adit yang membuatnya semakin kesal.
"Apa jadinya gue nikah sama tu anak? gelap masa depan gue. Ditambah lagi.. huff gak sanggup gue mikir kalau gue jadi istrinya" bathin Shofi.
Adit yang dari tadi hanya diam berusaha menahan kekesalan dengan sikap Mamanya yang memilih keputusan sepihak tanpa mendengar pendapatnya membuat hati Adit meronta-ronta.
"Ma! apa Mama gak kebayang gimana nasib anakmu ini kalau harus punya istri kaya dia? Gelap Ma! gelap masa depan anakmu" bathin Adit.
Tak ingin larut dalam kekesalannya, Adit terus mengendarai mobilnya hingga tiba di sebuah butik milik Mamanya.