Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Bab 7 sudah aku revisi.
Happy Reading:)
***
Davin meringis pelan dalam tidurnya. Tubuh pria itu tampak bergerak gelisah diatas tempat tidur. Keringat membasahi tubuhnya, membuat pakaian yang digunakan nya basah. Kerutan pada dahi serta gumaman pelan terdengar. “Carissa!!”
Hingga setetesa air mata pun jatuh melewati sudut mata yang masih tertutup dengan rapat. “Carissa, jangan pergi! Jangan tinggalin aku sama anak kita sayang!” Suara Davin semakin keras, hingga ucapan nya bisa terdengar dengan jelas.
“Sayang…Jangan pergi, tunggu aku!”Davin akhirnya dapat melihat sosok yang sangat dia rindukan itu. Dengan mata yang berkaca-kaca, Davin hendak meraih Carissa, sang istri yang sudah tiada, namun gelengan dari wanita itu membuat nya berhenti.
“Kenapa sayang? Ayo kita pulang, kami rindu sama kamu. Ayo sayang!”Davin menatap Carissa dengan sendu. Raut nya menunjukan keputusasaan.
“Mas…”suara lembut itu tetap sama, Davin terpaku menatap wajah sang istri yang tidak berubah sama sekali, hanya tampak pucat saja, namun tetap cantik dimatanya. “Aku nggak bisa ikut sama kamu lagi!” lanjut nya sembari menatap Davin yang sudah menggeleng pelan.
“Kenapa? Kenapa kamu nggak mau ikut aku, ayo sayang kita pulang. Ami pasti senang mama nya kembali. Ayo sayang pulang sama aku!”pria itu memohon sembari melangkah mendekati Carissa. Saat hendak memeluk nya, tubuh wanita itu tidak bisa ia genggam membuat Davin menatap nya panik.
“Sayang…Ayo pulang, jangan tinggalin kami lagi!” air mati mengalir membasahi wajah nya. Carissa yang melihat itu menatap Davin dengan sendu. “Mas, jangan menangis. Aku sudah bahagia disini!” Davin menggeleng pelan, sembari menatap Carissa memohon. “Tapi kami nggak bahagia!” ujar nya.
Carissa tertawa pelan sembari menatap suami nya itu. “Kata siapa? Aku tau mas sudah menemukan pendamping aku!” ujar wanita itu dengan sendu. Davin terpaku mendengar ucapan Carissa. “Nggak papa, dia cocok kok sama mas. Dia pasti bisa jadi istri dan ibu yang baik untuk Ami dan anak-anak kalian kelak!” suara itu terdengar bergetar pelan.
Davin menggeleng pelan sembari menatap wajah Carissa yang kini menatap nya dengan senyum lebar. “Sudah saat nya mas membuka lembaran baru. Aku sangat Ikhlas jika dia yang menjadi pendamping kamu, menggantikan aku! Mas, janji sama aku, mas dan Ami akan bahagia!” setelah mengatakan itu sebuah cahaya putih muncul dan perlahan tubuh Carissa menjauh darinya. Wanita itu tersenyum sangat manis, hingga benar-benar menghilang dari pandangan nya dan semua berubah menjadi gelap.
***
Tiba-tiba Davin terbangun dengan tubuh yang sudah basah oleh keringat, nafasnya memburu. Pria itu menutup mata sembari mengusap pipi nya pelan, kemudian membuka nya perlahan lalu menatap bingkai foto pernikahan nya bersama sang istri.
Sudah beberapa hari ini, dia bermimpi tentang hal yang sama. Namun kali ini, mimpinya terasa lebih nyata. Davin tentu saja mengingat jelas setiap kalimat yang diucapkan oleh Clarissa. “Kenapa kamu tinggalkan aku dan Ami?” gumamnya lirih. Matanya menatap ke arah sebuah foto yang tergantung di dinding. Seorang wanita cantik dalam balutan gaun putih tersenyum manis ke arah kamera.
Mari kita lihat sedikit kisah keduanya, hingga Ami bisa berada didunia. Namanya Carissa Nugraheni, istri dari Davin Artama dan ibu dari seorang gadis cantik bernama Ami. Carissa adalah wanita yang sangat cantik dan lembut, penuh perhatian dan rendah hati.
Carissa dan Davin adalah sahabat semasa SMA hingga keduanya memasuki bangku kuliah.
Keduanya tidak terpisahkan, ibarat air dan ikan. Dimana ada air disitu ada ikan begitu pula keduanya. Davin dan Carissa selalu bersama, bahkan jurusan keduanya pun sama pada saat kuliah.
Baik dalam narasi hubungan antar manusia, kita pasti sering mendengar sebuah istilah yaitu “sahabat lawan jenis.” Sebuah ikatan yang digadang-gadang murni tanpa melibatkan perasaan romansa didalamnya. Namun benarkah begitu? Didunia yang penuh dengan jutaan manusia, persahabatan seperti itu hanyalah sebuah zona abu-abu, atau dapat disebut sebuah penundaan yang dilakukan karena ketidakmampuan untuk jujur satu sama lain.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “Tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita. Kalau bukan cewek nya yang baper, maka cowonya!”
Begitu juga yang tengah terjadi antara Davin dan Carissa. Siapa sangka keduanya yang selalu yakin bahwa mereka ada sepasang sahabat malah saling jatuh cinta. Hingga tidak lama kemudian mereka menjalin hubungan, tidak ada yang berubah sebenar nya, hanya status yang berubah dan juga komunikasi yang semakin intens.
Hubungan mereka berjalan mulus, apalagi Davin sudah mengantongi restu kedua orang tua Carissa, hingga akhirnya mereka menikah setelah lulus kuliah. Tidak hanya sampai disitu, kebahagiaan pasangan baru itu pun bertambah saat Carissa dinyatakan hamil beberapa bulan setelah menikah.
Davin yang pada dasar nya begitu mencintai istrinya menjadi sangat protektif. Ia melarang Carissa melakukan aktivitas berat apa pun. Ia ingin memastikan istrinya dan calon bayi mereka baik-baik saja.
Hingga tibalah saat untuk Carissa melahirkan, Davin tetap setia menemani istrinya. Calon ayah itu memanjatkan doa terus menerus untuk keselamatan Carissa dan calon bayi mereka, namun takdir berkata lain. Dunia Davin runtuh seketika saat wanita yang paling ia cintai pergi untuk selamanya.
Carissa mengalami pendarahan hebat dan menghembuskan nafas terakhirnya sehari setelah melahirkan. Kini, Davin hanya memiliki satu alasan untuk terus hidup, anak mereka yang mungil. Amira Artama. Buah hati yang mereka nantikan selama sembilan bulan.
Davin tentu saja sangat merasa kehilangan, namun dia tidak ingin terus larut dalam kesedihannya, sehingga anak mereka juga merasa kehilangan sosok kedua orang tuanya Davin tidak pernah menyalahkan Ami atas kepergian Carissa. Ia menyadari bahwa hidup adalah tentang menerima, kehilangan dan menyambut kedatangan. Carissa memang pergi, tapi Tuhan menggantikannya dengan kehadiran Ami. Itulah sebabnya Davin sangat menyayangi anak semata wayangnya.
Davin larut dalam keheningan. Suara Carissa terus berputar dikepala nya, membuat pria itu meringis pelan. Mata dan tubuhnya seolah menolak untuk kembali tidur, hingga malam itu pria itu menghabiskan waktu nya untuk menatap foto sang istri yang ada didekapan nya. Mengabaikan suhu tubuhnya yang perlahan naik.
***
Pukul 06.20 pagi…
Rein dan Ami sedang berada di meja makan. Kedua gadis itu baru saja pulang setelah lari pagi. Diatas meja sudah terdapat bubur ayam yang keduanya beli saat lari pagi tadi. “Papa kok belum bangun ya Rein?” Rein yang sedang menyajikan bubur ayam itu menatap Ami.
“Iya juga ya. Coba kamu cek ke kamar, Kalau ada ajak sekalian buat sarapan! Biar aku siapkan buat om Davin juga.” Ami segera mengangguk mendengar ucapan Rein. Gadis itu melangkah menuju kamar Davin. Gadis itu tiba-tiba merasa khawatir, entah karena apa.
Satu, dua hingga empat kali ketukan, namun pintu belum dibuka sama sekali. Ami yang khawatir segera membuka kamar Davin, ternyata tidak dikunci. “Papahhh…!” Ami segera berlari menuju Davin yang terbaring lemah dengan tubuh terbungkus selimut.
Gadis itu menatap khawatir pada Davin, sembari mengecek suhu tubuh pria itu. “Papa kok nggak kasih tau Ami kalau sakit!” ujar gadis itu sembari menatap nya khawatir dengan air mata yang sudah jatuh. “Benta ya pah, Ami panggil Rein dulu!” gadis itu segera berlari keluar, meninggal kan Davin yang tidak bisa berbuat apa-apa.
“Rein…Reinn tolong papah! Papah panas banget!” gadis itu berteriak pelan membuat Rein yang duduk sembari memainkan ponsel nya terperanjat. “Kenapa? Om Davin kenapa?” gadis itu segera mendekati Ami yang menangis.
“Badan papah panas banget Rein. Ayo bawa papa kerumah sakit!” gadis itu menarik tangan Rein hingga keduanya memasuki kamar Davin. “Iya iya, sebentar aku liat kondisi om Davin!” gadis itu mengelus lengan Ami yang terlihat khawatir sekali dengan kondisi Davin.
“Om. Om Davin bangun dulu!” Rein menyentuh kening Davin, suhunya panas sekali, gumam gadis itu dalam hati. “Ami, ada thermometer?” tanya Rein pada gadis itu. Ami mengangguk lalu segera mengambil kotak obat diruang tengah. Rein segera menerima thermometer yang Ami berikan.
Rein dengan telaten membantu Davin melepaskan baju nya. “Om, lepas baju nya dulu ya. Saya mau ukur suhu tubuh om, kalau panas nya tinggi kita kerumah sakit!” Davin dengan kondisi seperti itu hanya mengangguk mengiyakan.
Terimakasih sudah baca!
'mas kenapa?
"pengenpeluk!