Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hey...Coklat
Setelah kejadian itu aku nengurangi membawa barang. Yang tidak penting ke sekolah.
Aku suka coklat dari dulu. Aku selalu membawa coklat ke Sekolah. Tapi memang tidak sampai satu kotak. Seperti kejadian saat operasi mendadak kemarin.
Satu minggu lagi ulang tahunku. Yang ke tujuh belas tahun. Aku ingin sekali Papaku membelikanku sebuah motor.
"Ulang tahunnya mau dirayakan?" tanya mama.
"Iya Ma! Kan yang ke tujuh belas." jawabku sambil menatap Mama.
Ulang tahunku setiap tahun memang dirayakan. Tapi sore hari persis ulang tahun anak SD.
"Sekarang Kia tidak mau ulang tahun sore hari lagi maunya malam hari, sering diledek sama teman-teman, Ma..." kataku sambil duduk di sofa.
"Tapi diadakan di rumah saja," kata Mama sambil duduk di sebelahku. Aku mengangguk senang berarti boleh acaranya malam hari.
"Ma! Kia mau hadiah motor boleh nggak?" tanyaku menatap Mama sambil memelas.
"Kia sudah besar, Ma... jadi nanti pergi sekolah sama Rima, tidak usah diantar Papa lagi," lanjutku mencoba merayu Mama.
"Iya...nanti Mama coba bilang sama Papa," kata Mama sambil tersenyum.
Aku memeluk Mama. Mama paling mengerti aku. Meskipun sering juga kena marah Papa, kalau aku membuat masalah. Aku sangat menyayangi Mama.
Saat itu aku masih anak yang baik. Tidak pernah membuat Mama sedih. Tapi nanti aku lah yang membuat Mamaku menangis sedih.
"I love you, Ma..." bisikku sambil mencium Mama.
Papa menyuruhku mengendarai motor Om Saleh tetangga sebelah rumahku. Ketika sedang bertamu kerumahku. Mungkin Mama sudah bicara pada Papa, aku ingin hadiah motor.
"Ayo pakai! Papa belum percaya, kalau belum melihat," kata Papa padaku.
Kebetulan motor Om Saleh Yamaha matic sama punya Tanteku bahkan warnanya juga sama.
Aku mencoba mengendarainya. Ternyata lebih mudah karena punya Om Saleh lebih rendah. Mungkin karena sudah di modifikasi.
Kulihat Papaku tersenyum.
"Besok jalan ikut Papa," kata Papaku.
Aku bersorak kesenangan semoga impianku jadi kenyataan doaku dalam hati. Selama ini Papa sering susah membagi waktu. Karena harus mengantar dan menjemputku. Apalagi kalau Papa dinas harus minta bantuan om Saleh mengantarku ke sekolah.
"Yang ini saja cocok untuk anak cewek," kata Sales, mempromosikan motor matic keluaran terbaru ketika kami melihat-lihat di dealer motor.
Aku hampir berteriak kegirangan ternyata dugaanku benar. Papa membelikan motor untukku sebagai hadiah ulang tahun. Memang belum harinya tapi Papa punya teman Polisi.
Jadilah aku bisa membuat SIM.
"Ya! Yang ini warna merah saja," ujar Papa sambil menepuk-nepuk motornya.
Setelah menyelesaikan semua pembayaran dan surat jalan sementara. Aku dan Papa tersenyum legasaat salesnya berkata motor akan dikirim besok. Surat aslinya dapat diambil dalam seminggu.
"Terima kasih, Pa!" ucapku sambil mencium tangan Papa.
"Tapi ingat! Harus punya SIM dulu baru boleh dibawa keluar komplek," tegas Papa.
"Ya... Kia mengerti, Pa..." sahutku sambil memeluk Papa.
Aku senang sekali hari itu, sampai memberitahu Rima. Kalau nanti pergi ke sekolah bersamaku naik motor baruku.
Setelah semuanya beres, SIMku surat surat motor dan platnya, baru aku diperbolehkan membawa ke sekolah.
Aku pergi ke sekolah berboncengan dengan Rima. Tapi tetap harus bertanggung jawab, tidak boleh jalan jauh tanpa izin Papa.
Pulang harus tepat waktu kalau terlambat harus telpon minta izin. Kalau melanggar motorku akan disita Papa, itulah Papaku keras dan tegas.
"Cieee...yang motornya baru," ledek Rima, sambil tertawa.
"Cukup! Jangan diteruskan nanti tidak kuajak lagi, baru tahu rasa," sahutku sambil berusaha mencubitnya.
Kami bercanda di depan kelas. Aku menceritakan pada Rima. Aku akan merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas. Dia antusias sekali karena acaranya malam hari.
Bimo berjalan mendekati kami. Aku menyikut tangan Rima, Rima langsung menoleh.
"Hey...Coklat!" katanya.
Aku menoleh kebelakang, dengan siapa dia bicara pikirku.
"Kamu!"
Katanya sambil menunjuk ke arahku.
Rima tertawa mendengarnya, dia menatapku sambil memelukku.
"Namanya, Kia! Bimo... bukan Coklat, kamu tidak tahu?" tanya Rima.
"Setahuku Kia itu merek mobil sama merek keramik lantai," jawabnya santai.
Rima terbahak dan aku pun turut tersenyum geli. Benar juga kata Bimo bisa juga anak ini melucu.
"Kenapa mencariku?" tanyaku sambil menatapnya.
"Pinjam...catatan bahasa Inggris," ujarnya masih tanpa ekspresi.
Aku menatap Rima. "Pinjam, sama yang lain saja," jawabku.
"Ya, sudah... punyaku saja," kata Rima pada Bimo.
"Benarkah, terima kasih," ucapnya sambil berlalu.
"Waaahh.., kemarin dia pinjam PR ku tidak ada kata terima kasihnya," seruku sambil mendelik pada Bimo.
Tapi dia tidak menghiraukan ucapanku. Aku berdiri seolah ingin mengajaknya berdebat. Tapi dia tidak melihatku. Bimo hanya berlalu dan pergi.
"Sudah, yuk... ke kelas," ajak Rima. Aku menurut saja lagi pula melawan Bimo sama saja melawan angin.
Aku mengendarai motorku perlahan. Karena kalau pulang sekolah semua siswa berdesakan ingin keluar pagar duluan.
Aku baru bisa mengendarai motor. Lebih baik mengalah saja. Terlambat pulang tidak apa-apa. Dari pada nanti jatuh saat berdesakan.
Jadi aku selalu menunggu sampai agak sepi dan sebagian siswa sudah keluar pagar.
Bimo berdiri di tengah jalan mencoba menghalangi motorku.
"Bimo! Apaan,sih?" teriakku.
Spontan aku menghentikan motorku. Menahannya karena hampir jatuh. Rima langsung meloncat supaya aku tidak jatuh.
"Hey...Coklat! Kasih aku uang, buat menambal ban motorku,"" katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Memangnya kamu nggak punya uang?" tanyaku kesal. Aku mengambil dompetku yang ada di dalam tas.
Dia langsung merebut dompetku. Mengambil uang di dalamnya selembar Dua puluh ribu.
"Seperti pemalak saja," kataku cemberut.
Aku langsung protes. "Kenapa selalu seenaknya saja, sih!" kataku setengah berteriak.
Aku langsung merebut kembali dompetku. Rima yang ada di belakangku berjalan mendekati Bimo.
"Benarkan, Bim... buat motor bukan yang lain?" tanya Rima.
Bimo langsung menunjuk motornya. Ban belakang motornya memang kempes.
"Benar Kia...ban motornya kempes," ujar Rima.
Aku melihat motor Bimo ada diseberang jalan di depan bengkel. Memang benar ban motornya kempes pikirku.
"Ayo kita pulang," ajak Rima, sambil menepuk pundakku.
Aku langsung menjalankan motorku sambil cemberut pada Bimo. Kulihat Bimo melambaikan uang yang di ambil dariku, tertawa dan tersenyum meledekku.
Hatiku masih terasa kesal. Rasanya mau kulempar dengan batu saja anak itu. Kenapa dia selalu semaunya saja denganku.
"Memangnya dia siapa aku," umpatku kesal.
Perutku yang lapar mengalahkan hatiku yang kesal. Jadilah aku mempercepat motorku untuk segara sampai ke rumah.
"Hey... Coklat."
Kata kata itu masih terngiang di telingaku. Sampai kami pacaran pun dia selalu memanggilku Coklat. Kadang- kadang aku tersenyum kami terhubung gara-gara satu kotak coklat.
"Hey... Coklat."
Kata yang keluar dari bibir Bimo itu sangat aku rindukan. Seperti meghipnotisku untuk menatapnya.
** Bimo sama Kia bebagi coklat ? benarkah ? nantikan episode selanjutnya.
** Reader tersayang .. ayo dong di vote , komen , like dan rate ya ...pleasee...😘😘
malas terima nasib jadi wait reader 😓
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
bab baru kapan terbit
i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit
😂😂😂😂