Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.Kota Baja
Kereta kuda berlapis baja yang membawa rombongan Akademi Ksatria Kekaisaran melintasi gerbang perbatasan Kerajaan Veridonia setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Berbeda dengan arsitektur ibu kota Kekaisaran yang serba putih dan dihiasi ornamen suci, kota tempat digelarnya Turnamen Lima Juru Pedang Global ini adalah **Odelia**, kota metropolitan yang dijuluki Kota Baja karena struktur bangunannya yang didominasi oleh menara mekanis dan benteng logam abu-abu yang masif.
Atmosfer di Odelia terasa begitu berat. Uap panas dari mesin-mesin uap perkotaan membubung ke langit, berbaur dengan kabut pegunungan, menciptakan pencahayaan temaram yang justru membuat mata crimson milik Ren terasa sangat nyaman.
"Tempat ini... benar-benar kaku," Lyra berbisik dari balik tudung linennya saat unit logistik mereka mulai memasuki area penginapan khusus delegasi. "Tapi jaringanku di dunia bawah Veridonia melaporkan bahwa faksi militer mereka sudah menyiapkan petarung-petarung monster untuk menjegal perwakilan Kekaisaran."
Ren, yang duduk di sudut kereta dekat jendela, hanya tersenyum tipis—sebuah *smug* dingin yang acuh tak acuh. Tangannya yang tersembunyi di balik jubah hitam secara berkala mengelus tato Crimson di lengan kirinya, menjaga aliran *Blood Circulation* tiruan agar energinya tetap terkompresi sempurna dan tidak memicu kecurigaan detektor sihir mana pun di kota asing ini.
**"Heh, kota penuh besi tua yang membosankan,"** Crimson mendengus di dalam kepala Ren, terdengar malas. **"Tapi bau darah para petarung di sekitar arena luar... hmmm, mereka punya kepadatan otot yang menarik. Aku sudah tidak sabar melihatmu mematahkan besi-besi tajam mereka, Bocah."**
### Perjamuan yang Penuh Intrik
Malam harinya, sebuah perjamuan makan malam resmi diadakan di Aula Istana Baja untuk menyambut para delegasi global dari lima wilayah besar benua.
Ren berjalan memasuki ruangan besar itu bersama Master Vargas dan beberapa perwakilan senior. Mengenakan seragam hitam resmi akademi yang minimalis namun tegas, penampilan Ren dengan rambut perak abu-abunya yang berantakan langsung menarik perhatian banyak mata. Warga biasa dari perbatasan yang berhasil menjadi nomor satu di Kekaisaran—rumor tentang dirinya telah mendahului kedatangannya.
Di sudut aula perjamuan, delegasi dari tuan rumah Veridonia berkumpul. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pemuda bertubuh tegap dengan zirah besi hitam legam tanpa lengan, memperlihatkan otot-otot lengannya yang penuh dengan bekas luka sabetan. Namanya **Gideon**, perwakilan tingkat satu dari Veridonia yang dikenal dengan julukan *The Iron Cleaver*.
Gideon berjalan memotong jalur Ren dengan langkah berat yang disengaja. Ia menatap Ren dari atas ke bawah, lalu mendengus meremehkan.
"Jadi, ini 'tikus perbatasan' yang katanya mengalahkan pewaris faksi bangsawan Kekaisaran?" Julian van Asche?" Gideon tertawa kasar, suaranya parau dan berat. "Kekaisaran kalian pasti sudah sangat kekurangan petarung asli kalau sampai mengirim bocah kurus sepertimu ke turnamen global. Di arena nanti, pedang besarku akan meremukkan tulangmu sebelum kau sempat menyerah."
Mendengar provokasi yang begitu mentah, Master Vargas di samping Ren sudah bersiap melepaskan tekanan Mana-nya untuk mengintervensi. Namun, tangan kanan Ren terangkat ringan, menahan sang instruktur.
Ren maju satu langkah, memperpendek jarak di antara dirinya dan Gideon. Cerdas seperti biasa, mata Ren langsung memindai distribusi berat tubuh Gideon—pria ini mengandalkan kekuatan otot brute-force murni, namun koordinasi keseimbangan di lutut kirinya sedikit lambat akibat bekas luka lama.
Ren mendongak sedikit, menampilkan *dangerous smirk*-nya yang sangat tenang namun sarat akan tekanan mental yang dingin. Di bawah temaram lampu gantung istana, salah satu mata merah Ren berkilat intens, melepaskan guratan energi streaks merah yang sangat tajam, menembus langsung ke dalam bola mata Gideon.
"Tubuh yang besar tidak selalu menjamin pedangmu bisa menyentuhku, Tuan Gideon," ucap Ren dengan nada suara yang teramat halus, hampir seperti bisikan seorang predator malam yang sedang mengagumi mangsanya. "Di arena nanti... aku akan memastikan pedang besarmu itu terasa terlampau berat untuk kau angkat."
Sensasi dingin seketika menjalar di sepanjang punggung Gideon, membuatnya secara refleks mundur setengah langkah tanpa ia sadari. Hawa membunuh yang sangat tipis namun pekat dari Ren berhasil menembus insting bertarungnya yang beku.
Sebelum Gideon sempat membalas, Ren sudah berbalik dan berjalan melewati pria itu dengan santai, meninggalkan sang *Iron Cleaver* yang terpaku di tempatnya dengan kepalan tangan yang bergetar menahan amarah—dan rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan.
Turnamen global belum resmi dimulai.