Apa Jadinya jika sekelompok orang dengan berbagai pandangan tapi satu tujuan dan si satukan dalam satu Agensi bernama JULID VANGKE. Sebuah institusi penegak keadilan. Yang digawangi oleh, Khodijah, Romlah, Caitlyn, Jukaykha, Jaenab dan Ijah.
Tugas mereka cukup berat, karena harus membasmi para penjilat tak berguna pemakan dana Bansos yang seharusnya dialirkan untuk Masyarakat yang membutuhkan. Para penjilat yang mereka beri nama Keledai Dungu itu ternyata memiliki banyak akal untuk melakukan Playing Victim.
Mampukah para detektif Julid Vangke membuktikan kebusukan mereka?
Karya ini hanya fiktif belaka. Terinspirasi dari banyaknya kasus yang terjadi dimasyarakat biasa😍Dilarang Baper! Ini hanya guyonan semata😍Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Tim Julid Vangke pun melanjutkan rapat yang sempat tertunda. Rapat itu harus tetap berjalan, walau personil mereka belum lengkap karena Jaenab selaku Informan masih mengumpulkan bukti-bukti, untuk menguatkan dugaan penggelapan dana bansos yang dilakukan oleh Tim KD beserta jajarannya yang stupid tiada tara.
"Oke, sekarang kita harus cari cara dan mulai nyusun strategi buat ngalihin fokus Tim KD yang tak ubahnya bedebah busuk itu." Khodijah bicara dengan suara lantang dan berwibawa, layaknya ketua tim.
"Oh, demikian!" celetuk Romlah lagi, dengan gaya sok oon-nya. Walau sebenarnya dia tahu segalanya. Bahkan, ukuran BH Odah pun dia tahu karena Odah pernah ke-gap maling jemuran Ceu Titin. Dan dari pengakuan seorang gigolo yang juga sering mengukur bukit kembar Odah.
Ya, ternyata salah satu gigolo Odah merupakan tukang kebun Om Tikno. Tetangga jauh Romlah. Karena mulutnya yang lemes, maka gigolo tersebut tanpa sengaja mengatakan ukuran bukit kembar Odah Saodah Mukodah pada semua orang di sana. Dari sanalah, kemudian Romlah mengetahuinya. Sungguh malang nasib Odah.
"Romlah! Lu bisa serius gak, sih? Jangan sampe Ayang Rain gue kasih ke Ijah, ye! Ini kita udah dikejar deadline, dan kasus ini harus segera diselesaikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya!" tandas Caitlyn tidak sabaran.
"Astaga naga bonar jadi dua, ngape jadi mirip teks proklamasi, sih? Gosah emosian napa. Ini gue dari tadi bingung mau nerusin rapat yang gak rapet ini," elak Romlah membela diri.
"Suuutttt! Jangan sampe mengundang pukulan, ye. Ini kepalan tangan gue dari tadi udah gemes, nih!" peringati Khodijah sambil memutarkan badan menunjukkan pesona gaun Tinky Winky-nya yang aduhai.
"Emang perlu muter kek gitu, ye?" bisik Ijah pada Romlah.
"Udah bagenin bae. Khodijah emang suka oleng kalo sayapnya lagi patah!" jawab Romlah sekenanya.
"Duuh, please, jangan bikin gue keder. Ini gue udah nyempetin waktu sampe bolos kantor loh," timbrung Esmerlda sambil bercermin di air yang keruh.
"Astaghfirullah, Ukhti. Janganlah bercermin, jangan bercemin di air keruh. Karena tak mungkin engkau dapat melihat wajahmu," lontar Julaykha menasehati Esmeralda dengan sepenggal lirik lagu kosidah.
"O em Ji! Okelah kalo begitu." Esmeralda pun sontak berhenti bercermin dan mulai kembali memusatkan perhatiannya pada rapat.
Ijah dan Romlah saling bertatapan. "Rom, gue udah gak tahan nih," bisik Ijah sambil mengguncang pelan lengan Romlah yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya.
"Gak tahan nape, sih? Pengen boker lu?" balas Romlah, sambil tetap waspada karena mata Khodijah dan Caitlyn terus mengawasi bagai mata elang.
"Ihh, bukan itu! Mana ada gue pengen boker, ada juga boker yang ngebet pengen sama gue!" tandas Ijah dengan tingkat kepercayaan diri setinggi menara Monas.
"Dihh, absurd bener, lu. Terus gak tahan kenape, Jah?" imbuh Romlah sambil menahan rasa kesalnya.
"Gak tahan, pengen nabuh rebana sambil bawa tim kosidah gue. Duhai senangnya pengangtin baru ... lalalala ... duduk bersanding bersenda gurau," kata Ijah menirukan lagu kosidah yang sangat fenomenal tersebut.
"Please deh, Tim! Lu berdua bisa gak out of topic, gak? Jangan sampe kesabaran gue yang unlimited ini abis, ye!" cetus Caitlyn, menegur Ijah dan Romlah yang terus berisik dengan estetik.
"Hayo lu, Jah. Diomelin Caitlyn lu," ledek Romlah sambil menahan tawa.
BRAKKK!!!
Khodijah menggebrak meja dengan sangat kencang. Bahkan, lebih kencang dari kata kencang itu sendiri. Sehingga, semua anggota Tim Vangke terkesiap, kecuali Jaenab karena dia memang sedang tidak ada di sana.
"Cukup!" tandas Khodijah melerai kegaduhan Timnya dengan kegaduhannya sendiri. Entah bagaimana konsepnya, tapi itulah yang terjadi.
"Sabar, Khod, orang sabar pasti kesel," ujar Caitlyn mencoba menenangkan Khodijah.
"Langsung aje, Cait. Dari pade makin ke sini makin ke sana, mendingan cepetan kasih masukan biar bisa dimasukin ... ke planing list kita," pinta Khodijah dengan aura ke-bidadarian-nya yang semakin terpancar.
"Oke! Sekarang kita bahas mengenai sudut pandang Tim KD, yang pada stupid tiada tara. Keknya mereka lagi nyurigain Khodijah. Nah ... kagak ngape, dah, mereka berpikir gitu dan musatin semua fokusnye ke Khodijah. Gue akan tetap bersikap manis supaya bisa nusuk mereka dari belakang," papar Caitlyn menyusun strategi dengan ide briliannya yang mempesona.
"Ough yes, Baby. Gue setuju sama lu, Cait. Ini berguna beud buat ngelabuhin para Keledai Dungu itu," timpal Esmeralda dengan gaya khasnya yang menakjubkan.
"Gimana all?" lontar Khodijah.
"Ini sangat benar," jawab Julaykha dengan sisi kelemahgemulaiannya yang menyejukkan kalbu.
"Yang lain gimane?" imbuh Khodijah lagi.
"Gue sih, yes," sambung Ijah sambil menyipitkan kedua manik matanya bak Ariel noah.
"Romlah! Lu 'kan bagian keamanan, jangan cuma ngang ngong gak karuan aje. Lu tuh musti gercep biar kagak kalah start sama lawan," tutur Caitlyn
"Astatang ... iye dah, bawel bener pada, tenang dikit ngapa. Gue cuma perlu ngedipin mata sekali doang buat bikin mereka terkapar, lalu tersungkur dan terperosok terseok-seok ke jurang kenistaan," jawab Romlah sambil salto.
"Bener banget, Rom. Mereka bukan apa-apa buat kita. Sebenarnya, kita terlalu keren untuk disandingkan dengan para pecundang itu," kata Ijah dengan nada olokkan.
"Memang! Mereka semua sampah bagi kita," jawab Romlah diiringi senyum tidak simetris.
"Kendati demikian, kita tetep gak boleh memandang lawan dengan sebelah mata," peringati Julaykha.
"Lah iye, Jul! Dikata bajak laut kali ahh. Memandang dengan sebelah mata ... hihihi." Caitlyn menyahut sambil menyimpulkan senyum seakan mengatakan 'manis 'kan senyum gue'.
"Yodah, berarti fix, ye. Misi mulai berjalan." Tutup Khodijah.
"Gue udah kagak sabar pengen nontonin kebodohan yang hakiki dari para cecunguk itu," kata Esmeralda geram.
"Iye, Es. Gue yakin, predikat kenistaan akan semakin melekat pada diri para Keledai Dungu itu," sambung Caitlyn.
"Mereka memang perlu dikasih pelajaran biar pada tobat dari maksiat," imbuh Julaykha dengan gayanya yang kalem.
Rapat pun telah usai, tapi tidak dengan perasaan Ijah dan Caitlyn pada mantannya yang masih utuh terjaga. Khodijah mengibaskan gaun Tinky Winky-nya sekali lagi, sebagai tanda bahagianya karena memiliki tim yang teramat cerdas dan pandai bersyukur. Sementara itu, Esmeralda kembali bercermin, tapi kali ini tidak di air yang keruh. Melainkan, di sisi terang pesona Jackson Wang yang membuatnya selalu bersemangat jalani hari.
"Rom, kemaren aktor Turki yang lu ceritain ada brewoknya gak, sih?" bisik Julaykha di telinga Romlah.
"Ough, pastinya. Dan bulu dadanya ... uuuh, itu sangat sexyy, Jul," papar Romlah mebuat Julaykha meneguk saliva.
"Iiihh, gue demen banget sama yang berjenggot-jenggot gitu," ujar Julaykha.
"Domba juga berjenggot, noh. Iihh, lu pada gak geli apa liat jantan ada bulunya gitu? Gue mah belum nempel aje udah geli duluan." Tiba-tiba saja Esmeralda ikut nimbrung sambil brigidig ngeri.
"Iihh, lu belum tau aja, Es. Bulu-bulu itu menambah kesan sexyy tau. Kayak sugar daddy gue ... uhh, it's was so hott, Baby!" celoteh Ijah yang tak mau ketinggalan.
"Hey, lu lagi pada bahas apaan, sih? Asyik bener romannya. Ajakin gue napa," lontar Caitlyn sambil menaruh catatan rapatnya ke kantung ajaib.
"Bahas bulu pejantan, Cait!" cetus Esmeralda seraya berlalu.
"Dihh, gak level ahh bahas-bahas gituan. Gue wanita terhormat yang punya maner. Udah pada bubar sana. Bisa kagak kelar-kelar nih, urusannya," usir Caitlyn pada semua orang.
Namun, setelah semua anggota tim mulai berpencar, Caitlyn berlari menghampiri Romlah sambil berbisik. "Eh, Rom. Gue punya mainan baru tahu."
"Apaan Cait?" tanya Romlah penasaran.
"Tapi jangan bilang-bilang Khodijah, ye. Dia suka rese."
"Iye, udah buruan ngomong!"
"Pesona Devano sungguh memikat hati. Gue suka banget baca skandalnya," ujar Caitlyn sambil sedikit meliukkan tubuh langsingnya.
"Serius lu, Cait? Oke, nanti gue baca juga deh ... hahaha," kata Romlah sambil tertawa senang.
"Heh! Jan coba-coba main belakang sama gue. Inget, gue tuh punya buku catatan kehidupan. Semua rahasia kalian udah ada dalam genggaman gue." Tanpa diduga ternyata Khodijah sudah menguping sedari tadi.
"Idiih, baru juga diomongin, udah nongol aje," ucap Caitlyn sambil mencebikkan bibirnya.
***
Di markas KD. Amat pun datang bersama selingkuhannya yang bodoh yaitu Ningsih Ambarawaria, dan juga sohibnya si Kokom Markonah yang sangat menyebalkan sampai ke ubun-ubun. Mereka celingukan mendapati markas KD yang masih sepi.
"Ahh elah, ini si Odah Saodah Mukodah yang peot ompong kemana, sih? Katanya pas ngemeng di telepon suruh buru-buru dateng ke markas," oceh Amat Supramat sambil melet-melet.
"Tau ihh, pasti dia masih gancet sama gigolonya. Udah tua kagak ada tobatnya pisan," timbrung Kokom Markonah sambil menyeringai menunjukkan bibir dowernya yang teramat mutam.
"Pada kunaon, sih? Santai atuh santai," ujar Ningsih sambil rebahan di ubin markas dan tanpa sengaja wajahnya kembali terkena eek ayam yang bertebaran.
"Whats up, guys?" Ntun Marotun datang dan langsung menyapa dengan suaranya yang meggelegar bak petir di siang bolong.
"Odah Saodah Mukodah di mana?" lanjut Ntun Marotun yang tidak mendapati ketua timnya di sana.
"Ga paham dehh! Gini nih, kalo udah tua, tapi kerjaannya masih mainan gigolo aje. Mementingan kepuasan diri tanpa mau bagi-bagi," cerca Amat merasa sok bener sendiri.
"Hey, sadar lu Mat. Biar gimana dia tetep ketua kita. Lagian, lu juga selingkuh 'kan sama Ningsih?! Bae-bae lu, jan sampe ketauan bini lu ... si Juminah!" hardik Ntun mengingatkan Amat akan dosanya.
"Ihh! Lu meresahkan banget, sih, kalo bacott. Gue sama Ningsih 'kan cuma celap celup doang, orang punya gue gak bisa tegang ...."
"Ya sama aja, Amat! Mau tegang mau kagak yang namenye selingkuh mah tetep kagak baek," pungkas Ntun.
"Gak usah sok iyeh lu, Ntun. Inget! Di sini kasus kita sama. Sama-sama menggelapkan dana bansos!" tandas Amat membuat mulut Ntun Marotun terbungkam.
Tanpa mereka sadari, ternyata Jaenab sedang mengintai gerak gerik mereka dan berhasil merekam bukti yang mana mereka mengatakan sendiri bahwa Tim KD melakukan penggelapan dana bansos. Satu fakta lainnya yaitu tentang pengkhianatan Amat terhadap istrinya, Juminah. Melalui beberapa bukti tersebut, rasanya sudah cukup untuk mengguncangkan kembali Negara Api dan para penghuni bodohnya.
Sukses bwt kk
makannya mad jangan suka makan duit haram saat kamu menerima karma nya kamu tersiksa kan tapi saat kamu melakukan kejahatan itu kamu senang dan tak memikirkan apapun
akhirnya perjuangan kalian menemukan titik akhir juga dengan tertangkapnya para geng meresahkan 😁😁😁
kebanyakan bikin ulah sih
sokoooooor tuman kelamaan kalian senang di atas penderitaan orang lain saat nya kalian memetik apa yang kalian tanam