NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Berlutut Mengoles Minyak

Kebencian Lastri tidak ikut pecah, tetapi baskomnya benar-benar diganti oleh pengurus koperasi.

Sore itu, seorang tukang dari satuan juga selesai memperbaiki pipa Blok C-3. Arum menyapu sisa semen dan mengeringkan dapur sebelum memasak. Ia ingin rumah kembali rapi sebelum Bara pulang dari pemeriksaan di markas.

Lantai dekat bak cuci masih lembap.

Arum membawa tumpukan piring, tak melihat kain lap yang jatuh di bawah kakinya. Telapak sandalnya tergelincir.

"Ah!"

Piring beradu keras. Arum sempat menaruhnya di meja, tetapi tubuhnya jatuh berlutut. Pergelangan kaki kanannya tertekuk ke samping. Nyeri tajam menjalar sampai betis.

Ia mencoba berdiri dan langsung terduduk lagi.

Pintu depan terbuka.

Bara masuk dengan map di tangan. Begitu melihat Arum di lantai, map itu jatuh ke kursi.

"Apa yang terjadi?"

"Cuma terpeleset."

"Berdiri."

Arum berpegangan pada meja. Saat telapak kakinya menyentuh lantai, wajahnya memucat.

Bara sudah berada di depannya. "Sakit?"

"Sedikit."

"Bohong."

Sebelum Arum sempat menolak, satu lengan Bara masuk ke belakang punggungnya dan satu lagi ke bawah lutut. Tubuhnya terangkat dari lantai.

"Pak Mayor!"

"Diam."

Arum spontan merangkul bahunya. Tubuh Bara keras dan hangat. Langkah lelaki itu timpang karena membawa beban, tetapi pelukannya tidak goyah.

"Turunkan saya. Kaki Mayor juga belum sembuh."

"Kamu ringan."

Arum menatap tubuhnya sendiri yang berisi. "Mayor bohong."

"Kalau kamu masih bisa membantah, berarti tidak terlalu sakit."

Ia membawa Arum ke ruang tengah dan meletakkannya di kursi panjang. Setelah mengambil botol minyak param dari lemari, Bara berlutut dengan satu lutut di lantai.

Arum tertegun. "Mayor mau apa?"

"Periksa kakimu."

"Saya bisa sendiri."

"Tadi berdiri saja tidak bisa."

Bara melepas sandal Arum, lalu berhenti sebelum menyentuh pergelangan kakinya. "Boleh?"

Pertanyaan itu membuat dada Arum menghangat. Lelaki yang ditakuti satu batalyon masih meminta izin untuk memegang kakinya.

Arum mengangguk kecil.

Jari Bara menyentuh tulang pergelangan dengan hati-hati. Arum mendesis ketika sisi kanan ditekan.

"Bengkak. Tidak ada bentuk tulang yang berubah. Kemungkinan terkilir." Ia menuang minyak ke telapak tangan. "Kalau sakit sekali, bilang."

"Mayor mengerti mengobati keseleo?"

"Delapan tahun di lapangan. Aku mengerti cukup banyak cara tubuh rusak."

Kalimat itu diucapkan datar, tetapi mata Arum langsung jatuh pada bekas luka di tangannya. Bara mengoleskan minyak dengan gerakan perlahan. Telapak tangannya kasar, sentuhannya justru nyaris terlalu lembut.

Arum menahan tepi kursi. Bukan hanya karena sakit. Pemandangan seorang Mayor berlutut di depannya membuat napasnya tidak teratur.

"Jangan tegang," kata Bara.

"Saya tidak tegang."

"Jari kakimu sampai menekuk."

Arum segera meluruskannya. Bara mengangkat wajah. Mata mereka bertemu. Ada senyum sangat tipis di sudut mulut lelaki itu.

"Mayor menertawakan saya."

"Tidak."

"Saya lihat."

"Berarti matamu masih bagus."

Bara membalut pergelangan kaki dengan kain elastis, lalu meletakkannya di atas bantal. Ia berdiri perlahan. Saat beban berpindah ke kaki kanan, napasnya tertahan.

Arum menunjuk kursi di sebelah. "Sekarang giliran Mayor duduk."

"Aku baik-baik saja."

"Kaki Mayor gemetar."

"Arum."

"Pak Mayor."

Untuk kedua kalinya hari itu, Bara menyerah. Ia duduk, menerima segelas air yang disodorkan Arum tanpa komentar.

Perut Arum berbunyi pelan. Ia menutupinya dengan kedua tangan, tetapi Bara sudah mendengar.

"Kamu belum makan?"

"Saya mau memasak sebelum jatuh."

Bara berdiri lagi dan menuju dapur.

Arum langsung gelisah. "Mayor mau apa?"

"Memasak."

"Mayor bisa?"

"Merebus air bukan operasi militer."

Lima menit kemudian, aroma bawang yang hampir gosong menjawab pertanyaan Arum. Ia tertatih ke ambang dapur dengan satu kaki, lalu menemukan Bara memegang spatula seperti memegang pisau tempur. Telur di wajan sudah terlalu cokelat di satu sisi dan masih mentah di sisi lain.

"Matikan apinya dulu."

"Belum matang."

"Kalau diteruskan, wajannya yang matang."

Bara mematikan kompor. Arum duduk di kursi dekat pintu dan memberinya petunjuk. Tambah nasi. Kecilkan api. Masukkan garam sedikit saja. Jangan memegang gagang panas tanpa kain.

"Kamu banyak perintah," gerutu Bara.

"Saya belajar dari Danyon."

Lelaki itu menoleh tajam. Arum menutup mulut agar tidak tertawa.

Nasi goreng buatan Bara tidak indah. Telurnya hancur dan sebagian nasi menempel di wajan. Namun, ia menaruh porsi yang lebih banyak di depan Arum, lalu berdiri menunggu sampai gadis itu menyuap pertama kali.

"Bagaimana?"

Arum mengunyah dengan serius. "Garamnya pas."

"Cuma itu?"

"Tidak gosong semua."

Bara mendengus dan duduk di seberangnya. Mereka makan dari piring berbeda di meja kecil, pintu depan tetap terbuka, dengan jarak sopan di antara kursi. Bagi Arum, makanan sederhana itu terasa lebih mewah daripada lauk terbaik yang pernah ia masak untuk keluarga Prasetyo, karena untuk pertama kalinya seseorang memasak khusus untuknya.

Menjelang petang, Bu Inah datang untuk mengantar Arum pulang. Karena pergelangan kakinya masih nyeri, Bara meminta sebuah sepeda becak motor dari gerbang mengantar mereka. Sebelum Arum pergi, ia melihat tumpukan pakaian kotor di dekat kamar mandi.

"Besok saya cuci."

"Kakimu istirahat."

"Saya bisa mencuci sambil duduk."

"Keras kepala."

"Kata orang yang tadi berjalan tanpa tongkat."

Bara tak bisa membalas. Arum pergi dengan senyum kecil yang bertahan sampai warung Bu Inah.

Keesokan siangnya, bengkak di kaki mulai turun. Arum duduk di bangku rendah dekat bak sambil mencuci pakaian Bara. Di antara seragam dan kaus lapangan, ia menemukan sebuah singlet loreng hijau.

Kain di dekat dada berlubang kecil, tepinya menghitam seperti pernah ditembus serpihan panas.

Jari Arum berhenti di atas lubang itu.

Ia membayangkan benda tajam melesat ke dada Bara. Lubang sekecil ujung jari itu mungkin pernah menjadi batas antara hidup dan mati.

Setelah kain kering, Arum mengambil kotak jahit. Ia menambal lubang dari sisi dalam agar tetap nyaman dipakai. Jahitan biasa sudah cukup, tetapi jarinya belum mau berhenti.

Ia memilih benang hijau pucat dan putih.

Di samping tambalan, Arum membuat lima kelopak kecil. Satu demi satu, benang membentuk bunga melati yang nyaris tak terlihat dari jauh.

Motif itu mengingatkannya pada wangi yang selalu membuat Bara tiba-tiba diam dan mengeras. Kesadaran tersebut membuat pipinya memanas.

"Ini hanya supaya jahitannya rapi," gumamnya kepada diri sendiri.

Namun, ia tahu itu bukan seluruh alasannya.

Setiap tusukan jarum membawa doa yang tidak berani ia ucapkan. Semoga luka berikutnya tidak pernah datang. Semoga lelaki yang selalu berdiri di depannya saat ancaman muncul bisa pulang dengan selamat dari tugas apa pun.

Arum mengikat simpul terakhir, lalu mengusap sulaman kecil itu dengan ibu jari.

Dari ruang tengah terdengar langkah Bara mendekat.

Arum buru-buru melipat singlet tersebut dan meletakkannya paling bawah, tepat ketika bayangan Sang Macan jatuh di ambang pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!