NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Malam Pertama

“Aku yakin,” jawabku.

Arya tidak bergerak.

Aku bangkit dari kursi dan berjalan mengitari meja. Jarak di antara kami tinggal satu langkah, tetapi dia masih menunggu seolah satu jawaban belum cukup.

“Aku tidak menikahi seragam itu,” kataku. “Aku menikahi lelaki yang bangun sebelum Subuh untuk memeriksa kandang, yang tidak bisa membalut luka dengan rapi, dan yang memberikan rumah kepada tiga anak tanpa mengambil nama ayah kandung mereka.”

“Laras.”

“Kalau suatu hari ada panggilan, kita hadapi saat panggilan itu datang. Jangan mengusirku malam ini hanya karena sesuatu yang belum terjadi.”

Tangannya terangkat, lalu berhenti beberapa sentimeter dari wajahku. “Aku tidak mengusirmu.”

“Tapi Mas Arya sudah tiga kali memberiku jalan untuk pergi.”

“Aku ingin kamu punya pilihan.”

“Aku sudah memilih.”

Kali ini aku yang menutup jarak. Keningku menyentuh dadanya. Di bawah kain kemeja, detak jantungnya begitu cepat hingga seluruh keberanian yang baru kukumpulkan terasa tidak sia-sia.

Lengannya perlahan mengitari bahuku.

“Jangan tanya lagi malam ini,” bisikku.

“Baik.”

Namun dia tetap memelukku tanpa bergerak lebih jauh. Beberapa detik berubah menjadi satu menit. Aku mengangkat wajah dan menemukan telinganya kembali merah.

“Mas Arya?”

“Apa?”

“Kita mau berdiri di ruang kerja sampai pagi?”

Dia berdeham dan melepaskan pelukan. “Kamu pasti lelah.”

“Aku memang lelah.”

Wajahnya langsung tegang. “Kita bisa tidur.”

Aku hampir tertawa. Lelaki yang dapat menghadapi operasi berbahaya rupanya begitu mudah panik oleh satu kalimat dariku.

“Maksudku, aku lelah berdiri.”

Arya menatapku sejenak, baru kemudian memahami. Dia mematikan lampu ruang kerja, mengunci pintu, dan berjalan bersamaku menuju kamar. Tangannya tidak menggenggam tanganku, hanya melayang dekat punggungku seolah siap menahan jika aku tersandung.

Kamar sudah dihias sederhana oleh Sari dan Bu Minah. Seprai baru berwarna putih, rangkaian melati kecil di dekat jendela, dan dua gelas air di meja samping tempat tidur. Di atas bantal ada kelopak bunga membentuk hati yang pasti hasil kerja Rian dan Rio karena bentuknya miring ke satu sisi.

Arya berhenti di ambang pintu.

“Kalau kamu ingin istirahat sendiri, aku bisa tidur di ruang kerja.”

Aku berbalik. “Mas Arya baru saja berjanji tidak bertanya lagi.”

“Aku tidak bertanya.”

“Itu kalimat tanya tanpa tanda tanya.”

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Aku duduk di depan meja rias dan mulai melepaskan peniti kerudung. Jemariku letih setelah seharian menerima tamu. Satu peniti tersangkut di bagian belakang, tidak terjangkau tanganku.

“Bisa bantu?”

Arya mendekat dengan hati-hati. Jari-jarinya yang biasa mengangkat karung pakan menyentuh kain di dekat tengkukku sehalus mungkin. Dia membuka peniti satu per satu, meletakkannya berjajar di meja, lalu melepaskan hiasan terakhir.

Rambutku jatuh ke punggung.

Napasnya berubah.

Aku melihat pantulan kami di cermin. Arya berdiri di belakangku, jauh lebih tinggi, dengan tatapan yang tidak lagi bisa disamarkan sebagai perhatian biasa.

“Kenapa berhenti?” tanyaku.

“Aku takut menarik rambutmu.”

“Penitinya sudah habis.”

Dia mengangguk, tetapi tidak mundur.

Tangannya menyentuh bahuku. Hangat telapak itu menembus kain tipis. Dia memberiku cukup waktu untuk menjauh. Ketika aku justru menutup tanganku di atas tangannya, ketegangan di rahangnya perlahan luruh.

“Sejak kapan Mas Arya menungguku menjauh?” tanyaku.

“Sejak kamu turun dari bus.”

Aku terdiam.

“Kamu datang karena dipaksa keluarga,” lanjutnya. “Aku tidak mau rumah ini menjadi tempat lain yang mengambil keputusan dari tanganmu.”

“Karena itu Mas selalu mengetuk pintu?”

“Karena itu aku tidak pernah masuk kamar ini tanpa izin.”

Aku teringat semua malam ketika pintuku hanya didatangi ketukan singkat, lalu langkahnya menjauh setelah memastikan aku baik-baik saja. Bahkan saat menyerahkan uang rumah, dia berdiri di ambang pintu dan menunggu aku sendiri yang mendekat.

“Sekarang aku mengizinkan,” kataku.

“Untuk malam ini?”

“Untuk menjadi suamiku. Tapi kalau aku sedang marah, tetap harus mengetuk.”

Sudut matanya melunak. “Baik.”

“Dan aku juga akan mengetuk ruang kerja kalau pintunya tertutup.”

“Kecuali darurat.”

“Kecuali darurat.”

Kesepakatan kecil itu mungkin tidak terdengar romantis. Bagiku, justru di sanalah rasa aman tumbuh: kami boleh dekat tanpa kehilangan hak atas tubuh, kamar, dan keputusan masing-masing.

Arya membungkuk dan mencium puncak kepalaku.

Sentuhan itu singkat, nyaris terlalu sopan. Aku berbalik di kursi dan menatapnya.

“Cuma itu?”

“Aku sedang berusaha pelan-pelan.”

“Terlalu pelan.”

Dia tertawa rendah. Itu pertama kalinya aku mendengar suara tersebut keluar begitu dekat, dan getarannya membuat perutku terasa ringan.

Arya mengangkat daguku dengan dua jari. “Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, bilang.”

“Iya.”

“Kalau ingin berhenti, kita berhenti.”

“Iya.”

“Kalau...”

Aku mencium bibirnya sebelum dia menemukan peringatan ketiga.

Tubuhnya membeku. Sesaat kemudian telapak tangannya menopang belakang kepalaku dan ciumannya kembali, masih berhati-hati tetapi jauh lebih jujur. Aroma sabun dan sedikit wangi kayu dari lemari menempel pada kulitnya. Aku merasakan bekas luka halus di tangannya ketika jemari kami bertaut.

Dia mencium kening, pelipis, lalu bibirku lagi, seperti sedang menghafal sesuatu yang takut dilupakannya. Setiap kali napasku berubah, dia berhenti untuk melihat wajahku. Setiap kali aku mengangguk atau menariknya kembali, baru dia melanjutkan.

Tidak ada desakan. Tidak ada tuntutan. Hanya dua orang dewasa yang perlahan meninggalkan jarak terakhir di antara mereka.

Lampu utama dipadamkan. Cahaya dari lampu meja membuat bayangan kami jatuh lembut di dinding. Arya menggenggam tanganku ketika kami berbaring, dan aku tetap memegangnya saat rasa gugup datang bersama kedekatan yang belum pernah kubagi dengan siapa pun.

“Lihat aku,” katanya pelan.

Aku membuka mata.

Di wajahnya tidak ada kemenangan, hanya kekhawatiran dan rasa sayang yang masih terlalu baru untuk disebut dengan suara keras. Aku menyentuh pipinya, lalu mengangguk sekali lagi.

Di bawah ujung jariku ada bekas luka tipis dekat rahangnya. Cahaya temaram menunjukkan bekas lain di bahu, pucat dan tidak beraturan. Aku tidak menanyakan dari tugas mana luka-luka itu berasal. Malam ini aku hanya menyentuh salah satunya, membiarkan dia tahu bahwa bagian hidup yang rusak tidak membuatku takut.

Arya menahan napas. “Jelek?”

“Mas Arya sedang mencari alasan supaya aku berubah pikiran lagi?”

“Tidak.”

“Kalau begitu jangan bertanya.”

Aku mencium bekas luka di bahunya. Tangannya yang menyangga tubuhku gemetar sangat halus. Sulit dipercaya getaran itu berasal dari lelaki yang tadi berdiri tegak menerima hormat seorang jenderal.

“Aku di sini,” bisikku.

Dia memejamkan mata sebentar, lalu menempelkan keningnya pada keningku. “Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, dia mengucapkannya seperti benar-benar percaya.

Malam bergerak perlahan. Rasa asing berubah menjadi kehangatan, gugup menjadi percaya, dan segala hal yang tidak mampu kami ucapkan menemukan jalan melalui pelukan serta napas yang saling menyesuaikan.

Ketika semuanya tenang, aku berbaring dengan wajah menempel di bahunya. Tubuhku letih dan sedikit ngilu. Arya langsung bangkit.

“Mas mau ke mana?”

“Ambil air hangat.”

“Sudah malam.”

“Tunggu di sini.”

Dia kembali membawa baskom kecil, handuk bersih, dan air minum. Gerakannya begitu serius seolah sedang menjalankan prosedur penting. Dia membantuku membersihkan diri tanpa membuatku malu, mengganti air, lalu memastikan jendela tertutup agar angin tidak masuk.

Ketika dia hendak membawa baskom keluar lagi, aku menangkap pergelangan tangannya.

“Tidak perlu sekarang. Duduklah.”

“Airnya akan dingin.”

“Memang tidak akan diminum.”

Dia akhirnya menaruh baskom di sudut kamar. Lalu dia duduk di tepi ranjang dengan punggung kaku, masih mengamati wajahku seperti petugas kesehatan yang menunggu gejala darurat.

“Aku baik-baik saja,” kataku.

“Kamu pucat.”

“Aku mengantuk.”

“Pusing?”

“Tidak.”

“Mual?”

“Mas Arya, aku baru menikah, bukan baru jatuh dari atap.”

Dia menyentuh keningku untuk memeriksa suhu. Aku menangkap tangannya dan menciumnya singkat. Semua pertanyaan langsung berhenti.

“Begitu lebih baik,” kataku.

“Sakit?” tanyanya.

“Sedikit.”

Wajahnya langsung dipenuhi rasa bersalah. “Maaf.”

“Bukan salah Mas Arya.”

“Aku seharusnya lebih pelan.”

“Kalau lebih pelan lagi, mungkin kita baru selesai besok sore.”

Dia terdiam, lalu telinganya memerah sampai aku tertawa.

“Jangan tertawa,” katanya.

“Aku tidak boleh?”

“Nanti tambah sakit.”

Dia menyelipkan bantal di bawah lenganku, menarik selimut sampai bahu, dan mengambil minyak hangat dari lemari. Tangannya memijat ringan bagian pundakku yang tegang akibat duduk seharian. Ketika aku hendak mengambil gelas sendiri, dia lebih dulu menyodorkannya.

“Minum.”

Aku menurut.

Setelah memastikan aku nyaman, dia mematikan lampu meja dan berbaring di sisi paling tepi, menyisakan jarak di antara kami.

Aku menoleh dalam gelap. “Kenapa jauh sekali?”

“Kamu perlu istirahat.”

“Aku tidak menyuruh Mas Arya pindah.”

Dia bergeser sedikit.

“Masih jauh.”

Akhirnya dia mendekat dan membuka satu lengan. Aku masuk ke dalam pelukannya, menempelkan pipi di dadanya. Jantung yang tadi berlari kini berdetak tenang di telingaku.

“Aku tidak pandai melakukan ini,” katanya.

“Aku juga tidak.”

“Kalau begitu kita belajar.”

Aku tersenyum dalam gelap. “Bersama?”

Lengannya mengencang sedikit, tetap berhati-hati agar tidak menekan tubuhku.

“Bersama.”

Dia membenahi selimut, lalu menundukkan dagu ke puncak kepalaku.

Di lantai bawah, kayu ranjang berderit saat salah satu anak bergerak dalam tidur. Suara kecil itu mengingatkanku bahwa di luar kamar ini ada tiga kehidupan yang menunggu kami bangun sebagai orang tua mereka. Anehnya, tanggung jawab itu tidak lagi terasa seperti beban yang ditaruh di pundakku. Ia terasa seperti sesuatu yang kami pilih untuk dijaga bersama.

“Aku hanya ingin memelukmu,” bisiknya.

Di luar, cahaya bulan menyentuh kisi jendela. Aku mendengarkan detak jantungnya dan perlahan menutup mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!