NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi di Ruang Kontrol

Ruang kontrol keamanan Al-Maktoum Group terasa begitu dingin. Dinding-dinding betonnya dipenuhi puluhan layar monitor yang memantulkan pendar cahaya kebiruan, menampilkan sudut-sudut gedung yang mulai kembali dipantau sistem. Di tengah ruangan, atmosfer terasa begitu menegang, jauh lebih dingin dibanding suhu pendingin udara.

Baskara berdiri menyandar pada meja kendali utama dengan kedua lengan bersedekap di dada. Seragam taktis gelap yang dikenakannya mempertegas postur tubuhnya yang tegap dan berwibawa. Matanya menatap tajam, mengunci Aran yang berdiri tenang tiga langkah di depannya.

"Saya tahu siapa kamu, Aran," Baskara membuka percakapan, suaranya berat dan mengintimidasi. "Kamu Viper-1. Eksekutor paling berbahaya yang pernah dimiliki organisasi bawah tanah itu. Riwayatmu berisi tumpukan berkas operasi hitam yang membuat semua musuhmu ketakutan."

Aran tidak bergeming. Ia berdiri tegak, menatap Baskara tanpa menyipitkan mata sedikit pun. Pandangannya lurus, jernih, dan tidak menyimpan ketakutan. "Itu masa lalu saya, Pak Baskara. Saat ini tugas saya hanya satu memastikan keselamatan Nona Shanum Al-Maktoum."

Baskara tertawa sinis, sebuah tawa pendek tanpa nada humor. "memastikan keselamatan? Hari ini listrik gedung padam total, sistem keselamatan terputus, dan Shanum terjebak di dalam lift yang macet selama hampir setengah jam! Kamu sebut itu memastikan keselamatan?"

"Penanganan darurat di dalam lift berjalan sesuai standar keamanan," jawab Aran datar namun tegas. "Kabin berada dalam posisi terkunci aman di antara lantai tiga belas dan empat belas. Tidak ada ancaman fisik yang menyentuh target, dan evakuasi berhasil dilakukan tanpa cedera."

"Tapi kamu membiarkan celah itu terbuka!" pangkas Baskara, memajukan tubuhnya satu langkah. "Seorang profesional sepertimu seharusnya bisa mengendus ancaman pemadaman daya sebelum hal itu terjadi. Kecuali... kamu sengaja membiarkannya terjadi. Atau lebih buruk lagi, kamu yang memfasilitasinya."

Aran menatap Baskara dengan ketenangan yang menghujam. "Jika saya berniat mencelakai Nona Shanum, saya tidak perlu repot-repot menyabotase panel listrik dan mengurung diri saya sendiri bersamanya di dalam lift. Saya memiliki seribu cara lain yang jauh lebih bersih tanpa meninggalkan jejak."

Baskara mengetatkan rahangnya. Kalimat lugas Aran yang terlontar tanpa keraguan sedikit pun membuat argumen pengudetaannya patah.

"Tunjukkan log sistemnya," ujar Aran pelan, memecah ketegangan. Ia melangkah menuju meja kendali utama tanpa menunggu izin Baskara.

Jemari Aran yang sigap menari di atas papan ketik sistem keamanan utama. Layar monitor besar di tengah menunjukkan grafik fluktuasi arus listrik saat insiden terjadi. Aran memperbesar baris baris kode sistem operasional gedung pada saat kejadian.

"Lihat ini," tunjuk Aran pada baris data yang disorot warna merah. "Pemadaman listrik bukan disebabkan oleh penurunan tegangan eksternal dari PLN, bukan pula karena lonjakan beban darurat. Sakelar daya utama di ruang panel lantai dasar diturunkan secara manual."

Baskara memicingkan mata, mendadak bergeser mendekat untuk memperhatikan baris data tersebut. "Manual? Hanya ada tiga orang di gedung ini yang memegang kunci enkripsi master card untuk mengakses panel utama."

"Empat orang," koreksi Aran dingin, matanya menatap tajam baris identifikasi kartu akses yang terekam pada server cadangan. "Seseorang menggunakan identitas kartu akses cadangan pejabat eksekutif yang seharusnya sudah dinonaktifkan minggu lalu."

Baskara tertegun. Pengalamannya sebagai kepala keamanan keluarga Al-Maktoum selama sepuluh tahun membuatnya langsung paham implikasi dari temuan tersebut. Ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan ada penyusup, atau pengkhianat di tingkat atas yang memberikan akses fisik kepada pihak luar untuk melumpuhkan gedung.

"Siapa pemegang ID kartu ini?" tanya Baskara keras pada operator teknisi yang duduk gemetar di sudut meja.

"I-itu ID pengguna milik mantan Wakil CEO... Pak Devan, Pak," jawab teknisi itu gagap. "Kartu itu seharusnya sudah diblokir dari sistem sejak kasus penggelapan laporan keuangan kemarin."

Baskara mengepalkan tangannya kencang di atas meja. Keraguan dan kecurigaannya terhadap Aran seketika goyah, berganti dengan kemarahan atas kebobolan keamanan internal perusahaan.

"Kartu itu tidak mungkin aktif sendiri jika tidak ada yang mengunduh ulang otoritasnya dari komputer pusat," desis Aran, melipat kedua tangannya di belakang punggung. "Seseorang di gedung ini baru saja memperbarui hak akses kartu Devan kemarin sore."

Sebelum Baskara sempat membalas, pintu tebal ruang kontrol bergeser terbuka. Langkah kaki teratur yang anggun terdengar mendekat. Shanum melangkah masuk ke dalam ruang kontrol yang dingin itu. Wajahnya anggun dan tenang, memancarkan aura pimpinan tertinggi yang tak tergoyahkan.

"Sudah selesai interogasinya, Mas Baskara?" tanya Shanum halus namun sarat akan ketegasan, berdiri tepat di samping Aran.

Baskara menarik tubuhnya tegak, menghembuskan napas panjang. "Shanum, orang ini... latar belakangnya terlalu berbahaya. Saya hanya memastikan dia tidak menjadi ancaman tersembunyi di dekatmu."

Shanum menatap Baskara lurus-lurus. "Mas Baskara, saya sangat menghormati dedikasi Mas Baskara dan tim keamanan Ayah. Tapi tolong dengarkan saya baik-baik." Shanum jeda sejenak, melirik Aran yang tetap menundukkan pandangannya santun di sampingnya. "Di dalam lift yang gelap gulita tadi, ketika tidak ada satu pun kamera atau petugas yang melihat, Aran menaruh tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk melindungi saya. Dia menjaga batas, menghormati saya, dan memastikan saya keluar tanpa cedera sedikit pun."

Suara Shanum terdengar begitu mantap, mengisi setiap sudut ruang kontrol. "Aran adalah pelindung pribadi yang dipilihkan oleh ayah. Saya juga telah memercayainya dengan hidup saya. Jadi saya minta, berhentilah memperlakukannya seperti tersangka."

Baskara menatap keponakannya itu sejenak, lalu berpaling menatap Aran. Ada hening yang panjang di antara kedua pria tegap tersebut. Baskara bisa melihat kebenaran yang mutlak di mata Shanum, sebuah rasa percaya yang tak lagi bisa digoyahkan oleh prasangka apa pun.

"Baiklah," ucap Baskara akhirnya, suaranya melunak walau tetap menyimpan wibawa tegas. Ia melangkah mendekati Aran, mengulurkan tangannya secara formal. "Sistem listrik yang dimatikan ini bukti bahwa ada pengkhianatan dari dalam. Karena Shanum mempercayaimu... aku akan mengizinkanmu beroperasi bersama timku. Tapi ingat, jika kamu membuat satu kesalahan saja yang membahayakan Shanum, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar."

Aran menerima uluran tangan Baskara, menjabatnya dengan genggaman yang kokoh dan penuh rasa hormat profesional. "Saya tidak akan membuat kesalahan itu, Pak Baskara."

Shanum tersenyum tipis melihat kedua pria protektif di hidupnya akhirnya menemukan titik temu. Namun, senyum itu perlahan memudar saat ia menatap monitor utama yang masih menampilkan ID akses Devan.

"Devan sudah tidak memiliki akses lagi setelah penangguhan dirinya minggu lalu." ujar Shanum rendah, matanya berkilat tegas. "Jika dia bergerak menyabotase gedung ini, berarti dia tidak bergerak sendirian. Ada pihak besar yang membiayai dan memberinya keberanian."

"Surya Wijaya," sahut Aran pelan namun berbobot. Pria itu berbalik menatap Shanum. "Konspirasi ini tidak lagi sekadar urusan dendam sakit hati. Ini mengenai kelangsungan proyek Senayan dan dana besar yang mereka butuhkan. Kita harus memeriksa seluruh arsip transaksi rahasia yang pernah disentuh Devan sebelum dia dipecat."

Baskara mengangguk setuju, membalikkan badannya menginstal protokol isolasi pada sistem keamanan. "Saya akan perketat penjagaan luar dan mengunci seluruh pintu akses eksekutif. Malam ini, tidak ada satu pun dokumen atau data yang boleh keluar dari lantai utama."

Shanum menatap Aran, dan Aran memberikan anggukan mantap yang menenangkan. Di dalam ruang kontrol yang dingin itu, sebuah aliansi perlindungan baru telah terbentuk—siap membongkar benang kusut konspirasi yang mencoba menghancurkan Al-Maktoum Group dari dalam.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!