Sosok gadis manja dan ceria berubah menjadi gadis yang bersikap sangat dingin saat ayah yang begitu dia sayangi menyakiti hati ibunda tercinta. Ara menjadi gadis yang dewasa, bertanggung jawab pada keluarga dan sangat menyayangi keluarganya. Itu sebabnya Ara berusaha melakukan apapun untuk membahagiakan ibu dan kedua adiknya, termasuk menjadi wanita simpanan dari seorang bule tajir.
Seorang Bule yang Ara sendiri tidak tahu siapa namanya, karena yang Ara tahu hanya nama panggilan pria itu, yaitu Al.
"Jangan tanya namaku! Dan jangan mencoba mencari tahu siapa aku! Hubungan antara kita hanya sebatas ranjang, selebihnya aku tidak mengenalmu dan kau tidak mengenalku."
Ucapan bule tajir itu saat dulu membuat kesepakatan dengan Ara, menjadi hal yang selalu Ara ingat untuk membentengi hatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah Ara?
Masukan buku ini ke rak baca kalian, ikuti ceritanya dan dukung selalu authornya. Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bule 7
Ara akan membalas pesan dari Al sebelum pria itu marah karena merasa diabaikan, tetapi mengingat ada Khansa dan Keisha bersamanya, Ara mengurungkan niatnya daripada harus menjawab banyak pertanyaan dari kedua adiknya jika melihat Ara sibuk dengan ponsel.
Segera Ara menutup ponselnya dan langsung tancap gas mengantarkan si kembar pulang ke rumah karena aetelah itu dirinya juga harus siap-siap.
Memikirkan jika dia harus selalu mengutamakan penampilannya dan bersikap seperti gadis manja membuat Ara merasa sangat rendah. Namun, itulah yang harus Ara lakukan, membuat Al tidak merasa bosan padanya. Ara harus bersiap-siap, berpenampilan terbaik, lalu langsung pergi ke tempat dirinya dan orang bernama Al itu akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Bundaaaa," panggil Ara setelah sampai di rumah. Diana tak menjawab, dia sedang duduk termenung di meja makan. Di atas meja terdapat makanan yang baru saja dia masak untuk menyambut anak-anaknya makan siang.
Melihat Diana melamun, lagi-lagi Ara merasa terenyuh. Ara mengembuskan nafas berat saat kondisi Diana menjadi salah satu penyebab Ara harus bertahan di sisi Al, bertahan menjadi simpanan pria yang akan memberikannya semua kemewahan sebagai balasan atas pekerjaannya. Ya, terkadang Ara anggap semua itu sebuah pekerjaan.
Bayangan dan trauma masa lalu kembali menggelayut di kepala Ara. Membuat dia kembali meneteskan air mata, ditambah chat dari Al membuatnya takut, was-was, dan merasa gelisah. Jika saja Diana tahu mengenai ini, pasti dia akan mencegah putrinya untuk tidak melakukannya. Mereka adalah keluarga baik-baik, tidak mungkin akan melakukan tindakan tersebut. Ralat. Terkecuali Ara, dia sudah berani melakukannya, bahkan sejak satu setengah tahun yang lalu.
Menjadi ....
Wanita simpanan.
Wanita pemuas nafsu pria.
Wanita ranjang.
Wanita yang memanfaatkan "kesuciannya".
Air mata Ara terus menetes, dia juga tak pernah membayangkan akan menjadi wanita seperti itu. Sejak kecil diajarkan yang namanya harga diri, tapi sekarang dia justru mematok harga untuk merusak kesucian diri.
Maaf, Bunda. Aku melakukan semua ini untuk keberlangsungan hidup Bunda dan adik-adik. Aku ingin kalian hidup dengan layak, aku tidak ingin kalian merasakan sulitnya hidup. Ucap Ara dalam hati.
Ara tahu, uang yang dihasilkannya adalah uang haram, dan dia sudah memberikan makan hasil dari keharaman yang dia perbuat untuk Bunda dan kedua adiknya. Namun Ara bisa apa? Hanya itu cara termudah untuk mendapatkan uang dengan jumlah yang besar.
Memikirkan semua itu, Ara semakin merasa bersalah.
"Kaak!" panggil Keisha.
Ara segera tersadar dari lamunannya, dan menyusut cepat-cepat air mata meski sebetulnya Keisha sudah melihat itu.
"Kakak kenapa?" tanya Keisha, khawatir. Dirinya yang pekaan dan perasa selalu tahu ketika ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya.
Ara menggeleng. "Kakak pusing, Kakak istirahat dulu. Kamu temani Bunda makan, ya!" pinta Ara kemudian langsung berlari kecil ke kamar untuk menyembunyikan tangisannya.
Ara tak mau adik-adik atau bundanya tahu jika dia tidak sekuat yang mereka lihat. Ara begitu rapuh, hancur, dan retak.
Keisha mendengus, dia merasa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja pada diri Ara. Namun, dia tak mau terlalu kepo hingga kakaknya merasa terganggu. Dia memilih untuk makan siang saja bersama Bunda dan Khansa, siapa tahu setelah Ara tenang, dia mau cerita padanya. Itu yang ada di benak Keisha saat ini.
***
TING!
Lagi-lagi notifikasi berbunyi. Ara bangkit dari duduknya kemudian mengambil ponsel yang berada di dalam tas kecil yang menemaninya keluar barusan.
Ara membuka ponselnya, dan dia melihat chat yang dikirim pria itu lagi. Pria yang tak lain bernama Al.
"Aku benar-benar tidak sabar!" tulisnya lagi.
Ara menjerit dalam hati. Dia takut dan merasa kotor saat ini, tapi nasfu dan syahwatnya lebih besar sehingga dia tetap akan memuaskan pria itu nanti malam, seperi yang sering Ara lakukan selama ini.
Ara terdiam menatap pesan yang pria itu kirimkan padanya. Andai saja Ara bisa menyebut Al sebagai kekasihnya, sebagai pasangannya pada publik, maka Ara tidak akan merasa begitu terhina menerima semua kemewahan yang pria itu berikan.
Namun, Ara harus menelan harga dirinya, melupakan harga dirinya yang merasa terhina dan tetap memasang wajah ceria saat menerima semua pemberian Al padanya.
Apakah Ara benar-benar akan menemui pria itu? Menjatuhkan harga dirinya? Selalu menodai kesuciannya? Entahlah ... semoga tidak!