NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Rania

Pilihan Hati Rania

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinner

"Erik apa yang kamu lakukan? Jangan bikin suasana jadi tambah runyam."

Rania berbisik pada Erik karena meja mereka bersebelahan.

"Oh ayolah Nia semua orang harus tahu kalau kamu spesial bagi pak Mario. Kamu tahu Cecil selalu saja stalking akun media sosial pak Mario bahkan selalu caper ketika bertemu."

Erik akhirnya mengaku pada Rania soal kelakuan Cecil.

"Maksud kamu apa Rik? Ceritakan lebih jelas."

Pinta Rania tak sabar.

"Dia memaksa HRD untuk menggantikan posisi kamu di proyek, dan akhirnya terpaksa disetujui dengan didampingi si ganteng Dani. Eh ternyata si malaikat dan iblis malah sering di kantor. Kasihan deh si Cecil cuma dapat kepanasan hahaha. "

Erik tertawa puas mengejek nasib Cecil.

Rania tak menyangka jika Cecil bisa senekad itu. Bagaimana kalau dia sampai tahu jika dirinya dan Mario sudah berpacaran.

"Aku baru tahu Rik, ternyata Cecil segitunya sama Mario."

"Udahlah Nia jangan dipikirkan, mending kamu nikmati saja. Anyway happy birthday girl,,, "

Erik memberikan sebuah box kecil dibalut kertas kado untuk Rania sebagai hadiah ulang tahun.

"Uuh so sweet, Terima kasih Erik. "

Rania menerimanya.

Awalnya Rania tidak mengenal Erik namun setelah dirinya pindah ruangan mereka kini menjadi lebih akrab.

Dibanding Cecil Erik lebih mengerti Rania, sementara Cecil selalu saja ingin di mengerti tanpa mau mengerti keadaan orang lain disekitarnya.

Rania menuruti permintaan Mario untuk pulang bareng dengan syarat ketika orang orang sudah meninggalkan gedung ia baru akan naik mobil Mario.

"Hai bee,,, "

Mario mengecup kening Rania setelah ia duduk disebelahnya.

"Hem Terima kasih atas kadonya, kamu tidak perlu repot Mario."

Sejujurnya Rania enggan memanggil Mario tanpa embel embel namun Mario sang kekasih terus memaksanya agar terbiasa.

Wajar saja, Rania terpaut delapan tahun dari usia Mario.

"Kamu mau kemana biar aku yang antar. "

Tanya Mario ingin membuat Rania bahagia di hari ulang tahunnya.

"Aku ingin nonton film tapi di bioskop jangan di kamar. "

Rania hati hati mengucapkan permintaannya. Pasalnya Mario lebih suka nonton marathon di kamar dari pada ke bioskop.

"Baiklah, karena kamu yang minta aku akan turuti. Tapi kita pulang dulu."

Rania hanya mengangguk setuju.

Rania dan Mario tiba didepan pembelian tiket, keduanya sepakat memilih film bergenre romantis. Baru saja mereka hendak masuk studio Mario dikejutkan oleh kehadiran sepasang kekasih yang begitu mesra tengah mengantri masuk.

"Mario,,, "

"Mama, papa, kalian disini juga? "

Rania gugup ketika tahu kalau ia bertemu dengan orang tua Mario ditempat seperti ini. Untung saja pakaiannya tidak berantakan pikirnya.

"Ah kita masuk dulu, selesai film bisa ngobrol sambil makan."

Ajak sang papa yang tak lain adalah pak Wijaya Sastra pemilik perusahaan tempat Rania bekerja.

Bahkan secara kebetulan tempat duduk mereka bersebelahan. Rania dan mama Sela duduk ditengah di apit Mario dan pak Wijaya.

Merindu Cahaya De Amstel, ialah film yang menceritakan kisah cinta dua sejoli yang berbeda keyakinan. Namun berakhir dengan sang karakter laki laki memeluk agama yang dianut karakter perempuan. Atas dasar cinta juga keyakinan ia bisa memilih dan mendapatkan cintanya.

Tanpa terasa Rania menitikan air mata, apakah nasib percintaannya akan berjalan mulus seperti film ?

Tapi ini dunia nyata, kenyataannya mungkin akan lebih menyakitkan karena kita mengalaminya sendiri.

Mama Sela menangkap gerakan tangan Rania yang mengusap pipinya.

Setelah sekian tahun Mario akhirnya jalan bersama seorang perempuan. Apalagi mama Sela tahu jika Mario paling anti nonton di bioskop, karena dirumah keluarganya tersedia home theatre.

Apa gadis ini yang sudah berhasil membuka pintu hati Mario?

Lalu apakah ada hambatan yang akan Mario lalui jika dia terus bersama kekasihnya?

Batin Mama Sela terus menebak hingga film pun berakhir bahagia.

Suasana begitu canggung ditengah waktu menunggu makanan tiba. Mario terus menggenggam tangan Rania dibawah meja tanpa diketahui orang tuanya.

"Rania, kamu asalnya dari kota mana? "

Tanya Pak Wijaya berusaha mencairkan suasana.

"Denpasar pak, mama asli Bali kalau papa Aceh."

Jawab Rania diiringi senyuman lembutnya.

"Rania apa kalian sudah lama saling mengenal ? "

Sekarang giliran Mama Sela yang bertanya.

"Belum lama bu, kebetulan saya karyawan pak Mario."

Rania melirik pada Mario disampingnya, tanpa rasa malu Rania berkata jujur.

"Dia tidak menyusahkan kamu kan Rania? "

Pak Wijaya kembali bertanya.

"Tidak sama sekali pak, saya banyak belajar darinya. Kalau kita ingin mendapatkan hasil yang terbaik maka kita juga harus menjual yang terbaik."

Itulah motivasi yang Mario ucapkan di wawancara majalah bisnis yang membuat namanya hits dikalangan pengusaha muda.

"Betul sekali, jangan lupa kalau dia belajar dari papanya. "

Semua tertawa mendengar ucapan pak Wijaya yang menyombongkan diri.

"Kapan kapan kamu mau kan temani saya belanja atau sekedar nyalon? "

Mama Sela berniat mengakrabkan diri dengan perempuan yang sudah berhasil mendapatkan hati Mario.

"Tentu, dengan senang hati."

Keempatnya menikmati makan malam dengan suasana santai tanpa ada tekanan tertentu. Ternyata Rania salah menduga jika orang tua Mario akan bersikap seolah tidak menyukai dirinya dekat dengan anak kesayangan mereka.

Usai makan malam kedua pasangan beda generasi pulang ke tempat masing masing.

Mario enggan berpisah dengan Rania, ia terus merengek ingin tidur bareng tanpa berniat melakukan apapun.

"No, ini sudah malam lebih baik kita langsung istirahat."

Pinta Rania kembali memohon agar Mario mau mengerti.

"Baiklah, have a nice dream bee. "

Cup,,,

Mario mencium kening Rania, gadis itu mampu mendapatkan kehangatan dari setiap perlakuan Mario.

"Gud Nite,,, "

Ucap Rania membalas.

Kabar kedekatan Rania sudah menyebar di seluruh sudut kantor.

"Rania tukang goda bos"

"Bos di pelet Rania"

"Rania nikung Cecil"

Bagi Rania semua itu keliru dan tidak benar adanya. Sejak awal Rania berpikir jika Cecil hanya sekedar ngefans pada Mario. Ia juga tidak pernah melakukan tindakan yang bisa dianggap menggoda Mario. Apalagi kata pelet itu sungguh diluar kemampuan Rania.

"See, gue gak nyangka Nia ternyata loe sepicik itu. Gue yang lebih dulu menyukai Mario tapi loe rebut dia dari jangkauan gue."

Cecil menahan Rania yang hendak meninggalkan toilet.

"Cukup Cecil, hentikan semua kelakuan kamu. Apa Mario pernah melirik kamu? Adakah dia membalas perasaan kamu? Dia bahkan tidak ingat siapa namamu jadi jangan pernah berhalusinasi kalau aku yang merebut Mario dari kamu Cecil."

Plak,,,,

Cecil menampar Rania cukup keras hingga membuat pipinya memerah.

Perih dan sakit Rania rasakan namun ia hanya diam.

"Aku hanya sedang mencoba Cecil, belum tentu kami bisa terus bersama hingga akhir. Kamu tahu kenapa? Karena aku dan dia jelas beda. Tunggu saatnya kamu bebas menggoda Mario."

Ucap Rania penuh tekanan agar Cecil setidaknya berhenti mengganggu dirinya.

Cecil tersenyum licik menggenggam handphone miliknya. secara diam diam ia merekam semua perkataan Rania sebagai bukti kuat untuk menghancurkan hubungan mereka.

Erik melihat wajah Rania yang memerah penuh tanya, apa yang telah terjadi?

Rania bersandar diatas meja kerjanya menyembunyikan wajahnya kedalam. ia tidak ingin ada yang tahu kalau dirinya terluka secara fisik maupun batin.

mungkin benar salah Rania ketika ia tak mengindahkan ucapan Cecil yang jatuh hati pada Mario. rengekannya yang berarti dia ingin dekat dengan Mario, Rania tidak memahaminya sejak awal. jika ia paham mungkin lebih baik Cecil yang dekat dengan Mario, keyakinan mereka sama sehingga Mario tidak perlu terluka nantinya jika mereka berpisah.

semua terasa begitu cepat, kemarin bahagia hari ini bersedih. lalu Rania memikirkan hal apa lagi yang akan menimpa hubungan seumur jagung mereka.

"Nia,,, "

panggil Erik hati hati, dia mengira jika Rania tengah menangis.

"Erik kepalaku pusing, biarkan aku tidur sebentar saja. "

suara Rania serak seperti menahan tangis, posisinya masih menenggelamkan kepalanya di meja karena ia malu untuk menatap Erik.

Galih berjalan bersama Dani setelah kembali dari proyek, mereka mengobrol santai hingga tatapan Galih tertuju pada Rania.

Rania sudah menyelamatkannya dari hukuman penjara tanpa memberi tahu Galih. Stefi sepupunya terus memaksa Galih untuk bertemu kembali, Stefi merasa punya teman saat bersama Rania. begitu juga mama Ami, ketiga perempuan itu memiliki kemistrinya yang Galih tidak mengerti.

"Gue duluan Gall,,, "

seakan Dani mengerti jika Galih ingin berhenti dimeja Rania ia langsung masuk saja kedalam ruangan.

Galih bertanya pada Erik dengan bahasa isyarat, Erik juga memegang kepalanya memberi jawaban kalau Rania sedang sakit kepala.

tuk tuk,,,

telunjuk Galih mengetuk ujung meja kerja Rania meminta gadis itu menatapnya.

"ada apa? "

akhirnya Rania mendongakkan kepalanya, ia kaget ternyata Galih bukannya Erik.

"wajahmu kenapa? "

Gerakan tangan Galih hendak menyentuh bagian pipi Rania namun segera ia menepis nya.

"aku baik baik saja, apa butuh sesuatu? "

Rania bertanya agar Galih segera meninggalkannya.

"Tidak ada, hanya saja Stefi selalu memintaku membawamu ke rumahnya. akan ada garden party besok sore di rumahnya, kalau kamu bisa akan aku kirimkan alamatnya lewat email."

Erik takjub mendengar Galih yang berbicara cukup banyak dari biasanya. Galih terkenal pelit bicara pada orang orang.

Rania sedikit berpikir. "Baiklah aku akan datang, kirimkan saja alamatnya. "

Galih segera masuk ke ruang kerjanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Nia, kamu ditampar Cecil? "

Erik to the point karena terlalu penasaran.

"Tidak Erik, mungkin aku sedikit demam hingga pipiku memerah."

Rania berusaha menutupi masalah agar tidak menjadi heboh nantinya.

Galih keluar tanpa melirik kesana kemari ia buru buru sekali ingin mencari air mineral di pantry. meskipun bisa saja memerintah namun Galih lebih suka melakukannya sendiri.

"Lu udah gila Cil, loe gak takut dimarahi pak Mario kalau dia tahu Rania loe gampar? "

Tanya teman baru Cecil yang menggantikan posisi Rania.

"Dia gak bakal berani ngadu, gue kenal banget si cupu itu. Lagian dia itu orang yang munafik, merasa paling pintar karena dipilih jadi pengawas proyek, sok cantik karena bisa dekat dengan Mario."

keduanya tengah menikmati coffee break di pantry, tanpa sengaja Galih yang berniat mengambil minum mendengar semuanya.

tangannya mengepal secara refleks tak Terima mendengar Rania diperlakukan seperti itu oleh karyawan lainnya.

"saya tidak suka dikantor ini ada kekerasan, jika ingin adu otot lebih baik di ring."

Galih menerobos diantara keduanya. Cecil menunduk takut mendapat teguran dari Galih.

meskipun posisi Galih adalah partner Mario, ia takut akan diadukan pada CEO yang tak lain ialah teman Galih si iblis.

"Mari kita lihat, apa yang akan dilakukan Mario jika orang kepercayaan nya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman kantornya."

"Saya tidak akan melakukannya lagi pak, tolong jangan adukan ini ke pak Mario."

ucap Cecil penuh nada memohon.

"maka jaga sikap kalian! "

Galih mengambil botol ukuran enam ratus mili kemudian keluar dari pantry.

"Sial sial sial,,, "

Cecil mengumpat dengan suara pelan tak ingin Galih mendengarnya.

"Lihat dan rasakan Rania! apa yang akan kamu alami jika memilih bersama Mario. "

batin Galih bergejolak mengingat kejadian masa lalu antara dia dan Mario.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!