Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka dan Duka 1: Lorong Sunyi dan Ketakutan yang Mencekik
Pagi itu, udara terasa renyah dan dingin. Cahaya matahari musim gugur menembus jendela kelas, dan di luar, daun-daun berguguran lembut ke tanah, diiringi kicauan burung-burung yang riang.
Martin sudah duduk di bangkunya, kepalanya sedikit menunduk, hanyut dalam irama musik dari earphone-nya. Ia mengangguk-angguk kecil, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan mendarat di bahunya.
"Hai, Martin!" seru Roki dari belakang, nadanya ceria, sedikit terkejut karena Martin sudah datang.
Martin tersentak, hampir melompat dari kursinya. Ia segera mencabut earphone di satu telinga, menoleh ke samping. "Astaga, Roki! Ternyata kamu. Ada apa? Baru berangkat kamu?" tanyanya, mengatur napas.
Roki meletakkan tasnya di meja dengan bunyi buk yang ringan. "Tidak bisanya kamu sudah berangkat lebih awal? Biasanya kamu terlambat, hampir masuk kelas bersama bel," balas Roki, nadanya menggoda.
Martin menghela napas, gesturnya menunjukkan kelelahan. "Tidak bisa tidur karena memikirkan sesuatu, jadinya berangkat lebih dulu." Ia menaikkan satu alis. "Kenapa, apa tidak boleh aku datang lebih dulu dari kamu?"
Roki tertawa pelan. "Tentu saja boleh, malah bagus jika kamu datang lebih awal. Jadi kamu tidak ketinggalan pelajaran." Roki bersiap berjalan keluar kelas. "Aku ingin ke laboratorium Biologi. Ada beberapa laporan yang harus aku periksa sebelum aku mengumpulkannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Martin, melihat ke arah Roki yang berjalan menjauh.
Roki berhenti di ambang pintu, menoleh ke arah Martin yang mulai mengenakan kembali earphone-nya. "Apa kamu mau ikut denganku ke laboratorium?"
"Tidak, kamu saja. Aku masih ingin mendengarkan musik," tolak Martin, sudah kembali hanyut dalam dunianya.
Roki berjalan menyusuri lorong-lorong panjang, langkahnya cepat dan terfokus. Saat ia melewati koridor yang menghadap lapangan sekolah, angin berhembus sangat sejuk dan lembut. Daun-daun yang berguguran melayang di udara, menciptakan pemandangan yang indah. Roki berhenti sejenak, wajahnya terterpa angin lembut yang terasa seperti sentuhan menenangkan.
Saat Roki menikmati angin yang berhembus, wajah cantiknya yang polos terlihat jelas.
Di ujung lorong, Remon dan kawan-kawannya sedang berjalan. Mata Remon langsung terpaku pada Roki. Wajah Roki, dihiasi cahaya pagi dan dikelilingi daun-daun yang berputar, tampak bagaikan bunga cantik yang bermekaran. Ketertarikan yang kuat, meskipun Roki adalah laki-laki, segera muncul dalam diri Remon.
Remon ingin sekali menghampirinya, tetapi ia mengurungkan niat itu. Tempat itu terlalu ramai, banyak mata yang melihat. Ia hanya menyeringai, menandai Roki dalam pikirannya.
Roki yang sensitif, tiba-tiba merasakan hawa keberadaan Remon yang tidak bersahabat. Perasaan tidak nyaman yang dingin merayapi punggungnya. Tidak tahu kenapa, setiap kali melihat Remon dan kawan-kawannya, ada firasat buruk yang mendesak.
Aku harus segera pergi dari sini, pikir Roki, instingnya berteriak untuk menjauh.
Roki segera melanjutkan langkahnya, berjalan menjauh dari Remon. Setelah beberapa saat, ia menoleh ke belakang dan tidak lagi melihat wajah Remon. Ia merasa tenang kembali dan mempercepat langkah menuju laboratorium Biologi.
Karena dikejar waktu, Roki tidak sadar bahwa Remon diam-diam mengikutinya dari jauh. Roki berbelok, mengambil jalan pintas dari belakang gedung, jalan yang sepi dan jarang dilewati.
Tepat saat Roki tiba di belakang gedung, sebuah bayangan muncul di hadapannya. Remon dan dua temannya berdiri menghadang jalan. Mereka telah berhasil menyergap Roki di tempat yang ia anggap aman dan sepi.
"Hai, cantik," ucap Remon dari belakang, suaranya rendah dan serak.
Roki terkejut, tubuhnya menegang. Saat ia menoleh ke belakang, dua teman Remon sudah berdiri di sisi lain, menghadangnya. Roki tidak bisa melanjutkan langkahnya, terperangkap. Hanya ada tembok dingin di sampingnya.
Roki berbalik menghadap Remon. Perasaan tidak nyaman yang tadi hanya berupa firasat kini menjadi ketakutan nyata. Ia mencoba menatap mata Remon dengan berani, meskipun tubuhnya mulai gemetar.
"Apa yang kamu mau?" tanya Roki, suaranya sedikit bergetar, berusaha tetap tegas.
Remon hanya tersenyum lebar, senyum yang sama sekali tidak meyakinkan. Ia mendekatkan tubuhnya hingga jarak mereka hampir bersentuhan. Roki berusaha mundur, tetapi ia sudah terpojok, batasnya adalah tembok.
"Untuk apa kamu terburu-buru?" ucap Remon, dan tiba-tiba, tanpa peringatan, dia memeluk Roki dengan erat.
"LEPAS!" teriak Roki, mencoba melepaskan diri dari pelukan Remon.
Namun, pelukan Remon sangat kuat, cengkeramannya seperti besi, membuat Roki tidak bisa bergerak sedikit pun. Roki yang merasa sangat tidak nyaman, bahkan terhina, mulai berpikir panik mencari cara. Tiba-tiba, satu ide terlintas di pikirannya: menginjak kaki Remon sekuat tenaga.
GEDUBRAK!
Roki menginjak kaki Remon. Pelukannya sedikit melonggar karena Remon meringis kesakitan. Ini adalah kesempatan Roki! Ia mendorong Remon dan mencoba lari.
Namun, Remon terlalu cepat. Ia segera menangkap Roki kembali, menariknya kembali ke dalam pelukannya yang lebih ketat dari sebelumnya.
"Kamu mau ke mana?" Remon berbisik, suaranya kini dipenuhi nafsu yang menjijikkan. Tangannya mulai bergerak, meraba-raba punggung Roki.
"Apa yang kamu inginkan, Remon?! Lepaskan aku sekarang!" kata Roki, kegelisahan dan ketakutan menyelimutinya. Rabaan Remon membuat dia merasa sangat jijik dan tidak nyaman.
"Kamu tahu apa yang aku inginkan," ucap Remon, suaranya semakin rendah. Ia mendekat ke telinga Roki, menggigit kecil daun telinga Roki dengan lembut, tindakan yang menimbulkan rasa ngeri.
Roki mendorong Remon dengan sekuat tenaga yang ia miliki, tetapi dorongannya sia-sia. "Aku bilang cepat lepaskan aku! Aku harus pergi!" Roki mulai panik dengan suasana mencekik di tempat itu.
"Kenapa harus tergesa-gesa? Kita baru saja mau mulai bermain denganmu," ujar Remon, ia semakin mendekat, dan tangannya kini mulai meraba bagian bawah tubuh Roki.
Roki yang marah dan jijik dengan perilaku Remon yang melecehkannya, kembali mencoba melepaskan diri. Dia menggunakan semua kekuatan, semua cara. Sampai Remon berbisik lagi di telinganya.
"Kamu sangat cantik dan imut, Roki. Aku tidak bisa menahan lagi. Aku ingin memakan kamu," bisik Remon, sambil menjilat telinga Roki.
Roki mencoba mendorong Remon lagi, tapi tubuhnya kini mulai ketakutan dan bergetar hebat. Ia merasa lemah, hampir tidak bisa berkata-kata karena serangan mental yang terus-menerus.
Ia terdiam sesaat, syok, lalu kembali memberontak. "Lepaskan aku, Remon! Jika tidak, aku akan berteriak!"
Remon tertawa, tawa yang kejam. "Teriaklah. Tidak akan ada yang datang menolong kamu. Tempat ini jarang dilewati siswa lain."
Remon tidak peduli. Tangannya terus meraba tubuh Roki, hingga ia mencoba memasukkan tangannya ke dalam celana Roki.
Roki yang tidak bisa menahannya lagi, berteriak minta tolong sekuat tenaga. Teriakan itu putus asa, namun hanya bergema di lorong sepi itu.
"Percuma saja kamu berteriak. Lebih baik kamu jangan buang tenaga kamu, biarkan aku memakan kamu," kata Remon, berbisik lagi, meniupkan napas hangat yang berbau tidak sedap ke telinga Roki.
Roki, yang tubuhnya mulai lemas karena ketakutan dan sentuhan jijik Remon, berusaha untuk tetap sadar. Ia mencoba melepaskan diri, tapi Remon menyerang lagi.
Kali ini, Roki mencoba memegang tangan Remon yang bergerak di dalam celananya. "Lepaskan aku, kubilang!" teriak Roki, menahan tangan Remon.
Remon menggunakan cara lain. Ia menekan Roki hingga tubuhnya terpojok. Kaki Remon yang satu masuk di sela-sela kaki Roki, menekannya kuat. Roki merasakan sesak dan tekanan yang luar biasa.
Remon, yang merasa bergairah, tidak bisa menahan diri. Ia melepaskan pegangan Roki di tangannya dengan satu serangan ciuman bibir yang kasar.
Roki terkejut. Ia refleks melepaskan tangannya dari Remon, mendorongnya sekuat tenaga. Namun, tangan Remon yang lain meraba ke belakang, tepat di pantat Roki. Remon meraba, menemukan satu lubang di belakang Roki. Merasa bersemangat, ia mencoba memasukkan jarinya ke dalam, sambil tetap menahan bibir Roki dengan ciuman paksa yang menjijikkan.
Roki kini tidak lagi bisa berteriak, hanya suara tangisan frustrasi dan ketakutan yang tertahan di tenggorokannya. Ia terperangkap, dalam ketakutan yang mencekik.