NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Mafia / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Emma Shu

Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.

Aiza dan Akhmar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07. Meremang

“Kematian adalah benar adanya.  Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian.  Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan Allah benar-benar akan menguji manusia dengan kejelekan dengan kebaikan, dan kepada Allah manusia akan dikembalikan.”

***

"Ya udah, besok biar kakak yang urus motormu. Ada di bengkel mana?" tanya Zahra membuat Aiza terkesiap.

Mana mungkin Aiza mengatakan dimana keberadaan motornya. Jika ia menyebutkan alamat bengkel itu, pasti akan ketahuan kalau ia melintasi jalan yang tidak seharusnya ditempuh. 

Bengkel itu jelas berada jauh dari perlintasan Aiza menuju pulang ke rumah. Oh ya ampun, bagaimana ini?

"Nggak usah, Kak. Benerin motornya juga butuh waktu lama. Seminggu belum tentu kelar. Rusak parah soalnya," jawab Aiza.

"Oh... Ya udah." Pandangan Zahra tertuju ke jaket yang tergeletak di lantai sesaat tadi dihempaskan begitu saja oleh Zahra karena gugup saat mengganti pakaian Aiza. 

"Lah, itu jaket siapa? Itu jaket laki- laki kan?" Zahra mengawasi jaket hitam berukuran besar yang jika dipakai Aiza pasti kedodoran. 

"Loh, kamu bawa jaket siapa?" timpal Qanita yang juga heran. Selama ini kedua putrinya tidak pernah berhubungan dekat dengan laki- laki. Mereka terjaga dari pergaulan bebas.

"Mm... Itu jaket orang yang nolongin Aiza waktu jatuh dari motor. Badan Aiza menggigil kedinginan, jadi dia berikan jaket itu ke badan Aiza. Dia kasian mungkin liat Aiza menggigil," tutur Aiza yang juga tidak berbohong.

"Ooh.. umi panggil bu bidan ya biar obatin luka kamu!" Qanita menatap teduh bungsunya.

Aiza menggeleng. 

"Ini cuma keseleo, Umi. Diurut aja pasti sembuh," jawab Aiza yang tak mau merepotkan sang umi.

"Beneran?" tanya Qanita ingin meyakinkan kalau bungsunya baik- baik saja. 

"Beneran, umi." Mata bulat Aiza menyipit akibat senyumnya.

"Ya sudah, umi ke belakang dulu. Kamu istirahat ya!" 

Aiza mengangguk, membiarkan uminya berlalu pergi.

Zahra mengusap lengan Aiza lembut. "Lain kali kalau ada apa- apa, cepet kabarin kakak."

"Iya, kakak." Aiza mengangguk.

"Lagian kamu sih lucu, motor dan helm yang kamu pakai itu kan udah nggak layak pakai lagi, kenapa masih bertahan pakai itu sih? Umi kan bisa beliin motor baru, kamunya aja yang nggak mau. Ini juga demi keselamatan nyawa kamu loh." Zahra sudah mulai seperti burung beo, cerewet sekali kalau urusan menasihati.

"Maksudnya Umi minta beliin motor ke abah? Ogah!" Aiza membanting tubuhnya ke kasur. Sialnya tidak tepat, belakang kepala malah mengenai sandaran dipan.

Zahra terkekeh melihat Aiza mengaduh sambil memegangi kepalanya yang sakit. "Itu namanya kualat. Marah mulu sama abah, akhirnya kena kan?"

Aiza tak peduli. Ia memposisikan tubuhnya dengan benar, menoleh ke belakang terlebih dahulu sebelum akhirnya merebahkan tubuh mengantisipasi kejadian naas seperti tadi.

Zahra dengan tekun mengurut kaki Aiza yang sakit, gadis itu entah mendapat ilmu dari mana hingga begitu pintar mengurut. Sesekali Aiza menjerit saat sentuhan Zahra mengurut pada bagian yang sakit.

"Oke, urutannya cukup sampai di sini dulu. Besok dilanjutin lagi. Bobok gih, udah malem. Kakak mau bantuin umi bikin kue untuk dijual besok," ucap Zahra kemudian berlalu pergi sesaat setelah mengemas pakaian basah milik Aiza dan membawanya serta keluar. Tangan Zahra sempat mematikan sakelar lampu ruangan. 

Dalam keadaan remang- remang, Aiza termenung mengingat kejadian tadi. Dimana pria bertubuh tinggi itu membonceng di motornya, lalu menggendong tubuhnya.

Aiza meremang mengingat itu. Ia memeluk lengannya sendiri dan mengusap lengan itu berkali- kali sambil menjejak- jejakkan kaki. Tak pernah terpikir ia bisa sampai digendong pria yang bukan mahram begitu? Bayangan saat ia berada di gendongan pria itu terus mengganggu pikiran Aiza. Ia tidak bisa tidur karenanya. 

Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa diteriakin maling? Apa beneran maling? 

***

Bersambung

1
Cristiyan Wijaya
melowww jirrr
Teni Fajarwati
😂
Teni Fajarwati
😭😭😭
Teni Fajarwati
nah gitu,
Teni Fajarwati
emaknya terlalu kejam,walopun kecewa,
Teni Fajarwati
awal bab banyak typo,tapi semakin kesini semakin bagus,,,
Teni Fajarwati
akhmar bener2 parah
Teni Fajarwati
kayanya bapaknya aiza
Teni Fajarwati
🤣🤣🤣
Neus Assalma
ini novel knpa kata-kata nya byk yg di ulang, apakah kurang inspirasi thor
Linda Kustanty
owalahh gara2 kolor ijo to ampek d teriak.in maling😆😆
arzetti azra
Luar biasa
Susi Andriani
hadir
Riski
Lumayan
zevs
izin maraton thor
Mala Sia
Luar biasa
Suyatno Galih
menurut Ismail ustadz tukang kawin, masa ll akhmar buruk lha dirinya sendiri yg yg suka kawin demen janda pirang apa bkn bobrok namanya
Suyatno Galih
Thor itu ustadz abal abul kl ngomong dr mulut apa boret sih, dl azia di usir di bilang bkn anak nya lagi lha skrg di kt putri tersayang, n skrg Zahrah minggat dr perjodohan di blng bkn anak nya jg, udah srh cari janda pirang sj
Suyatno Galih
karapmu lah ikut sesek jd akhmar sm azia
Suyatno Galih
akhmar luka, pedih tp tak sepedih hatinya, tp jgn jd berandalan lagi ya mar, malu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!