NovelToon NovelToon
Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cinta Terlarang / Anak Kembar / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:163.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen's Suga

Penyesalan memang selalu ada di belakang, Namun pelajaran hidup berada jauh di belakangnya.

Iksia, seorang gadis cantik yang memiliki dua kakak sambung bernama Arzhan dan Fateeh. Kedua kakak yang memiliki paras rupawan juga berpendidikan.

Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan, Iksia jatuh hati pada salah satu kakak sambungnya. Siapa sangka, perasaan Iksia bagaikan gayung bersambut.

Bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka direstui? Lalu apakah yang akan terjadi saat keluarga mengetahui siapa ayah dari baby Twins Iksia yang sesungguhnya?

Yuk ikuti kisah Iksia sampai ahir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen's Suga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak nyaman

Pagi hari di hari pertama tinggal di sebuah istana. Menjadi seorang tuan putri dengan pelayan yang siap menyediakan apa pun yang aku inginkan. Siap melakukan apa saja yang aku perintahkan.

Apa pelayan di sini semuda itu? Kenapa mereka masih sangat muda dan cantik?

"Pagi, Non. Mau saya siapkan air hangatnya?"

Dikira aku bayi kali, ah.

"Aku bisa sendiri, Mba, eh, Teh. Aduh, apa, sih."

"Apa saja yang Non suka."

"Kamu masih muda. Umurnya berapa?"

"25 tahun, Non."

"Yang itu?"

"Saya 23 tahun, Non."

"Apa pelayan di sini semuanya semuda kalian? keenakan Fateeh dan Arzhan dong."

"Hanya kami, Non. Yang melayani Tuan muda pelayan laki-laki."

"Oh, syukurlah."

Eh, kenapa aku harus bersyukur?

"Kamu siapa namanya?"

"Saya Mita dan ini Rere."

"Oke. Kalau begitu akan aku panggil kalian Remi. Rere dan Mita."

"Iya, Non."

"Jam berapa sekarang?"

"Jam 9, Non."

"Apaaa!"

"Tuan besar bilang hari ini Non Iksia tidak boleh berangkat ke sekolah, istirahat saja di rumah. Beliau takut Non Iksia masih belum merasa nyaman sejak kejadian tadi malam."

Ya ampun, kenapa Papa Indra harus begini banget, sih? kenapa gak begitu aja?

"Ngomongnya biasa aja, jangan terlalu formal. Kaku banget rasanya. Aku jadi gak nyaman."

Remi saling melirik. Mereka pasti bingung atau mungkin takut pada bos besar pemilik rumah ini.

"Itu?" Aku menunjuk makanan yang ada di meja samping kasurku.

"Sarapan pagi ini, Non. Kalau tidak suka kami bisa mengganti dengan menu lainnya."

"Astagaaaa. Apa ini semua perintah Papa?"

"Iya, Non."

"Pah ... kenapa harus berlebihan seperti ini, sih? Aku bisa turun ke bawah buat sarapan. Kenapa harus di kamar, sih."

Tok tok tok.

"Masuk!"

Pintu terbuka. Arzhan yang sudah rapi terlihat begitu menyegarkan dibanding dengan buah-buahan yang ada di meja.

"Kenapa belum di makan?" tanyanya sambil duduk di sampingku. Di atas kasur.

"Kalian keluarlah," perintahnya. Remi pun mundur beberapa langkah baru membalikkan badan dan pergi keluar kamar.

Hah? haruskah setakzim itu mereka padaku?

"Kak, kenapa Papa berlebihan gini, sih. Maksudnya... aku bisa turun sendiri untuk sarapan. Aku juga bisa mandi sendiri, menyiapkan keperluan aku sendiri. Tidak perlu ada pelayan khusus untukku."

"Salah satu bentuk kasih sayang Papa, ya, begini."

"Aku gak mau, Kak."

"Nikmati saja."

"Tapi aku merasa tidak nyaman."

Arzhan menatap mataku dalam-dalam. Tangannya merapikan anak rambut yang berantakan menghalangi mata dan wajahku.

"Aku bahkan bisa memperlakukan kamu lebih dari ini. Jadi, jangan membantah."

"Ya udah, aku kembali ke rumah lama lagi aja."

"Aku ikut tinggal di sana."

"Ih, mau ngapain. Ogah!"

"Kenapa?"

"Takut."

"Sama?"

"Kakak."

"Aku?"

"Iya. Udah, ah! pergi sana aku mau mandi. Kenapa? mau ikut juga?"

"Boleh. Yuk!"

"Kakaaak ..." Aku memukulnya dengan bantal. Bukannya menghindar dia malah tertawa. Karena kesal, aku terus memukul wajah dan tubuhnya.

Kreeep!

Dia menarik tanganku begitu kuat hingga wajah kami saling berhadapan begitu dekat.

Tidak ada kata yang keluar, kami hanya diam dan saling menatap. Sesak. Rasanya jantungku hampir meledak.

"Awas, ah! Pergi sana." Aku menarik tubuhku sambil mendorong tubuh Arzhan agar menjauh.

"Iksia."

"Jangan membuat aku merasa tidak nyaman di rumah ini, Kak. Sungguh, aku akan keluar dari rumah ini jika kakak selalu bersikap seperti itu."

"Aku hanya--"

"Kakak tau bagaimana perasaanku saat kakak bersikap seperti itu?"

Aku turun dari kasur dan berdiri di sebrang Arzhan.

Arzhan masih menatap lekat.

"Jantungku hampir meledak. Aku tidak tahu kenapa, aku bingung. Tapi setiap kakak bersikap seperti itu, tubuhku panas terutama wajah. Aku tidak merasa nyaman saat kakak menyentuhku. Tidak seperti Fateeh. Aku juga bingung."

"Iksia ...."

"Pokoknya jangan bersikap aneh-aneh lagi, deh. Aku gelisah jadinya. Setiap bertemu kakak, aku merasa takut. Sumpah, deh."

Arzhan tersenyum lalu menundukkan kepala.

"Ya sudah, aku minta maaf. Aku janji tidak akan membuat kamu tidak nyaman lagi di rumah ini."

"Syukurlah kalau begitu. Sebaiknya kakak bersikap seperti Kak Fateeh saja, ya."

"Maksudmu, aku harus melemparmu ke kolam renang begitu?"

"Kakak!" aku kembali mengambil bantal.

Arzhan tertawa sambil berlari keluar kamar.

Huh! menyebalkan!

Celana pendek berwarna hitam dan hoodie berwarna hitam melekat di tubuhku. Ini hari pertama aku tinggal di sini, aku calon anak tunggal wanita di sini wajib tau apa saja yang ada di rumah.

"Astaga!" Aku begitu terkejut saat membuka pintu kamar. Remi sudah berdiri tegak di sana.

"Apa kalian berdiri di sini sejak tadi?"

"Iya, Non."

"Berdiri?" tanyaku memastikan. Mereka menganggukkan kepala.

"Itu ada kursi, kenapa dia dijadikan tidak berguna, sih. Pake kek."

Lagi-lagi Remi saling melirik.

"Ada apa dengan kalian? Ayolah, aku ini jauh di bawah kalian umurnya. Gak usah kaku gitu lah."

"Maaf, Non. Tapi kami diperintahkan begini oleh tuan besar."

"Memangnya Papa ada di sini sekarang?"

Mereka saling melirik lagi.

"Ayo!" Aku merangkul mereka berdua. "Ajak aku berkeliling rumah. Lucu sekali jika aku sampai tidak tahu rumah sendiri."

"Kami juga baru, Non. Belum hafal dengan baik seluk beluk rumah ini."

"Ya ampun, terus kalian tugasnya ngapain aja? momong aku kayak bayi?"

"Apa sih ribut-ribut?" Fateeh datang.

"Mau ngampus, Kak?"

"Bukan, mau nanem padi."

"Cocok, sih!"

"Hah, Lu katarak? Masa rapi gini dibilang petani."

"Eh, aku gak bilang loh. Kakak sendiri yang bilang mau nanem padi. Siapa lagi yang nanem padi kalau bukan petani. Masa iya dokter. Terus pasien siapa yang rawat?"

"Susah, ya, ngomong sama bocah."

"Kakak, tunggu!" Aku segera berlari kecil mengikuti Fateeh.

"Kakak aku serius nanya, kakak mau ke mana?"

"Apa, sih?"

"Kalau gak ke kampus, boleh ikut gak?"

"Ngapain?"

"Aku ikut. Papa gak ngizinin aku sekolah gara-gara kejadian semalam. Plissss, ya!"

"Eh, bocah." Fateeh berhenti dan membalikkan badan. Aku hanya tidak memiliki rem cakram, menabrak dadanya.

"Kejadian semalam itu penyebabnya gue. Mana percaya Papa Lu ikut gue. Enggak, ah!"

"Aku ngapain di rumah? Bosen."

"Baru sehari juga. Naik aja ke atas, Kak Arzhan ada di atas. Ikut aja ke kafe dia."

"Masa? Bukannya dia udah pergi dari pagi?"

"Pintu kamarnya masih kebuka, itu artinya dia masih di sana. Kalau dia udah pergi, pintunya terkunci dari luar. Ada tulisannya juga, out."

"Segitunya?"

"Siapapun di larang masuk ke kamar dia. Udah, ah. Gue pamit. Dah bocil." Fateeh melambaikan tangan.

Setelah di pikir-pikir, mungkin akan lebih menyenangkan ikut ke kafe Arzhan. Sekalian aku bisa mencicipi makanan dan minuman yang ada di sana.

Gratis wehhh!

"Kak, boleh masuk gak?" Tidak lupa aku bertanya sebelum masuk. Ingat ucapan Fateeh bahwa tidak ada yang boleh masuk ke kamarnya.

"Tunggu saja di sofa." Dia membalas setengah teriak.

"Aku masuk aja, ya."

"Jangan!" suaranya semakin lantang.

Ini orang menyembunyikan apa, sih, di dalam kamarnya? berlian?

Tidak ingin membuat dirinya semakin marah, aku pun memilih untuk duduk di sofa sambil menyalakan televisi.

"Katanya tak--"

Ucapan Arzhan yang tepat di samping telingaku membuat aku sangat terkejut dan sontak menoleh padanya. Ucapannya yang belum sempat dia selesaikan terhenti karena bibir kami saling bertemu.

1
Endeh Dedeh
Luar biasa
angel
Khadijah munafik kaleeee .
Queen's Suga: harus di rugyah dia. /Sob/
total 1 replies
Alea Wahyudi
ya Allah ...betapa beruntung nya mamanya iksia punya suami yg begitu tulus mencintainya dan anak nya...walaupun iksia anak sambung
Alea Wahyudi
sakit tp tak berdarah .....nyasek nya
Alea Wahyudi
😭😭😭😭😭 ada anak yg mengikat hati kalian tp gak bs bersatu karna menjaga perasaan ortu,
Alea Wahyudi
😭😭😭
Alea Wahyudi
knp gak jujur ke arzhan aja sih biar arzhan perjuangin cinta kalian demi bayi yg yg kamu Kanding iksia dia ga salah
Alea Wahyudi
syg si boleh klo terlalu di manjain kadang anak jd gak tau batasanya, pelajaran berharga
Alea Wahyudi
ko lama2 iksia jd manja nya ga ketulungan ya suka ngambekan gitu
Alea Wahyudi
wow....berasa aku yg di tembak ...aku yg senyum2 sendiri
Alea Wahyudi
aihhhh....❤️
Alea Wahyudi
seneng nya jd iksia, dulu hidup kekurangan kasih syg dr ayah nya sekarang hidup di kelilingi orang yg benar2 menyayangi nya ❤️
Cha
pertama kali mampir, authornya army ya??
salam kenal dari Ayang nya Jungkook 🤣
fitreeMjf: guen suga
total 2 replies
ArchaBeryl
bagus kak cerita nya
aq suka
tetap semangat berkarya ya kak 💪💪💪
Elis siti Gomisoh
sedih bangeet, ampe nyesek bacanya ...semangaat de...
Queen's Suga: Makasih, Kakak.🥰🤗🤗 jangan lupa mampir di karya aku yang lain yaaaa
total 1 replies
Isnay Maulani
maacih thor 🙏🙏
sukses trs tuk karyq2nya 💕💕💕💕
Queen's Suga: Makasih, Kak. Jangan lupa mampir di karya aku yang lain ya 🥰🤗🤗🤗
total 1 replies
Mama Oya
Ceritanya bagus...tp kenapa sedikit yg baca ya?
Queen's Suga: Belum rezeki kak 🥲
total 1 replies
IMMA
suka ceritanya gak bertele-tele
Winsulistyowati
Suka Critanya...GK sampai 100 episode..Sehat n Smangat Brkarya Yo Thor..🖐️👍💪💪
Queen's Suga: Makasih ya. Sehat selalu untuk kakak juga.🥰🤗
total 1 replies
Winsulistyowati
Bgitulah Hidup..adalah Pilihan..Yg Pnting Jlani ae dgn Iklas..Suatu saat ada Hikmah disana..Sehat Slalu Y Thor🖐️👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!