NovelToon NovelToon
MASIH TANDA TANYA

MASIH TANDA TANYA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:49.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeojawriting

Linia adalah seorang pegawai biasa di sebuah perusahaan pangan harus bertemu dan bekerja bersama seorang manajer baru yang tampan bernama Jhonathan. seorang pria yang gila kerja dan hampir merampas pekerjaan yang harus dilakukan Linia. namun, dibalik sifatnya yang pekerja keras itu, Linia juga harus terlibat dengan trauma masa lalu Jhonathan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeojawriting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 7

Sudah hampir 3 bulan Linia bekerja sebagai sekretaris Jhonathan dan selama itulah Linia merasakan betapa luar biasanya bekerja bersama Jhonathan yang gila kerja itu. Linia pikir ia nampaknya banyak kekurangan berat badan. Ya, setidaknya berat badan yang berkurang, bukan kapasitas otak.

"Wah, kudengar desainer Jessie akan menggelar show di Jakarta bulan ini setelah tour di Eropa selesai."

"Kau benar, koleksi pakaiannya benar-benar yang terbaik saat ini. terlebih di usianya yang muda ia sudah maju ke kancah internasional."

"Ia juga cantik."

Linia dan Elda baru saja tiba di kantor mereka dan sudah mendengar cuitan dari rekan kerja wanita mereka di tempat yang sama.

"gosipin apa say?" tanya Elda sembari duduk di kursinya.

"Biasa, kalau nggak pakaian, rumah, mobil, biasanya orang." jawab salah satu dari mereka.

"Ini nih! Di Koran pagi, cewek seumuran dengan kita suksesnya luar biasa." Fitri namanya, ia menunjukkan pada Linia dan Elda bahan gossip yang mereka bincangkan pagi ini.

"Eh, keren lah ya. Udah cantik, muda, sukses lagi." ujar Linia kagum.

"Eh.. Bukannya ini cewek yang kekasihnya udah meninggal waktu kecelakaan dua tahun yang lalu." Timpal Elda menerka.

"kak Elda mulai!!!!" ujar Linia menyindir kehebatan Elda dalam bergossip.

"bukan gitu... Jessie ini kalau nggak salah, dia pacaran sama pengusaha kaya. Tapi kekasihnya udah meninggal kecelakaan lalu lintas. Isu nya sih, mabuk saat menyetir."

Linia menatap datar Elda dan memutar bola matanya malas lalu kembali ke tempat duduknya.

"Kasihan juga, tapi sudah terjadi. Itu sih urusan hidupnya. setidaknya ia sudah bangkit dan sukses seperti sekarang, udah bisa dapat pria-pria tampan dan kaya dengan mudah." cetus Linia.

"Hahaha Linia benar. Masih muda dan cantik, sukses berbisnis, konglomerat mana yang nggak mau coba?" sambut Fitri.

"Tapi biasanya kalau masih muda gitu dan sibuk berbisnis, nggak bakalan mikir nikah kali ya." ujar Linia mengoreksi.

"Hmm itu sih kamu." celetuk Elda membuat karyawati yang ada diruangan itu terkekeh geli dan Linia hanya bisa tersenyum memaklumi. Pasalnya ia sendiri wanita yang di divisi ini belum bertunangan ataupun menikah.

"Ah ya! Ngomong-ngomong hal gitu, ini!! aku undang kalian datang ya! Minggu depan. Jangan pada banyak alasan!!" kali ini Rose tiba-tiba mengeluarkan lembaran undangan dari tasnya dan meletakkan pada masing-masing meja rekan kerjanya di divisi itu.

Apa lagi jika bukan lembaran undangan pernikahan.

"Waahhh!!! Akhirnya, jadi kamu dan pacarmu akan menikah??" tanya Elda tak percaya saat melihat lembaran undangan yang sudah sampai di tangannya itu.

"Heheh datang ya. Puji Tuhan, prosesnya baik-baik saja dan lancar sampai saat ini." timpal Rose malu.

"Linia juga harus datang!! Nah, ini sekalian berikan ke pak Jho ya." ujar Rose sembari memberikan dua undangan pada Linia.

"Seharusnya tulis aja 'Linia' nggak usah pakai '& patner." Komentar Linia.

"Ih biarin, suka-suka gua lah. Yang penting lu dateng. Ramein acara."

Linia tersenyum dan menunjukkan kata 'oke' dengan tangannya.

"Oh! Selamat pagi pak Jho!!" sapa Rose saat melihat Jhonathan muncul dari luar dan dibalas senyum manis dan ramah ala Jhonathan sembari berjalan masuk kedalam ruangannya.

"Pak Jho tetap tampan setiap hari, makannya apa sih." timpal Fitri yang kebetulan duduk di tak jauh dari Linia.

Linia jadi memikirkan tentang apa yang biasanya Jhonathan makan.

"Sayur mentah??" ucap Linia menerka.

"Eh??"

Seketika semua karyawati menatapnya aneh dan terasa canggung. Linia pun terkekeh geli mengingat ucapannya yang lucu dan menggelikannya barusan.

"Linia ada-ada aja deh."

"Kamu kira pak Jho kelinci apa?"

"Linia... Linia."

Linia hanya bisa tersenyum menanggapinya, jika di ingat pun.

*

*

*

*Suatu hari saat istirahat makan siang dan Linia masih berada di ruangan Jhonathan menyusun dokumen yang ingin di simpan.

"Pak Jho, saya boleh bertanya." ujar Linia pada Jhonathan.

"Iya? Ada apa Lin?" tanya Jhonathan sembari melihat Linia duduk di sofa yang ada diruangannya*.

"*Bapak itu jarang makan di kantin, kalau istirahat begini, bapak makan nggak sih?" tanya Linia polos.

"Makan, saya nggak biasa makan masakan orang. Jadi, saya masak sendiri dari rumah."

Karena Linia ingin tahu, Jhonathan pun beranjak dari kursinya dan menghampiri Linia dengan sekotak makanan yang ia siapkan dari rumah. Membuka tutup kotak makanan itu dan menunjukkan isinya pada Linia*.

"*Waw.... Mentah semua pak??" tanya Linia saat melihat salad sayuran yang mendominasi isi kotak makanan dan beberapa potong daging ayam panggang serta sesuatu seperti kentang atau ubi yang ditumbuk sebagai sumber karbo nya.

"Kamu mau??" tawar Jhonathan*.

*Linia menatap Jhonathan dan tersenyum.

"Saya juga sering bawa bekal pak. Bapak makan saja. Saya masih ada pekerjaan." jelas Linia.

"Terlebih bapak kan susah kalau mau makan masakan orang lain. Nanti nggak cukup*."

*Perkataan Linia tentu langsung mengena pada Jhonathan. Ia mengerti kekurangan Jhonathan yang sulit seperti itu dan memang hanya Linia yang tahu sebagai orang luar selain keluarga terdekatnya.

"Kamu balik ke meja kamu, ambil makanan kamu. Kita makan disini sama-sama*."

"*Eh??" Linia menatap Jhonathan tak percaya.

"Kenapa diam? Ini adalah jam makan siang. Udah nggak sempat lagi nyusul yang lain ke kantin sekarang. Makan disini saja sama saya." jelas Jhonathan*.

Linia tersenyum dan langsung melaksanakan apa yang Jhonathan katakan. Perutnya sudah lapar, jadi ia tidak akan menahan diri lagi. Dapat Jhonathan lihat ekspresi senang Linia saat ia boleh mengambil makanannya untuk makan dan itu lucu.

*

*

*

Itulah kenapa Linia mengatakan 'sayur mentah' adalah makanan Jhonathan. Pantas saja pria itu sehat dan tampan. Walaupun kadang-kadang drop karena pekerjaan dan ulah ia sendiri. Ya, setidaknya sesekali Jhonathan mau mendengar pendapat dirinya tentang harus makan.

"Linia."

Lamunan Linia langsung buyar saat Fitri menegurnya.

"Pak Jho manggil kamu keruangannya." ujar Fitri.

"Ah iya, aku pergi dulu." ujar Linia sembari bergerak masuk kedalam ruangan Jhonathan.

"Linia, hari ini kamu sibuk?" tanya Jhonathan saat Linia sudah masuk kedalam ruangannya.

"Ya, seperti biasa sih pak kesibukan saya." ujar Linia.

"Kamu ikut saya hari ini."

Entah kenapa Linia merasa de ja vu dan tidak enak.

"Kemana?" tanya Linia bingung.

Jhonathan menatap Linia juga terlihat bingung dengan ekspresi sulit ditebak itu.

"Pergi ke kantor paman Ken. Membahas urusan bisnis." jawab Jhonathan sekenanya.

"Benar juga."

Linia baru teringat jika itu merupakan jadwal kegiatan Jhonathan hari ini. Bagaimana dia bisa lupa akan itu. Mungkin karena akhir-akhir ini Linia yang biasanya turun ke lapangan sendirian. Mau tak mau ia juga harus bersiap untuk keluar bersama Jhonathan dan menyiapkan bahan-bahan lainnya.

Hingga disaat Linia dan Jhonathan melintasi sebuah hotel mewah, mata Linia teralihkan dengan sebuah baliho besar serta banyak poster bergambar seorang wanita cantik yang pagi tadi dibahas sebagian rekan kerja nya di kantor divisi.

"Jessie Kyle benar-benar desainer yang sukses ya." ujar Linia pada Jhonathan.

Jiiittt.

Seketika Jhonathan langsung mengerem mendadak dan membuat Linia hampir mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya karena dirinya terkejut. Kebetulan juga karena lampu hijau membuat Linia tidak bisa membantah rem mendadak itu.

"Tolong jangan sebut nama itu sekalipun di depan saya."

Kali ini Linia tidak berani berkomentar dan langsung memilih bungkam. Karena aura yang Jhonathan pancarkan benar-benar tidak nyaman Linia rasa. Ya, apapun masalahnya Linia tidak mengerti dan tidak ingin tahu lagi.

Walaupun dalam hati Linia sedikit penasaran dengan hubungan Jhonathan yang tidak ingin nama Jessie disebut didepannya.

"Pak saya boleh tanya?"

Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal hati Linia tentang Jhonathan.

"Ada apa Linia?" tanya Jhonathan.

Linia menatap Jhonathan bingung.

"Bukankah bapak dulu mengajak saya ke ulang tahu paman anda dan tidak menyuruh saya untuk bilang kalau saya ini adalah sekretaris bapak pada mereka? Kenapa sekarang saya malah diajak dan sebagai sekretaris pula." tanya Linia penasaran.

Terkadang pola pikir Jhonathan itu sungguh sulit untuk Linia mengerti dan ia merasa terjebak lagi dalam masalah Jhonathan tanpa disadari.

"Kamu benar. Kenapa saya melakukannya ya?"

Linia benar-benar tidak habis pikir dengan pria yang duduk di depan kemudi itu. Suasana yang awalnya tegang langsung berubah drastis menjadi penuh dengan kebodohan oleh Linia maupun Jhonathan itu sendiri.

"Lalu apa yang harus saya lakukan? Pura-pura bodoh?" tanya Linia.

Jhonathan nampak sedang memikirkan sesuatu, sementara mobil mereka sudah mendekati kawasan gedung kantor tempat Ken bekerja.

"Lakukan saja seperti biasa. Saya akan menanganinya sebisa saya." jawab Jhonathan yakin.

Jika sudah begini, Linia hanya bisa diam saja. Nyatanya memiliki atasan seperti Jhonathan ini cukup melelahkan juga. Jhonathan bisa sangat diandalkan dan memiliki kinerja bagus dalam memanajemen pekerjaan kantor. Hanya saja, diluar itu dan masuk kedalam urusan pribadi dirinya sedikit sulit ia atasi.

Dan sialnya bagi Linia, ia yang selalu berkaitan dengan Jhonathan.

Sementara itu, di sebuah café tak jauh dari kantor tempat Dheo bekerja ia nampak sedang bersantai sendirian dengan ditemani secangkir kopi hangat dan game online yang hobi dimaikan olehnya itu. Pria berkacamata itu nampak sedang menunggu seseorang yang kemungkinan adalah seorang wanita cantik yang baru saja masuk kedalam café dan langsung menghampiri Dheo.

"Sudah hampir 6 tahun ya." ujar wanita itu pada Dheo.

Jessie Kyle, 27 tahun merupakan desainer terkenal dan sedang fokus dalam kancah internasional dalam dunia mode. Juga, merupakan mantan Jhonathan yang meninggalkan Jhonathan sewaktu pria itu mengalami kebangkrutan sekitar 6 tahun yang lalu.

Dheo mungkin menyukai semua wanita cantik, akan tetapi kenapa ia sama sekali tidak berniat untuk melihat wanita cantik dan sukses dihadapan nya ini dan memilih memasang wajah kecutnya.

"Katakan kenapa kau ingin menemuiku? Cepat, Jhonathan akan membunuhku jika ia mengetahui kau bertemu denganku saat ini." jelas Dheo sembari sibuk memainkan game online di ponselnya itu.

Jessie nampak menatap Dheo dengan tatapan malasnya.

"Padahalkan itu masa lalu, kenapa terus diingat sih."

Dheo nampak tak suka akan bahan pembicaraan yang Jessie keluarkan saat ini.

"Kau pikir semudah itu melupakannya? Kau tidak tahu betapa terpuruknya Jho dan kau malah meninggalkannya seperti tidak pernah mengenal sebelumnya?" sindiran pedas sangat jarang keluar dari mulut Dheo, hanya saja saat ini mulutnya geram menyembur wanita didepannya ini seperti yang biasanya Elda omelkan pada dirinya dan Linia.

"Hei, kau pikir hanya Jhonathan saja yang menderita? Aku juga pihak korban."

"Dengan meninggalkan Jhonathan bersama dengan masalah yang kalian buat bersama begitu? Ini alasan aku tak memercayai apa itu cinta dan kekasih." ujar Dheo sembari bangkit berdiri dan meninggalkan Jessie yang masih duduk.

Pikiran nya bisa-bisa tidak dapat dikontrol jika sudah menyangkut masa lalu Jhonathan yang tentu memengaruhi keluarganya pada masa itu.

*

*

*

"Apa? Hutang 500 juta? Mereka serius?" ujar Ken ayah dari Dheo pada pamannya ayah Jhonathan.

Kala itu, usia Jhonathan baru memasuki dewasa awal. Ia merupakan fresh graduation dari sebuah universitas unggulan di Amerika. Terlebih dari keluarga kaya dan memiliki banyak usaha membuat semua orang ingin menjadi seorang Jhonathan. Namun, Jhonathan memiliki pola pikir yang berbeda, selama beberapa tahun tinggal di luar negeri yang memiliki aturan lebih bebas dari Negara asalnya membuat pria muda itu ingin memiliki sesuatu yang murni dari kerja keras ia sendiri. Menentang keputusan keluarga untuk menjadikannya sebagai pewaris dari semua usaha yang keluarga jalankan dan lebih memilih membuka bisnis sendiri.

Jhonathan sangat suka membaca buku, itu merupakan hobinya dan kesukaannya bahkan bagian dari napasnya kala itu hingga membuatnya menjadi seorang sarjana sastra Inggris di usianya yang cukup muda, 21 tahun.

Di usia muda dan penuh semangat itu, ia berniat membuka bisnis percetakan dan membuka perpustakaan serta distributor buku.

Dheo sebagai sepupunya yang baru tamat SMA itu benar-benar terkagum akan semangat Jhonathan dan teman-teman Jhonathan yang sering bersamanya, Jessie kekasihnya dan sahabat sewaktu kuliahnya Leo.

Namun, semua tidak bisa berjalan lancar seperti yang diharapkan. Entah karena ambisi dan cita-cita masing-masing juga percintaan. Jessie yang nyatanya berambisi menjadi seorang desainer dan bingung juga ingin mendukung Jhonathan saat kekasihnya itu di asingkan oleh keluarga sendiri karena nekat membuka usaha sendiri. Leo yang merupakan seorang yang jenius dalam manajemen tiba-tiba mengatakan akan pergi ke Perancis untuk melanjutkan studi nya. Juga, Jhonathan yang keras kepala tetap pada pendiriannya.

Belum lagi, di luar dugaan Jhonathan, kekasihnya Jessie tiba-tiba tunangan dengan Leo sahabatnya di Perancis. Jika ini drama FTV, Jhonathan ingin mengakhiri hidupnya saat itu dan Dheo lah satu-satunya dari orang terdekat yang menyaksikan hal itu di kehidupan nyatanya saat usianya masih muda. Kenyataan hidup yang memang kadang mengerikan seperti dalam drama dan juga tidak pernah di terka akan terjadi di kehidupan salah satu keluarganya.

Jhonathan hampir gila. Tidak, bahkan gila. Ia gila, di saat ia bekerja keras mengharapkan semua keinginan nya dan usahanya dapat berjalan lancar, kini malah hancur berantakan, uangnya diambil, bahkan orang yang ia cintai meninggalkannya, keluarganya juga meninggalkannya, tidak ada lagi yang bersamanya dan tak akan rugi jika berpikir untuk mati. Bertanya-tanya, siapa yang patut menjadi sandarannya? Apa akan berujung pada tambang yang bergantung? Atau jembatan di Ciliwung? Banyak opsi untuk mengakhiri hidupnya.

*

*

*

Mengingat masa lalu pahit Jhonathan, sebagai seorang yang tidak menginginkan Jhonathan tersakiti Dheo benar-benar muak dan merasa sedih teramat dalam. Wajah kurus serta kusam Jhonathan beberapa tahun lalu benar-benar menjadi trauma bagi memorinya yang tidak ingin melihat hal seperti itu lagi. Ia bahkan meminjamkan pada Jhonathan tabungannya untuk membayar hutang itu. Uang bukan menjadi masalah untuk Dheo setelah melihat penderitaan Jhonathan itu. Asal bisa melihat sepupunya sehat dan menjadi seorang yang bersemangat seperti yang ia idolakan dulu, sudah lebih dari cukup bagi Dheo.

Dheo nampak melihat Jhonathan dan Linia yang baru saja kembali dari kunjungan bisnis dari jarak sedikit jauh karena ia juga baru kembali dari café. Setidaknya, saat ini walaupun Jhonathan belum sepenuhnya seperti dulu, ia memiliki seseorang yang dapat menyesuaikan dengan Jhonathan selain diri Dheo.

"Linia luar biasa sekali." guman pria berkacamata itu.

"Haatcchhii!!!" Linia yang baru masuk ke dalam lift tiba-tiba saja bersin.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Jhonathan.

Kebetulan hanya mereka berdua yang berada di dalam lift. Jika ada orang lain, jangan harap Jhonathan mau menegur, menoleh saja mungkin enggan. Pikir Linia.

"Saya hanya merasa ingin bersin, itu saja." jawaban sederhana dari Linia dan mengunci arah pembiaraan mereka berdua. Membunuh suasana juga.

"Syukurlah tadi pak Ken tidak terlalu mempermasalahkan. Benar-benar seorang yang santai seperti Dheo." timpal Linia.

"Saya tahu itu, maka tidak perlu khawatir."

"Awalnya saya kira bapak tidak sadar."

"Bagaimanapun juga, itu kesalahan saya bawa kamu terlibat." timpal Jhonathan.

Ting!

Mereka tiba di lantai tempat mereka bekerja dan kembali seperti atasan dan sekretaris biasa tanpa mengingat adanya percakapan santai antara mereka.

Tik.

Tik.

"Lelahnya." sungut Linia saat ia baru saja mematikan komputernya dan menyusun barang-barang pekerjaannya dan baru tersadar jika ia lembur lagi hari ini. Suasana kantor sudah sepi dan gelap di luar gedung. Pantas saja jika Linia merasa lelah yang teramat sangat.

Pandangan wanita itu teralihkan pada ruangan kaca tempat Jhonathan berada dan pria itu nampak tertidur. Linia menghela napasnya, mau tak mau ia harus membangunkan atasannya. Terlebih Linia tidak ingin direpotkan di saat ia lelah seperti ini.

Melihat wajah lelah Jhonathan saat tertidur itu sedikit membuat Linia gugup dan merasa kasihan. Wajahnya yang dikatakan tampan oleh rata-rata karyawati di kantor juga bisa berantakan seperti ini. lihatlah kantung matanya itu, dengkuran halusnya, juga ekspresi lucu karena tidur di posisi duduk seperti itu. Linia ingin tertawa namun saat mengingat jika ia tidak sopan sekali saat seperti ini. terlebih jika dipikir, disini ada cctv.

"ngghh, aku tertidur.."

Linia hampir melompat karena terkejut dengan suara serak Jhonathan yang baru bangun itu. Begitu juga Jhonathan, di keadaan setengah sadarnya ia melihat Linia, memastikan jika penglihatannya benar.

"Linia! Sejak kapan kamu disini!?" nyatanya Jhonathan lebih terkejut di banding Linia.

Wanita itu mengatur ketenangan nya dan tersenyum canggung.

"Saya mau bangunkan bapak. Takutnya nanti malah sakit kalau bapak tidur dengan posisi seperti itu." jawab Linia canggung.

Jhonathan memperbaiki posisi duduknya.

"Saya tidak apa-apa. Kalau pekerjaan mu sudah selesai, kamu boleh pulang."

"Lho, bapak belum pulang?" tanya Linia.

"saya masih banyak yang harus saya kerjakan." ujar Jhonathan.

Linia memandang Jhonathan dengan pandangan tidak senangnya. Namun, tidak mungkin ia membantah.

"Ada yang bisa saya bantu pak? Siapa tahu bisa cepat selesai." tawar Linia sembari meletakkan kembali tasnya di atas meja tamu.

"Eh, tidak perlu."

Sebelum Jhonathan melanjutkan ucapannya ia sudah duluan merasa aura sudah tidak enak dari Linia padahal wajah wanita itu hanya tersenyum tipis.

Mau memaksakan diri lagi dan merepotkan orang lain? –Linia

Kenapa perasaanku tidak enak? –Jhonathan

"Baiklah, saya rasa tidak ada. Kamu bisa pulang, saya juga mau pulang." ujar Jhonathan sembari mematikan komputernya membuat Linia merasa geli. Mungkin kali ini baru ada sekretaris yang lebih menyeramkan dari atasan, bgitu pikir Jhonathan.

"Kalau begitu saya pulang dulu." ujar Linia sembari meraih tasnya lagi.

"sudahlah kamu suruh saya pulang, kamu malah mau meninggalkan saya sendirian, begitu?"

Eh? Linia tidak jadi keluar dari ruangan karena ucapan Jhonathan. Linia baru ingat kalau Jhonathan itu penakut. Apalagi kantor sudah sangat sepi karena semua karyawan sudah pulang.

"Ya sudah saya tunggu." ucap Linia.

"Kamu itu pandai bikin orang merinding ya Linia." ujar Jhonathan saat mereka sudah berada di lift.

Linia melirik pria tinggi di sampingnya ini dengan pandangan bingungnya. Mungkin karena tidak biasanya orang mengatakan hal itu padanya.

"Eh, saya manusia lho pak." timpal Linia polos.

"Bukan itu yang saya maksud!!" protes Jhonathan.

Linia nampak menahan tawa karena berhasil menggoda atasannya.

"Malah tertawa pula." cibir Jhonathan.

Linia tersenyum geli. Jarang sekali mendengar Jhonathan mencibir seperti itu.

"Kalau lelah enaknya tertawa pak biar ril-."

Brak!

Hening seketika.

"Pak!!" jerit Linia kaget saat lift tiba-tiba saja berhenti dan mati lampu.

Linia benar-benar kaget begitu pula Jhonathan. Terlebih situasi seperti ini dimana Linia langsung refleks menyentuh lengan kemeja panjang yang Jhonathan gunakan. Lift yang mereka berdua naiki tiba-tiba berhenti bergerak dan lampu nya mati secara tiba-tiba. Situasi macam ini! Linia nampak ketakutan karena kaget dan Jhonathan bingung harus bagaimana terlebih ia juga penakut namun ia adalah laki-laki disisi lain.

"Te-tenanglah Linia., saya di sini." ujar Jhonathan berusaha menenangkan.

Linia tersadar lalu melepaskan genggamannya. Berusaha tenang dan menekan tombol darurat yang ada di lift.

"Saya akan menghubungi bagian security." ujar Linia sembari mencari ponselnya dengan jemari bergetarnya itu.

Samar-samar Jhonathan melihat ada yang tidak beres dengan sekretarisnya itu, namun ia tidak tahu apa yang mengganjal.

Bruk!

"A-aduh!!" bukannya meraih ponselnya, Linia malah menjatuhkannya dan langsung panik meraba lantai demi mencari ponselnya.

Jhonathan yang merasa tidak beres langsung meraih ponselnya dan menyalakan senter dan betapa terkejutnya pria itu melihat ekspresi pucat Linia dengan tubuhnya bergetar terduduk di lantai demi mendapatkan ponselnya. Jhonathan mengerti, wanita ini pasti takut akan gelap atau terjebak di ruang sempit seperti ini.

"Linia?! Kamu tidak apa-apa?" tanya Jhonathan panik dan langsung mengguncang pelan kedua bahu wanita itu.

Jemari Jhonathan dapat merasa betapa hebatnya tubuh Linia yang bergetar karena ketakutan seperti ini. ia bukan seperti yang biasanya.

Grep!

Linia kembali meraih lengan kemeja Jhonathan dan kali ini lebih erat dari yang tadi. Wajahnya menatap Jhonathan dengan senyum getirnya mengatakan seolah semua baik-baik saja. Bagaimana bisa pria itu artikan bahwa wanita di hadapannya baik-baik saja. Untuk seorang yang suka menggoda seperti Linia, sungguh tidak terduga jika ia kan ketakutan seperti ini.

"Baik-baik saja, saya hanya sedikit panik."

Ia mengatakan baik-baik saja, namun Jhonathan dapat merasa jika lengan kemejanya semakin terik dan kusut.

"Tenanglah, saya di sini bersama kamu."

Jhonathan tidak bisa mengatakan apa-apa selain itu. Ia tidak mungkin ikutan panik dan ketakutan saat Linia seperti ini.

Brak! Ting!

Seketika AC lift beroperasi dan lampu pun menyala sehingga terlihat jelaslah raut wajah masing-masing manusia di dalam lift itu. Linia dengan wajah panik dan ketakutannya sementara Jhonathan dengan wajah kebingungannya. Tersadar akan situasi yang sudah kembali normal membuat Linia melepaskan cengkramannya pada lengan kemeja panjang milik Jhonathan. Begitu pula Jhonathan, langsung membantu Linia berdiri seperti semula.

Suasana ini aneh, kira-kira sekitar lima menit mereka terjebak didalam lift yang macet karena mati lampu. Masing-masing merasa canggung dan kebingungan. Kenapa harus terjadi seperti tadi?

Huwaaa!! Aku malah terlihat lemah seperti itu di depan pak Jhonathan. Bagaimana ini? Jantung ku tidak bisa berdetak secara normal. Aku begitu gugup. -Linia.

Ke-kenapa aku bisa menyentuhnya seperti itu tadi? Martabatku sebagai atasannya ia pasti jadi menganggapku aneh. –Jhonathan.

Sepasang manusia itu masing-masing tidak berani menatap satu sama lain dan berkutat dengan pemikiran masing-masing. Linia memegang erat tasnya dan diam, kebingungan serta salah tingkah. Kehangatan keberadaan Jhonathan bahkan terasa sangat hangat dan membuat Linia sedikit menggeser posisinya sedikit. Menyadari tingkah Linia, laki-laki itu tak ingin ambil pusing dan diam saja dalam pemikirannya.

Kediaman keluarga Jhonathan.

Suasana makan malam yang begitu tenang menyelimuti rumah megah ini. Karlina sebagai menantu perempuan disitu dengan cekatan menata meja dibantu oleh asisten rumah tanggga nya.

"Jhonathan tidak pulang kesini?" seorang wanita tua muncul ke ruang makan dengan buku bacaannya yang nampak berat itu.

"Mama sudah tau kan kalau Jho sudah tinggal sendirian."

Kini putranya, ayah Jhonathan yang sudah duduk di kursi menyambut perkataan ibunya.

"Haahh, memikirkannya membuat napas ku pendek saja." sungut Ratna.

Karlina nampak tersenyum lembut.

"Dia baik-baik saja ma." ujar karlina sembari memberi piring untuk mertuanya itu.

Ratna nampak memicingkan matanya pada menantu yang selalu merawatnya itu.

"Kau ibunya kenapa tidak nampak khawatir? Mengingat ia pemilih, membuatku tidak bisa tidur. Apakah ia makan dengan benar."

"Tenang saja ma,Jho banyak dikelilingi orang baik."

"Aku tidak yakin bagaimana baiknya di matamu. Jho juga sudah cukup umur untuk menikah, kenapa ia masih betah sendiri padahal jika ia mau aku bisa membantunya." sungut nenek Jhonathan itu.

Ayah dan ibu Jhonathan hanya bisa tersenyum dan memulai kegiatan makan malam mereka. Dalam hati pun, apa yang mereka pikirkan persis dengan yang barusan di ucapkan itu. Siapa yang tidak ingin melihat anak bahagia? Hanya saja, mereka memutuskan untuk memberi Jhonathan ruang. Tidak selalu segalanya harus diputuskan oleh orang tua lagi. Pemikiran anak mereka sudah jauh lebih dewasa dan matang. Tidak mungkin tidak memikirkan tentang apa yang harus dilakukan kedepannya.

Tes.

Tes.

Tes.

Linia terus menatap jendela besar di ruang kantornya yang basah karena guyuran hujan diluar. Hari begitu gelap dan dingin. hujan turun begitu derasnya dari pagi hingga menjelang sore seperti saat ini. udara begitu dingin menyapu kulit Linia namun, wanita itu suka dengan kesejukan yang tercipta ini. sudah lama ia tidak melihat hujan selebat ini. walaupun ia harus kerepotan berangkat dari apartemennya.

"Linia, istirahat sudah mau selesai."

Teguran Elda yang berada di belakangnya membuat ia tersadar. Ia sudah lama menatap hujan. Linia suka hujan. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk melamun. Ia harus melanjutkan pekerjaannya. Jhonathan atasannya sudah meminta berkas yang harus di kerjakan.

Tok.

Tok.

"Permisi pak, saya membawa berkas yang bapak minta." ujar Linia sembari masuk membawa tumpukan dokumen untuk Jhonathan.

Melihat Linia yang masuk dengan tumpukkan dokumen yang nampak berat itu membuat Jhonathan seketika bangkit dari duduknya dan merebut semua dokumen dari pelukan Linia.

"Ini berat., kenapa kamu membawa nya semuanya sekaligus?" ujar Jhonathan sembari meletakkan tumpukan dokumen itu di atas meja tamu yang tersedia diruangannya.

Tentu saja tindakan Jhonathan membuat Linia heran bukan kepalang. Kemarin-kemarin pria ini membanjiri Linia dengan pekerjaan, sekarang melihat Linia membawa tumpukan pekerjaan berat ke ruangannya seperti orang yang tidak menerima Linia untuk melakukannya. Jadi, mau laki-laki ini apa? Linia harus bagaimana?

"Biasanya juga begini." ujar Linia bingung.

Ucapan Linia memang benar. Jhonathan menatap Linia bingung.

"Benarkah begitu?" tanya Jhonathan memastikan.

Linia mengiyakan.

"Karena memang pekerjaan saya. Bukan begitu?"

"Benarkah? Kenapa saya baru sadar?"

Linia merasa ada yang tidak beres.

"Ada masalah pak?" selidik wanita itu penasaran.

Jhonathan menatap Linia tidak percaya dan Linia menatap dengan tatapan 'gacha!' serta menunggu jawaban pria itu selanjutnya.

"Linia, kamu menyeramkan."

"Lho, kok saya yang menyeramkan pak?! Saya kan cuma bertanya." ujar Linia membela diri.

Pasalnya gelagat Jhonathan hari ini nampak sedikit aneh. Laki-laki ini bahkan beranjak dari kursi kerjanya, tidak seperti biasanya terpaku di kursi nyaman itu.

Di sisi Jhonathan ia memang sedang memikirkan sesuatu. Layar ponsel pintar di meja kerja nya menampakkan chat ia dan neneknya untuk mengundang ia makan malam hari ini. bukan masalah makan malamnya, namun arti dibalik 'makan malam' itu.

[datang makan malam hari ini, Jho. Nenek ingin mengenalkan mu dengan seseorang]

Linia memperhatikan layar ponsel yang ditunjukkan oleh Jhonathan. Ini akar membuat tingkah Jhonathan aneh dan gelisah.

"Waw, selamat pak." Ujar Linia tak bersalah dengan wajah datarnya.

"Linia!! Saya berharap kamu beri saran daripada ucapan selamat!"

Kali ini Jhonathan marah namun terlihat menggemaskan, membuat Linia menahan tawa nya. Jika ia menjadi Jhonathan pun, tidak akan mau diperlakukan seperti ini.

"Maaf pak, saya hanya ingin menyemangati. Tapi, menurut saya ada baiknya bapak datang saja. Karena nenek anda yang meminta."

Mata Linia menatap Jhonathan dan dalam keadaan diam nan bodoh ini Jhonathan juga ikut terdiam.

"Ahh!!! Kamu malah bikin saya tambah pusing!! Sana! Lanjutkan pekerjaanmu!" titah Jhonathan menyuruh Linia untuk pergi.

Sekretaris Jhonathan itu tersenyum manis dan pamit pergi dengan sopannya. Sepeninggal Linia keluar Jhonathan langsung duduk kembali dan menjauhkan ponselnya kalau bisa jauh dari pandangannya. Pria itu memijit pelipisnya yang pasti terasa sangat mumet. Ia pusing, kenapa neneknya harus bertindak sejauh ini dan membuatnya pusing.

Ting!

Sebuah pesan muncul di layar ponsel Jhonathan. Pria itu rasanya enggan untuk melihat, namun siapa tahu penting atau semacamnya. Nyatanya nama Linia yang terpampang di layar ponsel Jhonathan.

[Jika bapak memang tidak suka, hubungi nenek bapak, jelaskan kenapa bapak tidak setuju atau tidak mau. Menurut saya, hanya itu sih.. selamat siang.]

Ting!

Linia berhenti mengetik dan melihat pemberitahuan pesan di layar ponselnya.

"Aku kira beliau tidak membalas." ujar Linia sembari memberi pesan emotikon semangat pada Jhonathan saat laki-laki itu membalas 'ok'.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat dan sudah waktunya jam pulang kantor. Hari ini Linia merasa sedang dalam suasana hati yang baik karena tidak ada kata lembur. Hari ini ia pulang tepat waktu. Begitu pula Jhonathan, karena neneknya menyuruh pulang cepat, tidak mungkin ia tidak memenuhi undangan neneknya dan mencoba untuk menyelesaikan masalahnya dengan sopan. Tidak baginya untuk menolak melalui telepon.

"Lin, kamu lihat pak Jhonathan tadi? Padahal sudah pulang kerja, tapi penampilannya masih saja rapi." ujar Elda pada Linia saat mereka berjalan menuju lift.

Linia tersenyum. Tentu saja, ia begitu karena ingin pergi lagi. Linia yang sudah sering melihat Jhonathan lembur, bisa saja mengatakan jika hal itu sangat terbalik pada kenyataan. Pria itu terlihat lelah dengan wajah lesunya, kemeja yang kusut, tatanan rambut berantakan, terlebih bau keringat karena berpikir. Linia tidak bisa berpikir lebih jauh untuk mencela Jhonathan. Cukup ia saja yang tahu.

Jhonathan tiba dan memarkirkan mobilnya diparkiran sebuah restoran bergaya tradisional. Sedikit ragu awalnya, untuk pria itu keluar dari mobilnya. Namun, jika dipikir lagi ia sudah membuat neneknya menunggu lama. Jhonathan menarik napas tenang dan membuka pintu perlahan. Melangkah maju dan masuk kedalam restoran. Tak perlu menunggu waktu lama untuk menemukan neneknya dan duduk bersama seorang wanita tua dan seorang wanita muda dan cantik.

"Jho! Kamu datang rupanya nenek senang duduk dulu, Kita makan sama-sama." ujar Ratna pada salah satu cucu tersayangnya itu.

"Wahh ratna, cucu kamu sudah besar ya. Tampan, seperti kakeknya." ujar teman nenek Jhonathan memuji penampilan Jhonathan itu.

"Maaf nek, aku datang hanya untuk menjemput nenek." jelas Jhonathan dengan wajah yang ia buat sedatar-datar.

Tentu saja ucapan Jhonathan membuat orang yang mendengarnya menjadi tidak percaya. Bahkan Ratna sendiri terkejut dan langsung menatap cucunya dengan tatapan besar dan kesal. Sejak kapan Jhonathan yang selama ini manis dan penurut bisa berkata demikian?

"Kamu benar-benar bikin nenek malu di depan teman nenek dan cucunya. Nenek kesal sama kamu." ujar Ratna pada Jhonathan saat mereka sudah di jalan pulang.

Jhonathan sedikit merasa bersalah telah membuat sang nenek kesal seperti itu dan mau bagaimana lagi, dalam benaknya ia tidak ingin dijodohkan dengan cara konyol seperti ini.

"Maafkan Jho, bukannya Jho tidak ingin menikah. Tapi, Jho baru saja ingin membangun karir. Jho juga bisa mencarinya sendiri, nenek tenang saja." jelas pria itu selembut mungkin demi meluluhkan hati sang nenek.

"Kamu kira, nenek bisa luluh dan diam saja? Kamu kira, nenek buta dan tuli tentang apa yang sudah kamu alami dulu? Nenek tahu, kalau kamu ingin membangun karir. Tapi, entar kamu telanjur tua. Nanti nggak ada yang mau sama bujang lapuk." sindir sang nenek.

Jhonathan tidak bisa menahan kekehannya.

"Lho, kok malah tertawa. Nenek serius nanti kalau kamu sudah terlalu tua untuk menikah, semua wanita hanya mengincar apa yang kamu punya. Bukan dirimu sebenarnya."

Pria itu tersenyum sembari menoleh pada salah satu wanita yang ia cintai.

"Kalau begitu, Jhonathan nggak usah menikah saja."

"Hush!! Apa yang kamu katakan?!!" celetuk sang nenek sewot.

Walaupun sudah tua, Ratna masih cerewet seperti biasa, atau malah merasa semakin cerewet.

"Hehhe bercanda nek. Jhonathan nggak berencana hidup sendirian. Intinya, Jho udah ada rencana tapi tidak untuk saat ini."

"Hmmm, terserah kamu. Nenek malas ikut campur lagi. Tapi, kalau kamu dapat yang tidak sesuai kriteria nenek, nggak akan nenek setujui."

Ini terdengar seperti sedikit ancaman bagi Jhonathan.

"Ini ceritanya nyari istri untuk Jho, atau pengasuh untuk nenek sih??"

"Mulutmu!!!!"

Lagi-lagi Jhonathan hanya bisa terkekeh geli mendengar celetukan neneknya. Pria itu tahu jika neneknya begitu menyayangi dirinya, tidak ingin dirinya tersakiti seperti yang sudah ia alami, ingin terawat dan disayangi oleh orang lain selain dari neneknya. Bukankah semua orang tua begitu? Namun, Jhonathan berpikir bukan saatnya untuk itu. Kali ini, ia ingin menikmati waktu sendiriannya yang telah ia buang sia-sia pada masa lalu hanya untuk berbisnis dan tertipu. Ia sudah bertekad ingin membangun karir dan relasi dengan baik, berteman dengan baik dan mendapatkan seseorang yang baik juga. Terlebih, trauma akan masa lalu dalam hal memercayai orang lain, ia masih sulit untuk beradaptasi. Ia masih dalam langkah-langkah penyembuhan berbagai luka.

Masih belum untuk membangun sesuatu yang baru saat hal yang baru dimulai belum bisa terbiasa....

*To Be Continued*****

1
cahya.rien
segala yg dirasa rumit semakin rumit jika selalu menghindar. 😁😁😁
linia adl salah satu yg rumit itu.. 🤭
cahya.rien
waw..
᯽ᗩᗬᗴᘂᛙᚤ᯽
lanjut....
᯽ᗩᗬᗴᘂᛙᚤ᯽
awal yang baik
Rosnita Zainal Zen
lanjut thor...mantap...
Ery Fajar
Mohon ijin promote --LOVE IN A CUP OF BUBBLE TEA--🥤🍹🍵🍩🥛

Jujur, baru kali ini aku nulis genre romance. Ceritanya ga jauh-jauh dari kuliner. Buat kamu yang suka kulineran sekaligus ngayal punya pasangan romantis, wajib banget baca novelku.🤪😎


*Butuh pencerahan dan masukan dari kakak-kakak sekalian.😎😎🎉🎉
Farhan Khoiruddin
terlalu ber tele tele
dionyzeus
Hai kak! Cerita yg bagusss.. aku kasih like + rate bintang 5 loh!

Aku akan mampir lagi klo kakak mampir di karyaku "THE COLD CEO"

Aku tunggu feedback nya

Terimakasih kak!
b.e.f
hai kak, dapet salam dari Sasha & Mas Herdi di novel ^^RASANYA MENIKAH^^ 🎬🥀

kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰

#izinpromoyathor.tq
b.e.f
hai ka author aku mampir bawa rate dan vote buat karya ini.. hihi 😁
ditunggu juga feedbacknya di novel aku yah 🥰

salam dari Sasha sama Mas Herdi, RASANYA MENIKAH 🎬⚘

kaka2 readers lain intip juga yuk... kop khun ma na ka.. 💕
Lindaindut
pantes dikit chapter x , trnyata panjang bnget isi nya😆😆😆
b.e.f: hai kak, dapet salam dari Sasha & Mas Herdi di novel ^^RASANYA MENIKAH^^ 🎬🥀

kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰

#izinpromoyathor.tq
total 1 replies
Aldy Sylvian
segala sesuatunya dibikin rumit dan linia adalah karakter yg rumit
b.e.f: hai kak, dapet salam dari Sasha & Mas Herdi di novel ^^RASANYA MENIKAH^^ 🎬🥀

kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰

#izinpromoyathor.tq
total 1 replies
Aldy Sylvian
linia terlalu bodoh dengan perasaannya sendiri
Aldy Sylvian
yaelan cepet sadar ngapa kasian pak jo nya tar kumat lagi depresinya cuma kamu yg bisa nyembuhin depresi pak jo lin
Aldy Sylvian
owalah mau nembak aja pake nangis gegeruan🙈🙈🙈
Aldy Sylvian
itu ceritanya masih didalam mobil kan ya thir tapi udah minggir belum ya takut ditabrak mobil dari belakang kalo belum minggir
Nayla Husna: permisi izin promo ya kak

aku baru aja belajar bikin cerita,jadi maaf banget kalau ceritanya kurang menarik

kalau ada kritik dan saran boleh ditulis di komentar ya,nanti sebisa mungkin aku bakal ganti ceritanya sesuai dengan kritik dan saran kalian semua

"Kisah Cinta Yang Bertepuk Sebelah Tangan"

terimakasih kakak kakak
total 1 replies
Aldy Sylvian
kapan sadarnya kalo emosian mulu nih hadeuuh 🙈🙈🙈
Aldy Sylvian
setelah dapet 10 chapter saya baru ngeh kalo surai itu artinya rambut🙈🙈🙈
Aldy Sylvian
kayaknya sudah ada kapal yg mulai berlayar nih
Aldy Sylvian
Wow 1 chapter isinya puanjaaaaang buanget mantep thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!