Ettan Naraya tak pernah menyangka, jika kepulangannya ke kampung halaman untuk menjenguk adik kembarnya, berubah menjadi pernikahan dadakan untuknya.
"Bu, ngga mungkin aku menikahi Fatmala, aku punya kekasih!" ujar Ettan geram.
"Ibu mohon Ra, demi menjaga nama baik keluarga kita Nara, Fatma ... hamil," lirih Mayang.
Bak petir menyambar, Ettan terkejut mendengar penuturan sang ibu. Ia tak menyangka jika adiknya yang terlihat alim dan pemalu itu berani menghamili seorang gadis, yang tak lain adalah keponakan dari orang kepercayaan keluarga mereka.
Ettan Naraya seorang lelaki berpendirian teguh harus terjebak dalam situasi rumit kisah asmara adiknya. Terlebih lagi dia harus mengusut misteri tentang kematian adik kembarnya.
Mampukah Ettan Naraya memegang teguh prinsipnya sebagai lelaki?
Dan mebongkar kasus kematian adiknya?
Ikuti lika liku kisah mereka, jangan lupa tinggalkan Fav, like dan komen ya untuk dukung saya, terima kasih.
Follow juga
Fb:Vi Redwhite
IG :@vi_redwhite
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggantikan Adikku
Fatma terbelalak begitu mendengar ucapan Ibu. Begitu pula dengan Paman Wira.
"Tapi Bu—" ucap Fatmala yang langsung di potong oleh ibu.
"Udah kamu tenang aja, Nara mau kok nikah in kamu," ujar ibu yang membuat aku meliriknya.
Ibu balas tersenyum padaku. Paman Wira tampak melega. Raut wajah kusut sudah enyah dari wajahnya.
Inikah yang mengganggu pikirannya? Tentang Fatmala yang hamil di luar nikah? Pantas saja dia terlihat kalut.
"Ya udah kamu cepet sehat ya Fatma, jaga baik-baik cucu Ibu. Setelah kamu sehat, kita akan langsung bahas pernikahan kalian."
Begitu selesai ibu mengatakan rencana pernikahan kami, aku langsung kalut. Membayangkan menikahi wanita yang tidak aku cintai, dan tidak akan bisa aku sentuh.
Kami memutuskan pulang. Aku diam saja selama perjalanan pulang. Tak ingin berkata apa-apa pada ibuku.
Aku segera memasuki kamarku, merebahkan diri, hingga suara dering ponsel membuatku kembali bangun.
Tertera nama gadis yang sangat aku rindukan. Sherly sedang mengerjakan kuliah kerja nyata ( KKN ) di provinsi yang sangat jauh dari kota kami.
Aku sangat senang akhirnya gadis itu bisa menghubungiku, komunikasi kami agak renggang karena daerah tempat tinggal kekasihku memang sangat terpencil, jadi sinyal sangat susah di sana.
"Maaf ya Mas baru dapet sinyal," lirihnya.
Aku terkekeh gemas mendengar keluhannya. Dia pasti bersusah payah untuk bisa menghubungiku.
"Kamu lagi di mana?"
"Aku lagi di kota Mas. Aku kangen Mas," Sherly terisak di seberang sana. Membuat hatiku terasa sakit.
Sherly maafkan aku, mungkin nanti kamu akan lebih sakit lagi saat mendengar aku sudah menikah.
"Mas juga sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanyaku berusaha mengendalikan diri dari kesedihan.
"Engga," jawabannya sontak membuatku bangkit berdiri.
Jantungku bergemuruh, berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku.
Ada apa dengan Sherly? Ada apa dengan kekasihku?
"Kamu kenapa?"
Sherly lantas terkekeh mendengar pertanyaanku yang sedikit memekik itu.
"Mas ... mas, aku baik-baik aja kok. Aku cuma kangen banget sama kamu. Mas tau ngga, aku semalam mimpi buruk," ucapnya.
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi kamu ninggalin aku Mas. Sakit banget tau Mas, kamu ngga selingkuhkan Mas?" tanyanya membuatku bergeming di tempat.
Aku tidak selingkuh dalam arti menduakan dia dengan mencintai wanita lain. Tapi apa menikahi gadis lain tidak di anggap selingkuh juga? Aku tidak tahu.
"Engga sayang, cuma kamu yang Mas sayang," ucapku jujur.
Sherly itu sangat peka, aku ngga tahu apa mimpi buruknya mengartikan akan kandasnya hubungan kami suatu saat nanti?
Aku dilema. Aku sangat mencintai gadis itu, tapi masa depan keponakanku juga dipertaruhkan.
Saat akan kembali melanjutkan pembicaraan, sinyalnya kembali memburuk, suaranya terputus-putus. Hingga akhirnya hilang sama sekali.
Tapi beruntungnya, tak lama sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.
Sherly menuliskan pesan bahwa dia benci berada di kota yang membuatnya sangat merindukanku. Dia menitipkan hatinya padaku, di akhiri dengan berbagai emotikon berbentuk hati. Tak lupa dia mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku.
Saatku balas pesannya, pesanku hanya tercentang satu, mungkin sinyalnya sudah hilang, tak apalah jika nanti ada sinyal, pesan itu juga akan masuk.
Aku tertawa membaca pesannya. Bisa jadi itu adalah ucapan cinta terakhir yang akan ia ucapkan padaku.
Tidak tau bagaimana masa depan kami nanti. Apa Sherly mau menungguku sampai Fatmala melahirkan atau tidak.
Kembali kurebahkan tubuhku. Menatap langit-langit kamarku. Senyum Sherly dan tingkah manjanya yang sangat membuatku rindu.
Aku selalu menjaga gadisku, tidak pernah aku berlaku lebih padanya dari sekedar pelukan atau ciuman di kening.
Aku berguling, menopang satu kepala dengan tanganku, memikirkan Fatmala yang berani memasuki kamar Nathan membuatku mendengus.
Pantas saja dia hamil di luar nikah, ternyata mereka biasa melakukannya, terlihat dari begitu beraninya Fatmala masuk tanpa mengetuk pintu.
.
.
Keesokan paginya, aku di minta ibu untuk menjenguk Fatmala. Ibu mendengar dari Bibi Mia jika hari ini Fatmala akan memeriksakan kandungannya.
Aku sudah duduk di depan meja Dokter kandungan. Sedangkan Fatmala sudah berbaring untuk di periksa.
Terpaksa aku mengaku ayah dari anaknya. Ibu memaksaku masuk ke ruang periksa, dia sendiri menunggu di depan poly
Saat seorang perawat akan membuka kaus Fatmala sebab Dokter akan melakukan ultrasonografi padanya. Aku memalingkan wajah.
Tatapanku fokus pada layar di dekat sang Dokter. Dokter menjelaskan padaku jika kandungan Fatmala sudah berusia tujuh minggu, dan bayinya sehat.
Ada perasaan haru saat melihat keponakanku. Dokter menatapku dan salah mengartikan rasa haruku. Mungkin dia berpikir aku sangat bahagia karena itu anakku. Tak apalah, lagi pula aku sudah berjanji bahwa anak yang di kandung Fatmala adalah anakku juga, toh dia memang keponakanku.
Ternyata Fatmala sudah di izinkan pulang. Aku memilih mengurus administrasi dari pada harus berduaan dengannya di kamar inapnya.
Setelah mengantar mereka pulang, aku bergegas menuju rumah sakit tempat Nathan dulu di rawat.
Pihak rumah sakit sudah menghubungiku, bahwa hasil visumnya sudah keluar.
Aku bergegas menuju rumah sakit, sebab aku juga akan segera menuju kantor polisi.
Saat pihak rumah sakit menjelaskan apa saja luka yang di alami Nathan, aku yakin adikku tidak meninggal karena kecelakaan, melainkan dia di bunuh.
Bergegas aku mendatangi kepolisian di daerah tempat Nathan kecelakaan. Dari pihak rumah sakit juga menjelaskan jika pihak kepolisian di daerah itulah yang membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya aku di kantor kepolisian, aku segera menuju tempat pelaporan.
"Siang Pak, maaf, saya mau tanya mengenai korban kecelakaan atas nama saudara Nathan Baraya, di mana ya?"
"Siang. Oh, pemuda yang di temukan di bantaran kali ya Mas. Mari mas saya antar," ucap petugas polisi yang aku temui.
Aku lantas di tunjukan pada seorang petugas penyidik. Saat aku bertanya tentang Nathan, sang polisi segera mengerti dan membuka berkasnya.
Aku bertanya bagaimana kondisi saat adikku di temukan. Polisi tadi menjawab, jika mobil yang di kendarai adikku masuk ke sungai, polisi juga menjelaskan jika Nathan masih hidup, oleh sebab itu pihak kepolisian bergegas membawanya ke rumah sakit.
Dia di temukan oleh warga yang akan menuju sawah. Saat itu pihak kepolisian menduga jika Nathan kecelakaan karena dalam keadaan mabuk. Tapi tubuhnya di temukan penuh luka.
Karena Nathan masih hidup jadi tidak ada penyelidikan lebih lanjut. Pihak kepolisian menunggu Nathan sadar, untuk di mintai keterangan. Namun ternyata Nathan menghembuskan napas terakhirnya. Jadi pihak kepolisian hanya bisa menunggu keluarga korban melaporkan balik.
Aku menyerahkan hasil visum dari rumah sakit tempat Nathan di rawat.
Di sana jelas tertulis jika tubuh Nathan tidak terdapat alkohol atau pun obat-obatan terlarang.
Tapi seluruh luka yang di alaminya, Dokter mengatakan jika Nathan mengalami berbagai hantaman benda keras di tubuhnya.
"Baik Mas, kami akan selidiki lebih lanjut, mungkin kami akan berkoordinasi dengan kepolisan tempat tinggal korban."
"Terima kasih Pak, bisakah saya melihat di mana mobil adik saya?"
"Boleh Mas, silahkan ikut kami."
Kami menuju ruangan lain yang lebih terbuka. Di sana banyak terdapat motor dan mobil yang sudah hancur.
Polisi tadi menunjukan kondisi mobil Nathan yang sudah hancur.
"Apa ngga ada barang-barang peninggalannya Pak?"
"Ada Mas, silahkan mengisi formulir untuk mendapatkan barang korban."
Polisi tadi mengantarku ke sebuah ruangan untuk aku mengambil barang peninggalan adikku.
.
.
.
Tbc.
itu lh q suka nya klw bc novel yg udh end ...
bisa bc terooosss smpe siapp