COVER FROM PINTEREST
"Perjanjian? Perjanjian apa?” tanya Jasmine tak menyangka kalau pernikahan yang sangat ingin dia lakukan seumur hidup sekali ini harus serumit ini.
“Aku sudah membuat semua keinginanku. Jadi, giliranmu untuk membuatnya. Kalau sudah selesai, segera berikan padaku. Kau boleh menulis apapun yang kau mau dalam 5 poin saja dan itu pun tidak boleh bertentangan dengan poin yang sudah aku buat untuk dirimu. Silakan pikirkan dulu baik-baik. Jika sudah, mari kita sepakati bersama dan tanda tangani. Jika salah satu dari kita melanggar, maka ada hukumannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Lamaran
Apa yang Laura lakukan untuk adik iparnya adalah hal yang membuat wanita hamil itu tersenyum bahagia. Dia masih mengingat bagaimana Jordan mencintainya, tapi Laura tidak bisa menerima cinta itu dengan baik karena di hatinya bukanlah Jordan. Dia mencinta Endra, hanya Endra, sampai kapan pun hanya ada Endra di hati dan pikirannya. Bersyukur, malam itu datang. Endra mabuk berat dan semuaya terjadi begitu saja.
Paginya, Endra sama sekali tidak berteriak menyesal. Dia malah menyatakan cintanya pada Laura membuat wanita itu terharu. Dia sangat bahagia, hingga tak peduli apa yang akan terjadi pada mereka. Bagi Laura, mendapatkan pernyataan cinta dari pria yang dia cintai sepanjang hidupnya adalah hal yang terbaik. Apalagi dapat mengandung anak dari Endra, dia tidak pernah membayangkan itu karena akhirnya hidup Endra terikat dengannya.
“Bagaimana?” tanya Laura pada Jasmine yang tengah memandang dirinya sendiri di depan cermin.
Jasmine nampak kebingungan melihat dirinya sendiri karena di sana…, dia nampak seperti orang lain. Cantik. Tentu saja!
Tapi bukan itu yang Jasmine pikirkan. Jasmine berpikir apa yang sedang ia lakukan? Untuk apa dia berdandan cantik seperti ini? Toh, pria itu tidak akan memujinya. Dia justru akan membuang wajahnya untuk mengabaikan Jasmine.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Jasmine pada Laura karena punggungnya terbuka dan terlihat kalau dia seperti wanita yang benar-benar akan menikmati malam ini.
Pastinya akan berbanding terbalik dengan perasaan pria yang nantinya akan datang meminangnya menjadi istri. Jordan pasti akan memasang raut wajah marah, dengan kerutan di dahinya dan tentu urat-urat yang berkumpul di rahangnya.
“Menurutku tidak. Ini sangat bagus untukmu. Lihatlah, kau sangat cantik,” puji Laura, calon kakak iparnya itu. Jasmine yakin mengatakan kalau Laura akan menjadi kakak iparnya karena cincin yang Laura pakai di jarinya sama seperti yang Endra pakai. Mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah ketika keponakannya lahir.
“Aku masih takut, Kak. Kalau dia benar-benar tidak melirikku malam ini sebagai seorang wanita. Apa kau kira hubungan kami akan baik-baik saja?” tanya Jasmine dan Laura menyentuh punggung terbuka Jasmine dengan ke dua tangannya.
Laura menepuknya perlahan mencoba memberi energi positif pada Jasmine. Lalu, ibu hamil itu berbicara pada Jasmine dari cermin seraya menyingkirkan rambut adik iparnya yang panjang ke belakang
“Jangan pikirkan hal-hal yang negatif. Kau harus banyak berusaha dan berdo’a agar hubungan kalian baik-baik saja,”ucap Laura dan itu kata-kata yang entah ke berapa kalinya Jasmine dengar dari bibir Laura maupun Endra.
“Kau tahu? Cintaku tak pernah Endra anggap bertahun-tahun lamanya kami bersahabat dan ketika aku sudah bersama dengan yang lain. Memang hati pria itu lebih keras dibanding kita para wanita, tapi aku selalu yakin kalau batu itu akan hancur juga dengan air yang terus menetesinya setiap hari. Itu semua hanya tentang waktu, Sayang. Mungkin aku mendapatkan cinta Endra dengan kurun waktu yang cukup lama, tapi itu karena Endra yang terus menjauhiku. Aku sedikit yakin kalau Jordan pasti bisa mencintaimu lebih cepat. Semua memang hanya tentang waktu.”
Inilah kata-kata yang tidak pernah Jasmine dengar. Setidaknya memang begitu. Semua yang terjadi di dunia ini memang hanya tentang waktu. Kalau tidak sekarang, mungkin besok. Jika tidak besok, mungkin lusa dan waktu-waktu tertentu yang tak pernah manusia tahu, karena semuanya sudah menjadi rahasia sang pencipta.
“Baiklah. Ganti bajumu. Ayo kita ke salon. Kau harus tampil cantik malam ini,” ucap Laura pada Jasmine.
Jasmine pun mengangguk dan segera membawa baju gantinya ke kamar mandi di ruang kamar Laura.
[…]
Jasmine memperhatikan tangannya sendiri. Dia meremasnya berulang kali dan meskipun AC yang melingkupi dirinya. Dia merasa kalau tidak sedang baik-baik saja. Di lantai bawah, calon suaminya sudah datang bersama keluarga yang selama ini memenuhi warna hidupnya yang hitam setelah orangtuanya meninggal dan Jasmine benar-benar tidak bisa mengurangi kekhawatirannya.
Jasmine sekali lagi meremas-remas tangannya dan suara pintu kamarnya terdengar diketuk. Wajah Greta terlihat tersenyum ke arahnya dari pintu terbuka.
“Sayang,” ucap Greta pada calon menantunya itu dan Jasmine segera menghampiri Greta, memeluknya erat.
“Mama,” Jasmine entah kenapa ingin menangis, tapi dia masih bisa menahannya dan tidak terus terang untuk mengatakan bahwa dia takut.
“Kau cantik sekali, Sayang.” Puji Greta pada Jasmine melepas pelukannya dan memperhatikan Jasmine dari atas hingga ke bawah.
Jasmine pun menundukkan wajahnya merasa malu dipuji, tapi Greta memegang bahu Jasmine.
“Ayo, Sayang. Calon suamimu sudah menunggu di bawah,” ucap Greta seperti sedang menyemangati Jasmine. Padahal Jasmine sungguh khawatir. Apa kiranya yang akan Jordan katakan padanya jika melihat Jasmine berpakaian seperti ini.
Namun Jasmine menguatkan dirinya untuk lebih percaya diri. Apapun yang terjadi nanti. Dia tetap harus bersikap menjadi wanita yang kuat. Dia harus menjadi wanita yang mampu menghadapi semua cobaan yang akan dia hadapi di depan nanti.
Jasmine turun dari lantai dua rumahnya bersama Greta. Wanita yang akan menjadi mertuanya ini sudah lama dia kenal dan Greta adalah pengganti mendiang ibunya yang meninggal karena kecelakaan. Bagi Jasmine sendiri keluarga Jordan sudahlah menjadi bagian hidupnya setelah dia kehilangan orangtuanya dan sekarang kalaupun Jasmine akan menikah dengan Jordan, tentu saja Tuhan sudah memberinya hadiah.
Jasmine melihat Jordan yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Jasmine tahu kalau akhirnya memang akan seperti ini. Ingin seperti apa juga, akhirnya Jasmine harus merasakan betapa sakitnya ditatap dengan wajah tidak suka calon suaminya.
Jasmine duduk tepat di sebelah Endra. Kemudian tak mau mengangkat wajahnya. Jasmine pasrah hanya mampu menundukkan kepalanya.
“Kau cantik sekali, Nak.” Puji Ben begitu Greta duduk di samping Ben dan menggenggam tangan Ben.
Greta tersenyum begitu pula dengan Ben yang menolehkan kepalanya ke arah Greta.
“Bukankah sangat cocok dengan anak kita?” Tanya Greta pada Ben.
“Tentu saja,” ucap Ben lalu Ben memperhatikan Jordan yang begitu tak bisa diajak kompromi. Ben tahu kalau anakny ini tak sungguh-sungguh berkeinginan menikahi Jasmine, tapi Ben yakin bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk Jordan, karena menurut Ben sendiri. Jasmine dan juga endra bukanlah orang yang harus dia ragukan lagi untuk menjadi bagian keluarganya.
“Baiklah. Jadi kedatangan kami ke sini, ingin melamar Nak Jasmine untuk anak saya Jordan. Kalau pun tidak keberatan. Nak Endra sebagai wali Jasmine. Apakah mengizinkan Jasmine untuk menikah dengan anak saya,” ucap Ben dengan gagahnya. Kalaupun dulu dia menjadi posisi Jordan. Sekarang dia bisa menjadi seorang Ayah sesungguhnya.
Terlihat Endra yang meraih tangan adiknya yang menunduk. Endra mencoba memberi energi yang bagus untuk Jasmine sehingga Jasmine mau mengangkat wajahnya untuk melihat Jordan yang kini tak lagi menatapnya tak suka.
“Saya ingin yang terbaik untuk Adik saya, Pa, Ma,” ucap Endra seraya memperhatikan mereka satu persatu. Seakan-akan Endra memberi kesaksiannya bahwa dia ingin adiknya benar-benar jatuh ke tangan yang tepat.
“Kalau pun ada orang yang memang bisa membahagiakan Adik saya. Saya akan memberikannya dengan segenap hati saya karena tanggung jawab saya pada akhirnya akan berpindah ke suaminya, tapi semuanya akan saya serahkan pada Jasmine karena Jasmine yang akan menjalaninya.” Ucap Endra seraya menoleh ke Jasmine dan Jasmine pun ikut menolehkan kepalanya ke arah Endra.
Jasmine seperti menangkap kesedihan di sorot mata kakaknya. Endra memang kakaknya yang bertanggung jawab dan menurut Jasmine sejauh ini Endra sudah melakukan yang terbaik untuk hidupnya. Bahkan semenjak orangtuanya meninggal. Endra sudah menjadi kakak, Ibu sekaligus Ayah untuk Jasmine. Tak terasa air mata Jasmine pun menetes.
Dipikirannya mulai memikirkan sesuatu tentang Jordan. Erdan dan Laura memang benar. Kalau pun Jordan tak mencintainya. Setidaknya, dia bisa membuat Jordan jatuh cinta padanya dan kalaupun Jordan masih juga tak bisa mencintainya. Maka saat itulah Jasmine akan mundur, tapi setidaknya Jasmine mencoba dulu dibanding dia mundur sebelum peperangan dimulai.
“Aku mau,” ucap Jasmine mantap dan itu menyebabkan semuanya menghela nafasnya, tapi tidak untuk Jordan. “Aku menerima lamarannya,” tegas Jasmine. Pria itu malah menatap Jasmine dengan tatapan bencinya. Namun Jasmine yakin, setelah ini tidak akan tatapan seperti itu lagi. Dia akan mencoba untuk membuat hati Jordan lembut kembali seperti semula dia mengenal seorang Jordan.
“Baiklah, mungkin lebih baik kita menentukan hari pernikahannya dan kalau bisa kita lakukan secepatnya. Mungkin jika dari pihak kami, kami tidak ingin pesta yang begitu megah. Cukup mengundang orang-orang terdekat dan pesta secukupnya saja dengan keluarga.” Ucap Ben dan Endra setuju. Dia pun inginnya seperti itu.
Pembicaraan pun menjadi lebih ringan ketika Greta yang merancang semua acaranya. Greta bilang, dia ingin acaranya lebih kekeluargaan saja dan Endra ikut memilih tanggal yang tepat untuk Jasmine menikah. Itu dikarenakan Endra tidak mau tepat detik-detik Laura ingin lahiran. Dia malah sibuk mengurusi dan membantu Jasmine megurusi acara pernikahannya.
beda banget arti engsel & handle🙏🙏
Kan endra mmg sengaja ngajak Laura utk dioerkenalkan ama Jordan spy dia bisa bebas Dari Laura 🤔
udh lama nunggu nya😭😭