"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ketukan Tengah Malam
"Ibu, ini keranjang yang akan dibawa ke kediaman Nyonya Lodya seperti biasa. Ibu jangan lupa lewat pintu belakang, ya," bisik Anna seraya menyerahkan sebuah keranjang yang ditutup kain linen tebal jelek dibagian luar kepada Marry.
Marry mengangguk cepat dengan raut wajah waspada. "Tenang saja, Nak. Ibu akan berpura-pura menjadi pengantar kue seperti kemarin. Nyonya Lodya juga sudah berpesan agar pengiriman syal dan sapu tangan ini harus rahasia, jangan sampai ada yang tahu."
"Hati-hati, Bu."
Beberapa jam kemudian, pintu dapur berderit pelan. Marry kembali dengan napas sedikit terengah namun seulas senyum lega terukir di wajah paruh bayanya. "Anna, semua barangnya sudah diterima. Nyonya Lodya bahkan bilang para baroness sangat mengagumi kelembutan kainnya," lapor Marry antusias seraya meletakkan bungkusan kecil koin emas di meja.
Anna tersenyum lega, hatinya menghangat melihat ibunya kembali dengan selamat. "Syukurlah, Ibu. Terima kasih banyak. Sekarang Ibu istirahatlah, sup ayamnya sudah matang. Ayo kita makan siang bersama. Sepertinya Ayah membuat sup ayam yang lezat hari ini."
Di meja makan, ketiganya menikmati kebersamaan yang intim. Paul sesekali menyendokkan kuah hangat ke mulutnya dengan lahap, sementara Anna mendengarkan cerita ibunya tentang kemegahan kediaman bangsawan dengan penuh binar. Rasa cemas akibat intimidasi Guild seolah menguap begitu saja digantikan kehangatan sup ayam dan kasih sayang keluarga yang tulus.
Sepanjang minggu itu, Anna benar-benar hidup dalam dua dunia yang saling bertolak belakang demi menyelamatkan keluarganya dari jerat denda Guild Borjuis. Seolah semesta sudah menyiapkan solusi di tiap masalah yang dia hadapi, akhir-akhir ini.
Di sore hari, ia menyiasati keadaan dengan memborong kain perca sisa dari satu rumah penjahit ke penjahit lainnya walau dari pihak penjahit diberi gratis tapi Anna selalu menyelipkan 10 koin perak yang buat mereka itu sudah sangat banyak. Mereka sangat berterima kasih karena Anna mau mengambil limbah mereka sukarela. Kain cacat tak terpakai dari berbagai penjahit kecil di pinggiran kota itu akan diangkut Paul ke dalam pedati tua mereka.
"Nak, apa ini masih kurang? Sudah hampir penuh pedati kita," ujar Paul sambil menyeka keringat di dahinya, menatap tumpukan perca berwarna-warni yang menggunung dalam karung-karung.
"Untuk hari ini, aku rasa ini cukup, Yah untuk dua hari kedepan."
"Kain-kain ini akan kamu apakan, Anna?" tanya Paul pada akhirnya karena selama ini dia tidak pernah menjumpai kain dan karya dari Anna dari tambalan kain-kain perca. Semua nampak cantik dan baru di matanya.
"Aku cari kain yang masih bagus untuk aku gunakan, Ayah," jawab Anna berdalih sembari tersenyum misterius.
Paul tidak bertanya lagi. Sebagai seorang mantan Ksatria, dia yakin dengan firasatnya kalau Anna menyembunyikan sesuatu yang besar dan magis. Namun, dia memilih hanya menunggu, dimana Anna sendiri nanti yang bercerita padanya.
"Terima kasih, Ayah untuk hari ini," ucap Anna tulus sambil menepuk lengan kekar Paul.
Setelah makan malam selesai, Anna izin naik ke kamarnya, menunggu waktu untuk Marry dan Paul masuk ke kamar mereka sebelum dia diam-diam menuju ruang bawah tanah dengan membawa semua peralatannya seperti malam-malam sebelumnya.
Kini, kain-kain sampah itu dia sebar di lantai gudang yang bersih. Jemari lentiknya menata potongan kain tersebut berdasarkan corak dan warna yang dia mau, lalu dimurnikan menggunakan Thread Magic miliknya menjadi lembaran kain mewah beraroma mawar yang sangat halus. Produk fashion premium ini langsung didistribusikan secara rahasia ke rumah Baroness Lodya besoknya untuk memenuhi pesanan mandiri para wanita bangsawan yang telanjur ketagihan dengan produk-produknya.
Kegiatan malam hari, menurut Anna jauh lebih mendebarkan. Dia tadi juga sempat menggunakan sebagian koin peraknya untuk membeli beberapa gulung kain katun polos yang diproduksi oleh pabrik rumahan dengan kualitas rendah. Di dalam kesunyian gudang bawah tanah, Anna mengubah lembaran kain tersebut menjadi lembaran kain premium, lalu mengirimkannya langsung kepada Valen lewat riakan cermin. Untuk transaksi pasar suci ini, Anna menggunakan nama sandi barunya yaitu "Ruby"—sebuah nama yang ia pilih secara spontan dari salah satu nama aslinya demi mengaburkan jejak identitas dari pelacakan Mana.
***
"Bagaimana perkembangan tabungan kita, Ayah?" tanya Anna saat mereka berkumpul di ruang tengah setelah makan pagi esok harinya.
Paul mengangkat sekotak kayu usang, memperlihatkan isinya yang kini telah sarat akan pundi-pundi koin emas dan perak menumpuk disana. "Sangat luar biasa, Anna. Hasil penjualan karya-karyamu pada Nyonya Lodya membuat keuangan kita melonjak drastis. Jika situasi ini bertahan dua minggu lagi, kita tidak hanya bisa melunasi denda Guild, tapi juga punya cukup modal untuk menyewa sebuah rumah toko resmi di distrik ini."
"Rumah toko sendiri yang aman dari jangkauan lintah darat Guild Borjuis," gumam Anna dengan mata berbinar penuh harapan.
Namun, di luar dinding rumah panggung mereka, badai yang sesungguhnya sedang mengintai.
Hingga tibalah malam hari Sabtu, tepat beberapa jam sebelum bazar minggu ketiga dimulai.
Anna baru saja menghela napas lega di dalam gudang bawah tanah. Transaksinya dengan Valen baru saja selesai, dan permukaan cermin tua itu telah kembali mengeras menjadi kaca tua. Dengan tubuh yang didera rasa lelah namun ada rasa puas, Anna merapikan peralatannya lalu melangkah naik ke ruang tengah untuk beristirahat.
TOK! TOK! TOK!
Langkah kaki Anna seketika membeku di anak tangga teratas. Sebuah ketukan mendadak terdengar dari arah pintu depan rumah mereka. Ritme ketukan itu sangat lambat, berat, dan memancarkan tekanan intimidasi yang luar biasa kuat hingga membuat udara di dalam ruangan terasa menipis.
Paul yang sudah beristirahat langsung membuka pintu kamar. Matanya menajam saat ia menyambar kapak penebang pohon besarnya dengan siaga. "Siapa yang bertamu selarut ini?"
Anna meletakkan barangnya segera di kamar dan bergegas turun setelah memakai pelindung kepalanya.
"Ayah, jangan buka pintunya dulu," bisik Anna dengan wajah yang mendadak pias.
Firasat buruknya kembali berteriak. Dengan gerakan yang sangat pelan dan tanpa suara, Anna melangkah mendekati jendela kayu depan. Ia menyibak sedikit celah kain tirai rumahnya, lalu mengintip ke arah halaman luar yang diselimuti kegelapan malam.
DEG!
Mata perak Anna membelalak panik, dan napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Di bawah siraman cahaya bulan yang samar, berdiri sesosok pria tinggi tegap dengan postur tubuh yang luar biasa tegap. Pria itu mengenakan jubah beludru hitam yang berkilat diterpa cahaya malam.
"Siapa, Nak?"
"Siapa yang bertamu malam-malam?" tanya Marry yang ikut keluar dari kamar.
lanjut yaaaaa