Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Obrolan mereka mengalir dengan seru, saling bertanya tentang diri dan kegiatan masing-masing.
" Kamu beneran gak punya pacar?"
" Kenapa? Kamu tidak percaya?"
Nasha mengangguk, " Kamu terlalu tampan untuk menjadi jomblo, aku hanya tak mau jika nanti kita mulai dekat dan serius, ada seseorang yang mengaku menjadi pacarmu marah dan menyerangku."
Arfan terkekeh, " Tenang saja, tidak akan ada yang menyerangmu."
" Apa kau tidak menyukai perempuan?"
Arfan mendelik, " Sembarangan. Tidak punya pacar bukan berarti saya penyuka sesama jenis."
Nasha terkekeh, "haha, itu kan dugaan aku saja. Syukur kalau begitu."
Tak lama dari itu, Nasha memutuskan untuk pulang dan Arfan bersedia mengantarkan gadis itu pulang.
Setelah hari itu, Nasha dan Arfan kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saling komunikasi melalui chat dan telepon, setiap weekend keduanya menyempatkan untuk bertemu meskipun hanya beberapa jam saja. Kesibukan Arfan di cafe dan juga kuliahnya sudah menyita waktu senggangnya. Terkadang Nasha juga datang ke cafe hanya sekedar bertemu dengan Arfan.
Hubungan pertemanan yang sudah berjalan hampir dua bulan itu berjalan lancar. Tidak banyak drama yang terjadi meskipun Arfan masih suka kaget dengan tingkah dan sikap absurd Nasha.
Menginjak bulan ketiga, Arfan dan Nasha memutuskan untuk pacaran. Selangkah lebih maju dari pertemanan mereka, toh niat mereka sudah jelas jadi lebih baik di seriuskan.
Issam hanya bisa pasrah mengikuti kemauan keduanya untuk saling mengenal sebelum menikah. Menerima permintaan waktu untuk mereka untuk dekat secara emosional.
Pagi ini Nasha sudah rapi, dia akan datang ke cafe hari ini karena Arfan tidak meninggalkan pekerjaannya.
“ Putri Dad udah rapih, mau kemana..?” tanya Dad.
“ Ingin main ke cafe Dad.. aku mau liat Arfan kerja di sana.” jawab Nasha.
“ Kalau Arfan lagi serius kerja jangan kamu ganggu..” ucap Mom.
“ Siap Mom.. Nasha cuma mau nemenin sekalian Nasha kenal sama teman-temannya juga.”
Di antar oleh Matt dan Eve, Nasha langsung meluncur menuju cafe. Dia meminta untuk bertemu di sana jadi Arfan tidak perlu menjemputnya.
Setibanya di sana, Nasha melihat mobil Arfan sudah terparkir. Dia pun masuk ke dalam. Suasana cafe masih terlihat sepi karena baru saja buka.
“ Maaf, Arfannya dimana ya..?” Tanya Nasha pada Paul.
“ Arfan ada di ruangannya di lantai dua.” jawab Paul.
“ Boleh aku ke sana..?” Paul spontan mengangguk.
Tok..
Tok..
“ Masuk..” ucap Arfan.
“ Selamat pagi…” teriak Nasha membuka pintu ruangan Arfan. Gadis itu langsung terdiam saat melihat ada Zayan dan Fattan.
“ Hehe, maaf aku ganggu ya?” ucap Nasha malu.
Arfan bangun dari duduknya untuk menghampiri Nasha, lelaki itu tersenyum geli melihat wajah merona Nasha.
" Jangan malu, kita udah pernah bertemu kan? Nah kalau ini namanya Zayan, sahabat Arfan juga." Fattan menunjuk Zayan yang duduk di sampingnya.
" Hai, Nasha."
" Zayan."
Keduanya saling berjabat tangan, Nasha menoleh ke arah Arfan. " Mas, aku ganggu kamu ya? Kalian sepertinya sedang berbicara serius."
" Santuy Sha, kita cuma ngobrol biasa kok. Dia baru balik dari luar kota terus main ke sini karena kangen sama kita berdua, benar kan dude?"
" Kagak juga sih, karena lo berisik aja minta oleh-oleh jadi sebelum ke kantor gue ke sini dulu."
" Ish, gak ikhlas banget."
Zayan memutar bola matanya, " Gue ke sana itu kerja ya kuda, bukan jalan-jalan jadi lo nyusahin gue buat cari oleh-oleh."
" Yang minta oleh-oleh bukan gue doang, noh anak setan juga."
" Lah, gue kan di tawarin sama lo jadi gue kasih listnya. Kan jadi bisa gue kasih ke Bunda sama Jihan."
" Kamu mau dibikinin apa? Kaya biasa atau mau pesen yang lain?" Arfan menatap Nasha yang terdiam mendengar percakapan mereka bertiga.
Zayan dan Fattan masih melihat interaksi keduanya. Arfan yang datar dan dingin jika dengan perempuan lain terlihat lembut terhadap Nasha.
" Aku pesen kaya yang biasa aja Mas, tapi tambahin waffle ya. Jangan lupa dikasih toping marshmallow sama strawberry.
" Oke, duduk manis di situ. Tunggu pesanannya datang, Mas lanjut kerja lagi ya?"
Nasha mengangguk, dia melihat ke arah Zayan dan Fattan. Kedua lelaki yang juga tampan itu saling sibuk dengan ponselnya.
“ Kalian udah lama berteman..?” tanya Nasha.
“ Udah dari awal masuk SMA.. gue dengar lo baru aja lulus ya..?” ucap Zayan.
“ Iya, dan gue langsung di minta buat nikah.” jawaban Nasha membuat ketiga cowok itu tertawa.
“ Lo nggak ada niat buat lanjut kuliah..?” tanya Fattan.
“ Mau nanti bareng sama teman-teman sekolah gue di Jepang.”
“ Kalian kuliah di kampus kita aja, kan bisa kuliah bareng biarpun lo jadi maba kita.” ucap Zayan.
“ Rencana juga gitu. Gue penasaran, di kampus ada yang naksir sama Arfan nggak?” tanya Nasha pada Zayan dan Fattan.
“ Yang naksir mah ada, dia nya aja yang cuek.. Baru lo doang yang mau dia pacarin.” jawab Fattan.
“ Gue malah ngiranya Mas nggak mau pacaran karena nggak suka sama cewek..” bisik Nasha pada Fattan, dimana Zayan dan Arfan masih bisa dengar.
“ Nashaaa…” protes Arfan sambil menatap Nasha sedangkan gadis itu malah tertawa.
TBC..!!
penasaran aku