NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Keheningan di dalam kabin sedan mewah itu mencekam. Hawa dingin pendingin udara terasa menusuk kulit.

Kirei menyandarkan punggung di kursi belakang, tepat di samping wanita paruh baya bernama Eleonora—ibu kandung Arka. Di depan, Arka duduk membisu di sebelah sopir. Tatapannya terkunci rapat pada kaca spion tengah, mengawasi setiap gesture ibunya.

Eleonora merapikan kain mantel sutranya yang licin, lalu menoleh. Tatapannya dingin, memindai Kirei dengan perhitungan kalkulatif khas pengusaha kelas atas.

"Kirei Wijaya," gumam Eleonora datar. "Cucu kesayangan Tuan Wijaya. Saya tidak menyangka gadis yang dipaksa menikah dengan anak saya ternyata cuma siswi SMA yang masih disibukkan urusan OSIS."

Ada letupan rasa cemas di ulu hati Kirei, tapi ia menegakkan bahunya. Pengalaman menghadapi teror Bima dan Aditama melatih mentalnya untuk tak gampang ciut.

"Selamat sore, Tante," sapa Kirei, berusaha menjaga kerapian nada suaranya. "Pernikahan ini memang berawal dari amanat Kakek. Tapi kami melakukanny—"

"Kalian melakukanya karena Arka dimanfaatkan," potong Eleonora dingin. Muka mulusnya tak memancarkan sedikit pun kehangatan. "Kakek kamu mengeksploitasi rasa bersalah Arka atas insiden ayahnya untuk mengikat anak saya."

"Mama, cukup!" Arka menyamber dari kursi depan, memutar badannya dengan rahang mengeras. "Jangan bawa-bawa Almarhum Papa!"

Eleonora terkekeh tipis—nada tawa yang terdengar sangat formal dan hampa. "Mama cuma bicara fakta, Arka. Kamu membuang kesempatan di London, menolak universitas bisnis terbaik di Inggris, cuma buat main rumah-rumahan di perumahan ini? Kamu pikir Mama bodoh?"

Sedan hitam itu memelankan laju sebelum merapat di parkiran privat sebuah restoran fine dining bernuansa remang di kawasan Jakarta Selatan.

Suasana ruang VIP di dalam begitu senyap, diselimuti denting instrumen klasik yang samar. Hidangan di atas meja bundar tak tersentuh sama sekali.

Eleonora menggeser sebuah map hitam tebal ke tengah meja, tepat ke hadapan Kirei.

"Apa ini, Tante?" cicit Kirei.

"Surat pembatalan pernikahan dan berkas kepindahan Arka ke Inggris," sahut Eleonora lugas, menopang dagunya dengan jemari berhias berlian. "Tim pengacara saya bakal membereskan pembatalan ini secara rahasia. Nama baik kamu dan sekolah tidak akan terseret."

Lidah Kirei mendadak kelu. Matanya terpaku pada sampul tebal itu.

"Sebagai kompensasi," lanjut Eleonora lirih, memberi isyarat pada asisten di belakangnya untuk meletakkan selembar cek bernominal fantastis, "Hartono Corp—rekan bisnis saya—akan membiayai seluruh sponsor kegiatan sekolah kamu sampai lulus. Kamu bisa fokus olimpiade tanpa beban."

Dada Kirei terasa seperti dihantam sesuatu yang keras. Hartono Corp?

Kirei berpaling menatap Arka. Cowok itu beranjak dari kursinya, berdiri tegap dengan urat leher menegang menahan amarah yang mendidih.

"Mama kerja sama dengan keluarga Dion Hartono?" bisik Arka, suaranya sarat kecewa yang mendalam. "Mama tahu betul Hartono Corp itu dalang yang merusak bisnis Papa dulu!"

Eleonora menatap Arka tanpa goyah. "Dunia bisnis tidak kenal dendam, Arka. Yang ada cuma kalkulasi untung rugi. Hartono Corp menawarkan investasi besar untuk ekspansi kita di Eropa. Syarat mereka simpel: tarik kamu dari Jakarta dan putuskan hubungan dengan Keluarga Wijaya!"

Kirei mencengkeram lipatan rok seragamnya di bawah meja. Teka-teki ini akhirnya terjawab utuh. Dion pindah bukan sekadar mengincar OSIS, tapi keluarganya sudah menyusun skenario tingkat tinggi bersama ibu Arka untuk memisahkan mereka.

"Gue enggak bakal tanda tangan," kata Arka tajam. "Gue enggak akan ke London, dan enggak ada yang bisa mengatur hidup gue lagi!"

"Arka! Jangan kekanak-kanakan!" Eleonora menggebrak meja, keanggunannya runtuh dilalap emosi. "Kamu mau merusak masa depan kamu cuma demi cewek ini? Kamu tahu apa dampaknya kalau Hartono Corp menarik investasinya? Bisnis keluarga kita bisa hancur!"

Udara di ruangan serasa makin berat dan menyempit. Kirei menunduk, merasakan sudut matanya panas. Ia menyaksikan bagaimana Arka pasang badan sendirian menahan tekanan sebesar itu hanya demi mempertahankan hubungan kontrak mereka.

Apakah... keberadaan gue cuma jadi beban buat Arka? bisik Kirei dalam hati, dadanya berdenyut nyeri.

Sebelum rasa cemas menguasainya penuh, sebuah genggaman hangat mendarat di jemarinya.

Arka meraih tangan Kirei di bawah meja, meremasnya erat—sebuah gestur tanpa suara yang menegaskan: jangan mundur.

Kirei mendongak, mendapati tatapan Arka yang tenang dan penuh keyakinan. Rasa hangat itu menyengat nadinya, menyuntikkan kembali sisa-sisa keberaniannya. Kirei membuang napas panjang, lalu mendorong map hitam dan cek itu kembali ke hadapan Eleonora.

Eleonora menyipitkan mata. "Maksud kamu apa, Kirei?"

"Saya menolak dokumen pembatalan ini, Tante," ujar Kirei tegas. Suaranya tenang, menguarkan aura ketegasan yang sama saat ia memimpin rapat OSIS.

Eleonora tersenyum sinis. "Kamu pikir kamu punya hak untuk menolak?"

"Saya Ketua OSIS... dan saya istri sah Arka," potong Kirei, menatap lurus mata Eleonora. "Tante bilang Arka dimanfaatkan Kakek saya. Tapi malam ini saya melihat Tante-lah yang sedang menjual masa depan Arka demi investasi Hartono Corp."

Raut wajah Eleonora menegang seketika.

"Arka bukan aset perusahaan yang bisa Tante transaksikan ke keluarga Dion," lanjut Kirei tanpa ragu. "Soal sponsor olimpiade, sekolah kami punya prinsip. Dan soal masa depan Arka... biarkan dia yang menentukan pilihannya sendiri, bukan Tante ataupun Hartono Corp."

Arka melirik Kirei dengan binar bangga yang tak disembunyikan, senyum miring perlahan terukir di wajahnya.

Eleonora berdiri, napasnya memburu menahan murka. "Kamu kelewat lancang, Kirei Wijaya!"

"Saya cuma membela suami saya, Tante," sahut Kirei tenang.

Arka menyambar tas sekolah Kirei, lalu merangkul bahu cewek itu rapat-rapat, menariknya berdiri di sampingnya.

"Urusan kita selesai, Mama," cetus Arka dingin. "Sampaikan ke Dion dan Hartono Corp... kalau mau main bisnis, jangan pakai cara kotor di sekolah. Gue tunggu mereka."

Tanpa menunggu balasan, Arka menuntun Kirei melangkah lebar keluar dari ruang VIP, meninggalkan Eleonora yang terpaku menahan kemarahan.

Pukul 19.30 WIB.

Gerimis tipis membasahi aspal saat Arka mematikan mesin motornya di tepi dermaga pelabuhan tua yang sepi.

Pendar lampu kota memantul di atas permukaan air laut. Arka menyandarkan punggungnya ke pagar besi, mencabut helm dan membiarkan angin malam menyapu wajahnya.

Kirei melangkah pelan, berdiri di sampingnya. Jaket kulit hitam Arka masih mendekap hangat bahunya.

"Sori..." gumam Kirei lirih di antara deru angin. "Gara-gara gue... hubungan lo sama Mama makin memburuk."

Arka menoleh, menatap Kirei dengan iris cokelatnya yang memancarkan ketulusan utuh.

"Gak perlu minta maaf, Bu Ketua," bisik Arka lembut. "Gue justru bangga banget sama lo tadi."

Pipi Kirei terasa merona. "B-bangga kenapa?"

Arka mencondongkan badan, melingkari jemari Kirei dan menggenggamnya rapat di atas pembatas besi.

"Soal ucapan lo tadi..." Arka mengunci tatapan Kirei, "waktu lo bilang gue suami lo di depan Mama... itu jujur atau cuma gertakan?"

Jantung Kirei berdegup liar. Jarak yang begitu dekat melumpuhkan logika pertahanannya.

Ia menunduk tipis, menahan senyum yang mendesak keluar di balik pipinya yang memerah. "Gue... gak pernah main-main sama ucapan gue, Arka."

Arka terkekeh rendah—suara tawa yang terdengar sangat hangat di telinga Kirei. Ia mengulurkan tangan, menangkup tengkuk Kirei dan menariknya perlahan hingga kening mereka bersentuhan.

"Kalau gitu..." bisik Arka tepat di depan bibir Kirei, "perang lawan Dion dan Hartono Corp pekan depan... kita hadapi sebagai suami istri beneran."

Tepat saat Kirei hendak merespons, sebuah sorot lampu mobil yang menyilaukan mendadak menembak dari arah kegelapan dermaga, menyiram tubuh mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!