untuk cerita kali ini aku akan menceritakan kisah cinta Lardo Devhan Sanjaya
buat yang belum paham kalian bisa baca dulu novel turun menurunnya.
1. CEO JATUH CINTA
2.ALVARO SANJAYA
semoga kalian suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Ferdina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rena semakin menjadi
Rena sudah berdandan rapi untuk pergi bersama teman temannya, sikap Rena sangat bertolak belakang dengan Clarisa, karena dari dulu Clarisa sangatlah terdidik, sedangkan Rena seperti OKB.
Semenjak Rena menjadi anak sambung papanya Risa, semua kebutuhan Rena terpenuhi, uang bulanan, mobil, serta bekerja di perusahaan milik keluarga.
Namun Rena menggunakan semuanya hanya untuk foya foya dan meninggikan namanya, bahkan di kantor Rena jarang sekali bekerja dan seenaknya terhadap karyawan.
"Pa, Rena mau pergi sama temen. Tapi duit Rena tipis.. Papa bisa kan kirimin Rena uang jajan sekarang?" Rena duduk di samping Dimas, lalu memasang wajah lesu agar merasa dikasihani.
"Ya ampun Rena, bukannya papa kamu sudah kasih uang bulanan seminggu yang lalu, kenapa bisa cepat habis. kamu buat apa?" ucap Heny, karena merasa malu dengan tingkah putri kandungnya yang terlihat selalu menghamburkan uang.
Dulu Heny memang sangatlah memanjakan Rena, bahkan karena dirinya Rena memiliki sifat iri terhadap Risa.
Heny merasa menyesal karena sudah menjadi ibu sambung yang tak baik buat Clarisa.
"Kenapa mama jadi marah? Aku kan minta ke papa. Lagian duit papa pasti gak akan habis kalau cuma kasih aku 10 juta kan" sahut Rena dengan tidak tau malunya.
"Kamu mau kemana dengan dandanan seperti itu?" tanya Dimas pada putri sambungnya.
Rena gelagapan sendiri mendengar pertanyaan dari papanya. Bisa gawat jika papa tirinya tau, kalau Rena akan ke club malam dengan teman temannya.
"Hanya makan di cafe biasa pa, lagian Rena udah janji mau traktir mereka makan" bohong Rena
"Kalau untuk makan tidak perlu 10 juta, 1 juta juga cukup kok" sahut Heny menatap tajam anaknya
"Mama apa apaan sih, kenapa jadi pelit gini ke aku.. Lagian papa selalu baik kok, gak perhitungan kayak mama" ketus Rena
"Jaga ucapan kamu Ren, ingat dengan siapa kamu berbicara" tegas Dimas membuat Rena menciut
"Pa... Boleh kan?" tanya Rena mengalihkan pembicaraan
"Seharusnya kamu berfikir lebih dewasa Rena, perusahaan sedang ada masalah.. Kamu justru menghamburkan uang untuk hal hal yang tidak penting, jangan kira papa tidak tau.. Jika kamu jarang ada di kantor, bahkan kamu sering kali seenaknya pada karyawan papa, kalau seperti ini terus perusahaan bisa bangkrut gara gara tingkah kamu"
"A... Apa ma...maksud papa" Rena mulai merasa takut mendengar suara tegas Dimas.
"Assalamualaikum Pa, Ma" ucap Risa yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam" sahut Dimas dan Heny
Rena menatap tak suka dengan kehadiran Risa di rumah, semenjak mamanya baik kepada Clarisa, semakin besar rasa benci Risa padanya.
Semenjak tinggal di rumah, Risa sekarang memang selalu mendapatkan perhatian kedua orang tuanya, namun sering kali Rena menatap tak suka pada Risa.
Ada saja hal terjadi, sekarang entah apa yag di lakukan Rena hingga membuat orang tuanya kesal.
"Ada apa pa?" tanya Risa
"Tidak apa apa nak, kamu pasti capek.. Istirahat dulu di kamar" ucap Heny mengelus rambut Risa dengan sayang
"Iya ma..." Risa membalas dengan senyuman hangat. Senang dan bahagia karena Heny mau baik padanya.
"Kenapa kalian semua berubah, kenapa kalian tidak lagi sayang sama aku" teriak Rena membuat Risa urung untuk pergi kemarnya
"Apa maksud kamu Rena, jangan berteriak di depan papamu" marah Heny melihat sikap putrinya semakin menjadi
"Alah... Kalian itu emang pilih kasih, jangan mentang mentang aku anak tiri papa, terus seenaknya papa lepas tanggung jawab gitu aja," teriak Rena semakin berani.
Dimas dan Risa hanya diam saja mendengar perkataan Renata.
"Semua karena lo ris, kalau aja lo gak usah balik balik lagi ke rumah itu lebih baik, papa sama mama pasti perhatian ke gue.. Lo udah rebut semuanya dari gue sialan" Rena mendorong Risa hingga hilang keseimbangan
Karena terkejut dengan ulah Rena membuat Risa tidak siap dengan serangan tiba tiba itu
"Renata...." teriak Dimas.
Heny dan Rena terkejut mendengar teriakan Dimas. Pertama kalinya Dimas berteriak keras padanya selama ini.
Namun ketakutan itu di hilangkan dengan tatapan benci.
"Apa? Mau belain Risa lagi? Bela aja terus.. Aku muak sama kalian semua" Rena memilih pergi dari rumahnya dengan prasaan marah dan benci.
"Renata..." panggil keras Heny sambil menangis.
"Clarisa.." panggil Dimas pada putrinya
"Risa gak apa apa kok pa," sadar dengan rasa hawatir sang papa.
"Risa, maafin Rena ya nak.. Ini semua salah mama yang terlalu memanjakan Rena dari dulu" Heny merasa menyesal.
"Iya gak apa apa ma, ya udah Risa ke kamar dulu pa ,ma" pamit Clarisa
"Aku akan menutup semua akses Rena ma, atm dan mobil semuanya... Aku ingin anak itu terdidik dan mempunyai sopan santun pada orang tua" sahut Dimas dengan dingin.
Heny hanya bisa pasrah dan mengikuti kata suaminya. Mungkin inilah jalan satu satunya agar Rena berubah menjadi lebih baik lagi.
***
Hari minggu adalah hari dimana semua aktifitas kantor libur, Lardo biasanya menghabiskan waktu libur di rumah dengan berolahraga dan tetap bekerja ruangan pribadi
Namun kali ini ada Bian sang adik, pria yang juga tampan namun memiliki sifat berbeda dari kakaknya.
Jika Lardo memiliki sifat yang dingin dan cuek, Arbian justru kebalikannya. Bian memiliki sifat yang humoris dan juga playboy, Bahkan kini pacarnya entah ada berapa.
Mamanya sering kali marah pada Bian, karena hampir setiap hari rumah mereka kedatangan wanita wanita yang mengaku pacar anaknya itu.
"Morning kak" sapa Bian
"Hmm.."
"Hmmm?" tak habis fikir dengan kakaknya yang super duper menyebalkan dari dulu.
"Ada apa?" tanya Lardo
"Gue berdoa semoga ada wanita yang mau dengan lo kak," kata Bian mengambil duduk di meja makan.
"Dan gue berdoa semoga gak ada yang mau dengan lo," Lardo memberikan smirknya ,dan itu sangat menyebalkan di mata Bian.
"Hu....hu...hu aku punya kakak gak ada akhlak.. Hu...hu...hu namanya Lardo, hu...hu...hu orangnya jomblo, hu.... Hu...hu dia suka ngebo" Bian langsung berlari saat melihat tatapan tajam kakaknya.
"jangan pergi lo Bian..."teriak Lardo keras
"Ada apa tuan?" tanya pelayan yang mendengar teriakan Lardo
"Tidak apa..." Lardo bangun dan bersiap untuk ke ruang kerja.
Semua penjaga yang berada di luar menunduk hormat pada Lardo, sampai tuannya tidak terlihat.
Sedangkan Bian, keluar dari balik tembok dengan terkikik.
"Hai... Kalian semua rupanya penakut ya?" ucap Bian lalu duduk di sebuah kursi.
"Maksud tuan Bian apa?" tanya salah satu pelayan rumah.
"Iya kalian penakut, apa kakak ku segitu sangarnya hingga kalian nunduk" ucap Bian
"Kami begitu karena menghormati beliau tuan bian, beliau adalah bos kami" sahut pengawal bernama Imah.
"Ya...ya bos dingin dan angkuh kalian itu jomblo akut, asal kalian tau itu hahahaha" Bian tertawa membuat pelayan juga ikut tertawa.
Sedang di dalam ruangan Lardo tiba tiba bersin dengan keras.
Pasti ada yang gosipin gue. /Lardo