"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedang apa?
~Kamu tak perlu sempurna untuk meraih keberhasilan. Adakalanya kekurangan seseorang bisa jadi jalan pintu kesuksesan.~
☃️☃️☃️☃️☃️☃️
☃️☃️☃️☃️
☃️☃️
Suasana kantor berjalan seperti biasa. Karyawan bekerja sesuai porsi dan jabatannya, begitu pun dengan Riko. Lelaki itu sedang duduk di kursi sembari memijat pelipisnya. Sakit.
Laporan yang diberikan Riki ada sedikit kesalahan. Kembarannya itu pun tidak menjawab telepon. Suka tak suka ia harus turun ke lantai 5. Malas rasanya.
Tadi pagi Riko tak sempat sarapan, karena keasyikan olahraga. Pantas saja perutnya berbunyi. Ini tidak baik. Ia bangkit, berjalan keluar ruangan sembari membawa dokumen dalam maps biru.
Lantai lima adalah divisi yang didominasi oleh karyawan perempuan. Bahkan mereka dikenal sebagai gudangnya wanita cantik. Jadi ... banyak karyawan laki-laki yang kegirangan saat disuruh ke sana. Namun, tidak berlaku untuk Riko.
Sesampainya di lantai lima, begitu pintu lift terbuka, Riko disambut tatapan kagum dari karyawan perempuan. Riko tak peduli, ia melenglang keluar lift, dan berjalan menuju ruangan kembaran.
Sayup-sayup terdengar tiga karyawan perempuan menggosipkan dirinya.
“Pak Riko, cakep banget, ya.”
“Kalau masih jomblo, aku mau, deh!”
“Enggak dapat Pak Adnan, Pak Riko juga boleh.”
Ini hal biasa bagi Riko. Setelah Adnan menikah, ia seolah menjadi sasaran selanjutnya para karyawan perempuan. Hubungannya dengan Lily dahulu memang tak pernah terendus oleh siapa pun selain keluarga. Jelas saja jika mereka menyangka, jika Riko masih melajang.
Riko sampai di depan ruangan Riki, ketika tangannya hendak mendorong pintu, rupanya dari dalam Lily lebih dahulu keluar. Pandangan mereka bertemu. Detak jantung Riko tak bisa berbohong. Ia masih saja terpana dengan manik-manik cantik milik mantan pacarnya tersebut.
Lily keluar, menunduk hormat, lalu berjalan selangkah melewati Riko.
“Tunggu.” Mulut Riko mencegah Lily. Ia tak bisa mengendalikan salah satu panca inderanya tersebut.
Lily berhenti. “Iya. Apa ada yang bisa saya bantu, Pak.”
Riko salah tingkah. Ia tak punya alasan untuk berbincang-bincang dengan Lily. Lantas, mengapa ia membuat wanita itu menunggu?
“Kerja yang benar.” Riko segera masuk ruangan.
Dahi Lily berkerut. Otaknya berpikir lebih lambat. Apa itu? Ini bukan komunikasi antara atasan dan bawahan bukan? Ah ... biarkan saja.
Riko sampai di depan meja Riki dengan wajah merah padam. Bahkan Riki yang melihatnya pun keheranan, lalu berkata, “Lo habis ketemu setan? Muka merah banget!”
Seketika Riko kembali ke fase normal. Ia tak menjawab dan langsung memberikan dokumen yang dibawanya. “Kerja yang bener dong, Bambang! Itu masih ada yang salah.”
Tangan Riki menjulur mengambil dokumen, membukanya per lembar, juga meneliti. Tak ada yang salah. Sebenarnya ada apa dengan mata Riko. Rabunkah?
“Maemunah, mana ada yang salah? Ini bener semua,” protes Riki.
“Lo periksa yang bener, jangan sambil ngayalin Lia mulu!”
“Lah, si Bambang, malah ngerembet ke sana ke mari.”
“Udah, mendingan lo periksa lagi aja. Entar suruh siapa saja anter ke ruangan gue lagi.” Riko tak mau basa-basi, ia kembali keluar, dan berniat pergi ke kantin. Mungkin otaknya memang perlu nutrisi agar bisa berpikir jernih.
Sesuai instruksi Riko, akhirnya Riki memeriksa kembali dokumen. Setelah menemukan kesalahannya, ia memperbaiki, mengganti dengan yang baru, dan keluar ruangan.
Semua karyawan tampak terlihat sibuk. Hanya Lily yang Riki lihat baru saja akan duduk. Ide gilanya memenuhi otak. Mungkin ini bisa jadi kejutan atau mungkin penyiksaan bagi Riko.
“Baiklah. Abang Riko, kita bermain,” ujar Riki pelan dengan sedikit terkekeh.
“Lily, bisa bantu saya?” tanya Riko begitu berada di depan Lily.
Lily menengadahkan kepala. “Iya, Pak.” Ia berdiri. “Apa ada yang bisa saya bantu?”
Riki menyodorkan dokumen. “Tolong, antarkan ini ke ruangan Pak Riko.”
Kedua mata Lily membesar sempurna. Riki bisa menebak jika wanita itu terserang shock yang hebat. Ini menyenangkan! Sekarang ia bisa menjahili dua mantan kekasih yang bekerja di satu perusahaan.
Lily ragu, tetapi tangannya tetap saja mengambil dokumen tersebut. “Baik, Pak.”
Riki bersorak dalam hati. “Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak.”
Riki kembali ke ruangan, sedangkan Lily naik ke lantai atas dengan hati tak karuan. Begitu sampai di lantai delapan, dan keluar lift. Langkahnya sedikit ragu, tetapi ia harus tetap profesional. Ini pekerjaan!
Lily menuju ruangan Riko. Mengetuk dua kali seraya berkata, “Permisi, Pak.”
Tak ada jawaban. Lily bimbang. Haruskah ia kembali atau menunggu? Dengan sedikit keberanian tangannya mendorong pintu.
“Kamu sedang apa?” Tiba-tiba terdengar suara Riko tepat dibelakang Lily, hingga menyebabkan wanita itu terkejut. Reaksi ini pun menyebabkan persendiannya melemas, sehingga tubuhnya hendak terjatuh ke depan. Dengan sigap Riko menarik tangan kanan Lily sampai tubuh wanita itu berbalik dan mendarat tepat di dadanya.
Suasana hening. Lily bisa merasakan suara detak jantung Riko dengan jelas, sedangkan Riko masih belum sadar posisi mereka. Keduanya larut dalam buaian suasana mendebarkan bagi siapa pun.
“Kalian sedang apa?” Pertanyaan itu menyadarkan Riko dan Lily.
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗