Ibu adalah orang yang paling bisa mengerti dan mengenal tentang kita. Tak ada cinta yang sekuat Cinta ibu. Kasih sayangnya begitu tulus sampai tak ada yang bisa menandinginya.
Novita adalah wanita paruh baya yang berstatus single parent, dia menghidupi kedua anak-anaknya seorang diri. Masalah dalam hidupnya datang silih berganti tak ada hentinya. Namun dia selalu berusaha sabar dan tegar untuk menghadapi semua masalah yang menimpanya. Baginya pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga untuk dirinya.
Tapi hati ibu mana yang tak hancur ketika kedua anaknya berani untuk membenci ibunya sendiri. Akankah mereka sadar betapa besarnya kasih sayang yang tulus dari sang ibu? Bisakah Novita bertahan dan menyadarkan kedua anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas, walaupun di balas dengan kebencian?
Yuk berkelana dalam kisah hidup Novita bersama-sama😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yessie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di terima bekerja.
Pagi yang sama, di mana aku selalu mengerjakan tugas sehari-hariku. Aku bangun lebih awal. Karena aku ingin sebelum aku pergi interview, pekerjaan rumah harus sudah selesai.
Dan begitu pula dengan suamiku yang juga bangun pagi. Sambil memasak, aku tersenyum-senyum sendiri. Sebab aku sangat senang dengan hari itu, yang di mana aku akan di terima bekerja di perusahaan.
“selamat pagi sayang.” sapa mas kalendra.
“eh kamu mas, sudah bangun? Selamat pagi juga sayang. Emuch.” Balas sapa ku kepada suamiku kemudian aku menciumnya.
“aku rasa pagi ini kamu terlihat senang sekali. Ada apa?”
“owh, nggak apa-apa mas.”
“bener?”
“iya.”
Beberapa jam berlalu, aku dan juga raditya akan pergi menuju ke sekolah. Sedangkan suamiku sudah pergi lebih dulu.
Dalam perjalanan menuju ke sekolah, aku berpesan kepada anakku.
“sayang, mungkin nanti ibu akan terlambat menjemputmu lagi.”
“yah ibu, memang ibu mau kemana?”
“ibu ada urusan sebentar. Kakak sama bunda dulu ya nanti.”
“tapi, ibu lama nggak?”
“enggak sayang. Ibu janji. Nanti ibu akan bicara dengan bunda laily.”
“baiklah bu. Tapi ibu janji bener ya, nggak lama-lama perginya.”
“iya, ibu janji.”
Aku dan raditya turun dari angkutan umum itu. Dan setelah aku mengantar raditya masuk ke dalam lingkungan sekolah, aku meminta tolong kepada security untuk di panggilkan bunda laily yang tak lain adalah gurunya raditya.
Tak lama bunda laily keluar dan menemuiku, aku pun mengatakan dan meminta tolong kepadanya. Aku menceritakan kepada bunda laily kalau aku sangat membutuhkan pertolongannya untuk menjaga Raditya selama saya belum sempat menjemputnya.
Setelah selesai berbicara panjang lebar dengan bunda laily, aku berpamitan untuk segera pergi meninggalkan sekolah karena aku akan interview.
“bunda, saya sangat berterima kasih kepada bunda laily karena bunda sudah mau memahami keadaan saya dan membantu saya.”
“sama-sama ibu, mau bagaimana lagi, kita sebagai seorang istri kan juga harus membantu suami untuk mencari tambahan pemasukan. Saya paham dengan posisi ibu sekarang.”
“sekali lagi saya mengucapkan banyak terimakasih ya bun.”
“sama-sama ibu.”
“kalau begitu saya pamit ya bun, soalnya saya harus sudah ada di sana jam Sembilan bun.”
“iya, silahkan bu.”
Aku kemudian pergi meninggalkan sekolahan raditya. Aku juga harus segera sampai di perusahaan dalam waktu tiga puluh menit. Aku lalu menghentikan salah satu angkutan umum untuk transportasi ku menuju ke perusahaan itu.
Sesampainya disana aku diminta untuk menunggu oleh security perusahaan itu. Aku lalu duduk dan menunggu giliran ku di panggil. Beberapa menit berlalu dan akhirnya giliran nama ku dipanggil untuk interview. Aku lalu mengetuk pintu ruang HRD .
“selamat pagi bu.”
“pagi, silahkan duduk.”
“iya,”
Aku duduk dengan tangan gemetar karena gugup berhadapan dengan HRD. Dan sudah beberapa tahun aku tidak bekerja atau melamar pekerjaan setelah menikah dan mempunyai anak.
Satu persatu pertanyaan yang diberikan oleh HRD pun aku jawab dengan tenang, walau aku masih sedikit gugup. Dan setelah selesai interview aku kemudian di ajak oleh HRD ku waktu itu untuk melihat tempat dan juga memperkenalkan tugas-tugas ku jika aku nanti diterima bekerja di sana.
“jadi ibu Novita sudah tau tempat-tempatnya dan juga tugas-tugas jika nanti ibu di terima kerja di sini.”
“iya bu, saya tau dan saya paham.”
“baiklah, sampai di sini dulu pertemuan ini. Ibu nanti tunggu kabar dari kami ya.”
“baik bu. Terimakasih. Pokoknya saya siap bekerja.”
“sama-sama bu.”
Selesai interview, aku lalu pulang untuk menjemput Raditya. Dan aku bersyukur, aku tidak terlambat menjemput anakku.
Malam itu di mana aku, suamiku dan anakku sama-sama melihat film di televisi. Akan tetapi setelah adzan isya, suamiku bilang pada ku kalau dia ingin masuk ke kamar dan istirahat.
“ibu, kakak, ayah masuk ke kamar dulu ya. Ayah sangat mengantuk sekali.”
“ayah capek ya?” Tanya raditya dengan polosnya.
“iya nak, ayah capek sekali.”
“ya sudah, ayah istirahat dulu gih.”
Suamiku pun langsung pergi dan masuk ke kamar. Tak lama raditya juga mengeluh kalau dirinya sudah sangat mengantuk. Akhirnya aku menemani raditya untuk tidur di kamarnya sendiri.
Setelah raditya tertidur pulas aku langsung keluar dan pergi menuju ke kamar ku. Aku melihat suamiku begitu sangat kelelahan waktu itu. Tidurnya pun sampai mendengkur.
Aku lalu duduk dan bersandar di bahu tempat tidur.
“kasihan kamu mas. Aku nggak tau, sekarang kamu kerja apa. Yang terpenting aku percaya sama kamu, kalau kamu akan mengisi piring istrimu dan juga anakmu dengan cara yang halal. Karena aku percaya kamu akan terus menjaga kami.” Gumamku sambil memandangi wajah suamiku yang tertidur begitu sangat pulas.
**
Pagi itu selesai mengantar anakku ke sekolahan, tiba-tiba ponsel ku berdering. Aku segera mengangkat dan menerima panggilan itu. Setelah menerima panggilan masuk itu, aku sangat senang sekali, karena aku mendapatkan kabar yang begitu membuat aku bahagia. Akhirnya aku di panggil dan di terima bekerja di perusahaan yang memanggilku untuk datang interview kemarin.
“alhamdulillah, akhirnya, aku diterima bekerja disana. Aku senang sekali.” Gumam ku sendiri sambil masuk ke dalam rumah.
Esoknya, aku siap-siap untuk pergi mengantar raditya ke sekolahan dan pergi bekerja,
“ini adalah kesempatan buat aku, dan hari ini juga adalah hari pertama di mana aku akan bekerja. Setelah sekian lama aku hanya di rumah saja. Pokoknya aku harus semangat. Aku nggak boleh mengeluh, karena ini sudah menjadi niat ku.” Ucap ku dari dalam hati.
Setelah semua dirasa sudah siap, aku lalu memanggil raditya yang pergi masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas sekolah miliknya.
“kak, sudah belum? Ayo, ibu sudah siap ini.”
“iya bu sebentar.”
“ibu tunggu kamu di luar ya kak.”
“iya bu,”
Aku lalu keluar dan tak lama raditya juga keluar. Raditya melihatku sambil terperangah.
“i—bu? Ibu mau ke mana?”
“mau nganter kakak,”
“tapi kenapa ibu mengenakan pakaian yang sangat rapi?”
“iya, setelah mengantar kamu sekolah, ibu nanti akan pergi. Owh, iya, nanti raditya ikut pulang ke rumah bunda laily dulu ya nak.”
“kenapa bu?”
“gini kak, sebenernya, untuk beberapa bulan nanti, ibu sudah berbicara kepada bunda laily untuk membawa pulang kamu ke rumah bunda laily dulu sementara setelah pulang sekolah.”
“ke—napa?” Tanya raditya dengan mulut cemberutnya.
“kak, ibu sedang ada urusan yang sangat penting sekali. Jadi ibu harap agar kakak mau menolong ibu dengan mengikuti apa yang ibu katakan tadi.”
Raditya kemudian menundukkan kepalanya. Aku sengaja memberikan sedikit pengertian kepada anakku. Agar dia juga bisa membantu ku. Aku juga sengaja tidak ingin mengatakan kepada anakku kalau aku akan pergi bekerja, karena aku takut kalau nanti raditya menceritakannya kepada suamiku. Mungkin aku salah karena aku tidak bercerita dan meminta izin kepada suamiku. Tapi, mau bagaimana lagi, jika aku meminta izin kepada dia, dia pasti tidak akan mengizinkan aku untuk bekerja. sedangkan kami sedang dalam keadaan yang sulit. Entahlah, biar Tuhan yang menilainya. Yang terpenting niatku baik, aku melakukan semua ini dan berusaha semampuku untuk membantu suamiku mencari tambahan pemasukan.
“kalau begitu, sekarang, kita berangkat yuk kak. Takutnya nanti kakak terlambat pergi ke sekolah.” Ucap ku kepada anakku.
Dan kami pun kemudian pergi meninggalkan rumah setelah mengunci pintu.
bersambung...