Lanjutan dari ZARA, Aku Mencintaimu. Kisah anak dari Juna dan Zara.
Menceritakan masa remaja Queen Nara yang biasa di panggil Nara. Dengan gayanya yang tomboy jago karate juga karena sahabat-sahabatnya semua laki-laki.
Di pertemukan dengan Raja Prasaja Putra kakak kelasnya di bangku SMA yang juga jago karate tapi begitu dingin cuek dan keras kepala seperti es batu. Tapi ternyata Raja adalah teman masa kecil Nara yang dulu pergi tanpa pamit pada Nara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Bisakah si es batu mencair?
Apakah Nara akan tahu kalau Raja adalah Suga teman masa kecilnya?
Happy reading 🥰🥰
Hanya kisah fiktif jauh dari kenyataan ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Queen?
"Ar?" Sapa Raja.
Er dan Al menengok ke arah Raja. "Maaf kak aku Er kembarannya Ar."
"Ooh iya kalian kembar, maaf aku belum bisa membedakannya." Ucap Raja.
"Gampang kok kak, aku lebih ganteng dari Ar." Er sok ganteng.
Tidak ada ekspresi dari wajah Raja biasa aja.
"Ar juga ada disini kok, disana di tempat makan bersama Nara juga." Jelas Alki.
"Oke .... Silahkan kalian lanjutkan." Raja berlalu pergi. Sepertinya Raja sedang mengantar mbok Sum belanja bulanan.
"Ternyata ada orang yang lebih dingin dari Ar, aku pikir selama ini Ar orang terdingin dunia. Tapi kak Raja lebih dingin lagi." Ucap Er.
"Aku juga tidak mengerti kenapa orang bisa sedingin itu. Tapi Ar masih mending loh? Dia tertawa kalau mendengar kamu mengakui lebih tampan sedangkan kak Raja engga. Hahaa .... Hahaa ...." Al tertawa puas.
"Malah meledekku kamu ya." Er cemberut.
"Sudahlah ayo. Nanti kita di tinggal Ar gimana?" Ucap Al.
"Yasudah ayo kita bayar dan hampiri mereka lagi." Er setuju.
Mereka selesai dan kembali ke tempat makan.
Sementara itu Raja juga menghampiri Ar. "Haii Ar kau disini?" Sapa Raja pada Ar tanpa menyapa Nara.
"Hai kak, Iya kita habis latihan karate dan mampir kesini." Jawab Ar.
Apa aku sekecil itu sampai kak Raja tidak melihatku dan bahkan tidak menyapaku?
Hati Nara.
"Ekhemmm ...." Nara mencoba menarik perhatian Raja.
"Ini minumlah." Ar menyodorkan minumnya.
"Hehee .... Aku tidak apa-apa." Nara menyedot minumnya.
Ar dan Raja melanjutkan mengobrolnya tidak mengangap Nara ada disana samasekali.
"Kata Sensei kamu bisa membantuku untuk menyeleksi karateka yang akan kita kirim ke kejuaraan sekota." Ucap Raja.
"Iya bisa, aku bisa bantu akan sangat senang jika aku juga terlibat." Jawab Ar.
Mereka mengobrol hal yang membuat Nara tidak mengerti pembahasannya begitu berat sampai membahas filosofi-filosopi karate segala.
"Ya ampun ternyata begini kalau orang dingin bertemu dengan orang dingin seperti sedang menyaksikan sidang paripurna tegang tanpa ekspresi." Gumam Nara.
"Tapi mereka nyambung juga ngobrolnya gak kaya kalau lagi sama Er dan Alki, Ar suka lebih banyak diam." Nara mengerutkan dahinya merasa heran.
"Kak Raja disini?" Tanya Er yang baru datang bersama Al.
"Iya tadi aku ada perlu pada Ar." Jawabnya singkat.
"Wah ini moment langka, aku harus ambil foto." Er mengambil selfi mereka.
"1 2 3 ya bagus. Makasih ya kak." Senyum Er dan langsung up di instgramnya.
"Aku duluan ya sepertinya mbokku udah selesai belanja." Raja pamit dan berlalu pergi tanpa melihat Nara atau yang lainnya hanya benar-benar melihat Ar.
"Hihh sombong banget sih." Ketus Nara.
"Apasih Nara?" Tanya Er.
"Tidak!"
"Kita juga pulang." Ucap Ar tanpa basa basi.
Mereka dengan terburu-buru merapikan tas mereka dan mengejar Ar yang sudah lebih dulu berjalan ke parkiran.
"Kembaranmu memang ya gini banget." Ucap Alki.
"Jangan gitu dia pelindung kita," Jawab Er.
Memang mereka bertiga bertingkah kekanakan, Nara dan Er lebih tepatnya. Di balik sifatnya yang dingin itu mereka sangat yakin kalau Ar begitu menyayangi mereka.
Ar mengantarkan semua orang. "Berdoa saja supaya kak Antonio tidak mengadukanmu." Kata Ar pada Nara.
"Oke ...." Santai Nara.
Ar dan Er melajukan mobilnya untuk pulang.
"Nara benar-benar menanggapinya biasa aja." Cetus Er.
"Diamlah, aku sedang menyetir." Ucap Ar.
...🌹🌹🌹...
"Bodo amatlah kalau dia mengadu aku tidak peduli." Gumam Nara.
"Nara makanlah." Suruh Oma.
"Aku sudah makan di luar bersama yang lainnya oma, oma aja yang makan ya. Aku mau mandi gerah." Jawab Nara. Melengos pergi ke kamarnya.
Nara langsung pergi mandi karena sudah merasa sangat gerah. Kebiasaan Nara mandi begitu lama dengan berteriak-teriak dengan suaranya yang fals.
Nara selesai mandi dan mengeringkan rambutnya sambil bercermin.
"Kak Raja begitu dinginnya tanpa berbicara padaku, bahkan melirikpun tidak?" Gumam Nara pada dirinya sendiri di cermin.
Nara mulai belajar dan mengerjakan PR-PRnya. Masalah pelajaran Nara tidak kesulitan karena memang Nara pintar walaupun sifatnya yang berani dan sedikit petakilan.
...🌹🌹🌹...
Di rumah Raja.
"Biar aku bantu bereskan mbok." Pinta Raja.
"Gak usah den mbok aja, sana istirahatlah." Ucap mbok Sum.
"Biar aku bantu."
"Apa Tuan tidak akan pulang malam ini den?" Tanya Mbok Sum.
"Tidak tahu mbok. Sudah selesai semuanya, mbok juga beristirahatlah." Suruh Raja.
"Baik den, kalau ada perlu apa-apa panggil mbok aja." Ucap mbok Sum.
"Iya mbok." Raja berlalu ke kamarnya duduk di kursi depan komputernya.
Raja mengambil foto di samping komputernya. "Kamu dimana Queen? Apa mungkin kita akan bertemu lagi?" Gumam Raja.
Raja membayangkan masalalu saat dirinya pergi tanpa pamit pada Queen karena harus ikut papanya keluar kota untuk pindah.
"Apa kau ingat padaku? Apa kau juga mencariku?" Gumamnya.
Raja meletakkan kembali foto itu. "Tidak mungkin sepertinya karena sudah hampir 7 tahun berlalu. Aku juga tidak tahu namamu? Rumahmu dimana?"
Raja mulai belajar dan mengerjakan tuga sekolahnya.
"Sensei Fajar? Apa dia akan tahu kalau aku nunjukan foto anak ini?" Raja mendapatkan ide untuk bisa menemukan Queen.
Keesokan harinya.
Nara sudah sampai di sekolah dan menuju ke kelas bersama dengan Fika yang ditemuinya di parkiran.
"Kau sudah menyelesaikan semua tugasmu?" Tanya Fika.
"Itu semau kecil .... Aku sudah selesai." Jawab Nara enteng.
"Bagus .... Bagus ...." Fika mengacungkan jempolnya.
Mereka sedang berjalan dan di depan kelas Antonio dan Ziel sudah menantikan Nara. Dengan tangannya yang sepertinya masih cidera.
"Lihatlah Nara kak Antonio masih saja ingin menemuimu?" Ucap Fika.
"Haiii Nara cantik ...." Goda Antonio.
Nara melotot ke arah Antonio. "Masih berani menemuiku?"
"Aku tidak akan berhenti Nara, aku malah semakin tergila-gila padamu." Senyum Anton.
"Iya kak Anton emang gila!" Seru Nara.
"Iya sih memang cinta itu bisa membuatku gila. Untung kemarin tanganku cuman terkilir saja jadi tidak perlu aku melaporkannya pada keluargaku." Jelas Antonio.
"Laporkan saja aku tidak takut." Tantang Nara.
"Nara sudahlah ayo kita masuk ke kelas." ajak Fika.
Raja memperhatikan Nara dari depan kelasnya yang bersebrangan.
"Kamu tidak tahu siapa keluargaku? Dia orang berpengaruh atas sekolah ini. Kalau aku mengadu mungkin saja hari ini adalah hari terakhir kamu bersekolah disini." Tegas Antonio.
"Hah aku tidak peduli!" Seru Nara.
Andai saja mama tidak melarangku untuk memberitahu semua orang kalau aku adalah anaknya papa Arjuna yang berkuasa bukan hanya atas sekolah ini tapi juga kota ini.
Hati Nara.
"Tapi aku masih ingin dekat denganmu makanya aku tidak mengadukannya." Senyum licik Antonio.
Nara medongak dan mengacungkan jari tengahnya. "Laporkan saja, lihat siapa yang akan di keluarkan!" Tantang Nara.
"Ayolah kita ke kelas nanti keburu ada guru." Fika menarik tangan Nara.
"Ayo Ton kita juga pergi, kalau ada guru yang lihat kita juga tidak akan selamat." Ajak Ziel.
Mereka pun pergi. Dari kejauhan Raja belum beranjak dari tempatnya dia berdiri.
"Berani juga ternyata dirimu? Tidak ada takut-takutnya." Gumam Raja dan berlalu masuk kedalam kelasnya.
sedikit visual untuk kalian para pembaca .... 😊😊😊
?
hadir ni thoor
semangat berkarya yaaa😚😚