Musim telah berganti dengan begitu cepat. Denting waktu membawa kita pada detik ini. Musim pertama telah usai meninggalkan bait-bait kenangan yang begitu indah.
Mereka telah bersama setelah melewati rintik sendu. Kini saatnya berbahagia. Namun adakah waktu yang tidak terbatas untuk merasa bahagia?
Bagaimana cinta akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6_Cerita Hari Ini 4
“Banyak sekali orang yang paham dan mengerti tetapi terkadang, mereka lupa. Jadi … Bu guru mengulanginya agar kalian tidak lupa.” Leo mencoba menjelaskan dengan perhatian. Suaranya lembut penuh kesabaran.
“Tapi aku ingat, Daddy.” Si kecil Arai masih ngotot tentang pendapatnya.
“Sayang … ada berapa teman sekelasmu?”
“Lima belas.”
“Apa kau tahu tentang kisah pegembala dan domba-dombanya yang tersesat?”
“Huum. Itu karena ada dua domba yang pelupa dan itu tangat menjengkelkan.” Bibirnya mengerucut lancip setelah memberikan jawaban. Kedua tangannya menekuk di dada.
“Jadi, apakah semua domba milik pegembala bisa berlari dengan kencang.” Leo mengambil tangan anaknya, meminta putra kecilnya untuk tidak menekuk tangan di dada.
“Tidak.” Arai menjawab dengan sedikit gelengan.
“Apa semua domba milik pengembala bisa mengingat jalan pulang saat mereka berada di padang rumput yang luas?”
Sikecil menggeleng lagi. “Tidak,” jawabnya.
“Apa pengembala meninggalkannya dan pulang bersama domba-dombanya yang bisa berlari cepat dan ingat jalan pulang?”
“Tidak. Dia dengan sabar menggiring domba-dombanya.”
“Apakah domba yang bisa berlari kencang meninggalkan teman-temannya?”
“Tidak, mereka dengan tabar menunggu si domba lelet. Lalu … mereka cemua tampai dengan gembira. Lalu mereka akan dihadiahi tutu oleh pemilik domba,” Arai menjawab dengan semangat. Dia bahagia saat domba-domba kembali kekandang tanpa ada domba yang tertinggal di padang rumput.
“Hmmm, bettul sekali.” Leo tersenyum dan memujinya. Kemudian ia melanjutkan, “dari lima belas teman Arai … ada beberapa yang berlari pelan, ada juga yang diam. Jadi … apa yang harus kita lakukan.”
“Sabar menunggu,” jawab Arai cepat. Ia menatap Daddynya.
“Yap. Pintar putra Daddy,” Leo memujinya lagi. Kali ini dengan pencetan di hidung mancung anaknya.
“Jadi apa aku harus sabar menunggu?”
“Ya,” jawab Leo. Kemudian ia memperhatikan sekitar lalu bertanya pada putranya. “Hmm kemarin Daddy membeli beberapa buku dari toko lalu Daddy meletakkan di rak paling atas. Koleksi buku Daddy bertambah banyak hingga membuat Daddy pusing untuk menghitungnya---”
“Ada 784 buku di rak paling atas Daddy.” Arai menyahut bahkan sebelum Leo mengakhiri ucapannya.
“784??”
“Iya. Dari enam rak buku yang ada di depan sini. Rak-rak dibelakang, aku belum menghitungnya.”
Leo mengangguk dengan senyum.
Setelah dari ruang belajar, mereka turun kebawah kekamar Arai. Leo menemaninya untuk membersihkan diri. Mereka menggosok gigi dengan saling bernyanyi dan bahkan bermain sabun saat Leo menggosok punggung putranya. Setelah keseruan itu, mereka duduk di sofa di kamar Arai.
“Daddy, bagaimana pertama Daddy bertemu Momm?” tanya si kecil Arai. Dia ingat cerita Paman Vano jika Daddy tidak disukai para gadis. Jadi dia merasa bersyukur.
“Disebuah minimarket dekat rumah Momm. Momm dengan lincah mengomel pada Daddy. Dia sangat cerewet kala itu, umm bukan hanya dulu, sekarangpun masih cerewet. Momm cerewet kau setuju?”
Arai tertawa dan langsung mengangguk menyetujui. Mommy memang paling ahli dalam urusan itu. “Huum. Momm juga galak,” tambahnya dengan tawa imut dari mulutnya.
“Huum.” Leo mengangguk setuju. “Momm jahil,” tambahnya.
“Huum.”
Mereka berdua tertawa membahas kejelekan Yuna dengan kompak. Ah bukan, bukan kejeleken tapi keunikan. Sesuatu yang membuat mereka bersyukur karena ada Yuna disisi mereka. Kekaguman dan rasa sayang yang tidak bisa diukur dalam hati keduanya. Mereka mencintai Yuna lebih dari apapun di dunia ini. Jika mereka dihadapkan
pada dua pilihan antara dunia seisinya atau Yuna. Maka sudah pasti, jawabannya adalah Yuna. Karena memiliki Yuna ibarat semesta yang memeluknya.
Dan tiba-tiba pintu kamar terbuka. Leo duduk dengan tenang sambil menoleh kearah Yuna. Seolah tidak terjadi apapun. Putranya lebih profesioanal lagi. Dia duduk dengan tenang dan memakan buah di tangannya. Leo sendiri tidak tahu kapan putranya itu mengambil buah yang berada di meja.
Yuna masuk kedalam kamar dengan membawa segelas susu coklat.
“Apa ada sesuatu yang terlewat dariku?” tanya Yuna menyelidik. Dia menatap suami dan anaknya secara bergantian.
Leo menggeleng. “Tidak ada. Ini obrolan laki-laki, wanita tidak perlu tahu,” jawabnya. Jawaban yang membuat Yuna kesal. Bibirnya manyun, ia segera meletakkan susu di atas meja dan langsung menempatkan diri ditengah diantara mereka.
“Jadi biar adil. Ayo kita bikin adik perempuan.”
“Tidak.” Leo dan Arai menjawab dengan kompak.
“Tidak untuk saat ini,” jelas Leo menambahkan.
“Kalian menyebalkaaaan!!!” Yuna berteriak dan menangis tanpa air mata. Dia memukul lengan Leo dengan kesal lalu menggelikitik Arai gemas.
“Kau bersekongkol dengan Daddymu, hmm.” Tangan Yuna bergerak lincah di pinggang Arai.
“Momm, geli.” Putra kecilnya mengeliat memohon ampun tapi Yuna tidak melepaskannya.
Leo kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yuna. Menarik Yuna agar melepaskan pangeran kecilnya.
“Sayang, ayo tidur,” ujarnya.
“Tidur saja sendiri.” Yuna melepaskan Arai dan menghadap ke arah Leo. “Kau tidak mau memberiku putri cantik,” Yuna membalik badan membelakangi Leo lagi.
“Jadi siapa yang harus kupeluk malam ini?”
“Guling.”
“Kau mau tidur dimana?”
“Disini, bersama putraku.”
“No." Arai langsung menjawab.
“Terserah. Kalian sangat kompak untuk menindasku,” ujar Yuna kesal. Dia berdiri dan mengambil piyama anaknya. “Kenapa tidak langsung mengganti bajumu, sayang.” Yuna kembali duduk di sofa dan mengganti baju Arai. “Waktunya tidur,” katanya setelah selesai mengganti baju Arai dan memberinya segelas susu. Yuna kemudian
berdiri dan mengulurkan tangannya. Sikecil langsung menyambut uluran tangannya.
“Selamat malam, Daddy,” ucap Arai sambil memberikan ciuman di pipi Leo.
“Selamat tidur, Jagoan Daddy,” jawab Leo. Kemudian Yuna mengantar sikecil tampan menuju ranjangnya. Menyelimuti dan memeluknya hangat. Sementara Leo keluar dan menuju kamarnya. Ia membersihkan dirinya sebelum Yuna kembali ke kamar. Itu agar saat mereka siap tidur, Leo sudah selesai mandi.
Tentang memiliki putri cantik, dia masih enggan untuk menuruti keinginan Yuna satu itu, memiliki putri cantik untuk melengkapi kebersamaan mereka bertiga. Sejujurnya saat Arai berusia tiga tahun, Leo sudah mulai membuka hati dan pikirannya untuk mau mewujudkan keinginan Yuna, hanya saja ada sesuatu yang membuatnya kembali
enggan. Sesuatu yang kembali membuat hatinya tidak tenang setiap kali memikirkan itu.
Sore hari saat ia meletakkan kado rahasia di laci Yuna, ia menemukan sebuah catatan milik Yuna yang ditujukan kepadanya. Catatan yang Yuna buat beberapa hari sebelum putra pertama mereka lahir.
Dentingan waktu terus berputar hingga membawa kita pada hari ini. Jangan tanyakan padaku tentang arti sebuah kebahagian karena jawabannya adalah kamu dan anak kita.
Garis takdir tidak akan ada yang tahu. Jika nanti dalam perjalanan kesempurnaanku menjadi seorang wanita menjadi hari terakhirku melihat dunia maka kau harus yakin jika itu adalah yang terbaik.
Tuhan akan mempertemukanmu dengan seorang gadis yang mampu menggetarkan hatimu kembali. Bahkan pasti lebih indah dariku. Miliki dia untuk membantumu menjaga malaikat kecil kita.
Sebenarnya masih ada banyak sekali kalimat yang Yuna tulis tapi Leo tidak ingin membacanya. Ia mengambil catatan itu lalu segera membakarnya. Api itu begitu panas terasa di wajahnya tapi itu tidak seberapa dibanding kesakitan hatinya membaca catatan itu. Berani-beraninya Yuna berfikir untuk meninggalkannya. Ia kembali mengingat bagaimana proses itu, bagaimana saat Yuna kesakitan dan sebuah fakta jika ibu Yuna pergi karena itu. Leo tidak ingin Yuna mengalami nasip seperti ibunya.
Leo diam menatap nanar pada lembar demi lembar saat catatan itu terbakar. Ketakutan dan kekhawatiran mulai merayap dan membelenggu hatinya.
_________
Catatan Penulis 🥰🙏
Maaf Up hari ini telat 🙏🙏
Ummm mau Up bonus lagi?? Biasaaa ya, like koment, okey. Banjiri kolom komentar nanti Up bonus meluncur 😘😘
Aihhh gampang banget kan kan kan ngerayu nanas mah 😁😁
Padamu kesayangan 🥰 Muach lope lope.
Kalian luar biasa.