Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Story Instagram
Sabtu pagi, sekolah mengadakan latihan gabungan untuk persiapan acara class meeting bulan depan. Meski tidak wajib untuk semua siswa, Alya tetap datang karena diminta guru multimedia untuk mendokumentasikan kegiatan.
Ia memang dikenal cukup jago memotret.
Begitu sampai di lapangan, Alya langsung mengalungkan kameranya dan mulai mengambil beberapa gambar. Ada yang sedang latihan tari, ada yang menyiapkan dekorasi, dan tentu saja tim basket yang sudah memenuhi lapangan sejak pagi.
Dari kejauhan, Raka melambaikan tangan.
"Fotografer!"
Alya pura-pura tidak dengar.
Namun Dion yang berdiri di dekat Raka malah ikut berteriak.
"Alya! Sini bentar!"
Dengan malas-malasan, Alya menghampiri mereka.
"Ada apa?"
Raka menunjuk ke arah lapangan.
"Foto tim basket, dong."
"Banyak kok yang bisa motret."
"Tapi yang hasilnya bagus cuma lo."
Alya menatap Raka beberapa detik.
"Muji terus ada maunya ya?"
"Iya."
"Nah, kan."
"Tapi pujiannya jujur."
Entah kenapa, Alya tidak bisa membalas. Ia hanya menghela napas lalu mengangkat kameranya.
"Ya udah. Berdiri yang rapi."
Anak-anak basket langsung berbaris.
Bukannya serius, Raka malah membuat pose aneh yang memancing tawa teman-temannya.
"Raka, yang bener!"
"Ini udah bener."
"Enggak."
"Oke, bentar."
Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, Alya berhasil mendapatkan foto yang menurutnya cukup bagus.
---
Sepulang dari sekolah, Alya memindahkan hasil foto ke laptop.
Ia memilih beberapa yang paling bagus untuk dikirim ke guru.
Sisanya hanya disimpan di galeri.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Notifikasi dari Nadya.
> Nadya: "Woy, buka IG sekarang!"
Alya yang bingung langsung membuka Instagram.
Di bagian story paling atas, muncul akun milik Raka.
Ia menekan story itu.
Layar menampilkan foto lapangan basket yang diambil dari belakang. Matahari pagi terlihat pas di atas ring, sementara beberapa pemain sedang berlari mengejar bola.
Di pojok kanan bawah, ada tulisan kecil.
📸: @alyapratama
Alya mengernyit.
"Itu kan foto gue..."
Belum sempat berpikir lebih jauh, story berikutnya muncul.
Foto kedua menampilkan Raka yang sedang tertawa bersama Dion di pinggir lapangan.
Sekali lagi, ada tulisan:
"Thanks buat fotografer dadakan hari ini 🙌"
Beberapa detik kemudian, notifikasi ponselnya tidak berhenti berbunyi.
Teman-teman sekolah mulai me-reply story itu.
Ada yang memuji fotonya, ada juga yang langsung menggoda.
> "Wih, credit segala."
> "Fotografer favorit nih?"
> "Cie, udah saling tag."
Alya langsung menutup aplikasi.
Pipinya terasa hangat.
Bukan karena malu difoto.
Tapi karena tahu besok di sekolah pasti akan ada yang membahas ini.
Dan benar saja.
---
Senin pagi, baru saja Alya duduk di bangkunya, Nadya sudah menyenggol lengannya.
"Gimana rasanya masuk story kapten basket?"
Alya membuka buku.
"Biasa aja."
"Biasa apanya? Kemarin banyak yang nge-chat gue."
"Nanya apa?"
"Nanya kalian deket, ya?"
Alya langsung menoleh.
"Terus lo jawab apa?"
"Gue bilang... nggak tahu."
Alya menghela napas lega.
"Tapi habis itu gue bilang, kayaknya sih iya."
"NADYA!"
Nadya tertawa sampai guru yang lewat melirik ke arah mereka.
---
Saat jam istirahat, Alya pergi ke kantin sendirian karena Nadya masih menemui guru.
Ia baru saja membeli es teh ketika seseorang berdiri di depannya.
Raka.
"Udah lihat story gue?"
"Udah."
"Marah?"
"Kenapa harus marah?"
"Soalnya gue upload foto lo."
Alya menggeleng.
"Kan yang di-upload fotonya, bukan muka gue."
Raka tersenyum.
"Berarti aman."
"Tapi lain kali bilang dulu."
"Oke."
Raka mengangguk cepat, lalu menambahkan dengan nada santai,
"Kalau foto muka lo, izin dulu."
Alya spontan memukul pelan bahunya.
"Jangan aneh-aneh."
"Siap."
Mereka berdiri beberapa saat tanpa bicara.
Di sekitar mereka, kantin mulai ramai oleh siswa yang mengantre makan siang.
Tiba-tiba Raka menunjuk kamera yang tergantung di bahu Alya.
"Suatu hari nanti, gantian ya."
"Gantian apa?"
"Gue yang fotoin lo."
Alya menaikkan alis.
"Emang bisa?"
"Belajar."
"Nanti hasilnya jelek."
"Kalau yang difoto lo, harusnya tetap bagus."
Kalimat itu membuat Alya terdiam sesaat.
Ia tidak tahu harus menganggapnya sebagai candaan atau pujian.
Yang jelas, senyum di wajah Raka kali ini terlihat lebih tulus daripada biasanya.
Di sisi lain, tanpa mereka sadari, dari meja dekat jendela ada beberapa teman sekelas yang memperhatikan dan saling berbisik.
Rumor kecil mulai beredar.
Katanya, Alya dan Raka belakangan ini terlalu sering terlihat bersama.
Padahal menurut Alya, mereka hanya kebetulan sering bertemu.
Setidaknya... itu yang masih ia yakini.