NovelToon NovelToon
Luka

Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fanfic / Cintapertama / Patahhati / Contest / Tamat
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilmi Syam

Cinta monyet yang meninggalkan luka dan trauma di hati seorang pemuda bernama Ahmad Dzaki. Karena perasaan bersalah atas apa yang menimpa wanita yang dicintainya, Dzaki memilih menjauh dan berubah menjadi sosok arogan, kasar dan dingin.

Setelah 18 tahun, akhirnya Dzaki bertemu kembali dengan Aleya, gadis yang dicintainya. Namun pertemuan itu justru semakin membuat Dzaki sakit hati dan menyesal. Akankah Dzaki dan Aleya bisa bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilmi Syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan Maut ( 2 )

23 Maret 2020 di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Indonesia

"Den Dzaki" suara Mendi bergetar melihat majikannya setelah 18 tahun. Dia menghentikan kegiatannya membersihkan kaca mobil dan setengah berlari untuk membuka pintu belakang mobil Mercedes-Benz E Class tersebut.

Dzaki berjalan kearah Mendi dengan penuh percaya diri, terdengar suara langkah yang penuh keyakinan, badannya tinggi, postur yang tegap dan berotot, bahu lebar, dengan rambut yang disisir rapi. Dzaki menggunakan kemeja putih yang lengannya dilipat sampai di bawah siku dengan kancing paling atas yang sengaja dilepas. Kemeja itu dipadukan dengan celana jeans selutut dan sepatu yang berwarna sama, coklat.

"Pak Mendi" sahut Dzaki sambil melepas kaca mata hitamnya dan menatap Mendi dengan datar sambil masuk ke dalam mobil diikuti Mendi yang duduk di kursi kemudi dan Ferdy di sampingnya

Sambil mengemudi mobil, sesekali Mendi melirik Dzaki dari kaca spion sambil tersenyum sementara Ferdy memilih membaca artikel berita dari ponselnya.

"Den Dzaki makin ganteng ya, kalau bukan karena Den Ferdy, pasti saya gak ngenalin Den Dzaki" ucap Mendi polos, majikannya memang sangat jauh berubah

"Mungkin karena kebanyakan makan coklat dan roti jahe ya den?" sambung Mendi yang hanya dijawab oleh Dzaki dengan senyum seadanya.

"Kalau coklat dan kue jahe bikin ganteng, pasti sekarang Pak Mendi lebih ganteng dari Dzaki" Ferdy menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

Setiap Widya ke Jerman untuk bertemu putranya, dia memang selalu membawa oleh-oleh untuk dibagi-bagikan. Dan favorit Mendi adalah coklat dan kue jahe. Selain rasanya yang enak, Mendi suka dengan bentuk kue jahe yang mirip orang-orangan sawah, "jadi ingat kampung" kata Mendi.

"Den kok gak bawa apa-apa? bukannya udah mau menetap di Jakarta? lanjut Mendi belum menyerah

"Barang-barangku menyusul pak" Jawab Dzaki datar sambil memperbaiki posisi duduknya. Terlihat jelas kalau dia malas untuk melanjutkan pembicaraan itu.

Dzaki memandang keluar melalui kaca mobil dengan tatapan kosong, hening berlangsung selama beberapa menit membuat Mendi merasa semakin tegang. Akhirnya Mendi memberanikan diri memulai obrolan baru.

"Sangat banyak yang berubah di Jakarta Den, sekarang gedungnya sudah tinggi-tinggi, mall ada dimana-mana dan lalu lintas macetnya minta ampun" Ucap Mendi.

Dzaki hanya menyeringai dan mengalihkan pandangannya ke ponselnya yang bergetar, melihat nama Liza, Dzaki langsung mematikan ponselnya.

"Antarkan saya ke TPU Menteng Pulo Pak" ucap Dzaki datar lalu merebahkan badannya ke sandaran jok mobil.

"Tapi den, Bu Widya tadi pesan kalau kita harus langsung pulang ke rumah" Mendi agak terbata-bata.

Dzaki tidak merespon ucapan Mendi, tapi Ferdy yang dari tadi sibuk dengan ponselnya langsung memberi kode ke Mendi untuk mengikuti kata-kata Dzaki.

Mendi tiba-tiba merasa sedih, padahal sebelum berangkat ke Bandara tadi pagi, Mendi sudah diingatkan berkali-kali oleh Widya. "Pak Mendi, jangan kaget ya kalau Dzaki banyak berubah, Pak Mendi jangan sedih kalau Dzaki mengucapkan sesuatu yang buruk" dan masih banyak lagi petuah-petuah yang diucapkan majikannya.

Mendi masih ingat sosok Dzaki 18 tahun yang lalu. Sosok yang ceria dan hangat pada siapapun, namun sekarang sangat jauh berubah, tidak ada senyum di wajahnya, tidak ada lagi tatapan hangat dan tidak ada lagi tutur kata yang halus dan sopan.

"Mungkinkah tuan mudanya itu berubah karena kecelakaan naas itu" gumam Mendi

***

Di TPU Menteng Pulo

Setelah bertanya ke petugas TPU, Dzaki perlahan berjalan ketengah pemakaman sambil mencari-cari sebuah nama. Hingga akhirnya langkahnya berhenti setelah menemukan sebuah makam dengan nama yang sangat akrab dalam hidupnya.

IHSAN JAYANTO

Lahir 17 September 1960

Wafat 1 Mei 2002

Wajah yang selama 18 tahun terakhir terlihat kaku dan dingin kini berubah pucat. Watak keras dan arogan yang selama ini membuat orang-orang tak berkutik, sekarang tampak begitu rapuh. Seluruh kesedihan, penyesalan, rasa bersalah dan kemarahan yang selama ini berusaha dikuburnya dalam-dalam sekarang membuncah memenuhi dadanya hingga sesak. Dzaki merasa kakinya sangat berat untuk melangkah mendekati makam itu. Tangannya dikepal sekuat tenaga, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk ziarah ke makam Ihsan.

***

"Iya bu... baik bu... baik bu... iya bu" Mendi meletakkan ponselnya, Widya sudah tiga kali menelponnya sejak dia memarkir mobil di depan pintu masuk TPU Menteng Pulo

Widya menelpon berkali-kali hanya untuk memastikan agar Mendi membawa Dzaki pulang ke rumah terlebih dahulu jika urusan di TPU Menteng Pulo selesai. Setelah meletakkan ponselnya, Mendi melirik ke Ferdy yang kini sudah tertidur lalu menghela nafas panjang saat melihat Dzaki masih diam tak bergeming di depan sebuah makam. Sudah 15 menit Dzaki hanya berdiri mematung memandangi makam itu.

***

Hampir 30 menit Dzaki hanya mematung memandangi makam Ihsan. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi, nafasnya juga mulai teratur. Perlahan Dzaki mulai melangkahkan kakinya, setelah dirasa cukup dekat, dia kemudian jongkok dan tangannya yang masih berkeringat dingin memegang pusara makam tersebut.

"Om, maaf karena aku baru bisa datang sekarang" suara Dzaki terdengar berat. Bibirnya bergetar karena emosi yang hampir memenuhi dadanya. 18 tahun yang lalu dia masih bisa menangis hingga terisak saat mendengar kabar kalau Ihsan menutup mata untuk selamanya.

"Om, maaf dan terima kasih" bisik Dzaki kemudian. Dia kembali teringat kejadian hari itu.

***

1 Mei 2002 di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta

Hampir 2 jam Dzaki dan Ihsan memanjakan diri di toko buku, memilih buku, berdiskusi sebentar lalu memutuskan itu layak untuk dibeli atau tidak. Tanpa sadar di kerajang Dzaki sudah ada 11 buku.

"Sudah selesai?" tanya Ihsan setelah melihat Dzaki hanya berdiri diam memandang ke arahnya yang membaca rangkuman sebuah buku biografi.

"Sudah om" sahut Dzaki antusias,

Dia merasa sangat senang, akhirnya ada seseorang yang bisa diajak mendiskusikan buku yang dia anggap menarik. Biasanya kalau pergi sendiri, dia akan langsung membeli buku tersebut dan terkadang berakhir dengan kekecewaan karena ternyata isi bukunya jauh dari harapan.

Dzaki memang jarang memiliki teman untuk diajak jalan diluar sekolah. Mungkin karena teman sekelasnya berusia 2 tahun diatasnya, Dzaki kadang kurang suka jika diperlakukan seperti anak kecil.

"Biar om yang bayarin yah" Ihsan lagi-lagi menawarkan diri setelah mereka berdiri di depan kasir.

"Makasih om, tapi lain kali aja ya. Aku udah terlalu merepotkan. Nanti aku dimarahi papa" Dzaki menolak dengan halus

"Kan cukup om dan Dzaki yang tahu"

"Jangan om, aku yang merasa gak enak" sahut Dzaki polos.

Ihsan hanya tersenyum, akhirnya dia mengalah dan membiarkan Dzaki membayar sendiri bukunya. Setelah urusan mereka di toko buku selesai, Ihsan dan Dzaki berjalan menuju parkiran. Mereka tidak tergoda dengan hiruk pikuk lain yang memenuhi pusat perbelanjaan itu. Begitu mereka duduk di dalam mobil, Ihsan menyodorkan sebuah buku ke Dzaki.

"Ini om belikan sebagai hadiah, kalau yang ini gak boleh ditolak loh" Ihsan menyodorkan sebuah buku dengan sampul warna hijau. Bukunya tidak tebal, tapi juga tidak terlalu tipis.

"Makasih om" Ucap Dzaki sambil memperbaiki posisi buku itu, dia lalu membaca judulnya.

"Rumah Tangga Islami"

Dzaki terlihat bingung.

"Mungkin sekarang belum terpakai, tapi om berharap kamu bisa menggunakannya suatu hari nanti" Ihsan tersenyum melihat Dzaki kebingungan.

Mobil pun perlahan bergerak menuju jalan raya. Saat berhenti di lampu merah, Ihsan tidak menyadari kalau Dzaki memandangi penjual martabak yang ada di seberang jalan "ini sudah kemalaman, om Ihsan juga pasti sudah kecapean" gumam Dzaki mengurungkan niatnya untuk membeli martabak kesukaannya. Tepat sebelum lampu berganti hijau, barulah Ihsan menyadari hal itu.

"Kamu suka martabak gak?" Ihsan berusaha memancing Dzaki.

"Suka om, itu langgananku, namanya mas parjo, pokoknya sekali om coba, aku jamin gak bakalan tergoda sama martabak lain" Dzaki menunjuk ke arah penjual martabak yang sudah mereka lewati, gerobaknya berada di seberang jalan, tidak jauh dari lampu merah.

"Kita beli yuk"

"Boleh om" Dzaki mengangguk, perutnya memang mulai lapar setelah dua jam memilih-milih buku, di hotel tadi dia tidak menghabiskan makanannya karena semua menu yang dipesan karyawan Reka kurang cocok dengan lidahnya.

Ihsan kemudian menyalakan lampu sein, bermaksud untuk berpindah ke jalur sebelah. Setelah berpindah jalur, Ihsan memarkir mobil panther yang dia kemudikan di dekat gerobak martabak mas parjo.

10 menit kemudian pesanan mereka sudah ada ditangan, sekarang mereka siap untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ihsan dan Dzaki sudah duduk di posisi masing-masing saat Ihsan mulai menyalakkan mesin mobil.

Teeet..teeet..teeet

Tiba-tiba terdengar suara klakson yang memekakkan telinga. Sebuah mobil box 10 roda dari jalur sebelah sedang mendekat ke mobil mereka yang dikemudikan Ihsan. Pengemudinya dengan susah payah berusaha mengendalikan mobil raksasa tersebut. Remnya blong dan dia terpaksa berbelok ke jalur sebelah setelah melihat tumpukan kendaraan yang berhenti di lampu merah tepat di depannya. Siapa sangka, setelah berpindah jalur, didepannya kini justru terparkir sebuah mobil panther dengan penumpang di dalamnya serta sebuah gerobak martabak dan beberapa orang yang sedang mengantri.

Teeet..teeet..teeet

Ihsan dan Dzaki menoleh bersamaan ke sumber suara dan

BRAAAKKK

Tubuh mereka terhempas ke kanan lalu dengan cepat terbanting ke arah kiri. Mereka ditabrak sebuah mobil 10 roda tanpa ampun. Terseret hingga beberapa meter.

Seketika hening di dalam mobil, samar-samar Dzaki melihat orang yang berkerumun di luar mobil. Melihat ke arah mereka dengan prihatin bercampur panik.

"Om,.. om Ihsan" Dzaki sekuat tenaga mengeluarkan suaranya, Dzaki tidak bisa bergerak, seluruh tubuhnya mati rasa.

"Om" lagi-lagi tidak ada jawaban.

Ihsan hanya terdiam, tidak menjawab, tidak bergerak dan juga tidak bernafas.

Bersambung...

1
tay kus
jelas dan mudah di pahami alur ceritanya
Prabu Marbun
Aku kepo banget lanjutannya gimana Thor! Plis jangan lama-lama ya!
Pai Konyol
Ceritanya bagus kak. Alurnya juga asik jadi bikin ga bosen hihi
girlganggoodies
Kakak author, cukup lagu dan jemuran aja yang digantung.. aku jangan..
fleurlovin
Aku udah mampir nih! Kayaknya sih bakal menetap buat nungguin bab baru! *ahem*
༺Leͥgeͣnͫd༻ᴳᵒᵈ
hallo kakak semangat berkarya ya kak🤭
HotBabe
Gak bisa tidur dehhh hayati!
Bisikan Luar Biasa
Hai, kak. Aku suka alurnya.. bisa ngebawa aku kayak ada di dalem cerita~!!
NewJerseyJack
Aku baru baca dan ga berasa udah sampe bab paling baru. Ditunggu bab selanjutnya, ya!
Diambil Oleh Anggur
Thor update crazy dong ...... author baik.. pinter... update crazy ya 😙👍👍
~Nessa
Salken Author,aku mendukung karya mu yang keren ini..

Sudah Ku tinggalkan like banyakkk juga.dan fav

Ku juga menunggumu di Karya Ku ...Saling Dukung yukk....

MAKASIH..
..Banyakkk

NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!