Kisah yang banyak mengandung misteri dan kekerasan, berusaha mempertahankan milik dan merebut milik yang lain.
"Aku memang terlatih menjadi senjata, jadi tidak salah bukan jika aku kejam dan beringas. Dulunya aku adalah seorang Wakil Pemimpin anggota mafia, tapi sekarang ... aku adalah Ratu kejam untuk Raja Dingin." ~ Freya.
"Dia memang kejam, keras kepala namun cerdas. Semua sikapnya membuatku semakin tertarik padanya, dia Lebah Kecilku, dia Ratuku." ~ Sean.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Tidak Akan Lepas
Di dalam ruangan dengan dinding yang terbuat dari batu, seorang gadis baru saja keluar dari kamar mandinya. Hal yang sedikit mencolok dari gadis itu ialah pakaian yang dia kenakan, meskipun terlihat sangat cocok dengannya, hanya saja bajunya sedikit terbuka. Untuk seorang wanita, sangat dilarang keras menggunakan pakaian terbuka, karena kebanyakan wanita yang menggunakan pakaian seperti itu hanyalah wanita penghibur.
Freya mendekati lemarinya, kemudian berkaca pada cermin di sana, meski cerminnya pecah tapi masih bisa memantulkan wajah dan tubuhnya.
Bisa Freya lihat, pakaian yang dia kenakan sangat cocok dengan kulitnya yang putih serta postur tubuhnya yang lumayan, meski masih terlalu kurus. Pakaian Freya kenakan sengaja tidak memiliki lengan, ditambah lagi memperlihatkan paha dan betisnya yang putih, semua agar membuat pergerakan Freya lebih leluasa dari pada harus mengenakan gaun. Di ke dua lututnya juga ada kain hitam yang mengikat di sana.
"Tidak buruk, paling tidak aku tidak perlu merasa risi dengan pakaian panjang itu," gumam Freya puas dengan karyanya.
Merasa telah cukup menatap cermin, Freya keluar dari kamarnya. Kastil yang dia tinggali sangat sepi, selain dirinya dan Elis tidak ada lagi yang lain di kastil dingin. Freya tidak tahu kenapa Elis begitu baik hingga mau menemaninya tinggal di kastil, tapi ... semua perbuatan baik Elis akan Freya kenang dan balas suatu hari nanti.
Melihat kastil sangat sepi, tidak ada Elis, Freya merasa sedikit bingung. Ke mana Elis pergi? Biasanya Elis sangat jarang meninggalkan kastil, kalaupun pergi, Elis pasti selalu menyempatkan pamit padanya.
Freya tidak merasa masalah jika Elis pergi, lagi pun Freya juga ingin melakukan sesuatu. Freya berjalan menuju pintu lalu membukanya, dan secara kebetulan ada seseorang di depan pintu itu.
"Nona Freya," sapa seorang pria berbadan cukup gemuk, memiliki kumis tebal, berpakaian cukup mewah menandakan bahwa pria itu berasal dari keluarga bangsawan.
Freya tidak mengenal pria itu, tapi dia tetap membalas, "Iya, ada apa?" Freya memperhatikan beberapa prajurit yang berada di belakang pria berkumis itu.
Pria itu tampat sedikit terkejut dengan pakaian yang dikenakan Freya, dan tanpa sadar pria itu meneguk ludahnya kasar. Tapi ... sesaat kemudian pria itu sadar, kedatangannya ke sini karena tugas dari pemimpinnya.
Pria berkumis itu berdeham pelan diikut dengan tangannya yang menutup mulutnya, "Nona Freya, saya adalah Baron di kerajaan, nama saya Brendan." Pria berkumis itu memperkenalkan dirinya dengan hormat, membungkukkan dirinya di depan Freya sebagaimana para bangsawan bersikap. Sikap Brendan membuat Freya sedikit terkejut, "Saya menerima perintah dari Yang Mulia untuk menjemput Nona." Brendan menegakkan kembali tubuhnya, disertai dengan senyuman hangat yang muncul.
Freya masih terlihat sedikit bingung, Raja Sean meminta seorang Baron kerajaan menjemputnya? Bukankah itu terdengar seperti mukjizat, karena biasanya Raja Sean hanya meminta para prajurit yang melakukannya. Tapi kali ini ... membuat Freya curiga.
"Menjemput? Maksud Baron?" Freya menunjukkan ekspresi bingung, terlihat sangat polos dan lugu.
"Yang Mulia memerintahkan Nona Freya pindah. Ke depannya Nona Freya akan tinggal di istana bersama Yang Mulia," jelas Brendan.
Seharusnya mendengar kabar ini Freya merasa senang atau terkejut, tapi sebaliknya Freya justru memasang ekspresi gelap, seakan tidak senang mendengar perintah seperti itu. Freya tahu, jika dia tinggal di istana bersama Raja Sean, penderitaannya pasti akan semakin bertambah, tapi Freya tidak punya kuasa untuk menolak, kalau pun dia menolak Freya sama saja membuat dirinya dalam masalah.
Freya tidak ingin menanyakan lebih lanjut mengenai kenapa Raja Sean menurunkan perintah seperti itu, paling tidak ke depannya Freya akan hidup lebih terjamin, tidak lagi tinggal dalam kastil dari batu.
"Jika Yang Mulia memberi titah seperti itu, aku hanya bisa menurut," balas Freya sambil menyimpul seutas senyuman. Di dalam hati, Freya sedang berpikir rencana apa yang dia lakukan selama tinggal di istana, sudah pasti kehidupannya nanti tidak akan seperti sekarang.
Brendan membalas senyuman Freya, "Nona Freya silakan ikut bersama kami."
***
Tampak Sean terfokus pada dokumen yang dia baca, bersamaan dengan itu, datang seorang pria berkumis yang tidak lain adalah Brendan. Brendan dengan perlahan mendekati Sean yang masih duduk menatap dokumennya.
"Yang Mulia, saya sudah menjalankan perintah anda. Nona Freya sudah berada di kamar Yang Mulia," ucap Brendan sambil membungkuk memberi hormat.
Sean mengangkat pandangannya, menatap Brendan sesaat sebelum akhirnya dia tersenyum tipis, "Kalau begitu pergilah."
Brendan segera pergi tanpa berkata apapun lagi, meski terbesit di pikirannya kenapa Sean membiarkan pembunuh adiknya tinggal satu atas dengannya, dan lebih membingungkannya lagi tinggal satu kamar. Tidakkah aneh Raja Sean menurunkan perintah seperti itu? Apa mungkin Raja Sean telah jatuh cinta dengan pembunuh adiknya? Berpikir tentang cinta, itu sangat tidak mungkin terjadi. Raja Sean sangatlah tidak menyukai wanita sejak Ibunya Ratu Hayana meninggalkan dirinya bersama adiknya di kerajaan Felix. Sejak saat itu suka duka pahitnya kehidupan sudah Sean rasakan. Bahkan untuk menjadi Sean yang sekarang, dia telah banyak melakukan pengorbanan termasuk perasaannya sendiri.
Sean terdiam untuk sesaat setelah Brendan keluar, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin bersangkut paut dengan Freya? Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Sean. Sean tentu tidak hanya menghabiskan waktu memikirkan Freya, masalah dan pekerjaannya masih banyak.
Lama Sean termenung dengan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan meninggalkan ruang kerjanya menuju kamarnya.
***
Freya berjalan menuju salah satu kursi kemudian duduk di sana. Bisa Freya lihat kamar Raja Sean atau mungkin lebih tepat suaminya, sangatlah mewah ... hanya saja terasa suram dan tidak nyaman. Freya merasa kamar ini penuh dengan kesedihan dan kemarahan yang mendalam.
Kamar Raja Sean lumayan luas, tapi perabot dalam kamarnya sangat sedikit, hanya ada satu kasur besar berhias tirai sulaman emas. Dua kursi panjang, satu lemari kaca, dan beberapa pajangan gambar yang tertutup kain merah. Bahkan kamarnya juga kurang cahaya.
Freya tidak berkeinginan melakukan apapun dengan kamar Raja Sean, bahkan untuk membuka tirai jendela pun enggan, lagi pun Freya bukanlah pelayan kebersihan, tidak ada perintah yang menugaskannya membersihkan apapun. Freya hanya diminta pindah dan tinggal di sini.
Tidak lama Freya duduk tenang di kursi, pintu kamar terbuka dan masuklah seorang pria yang membuat pandangan Freya berubah tajam. Pria itu tidak langsung menghampiri Freya, melainkan menuju ranjang lalu membuka bajunya begitu saja dan menggantinya dengan piama putih polos.
Freya hampir meneriaki pria itu sebab tidak tahu malu membuka bajunya di depan seorang wanita, tapi karena Freya mengenal pria itu adalah seorang Raja, alangkah lebih baik Freya diam saja dulu. Bukan takut atau apa, hanya saja Freya tidak ingin bermasalah lebih awal. Lebih buruk kalau dia bermasalah dengan seorang Raja, bahkan jika dia berlari ke ujung dunia pun Freya akan tetap menjadi buronan ternama.
Setelah pria itu mengganti bajunya, barulah dia mendekati Freya dan duduk di depan Freya. Tatapan datar bertemu dengan tatapan tajam, membuat suasana yang tadinya suram semakin bertambah suram, bahkan membuat suasana kamar terasa menyeramkan.
Lama mereka berdua saling bertatapan, Freya menghela nafas sambil menghentikan tatapan di antara mereka, "Apakah Yang Mulia memanggil saya ke sini hanya untuk ditatap saja?" dengus Freya sambil membuang pandangannya.
Sean tersenyum namun hanya untuk sesaat, "Bagaimana rasanya habis membunuh dua prajurit?" Pertanyaan Sean membuat Freya sedikit tergerak namun tetap bersikap tenang, "Senang, puas, bahagia." Sean menyandarkan punggung pada sandaran kursi di belakangnya, membuat posisi duduknya lebih santai.
Freya tersenyum sinis, "Sangat, sangat puas," jawab Freya penuh penekanan setiap kalimat. Meskipun Freya sempat terkejut Sean tahu dia telah membunuh dua prajuritnya. Tapi anehnya, sepertinya Sean tampak tidak peduli dengan kematian dua prajuritnya.
Jawaban Freya membuat Sean tersenyum lagi, tapi senyumannya itu mengartikan sesuatu yang buruk. Sean beranjak bangun kemudian menyerang Freya dengan belati di tangannya. Karena Sean melakukannya dengan cepat, Freya tidak sempat menghindar. Membuat akhir posisinya menjadi terpojok.
"Seorang ahli bela diri bisa menyembunyikan karakter lainnya dari mata Jenderal Bryan, sungguh mengejutkan." Sean menatap tajam Freya yang kini dalam ganggamannya, bisa dia lihat Freya tidak bisa bergerak sebab belati milik Sean berada tepat di leher Freya.
Meski keadaan Freya tidak menguntungkan, Freya masih berani menyungging senyum, "Berarti Jenderal Bryan masih kurang cermat memperhatikan seseorang." Freya dengan cepat menyikut ************ Sean dengan betisnya, cukup kuat membuat Sean membulatkan matanya.
Freya tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalikkan keadaan, dengan cepat Freya meraih tangan kanan Sean lalu memutarnya ke belakang tubuh Sean, membuat pergerakan Sean terkunci.
Sean sedikit terkejut akan keberanian Freya, tidak hanya menendang masa depannya, tapi juga berani membuat pergerakannya terkunci. Sungguh tidak di sangka bukan, suatu saat akan ada seseorang berani melakukan hal seperti itu kepada seorang Raja terutama seorang wanita.
"Lepaskan aku, atau kau akan menyesal," ucap Sean tajam dan tentunya mengancam.
Freya mendengus pelan, "Menyesal hanya untuk orang yang lemah," balas Freya dengan nada meledek.
"Kau!" Sean meninggikan suaranya, berpikir Freya akan takut justru membuat gadis itu semakin tersenyum meledeknya. Sean tentu tidak terima.
Sebagai seorang Raja tentu dia memiliki posisi itu bukan hanya karena keturunan dari seorang Raja, tapi karena dia memang mampu menggapai posisinya sekarang. Sean menggunakan tangan kirinya menarik baju Freya, membuat suara sobekan terdengar. Tidak hanya berhenti di situ, Sean juga memutar tubuhnya sehingga posisi yang tadi menguncinya kembali bebas. Sean juga langsung menyikut betis kiri Freya, membuat gadis itu berlutut sebelah. Tapi ... Freya membalasnya dengan menendang kaki kiri Sean dengan kaki kanannya.
Karena semua terjadi dengan cepat, Sean tidak bisa menghindari tendangan Freya sehingga dia jatuh terjerembab ke kursi di belakangnya. Freya juga langsung melompatinya dan duduk di atas perut Sean, tentu saja Freya melakukan itu untuk mencegah pergerakan Sean dengan menahan dua tangan Sean dengan tangannya, tidak hanya itu, Freya menekan perut Sean dengan sedikit tenaga membuat Sean agak kesulitan bernafas.
"Yang Mulia, jangan katakan kemampuan anda hanya seperti ini, sungguh mengecewakan." Freya menyeringai, meledek betapa lemahnya Sean sebagai seorang Raja.
Tapi apa iya Sean lemah? Lalu julukan Raja Dingin dan Kejam untuk apa? Pajangankah?
Sean tersenyum kecut, "Hem! Kau membuatku ingin semakin memakanmu." Sean dengan cepat menyantukkan kepalanya dengan kepala Freya membuat gadis itu sedikit terpukul mundur.
Memar terjadi di ke dua kepala mereka, siapa bisa menduga Sean akan menghantamkan kepala ke kepala Freya. Sean tidak membiarkan Freya begitu saja meskipun kepalanya terasa sakit saat menghantam kepala Freya.
Kini situasi menjadi semakin panas, Sean juga sudah membalikkan keadaan. Freya sekarang ada dalam ganggamannya, dengan mengunci pergerakan Freya seperti Freya mengunci pergerakan sebelumnya.
Freya menatap tajam Sean yang kini duduk di atasnya, dapat dia lihat Sean tersenyum sinis ke arahnya.
"Tidak kusangka kau lebih licin dari pada belut," ucap Sean, dia mengakui Freya bisa membuat Sean beberapa kali tersudut, padahal Sean sangat jarang berada di posisi seperti itu. Atau mungkin karena perkelahian mereka berada di tempat yang kurang menguntungkan.
Sesaat Freya tersenyum sinis, membuat Sean mengerutkan keningnya, "Terimakasih atas pujiannya, Yang Mulia." Seketika kaki Freya langsung menggapai leher Sean, entah bagaimana Freya melakukannya, tapi sikapnya itu membuat Sean terkejut.
'Badan wanita ini lincah sekali!' Sean tertarik mundur membuat jatuh ke belakang. Tahu kalau Freya akan menguncinya lagi, Sean dengan cepat melempar tubuh Freya ke sisi lain.
Hampir, hampir saja tubuhnya menghantam lantai dengan keras, andaikan Freya tidak langsung salto di udara tentu saja Freya tidak akan berdiri seperti sekarang.
Di sisi lain, Sean segera bangkit dan kemudian mendekati Freya. Freya berpikir Sean akan melayangkan beberapa pukulan padanya, tapi ternyata Sean hanya mengecoh pandangan Freya dengan tinjauan yang dia layangkan, dan ketika ada celah Sean langsung memeluk Freya dengan kuat.
Freya merontah, ke dua tangan terkunci karena pelukan Sean padanya sangat kuat, tentu Freya kalah tenaga dengan Sean. Tapi ... masih ada kakinya yang berfungsi, dan dengan cepat Freya menendang betis Sean dengan kuat.
Karena tendangan sangat kuat mendarat di betisnya, Sean kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke belakang yang membuat punggungnya menghantam keras lantai. Sakit? Sudah tentu sakit, bahkan Sean mengeluarkan sedikit suara rintihan. Tapi Walaupun begitu, pelukannya terhadap Freya tidak juga terlepas.
Freya mendengus kasar, 'Pria ini sangat kuat. Dengan tubuh lemah ini tentu aku kalah kekuatan dengannya.' Freya masih merontah-rontah dalam pelukan Sean, "Lepaskan! Apa kau mau terus memelukku begini?" seru Freya sedikit keras.
Sean mengguling tubuhnya ke kiri, membuat posisinya yang sebelumnya di bawah berganti di atas, "Meskipun kulepaskan, kau juga tidak akan bisa pergi ke mana-mana, selamanya kau akan menjadi milikku." Entah apa yang membuat Sean berkata seperti itu, Freya merasa jijik mendengarnya.
"Aku tidak tahu apa harus tersanjung atau tidak? Yang Mulia tidak ingin melepaskanku, berarti aku sangat berarti bagi anda."
____________________
A/N : Bucin apa pemaksaan mas? 😂😨
Cast: Sean
Cast : Freya
Karakter Sean & Freya (menurut kalian cocok gak? ^-^)
smngat thor upnyaa
jngan lam² thor..ditnggu ya thor kelanjutannya😉