Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Pintu kamar mandi perlahan terbuka dengan derit halus. Aruni melangkah keluar dengan jemari yang gemetar hebat, seluruh tubuhnya menggigil ketakutan ditelan keputusasaan.
Tanpa membuang waktu, Nova menyambar ketiga testpack yang dipegang Aruni. Mata wanita paruh baya itu membelalak saat mendapati dua garis merah pekat tertera jelas pada seluruh alat tersebut. Syok mendalam sempat menghantamnya, sebelum sebuah kesadaran terlintas cepat di benaknya.
‘Brengsek! Rupanya wanita bodoh ini hamil benihnya Tuan Edgar Ganendra! Edgar tidak boleh sampai tahu kalau Aruni mengandung darah dagingnya!’ batin Nova, menyunggingkan seringai amat licik.
Nova sengaja memoles raut wajahnya menjadi histeris dramatis. "Pah, coba lihat! Aruni hamil, Pah!" teriaknya memecah keheningan rumah.
Dona yang berdiri di samping ibunya ikut melotot. Ia tahu pasti siapa pria di balik kejadian malam itu.
‘Sialan, hebat juga si Aruni. Cuma kejadian semalam doang bisa langsung hamil? Tokcer juga Tuan Edgar!’ batin Dona penuh kedengkian.
Mendengar jeritan istrinya, Pak Marwan melangkah maju dengan wajah yang memerah padam akibat amarah yang membakar dadanya. Matanya menyalang menatap putri kandungnya.
"Kurang ajar! Jadi ini balasanmu terhadapku, Aruni?!" bentak Pak Marwan dengan suara menggelegar. "Kau benar-benar sudah membuat malu Papah! Rupanya di luaran sana kau begitu bejat?!"
Aruni langsung menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh memeluk kedua kaki sang ayah dengan air mata yang mengucur deras.
"Ampun, Pah... Ini semua bukan sepenuhnya salah Aruni! Aku telah...!"
"Pah!" potong Dona cepat sebelum Aruni sempat membongkar kebenaran. Matanya berbinar memprovokasi. "Aku pernah lihat dia pulang pagi, dan Papah tahu? Di leher Aruni penuh dengan tanda kemerahan! Informasi yang Dona dapat, Aruni habis check-in di hotel... Aruni menjual diri demi bisa kuliah!"
Tuduhan keji itu menjadi jerami terakhir yang meruntuhkan sisa kesabaran Pak Marwan. Murka melingkupi akal sehatnya.
PLAKK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Aruni. Hantaman itu begitu kuat hingga Aruni tersungkur ke lantai. Bekas telapak tangan membekas merah di kulit mulusnya, sementara sudut bibirnya robek dan mengeluarkan lelehan darah segar.
melihat nona mudanya dihancurkan secara membabi buta, Bik Sumi tak sanggup lagi hanya menjadi penonton. Dengan keberanian yang tersisa, ia menerobos masuk dan berlutut memeluk tubuh Aruni yang tergeletak pasrah.
"Cukup, Tuan! Hentikan, kasihan Non Runi!" jerit Bik Sumi menahan dada Aruni.
"Sumi, kau tidak usah ikut campur!" bentak Pak Marwan geram, menunjuk pintu keluar dengan telunjuk gemetar. "Mulai sekarang, kau bukan lagi putriku! Pergi dan angkat kaki dari sini! Rumah ini tidak akan pernah sudi menerima wanita pezina sepertimu! Dan kau, Sumi... kau aku pecat! Bawa anak sialan ini pergi dari rumahku sekarang juga!"
Aruni menangis histeris. Dadanya terasa begitu sesak dan berdenyut nyeri, bukan hanya karena rasa sakit di pipinya, tetapi karena kenyataan bahwa ayah kandungnya sendiri telah membuangnya tanpa mau mendengarkan kebenaran.
Bik Sumi mengusap air matanya, lalu membantu Aruni bangkit berdiri dengan keteguhan hati.
"Ayo, Non... kita pergi dari sini. Rumah ini sudah tidak pantas lagi untuk Non Runi tempati!" ujar Bik Sumi tegas dan penuh keberanian. Hari ini, ia tak lagi takut pada gertakan siapa pun karena ia bukan lagi seorang ART di rumah neraka itu.
Di balik punggung Aruni dan Bik Sumi yang melangkah gontai keluar menembus pintu gerbang, Nova dan Dona berdiri bersanding. Senyum puas terukir lebar di wajah mereka merayakan kemenangan atas berhasilnya intrik mereka menyingkirkan Aruni dari kehidupan keluarga Darmawan selamanya.
*
*
Jet pribadi keluarga Ganendra akhirnya mendarat mulus di bandara Jakarta. Begitu keluar dari pintu Kedatangan VIP, Edgar melangkah tergesa-gesa dengan aura ketegasan yang tak tertahankan.
"Edgar, kau mau ke mana?" tanya Tuan Fernando yang duduk di kursi roda, heran melihat putra tunggalnya tampak begitu terburu-buru.
"Ada hal penting yang harus aku selesaikan, Pah. Ini menyangkut seorang wanita!" jawab Edgar lugas tanpa menutupi apa pun lagi.
Tuan Fernando seketika mengukir senyum lebar. "Apakah wanita itu calon istrimu?"
Edgar menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap sang ayah dengan sorot mata penuh penyesalan. "Iya, Pah. Aku akan menikahi wanita itu... wanita yang pernah aku renggut kehormatannya!"
Pernyataan jujur itu membuat Tuan Fernando terperanjat kaget, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah tegas.
"Cepat kau bawa wanita itu ke mansion Ganendra! Siapa tahu dia saat ini sudah mengandung anakmu, Edgar!" seru Tuan Fernando penuh penekanan.
Deg!
Kata-kata sang ayah menghantam dadanya Edgar dengan telak. Pria itu mendadak membisu. Memori tentang kejadian aneh selama di Jerman mendadak berputar kembali, tentang rasa mual hebat yang mulai menyerangnya setiap pagi dan malam tanpa alasan medis yang jelas.
"Ya sudah, kalau begitu Papah akan diantar oleh beberapa pengawal sampai mansion. Aku dan Harry akan segera menemui wanita itu!" ujar Edgar mantap.
Tuan Fernando mengangguk setuju dengan wajah sumringah. Harapan besar untuk segera menimang cucu membakar semangat hidupnya, mengubah raut wajahnya yang tadinya lesu menjadi begitu ceria.
Edgar dan Harry bergegas masuk ke dalam mobil limousine hitam yang sudah bersiap di area parkir. Dalam perjalanan menuju kediaman Darmawan, Edgar mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Dokter Julian, sahabat dekat sekaligus dokter pribadi keluarga Ganendra.
Tanpa berbelit-belit, Edgar menceritakan gejala mual dan muntah aneh yang dialaminya secara konsisten belakangan ini.
Dari seberang telepon, Dokter Julian terdengar terkekeh geli. "Ish... kau ini sudah seperti wanita yang sedang ngidam saja, Edgar! Coba kau jujur padaku, apakah sebelumnya kau pernah tidur dengan seorang wanita? Karena setahuku kau itu anti wanita, dan gosip miring yang sering kudengar menyebutmu impoten!"
Sreet!
Mendengar sindiran itu, rahang Edgar mengeras dan jemarinya mengepal kuat. "Dasar brengsek! Sampai saat ini aku belum menemukan si penyebar gosip murahan itu. Kalau aku sampai tahu siapa pelakunya, akan ku patahkan lehernya dan kutarik lidahnya sampai menjulur keluar!" ancam Edgar dingin tanpa nada main-main.
Dokter Julian di ujung telepon seketika bergidik ngeri membayangkan aura membunuh sahabatnya.
"Sudahlah! Cepat katakan, kau pernah tidur dengan seorang wanita sebelumnya?" cecar Dokter Julian membelokkan pembicaraan.
"Ya... sebulan yang lalu aku sempat menodai seorang wanita yang masih suci. Dan entah berapa kali aku melepaskan benihku dalam satu malam... Itu semua gara-gara obat laknat dari musuhku!" ucap Edgar gusar.
Seketika itu juga, ledakan tawa Dokter Julian pecah melintasi sambungan telepon.
"Hey, Tuan Muda! Tapi setidaknya musuhmu itu memberikan sesuatu yang enak-enak, kan? Kau sekarang sudah bukan lagi perjaka ting-ting!" ujar Dokter Julian di sela tawa gilanya. "Dan dari gejalamu, sepertinya kau mengalami sindrom Couvade, sejenis efek simpati atau ngidam yang dialami calon ayah ketika pasangannya sedang hamil. Sepertinya wanita itu memang benar-benar sudah mengandung darah dagingmu!"
Tuk!
Mendengar penjelasan ilmiah yang mengejutkan itu, Edgar terpaku seribu bahasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Di kliniknya, Dokter Julian hanya bisa menatap layar ponselnya sambil menggerutu kesal. "Ish... dasar pria menyebalkan! Seenaknya saja mematikan telepon!"
Sementara itu di dalam mobil, Edgar menatap lurus ke jalanan Jakarta. Dadanya bergemuruh hebat, kehamilan Aruni kini bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang harus segera ia jemput dan mempertanggungjawabkan.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..