Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nindi melawan begal
"Sekarang buka celana loe!" Seru preman.
"Plis bang jangan, bang, kasihanilah gue bang. Nindi bantu gue Nindi." Levin semakin ketakutan, Nindi malah semakin senang.
BUKK !!
BUKK !!
"Arrrrgh!" Kedua preman itu mengerang kesakitan setelah mendapat hadiah pukulan kayu dari Nindi.
Saat kedua preman itu sibuk melucuti pakaian Levin tadi, saat itulah Nindi mempunyai celah untuk memungut sebuah kayu, dia tidak menyiakan kesempatan yang ada, kemudian melayangkan kayu itu ke arah begal.
Nindi orang yang sangat pedulian sebenarnya, mana mungkin dia membiarkan suatu kejahatan yang ada dihadapan matanya itu terjadi begitu saja.
Satu preman langsung tumbang akibat pukulan keras yang Nindi berikan, sedangkan preman lainnya menoleh kearah Nindi sambil merasai sakit di punggungnya, terlihat perempuan yang mendukungnya tadi tengah melayangkan balok kayu ke udara, wajahnya berubah jadi menantang.
"Apa loe liatin gue? Ayo lawan gue sini!" Seru Nindi.
Levin tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, ternyata si cewe urakan itu mau menolong dirinya. Ada perasaan haru yang menyeruak dihati nya, dibalik sifatnya yang pecicilan, ternyata sebuah kebaikan terselubung di dalamnya.
Astaga!
Levin berpikir apa sih?
Dia tidak boleh mempunyai pemikiran seperti itu, cewe urakan tetaplah cewe urakan. Jika dia mau membantu Levin saat ini, itu adalah suatu keharusan bagi Nindi menolong sesama manusia.
Begitulah pemikiran Levin untuk memungkiri sisi baik yang ada pada diri Nindi, terlalu gengsi mengakui kalau Nindi juga memiliki sisi positif.
Preman itu mendekat kearah Nindi, tanpa aba-aba, dia langsung menyerang Nindi dengan tangan kosong, Nindi yang sadar akan datangnya serangan, membuang asal balok kayu yang jadi senjatanya tadi. Meladeni serangan dari si preman itu dengan cekatan.
BUKK !!
BUKK !!
Beberapa kali si preman melayangkan kepalan tangannya kearah Nindi, tapi dengan sigap Nindi menghindari pukulan itu, sehingga si preman hanya meninju angin. Kali ini giliran Nindi yang menyerang, dia menendang kaki si preman dengan kekuatan penuh, membuat si preman tersungkur di aspal.
Nindi menendang badan si preman berkali-kali sambil mengumpat, berbagai sumpah serapah juga terdengar keluar dari mulutnya.
"Bego loe! Mau kasih nafkah keluarga bukan gini caranya! Kalau mau punya duit itu kerja bukannya malah begal orang, semua nggak akan berkah."
"Gue sumpahin loe biar cepet tobat!"
Namun bukan preman namanya kalau pasrah begitu saja, saat ada kesempatan, preman itu menarik kaki Nindi dengan cepat, sehingga tubuh Nindi ambruk menimpa preman yang tumbang tadi.
Levin hanya bengong melihat adegan action yang terjadi dihadapan matanya, terlalu takut membuat dia lupa untuk membantu Nindi yang sudah menolongnya.
Saat itu kedua preman bangkit dari jatuhnya, mengepung Nindi yang masih merasakan ngilu dibeberapa bagian tubuhnya yang terbentur aspal.
"Loe pikir loe itu kuat hah? Nyali loe itu nggak sebesar kekuatan loe ternyata. Haha." Kedua preman itu tertawa, bertolak pinggang melihat Nindi yang berusaha bangkit.
"Enaknya kita apain ini cewe yaa?" Tanya preman.
"Sayang juga kalau di lepasin gitu aja." Sahut temannya.
"Ayo kita bawa ke markas! Gagal dapet motor kita malah dapat berlian. Haha." Keduanyapun tertawa bersama.
Nindi merasa dilecehkan oleh kata-kata mereka, dia hanya diam untuk mengumpulkan kembali tenaganya yang berterbangan. Menunggu langkah apa yang selanjutnya akan diambil oleh kedua begal itu.
"Ayo!" Preman berseru, temannya langsung mengerti dengan apa yang diperintahkan hanya dengan satu kata.
Mereka menarik tubuh Nindi agar bangkit dari duduknya. Levin sempat akan menghampiri mereka dan membantu Nindi yang terlihat lemas, tapi diurungkan lagi niatnya, dia ingin melihat sampai sejauh mana kemampuan Nindi melawan kedua preman itu.
Hiiiaaaaat!
Krek!
"Argggh"
Nindi memelintir tangan kedua preman itu yang memegangi kedua tangannya, dia berpura-pura lemah untuk mengelabui mereka. Dan caranya cukup berhasil, preman itu kembali mengerang kesakitan.
"Sialan loe! Loe cewe monster apa? Tenaga loe gede juga ternyata." Ucap si preman.
"Iya memang, diakan bukan cewe sesungguhnya, dia cewe jadi-jadian." Levin masih sempat-sempatnya menimpali dengan caciannya.
"Diem loe! Bukannya bantuin malah ngatain gue loe. Loe cowo apa banci sih, beraninya sama cewe, sedangkan ngelawan preman aja loe takut, kan?" Tanya Nindi menggebu.
"Stop! Kenapa kalian jadi malah bertengkar? Ayo selesaikan dulu masalah kita!" Seru si preman.
Tanpa aba-aba, preman kembali menyerang Nindi, Nindi mau tidak mau harus kembali meladeni serangan mereka.
Untung saja dia memiliki ilmu bela diri yang dulu dia pelajari bersama kakek buyutnya, sehingga dia tidak kelimpungan saat dihadapkan dengan situasi genting seperti ini.
Perkelahian tidak bisa dihindari lagi, mereka terus melempar serangan, Nindi tidak semudah itu untuk dikalahkan, begitupun si preman yang jiwanya sudah dikuasai emosi.
Kunci motor Levin terjatuh dari saku celana preman, Levin yang menyadari itu langsung memungutnya dan memeluknya didada.
'Selameet!' Batinnya mengucap syukur.
Wajah kedua preman sudah dipenuhi luka lebam akibat pukulan dari Nindi, sama halnya dengan Nindi, wajahnya juga terkena beberapa kali pukulan mereka.
Dalam hati sambil bertarung, Nindi mengumpati Levin yang hanya diam saja tanpa berniat ingin membantunya. Dia membayangkan jika preman di hadapannya itu adalah Levin, sehingga dia begitu bersemangat untuk menghabisi mereka.
Saat si preman merasa jika perkelahian ini tidak ada habisnya, dia mengeluarkan senjata andalannya, yaitu sebilah pisau yang tajam, senjata yang selalu dia gunakan untuk mengancam dan menakut-nakuti mangsanya, tak jarang pisau itu akan berlumuran darah ketika mangsanya melawan.
"Nindi, awas!" Seru Levin panik, Nindi sontak menoleh, terlihat si preman melayangkan pisau kearahnya, Nindi mencoba untuk menghindar. Namun sayang, dia sedikit terlambat, pisau itu menggores bahunya sehingga darah merah segar keluar dari sana.
"Ahh!" Nindi meringis kesakitan sambil memegangi bahunya, rasa perih langsung menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
Pisau yang berlumuran darah langsung terjatuh begitu saja ke sembarang arah setelah berhasil memakan korban.
Penglihatan Nindi ngeblur, kepalanya juga terasa pusing akibat darah yang terus mengalir.
"Mampus loe!"
Levin semakin panik, dia menghampiri Nindi yang terlihat sempoyongan, perasaan bersalah mulai merajai hatinya.
"Nin, loe berdarah!" Ucap Levin, Nindi bergeming, sedang merasakan perasaan aneh pada tubuhnya. Levin sesekali mengguncang tubuh Nindi agar perempuan itu agar dapat terus mempertahankan kesadarannya.
Tanpa perasaan bersalah sedikitpun si kedua preman malah mentertawakan kesakitan Nindi.
"Woi!" Terlihat Revi, Roni, Tari dan Vena sedang berlari kearah mereka.
Perkelahian pun kembali terjadi antara geng amburadul dan kedua preman, kedua preman yang sudah mulai kehabisan tenaga akibat melawan Nindi tadi juga kalah telak oleh jumlah personil geng amburadul.
Kedua preman dihajar habis-habisan sampai tersungkur di atas aspal oleh perempuan-perempuan tangguh yang sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup di jalanan.
Sampai akhirnya kedua preman itu menyerah dan memilih untuk melarikan diri tanpa mendapat apapun dari hasil begalnya malam ini, hanya mendapat luka lebam dan rasa malu karena telah dikalahkan oleh anak kemarin sore.
"Nindi, loe nggak kenapa-napa, kan?" Vena yang terlihat paling panik menghampiri Nindi.
Tapi dahinya mengerut saat mendapati Nindi yang sedang berada dalam pelukan Levin bergeming apalagi saat melihat kepanikan diwajah Levin. Oh tidak, apa benar yang dia lihat sekarang ini?
Vena mematung di posisinya melihat kejadian langka di hadapannya.
'Dunia nggak akan kiamat besok, kan' Begitu isi hatinya, biasanya Nindi dan Levin akan bertengkar ketika sedikit saja bertatap muka. Tapi sekarang, lihatlah, kepanikan Levin seakan membuat kedamaian diantara mereka, dan diamnya Nindi seolah menyejukkan mata yang melihatnya.
Tapi sayang, sebenarnya Nindi diam karena benar-benar merasakan kesakitan.
Revi, Roni dan Tari yang malah jadi menghampiri Nindi, melewati Vena yang masih terpaku.
"Nindi, bahu loe berdarah." Ucap Tari.
Levin yang menyadari kedatangan mereka buru-buru melepaskan Nindi dari dekapannya. Malu, Levin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian kembali bersikap biasa seolah tidak terjadi adegan peluk-pelukan antara dirinya dengan Nindi tadi.
"Gue nggak kenapa-napa kok." Ucap Nindi terdengar lemah, bibirnya pun mendadak menjadi pucat pasi.
"Syukurlah, ayo kita ke basecamp obati dulu lukanya. Tar, Ven, papan dia!" Ucap Revi. Vena baru tersadar ketika Revi memanggilnya, kemudian Tari dan Vena pun mendekat kearah Nindi.
"Nggak usah, gue mau pulang aja." Nindi menolak, tangan kanannya masih memegangi luka, sedangkan tangan kirinya memegangi kepala yang terus berdenyut.
"Ya udah, loe anterin Nindi sana! Loe kan yang udah menyebabkan Nindi jadi gini." Revi berseru pada Levin. Sedangkan yang mendapat titah terlihat gelagapan, merasa canggung jika harus bersikap baik kepada Nindi.
"Ya udah, ayo!" Akhirnya dia mengenyampingkan egonya, dia sadar, bagaimanapun keadaan Nindi sekarang adalah atas kesalahannya yang membiarkan Nindi bertarung dengan preman tadi.
Levin naik keatas motornya, Nindi dipapah Tari dan Vena tanpa sedikitpun penolakan, yang dia pikiran sekarang adalah bagaimana caranya agar cepat-cepat membanting kan tubuh di atas kasur.
"Pegangan!" Seru Levin, takut kalau nanti Nindi jatuh karena masih merasa pusing.
Nindi melingkarkan tangannya tanpa rasa canggung, membuat kaos putih yang dikenakan Levin menjadi merah karena darah yang menempel ditangan Nindi.
Kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang, terasa angin malam yang menerpa kulitnya sangat dingin dan menembus hingga ke tulang-tulang.
Dia tidak tau dimana jaket yang tadi dibuka paksa oleh si preman, dia sudah tidak perduli lagi, baginya Nindi selamat saja sudah untung.
Revi, Tari, Roni dan Vena yang melihat motor Levin semakin hilang ditelan kegelapan malam, masih berdebat dengan pemikiran mereka masing-masing tentang kejadian ini.
"Gue harap ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya, meskipun gue nggak suka Nindi terluka." Ucap Vena.
Karena bagaimanapun dialah yang paling tau bagaimana keseharian dua anak manusia itu, terkadang dia merasa lelah untuk melerai mereka tapi terkadang dia juga mendukung Nindi untuk memarahi Levin. Entahlah, terlepas dari semua itu, Vena tidak ingin melihat Nindi terkena stroke karena selalu naik darah menghadapi kelakuan Levin.
"Alah, palingan juga besok mereka berantem lagi." Revi menimpali.
"Tapi Levin tadi sweet banget lho pake peluk-peluk Nindi segala lagi." Tari merasa takjub.
"Loe liat juga tadi?" Tanya Vena.
"Iyalah, mana mungkin gue melewatkan adegan romantis itu." Sambil membayangkan kembali saat Levin memeluk Nindi penuh kekhawatiran, sayang Nindi tidak bisa melihat itu.
"Bener tuh, gue kirain cuma gue yang berpikir seperti itu." Mereka meributkan sesuatu yang menurut mereka langka terjadi.
"Alah, dasar cewe, gampang banget baper. Romantisan juga gue." Roni menaikkan kerah kemejanya membanggakan diri sendiri.
Ucapannya itu mengundang tangan Tari, Vena dan Revi mendarat dikepala Roni, kompak menjitak kepalanya dengan tatapan sebal.
"Wuuuu! Romantis lubang idung loe gede!"
"Kepercayaan diri loe itu berlebihan tapi nggak sesuai dengan kenyataan."
Roni dikepung oleh ketiga perempuan itu, mengikuti jejak preman yang tadi habis dihajar mereka, tapi tentu saja nasibnya akan berbeda dari preman tadi.
***
Tanpa sadar, Nindi menyandarkan kepalanya dipunggung Levin, rasa pusingnya sudah tidak tertahankan lagi.
Levin menepikan motornya didepan sebuah warung sederhana, Nindi mengerutkan keningnya.
"Kenapa berhenti disini? Gue mau pulang." Ucap Nindi.
"Gue obati dulu luka loe." Balas Levin
_______________
Jangan lupa jejaknya guys..